The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Kenzi duduk di kursi meja makan menunggu Jiro yang masih di kamarnya. Sementara Siena membuatkan sarapan untuk mereka.


"Pagi Bu," sapa Jiro mencium pipi Siena sekilas.


"Hei, pagi sayang." Siena tersenyum menatap wajah Jiro, tangannya terulur membenarkan dasi yang Jiro kenakan. "Hari ini, kau pulang malam?" tanya Siena.


"Tidak Bu, siang ini aku pulang cepat." Jiro duduk di kursi berhadapan dengan Kenzi. "Pagi Yah."


"Hemm," sahut Kenzi matanya fokus membaca koran pagi ini. Lalu melipat koran tersebut di letakkan di atas meja.


"Yah, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Jiro matanya melirik sesaat, lalu mengambil cangkir kopi di atas meja, menyecapnya perlahan.


"Boleh, memang kau mau tanya apa?" menatap Jiro sesaat, lalu beralih menatap Siena sekilas menyodorkan cangkir kopi di hadapan Kenzi. "Terima kasih sayang."


'Miko membutuhkan bantuanku, dia memintaku untuk mencari tahu siapa pembunuh ayahnya." Jiro menceritakan pertemuannya dengan Miko kemarin.


"Siapa Ayahnya?" tanya Kenzi sembari mengangkat cangkir kopi lalu menyecapnya.


"Mm, kalau tidak salah. Hernet namanya."


"Uhukkk! Uhuuukk!"


Kenzi langsung terbatuk mendengar nama 'Hernet' lalu ia letakkan cangkir di atas meja.


"Ayah, pelan pelan Yah!" seru Jiro menatap Kenzi.


Siena langsung mengambilkan gelas air mineral lalu di berikan pada Kenzi. "Sayang.." ucap Siena pelan mengusap punggung Kenzi.


Kenzi mengangkat tangannya menatap Siena, lalu menganggukkan kepalanya. "Aku baik baik saja."


Kenzi terdiam cukup lama. Seingat dia, Hernet hanya satu kali menikah. Itu pun di ceraikan lalu menikah lagi dengan perempuan lain. Tapi perempuan itu tidak memberikan keturunan pada Hernet. Apakah Miko putri dari istri pertamanya yang sekian lama di telantarkan Hernet?


"Ayah? Ayah baik baik saja bukan?" Jiro menatap Kenzi.


"Seandainya Miko tahu, siapa yang membunuh Ayahnya. Memangnya dia mau apa?" tanya Siena jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka, jika masa lalunya akan merembet hingga sekarang.


"Aku tidak tahu Bu." Jiro mengangkat kedua bahunya. Ia sama sekali tidak menangkap kecemasan di mata kedua orangtuanya. "Ayah kenal Hernet?" tatap Jiro pada Kenzi menunggu jawaban.


"Ayah tidak mengenalnya Nak-?"


"Sebentar yah," potong Jiro, ia mengambil ponselnya yang berdering di saku celana. Lalu ia menatap layar ponsel membaca pesan dari Yu. Tanpa sepengetahuan Kenzi dan Siena. Jiro janjian bertemu dengan Yu untuk mencari informasi tentang Hernet. Karena Jiro yakin, kalau Ayahnya tidak akan memberitahu apa apa.


"Ayah, Ibu, aku ada urusan mendadak. Aku pergi dulu." Jiro berdiri lalu melangkahkan kakinya meninggalkan rumah.

__ADS_1


"Sayang, bagaimana ini?" Siena merangkul pundak Kenzi.


"Kau tidak perlu khawatir, aku percaya dengan putra kita." Kenzi tersenyum tipis menatap Siena. "Kau tenang sayang."


Siena menganggukkan kepalanya. "Baiklah."


***


Sementara itu, Jiro menemui Yu di kantornya.


"Paman, ceritakan semuanya."


Yu terdiam sesaat menatap tajam Jiro. "Kau yakin? mau mendengarnya? kau siap dengan resikonya?" tanya Yu untuk meyakinkan Jiro.


Jiro mengangguk cepat. Tentu saja dia senang bisa mendapat informasi siapa pembunuh Ayahnya Miko. Dengan begitu dia bisa lebih dekat dengan gadis itu. "Tentu."


Yu menghela napas panjang, lalu ia berdiri melangkahkan kakinya menuju jendela ruangan yang terbuka. Matanya menatap lurus ke depan. Perlahan Yu mulai menceritakan garis besarnya masa lalu Kenzi sebelum mengenal Siena. Kemudian Yu menceritakan konflik Kenzi dan Hernet hingga berujung maut.


Yu balik badan, menatap wajah Jiro yang terpaku di hadapannya. "Hernet berkali kali mencoba membunuh Ibumu tanpa belas kasihan. Itulah sebabnya, Ayahmu melenyapkan Hernet."


"Jadi? Ayah yang membunuh Hernet?" ucap Jiro pelan.


Yu menganggukkan kepalanya. "Ya benar, dan pihak Kepolisian tahu itu. Ayahmu tidak di hukum karena membela diri. Dan perbuatan Hetnet tidak di benarkan." Yu menepuk pundak Jiro.


"Hernet mafia paling kejam." Yu kembali duduk di kursi menatap punggung Jiro.


"Terima kasih informasinya, paman." Jiro langsung melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tanpa bicara apa apa lagi.


Yu menarik napas panjang, lalu ia menghubungi Kenzi untuk memberitahu semuanya.


Sementara Jiro langsung menemui Marsya di rumahnya. Meminta informasi tentang Hernet dan catatan kejahatan yang sudah di lakukan Hernet semasa masih hidup. Setelah mendapatkan informasi dengan lengkap tentang kejahatan Hernet. Pria itu memutuskan untuk menemui Miko di cafe tempat biasa mereka bertemu.


"Kau sudah dapat informasinya?" tanya Miko senang, lalu duduk di kursi berhadapan dengan Jiro.


Sesaat Jiro terdiam, lalu ia menyodorkan dokumen di hadapan Miko. "Apa ini?" Miko menatap dokumen di atas meja.


"Buka saja," jawab Jiro, jantungnya berdegup kencang. Ia khawatir, Miko tidak akan percaya. Bagaimana kalau gadis itu membencinya?


Perlahan tangan Miko mengambil dokumen itu lalu membuka dan membacanya. Sesekali mata Miko melirik ke arah Jiro saat membaca dokumen itu. Lalu ia menutup dokumen itu, kembali di letakkan di atas meja. Matanya menatap tajam Jiro cukup lama. Membuat pria itu bertanya tanya, apa reaksi selanjutnya.


"Aku tahu, kalau Ayahku seorang mafia. Aku hanya mau tahu, siapa yang membunuh Ayahku," ucap Miko pelan.


"Yang membunuh Ayahmu..aku-?" ucapan Jiro terputus. Saat melihat Zoya tengah berjalan mendekati mereka. Jiro mengusap wajahnya. "Ya ampun, kenapa anak itu selalu ada mengikutiku," ucap Jiro pelan namun terdengar jelas oleh Miko, membuat raut wajahnya semakin di tekuk.

__ADS_1


"Selamat siang tuan muda," sapa Zoya tangannya melingkar di leher Jiro, lalu mengecup pipi Jiro sekilas. Jiro berjengkit kaget mendapat ciuman tak terduga dari Zoya. Membuat Miko gerah dengan sikap Zoya. Gadis itu berdiri mendekati Zoya lalu menarik tangannya untuk menjauh dari Jiro.


"Memalukan," sungut Miko.


"Hei, kau ada masalah? memang kau siapanya tuan muda? Zoya tersenyum sinis menatap cemooh pada Miko.


" Dia kekasihku, tunanganku dan calon suamiku. Kau paham? jadj jauhi dia oke?!!" ucap Miko kesal.


Jiro melebarkan matanya menatap Miko yang memalingkan wajahnya saat beradu pandang dengan Jiro. Antara tak percaya dan senang, Jiro berdiri dan membenarkan ucapan Miko. Membuat gadis itu matanya melebar, mulutnya menganga. Tidak percaya jika Jiro mengiyakan kata katanya tadi sekedar candaan saja supaya Zoya tidak mengganggu Jiro.


"Tidak mungkin, aku tidak percaya," ucap Zoya mencemooh. "Mana mungkin tuan muda Jiro, menyukai gadis liar. Kau bukan level dia."


Miko membulatkan matanya menatap tajam Zoya. Gadis itu tidak terima di hina, dengan napas memburu. Miko berjalan lebih dekat dengan Jiro lalu menarik wajah Jiro lalu mencium bibir Jiro dengan panas di hadapan Zoya. Pria itu benar benar tidaj menduga dengan tindakan Miko yang tiba tiba, namun pada akhirnya tangan Jiro menarik pinggang Miko dan membalas ciumannya. Membuat Zoya terbakar cemburu. Gadis itu balik badan, melangkahkan kakinya meninggalkan mereka dengan perasaan marah.


Miko melepas ciumannya menatap Jiro sesaat lalu mengambil tisu di atas meja, menyeka bibir Jiro dengan lembut. "Maaf, aku hanya tidak ingin, dia mengganggumu."


"Tidak apa apa, aku suka." Jiro tersenyum tipis.


"Jangan berpikir macam macam, aku hanya menolongmu supaya tidak di ganggu Zoya terus," sungut Miko lalu menarik tangannya. "Aku pulang, nanti aku hubungi kau lagi."


"Kau mau kemana?" tanya Jiro menatap Miko yang berlalu begitu saja.


Jiro senyum sendiri mengusap bibirnya. "Gadis aneh," gumamnya pelan. Lalu ia ambil dokumen yang tergeletak di atas meja. Melangkahkan kakinya keluar cafe dan kembali ke rumah.


***


Sesampainya di rumah. Jiro terpaku di ambang pintu menatap kedua orangtuanya yang terlihat cemas. Lalu ia berjalan mendekati mereka.


"Nak, Ayah bisa jelaskan tentang Hernet." Kenzi menyentuh pundak Jiro. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman setelah Yu menceritakan kedatangan Jiro ke kantornya.


"Iya sayang, duduklah." Siena ikut menimpali kata kata Kenzi.


"Tidak perlu, Bu, Ayah." Jiro tersenyum menatap mereka berdua bergantian.


"Maksudmu, Nak?" tanya Kenzi bingung.


"Aku percaya kalian bukan pembunuh. Kalian orangtuaku yang paling hebat. Kalian tidak perlu khawatir, aku sudah tahu semuanya. Dan soal Miko.." Jiro menundukkan kepalanya, menyembunyikan perasaannya di hadapan kedua orangtuanya.


"Kenapa Miko, sayang?" Siena menatap wajah Jiro yang senyum senyum sendiri.


Jiro mengangkat wajahnya menatap Siena. "Soal Miko, aku bisa mengatasinya." Jiro mengecup pipi Siena sekilas lalu beranjak pergi menuju kamar.


Kenzi dan Siena hanya bengong menatap punggung Jiro. "Jagoan kita sudah dewasa. Dia sedang jatuh cinta," ucap Siena pelan.

__ADS_1


Kenzi menautkan kedua alisnya menatap Siena. "Jatuh cinta? dari mana kau tahu sayang?"


Siena menganggukkan kepalanya. "Hanya seorang Ibu yang mengerti bahasa putranya meski di sembunyikan."


__ADS_2