
Menikmati suasana sore hari, Siena dan Kenzi tengah duduk di teras rumah di temani secangkir teh hangat bersama putra kesayangannya. Dari pintu gerbang yang di buka oleh penjaga rumah, mereka melihat Keenan bersama istrinya juga Rei.
Kenzi mendengus saat melihat ada Rei di antara mereka. Siena melirik ke arah Kenzi dan tersenyum tipis. "Ayolah sayang, mereka sekedar main kok. Lagi pula, mana mungkin mereka mau merebut aku lagi," ucap Siena sambil tertawa kecil.
"Baiklah, tapi aku tidak suka melihatmu lama lama bersama mereka." Kenzi berdiri lalu masuk ke dalam rumah.
Siena tersenyum tipis menanggapi sikap Kenzi yang berlebihan. "Keenan! pekik Siena melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Hai kak, apa kabar?" sapa Dinda, istri Keenan. Lalu ia membungkukkan badan memeluk Siena sekilas. "Hai sayang, jagoan kecil." Dinda mengusap pipi Helion gemas
"Rei..ayo duduk." Siena mempersilahkan mereka semua untuk duduk.
"Apa kabarmu Si?" tanya Rei memperhatikan Siena lalu menatap Helion yang tengah di goda Dinda.
"Seperti yang kau lihat." Siena tersenyum sesaat, lalu menunduk. "Oya, aku belum sempat berterima kasih buat kalian."
"Ah, santai aja Si.." sela Keenan. "Aku punya kabar baik, Dinda hamil." Senyum Keenan melebar menatap Siena.
"Oya? syukurlah." Siena mengucapkan selamat untuk Dinda. Lalu menatap Rei sekilas.
"Kabar baik lagi!" potong Dinda.
Siena menoleh ke arah Dinda. "Apa?"
Dinda tertawa kecil, ia menatap Rei sekilas. "Kau tahu? pengagummu akan segera menikah dengan Marsya!"
Mata Siena melebar menatap Rei. "Sungguh?"
Rei tersenyum menganggukkan kepala. "Iya."
"Wah, selamat ya Rei. Aku senang mendengarnya." Siena menatap satu persatu sahabatnya. Begitu banyak kenangan yang sudah di lewati. Bagaimana perjuangan Rei untuk menyelamatkan Siena dari tangan Kenzi. Siena tersenyum sendiri, mengingat pria yang di bencinya ternyata menjadi suami, ayah dari Helion.
"Hei, bengong!" Keenan menepuk lengan Siena. Membuat Kenzi yang sedari tadi memperhatikan berdehem.
"Kau?" Siena menggelengkan kepala ternyata Kenzi memperhatikannya.
__ADS_1
Kenzi berjalan mendekati mereka, lalu membungkuk mencium kening Siena sekilas. "Aku pergi dulu sebentar."
Siena menganggukkan kepala, "hati hati."
Rei menundukkan kepala, walau ia sudah berusaha membuka hati untuk Marsya. Namun hati kecilnya masih menyimpan asa untuk Siena.
"Ow ya ampun, hari ini kenapa kalian mendadak kayak putri malu sih!" sindir Keenan menatap Rei raut wajahnya berubah murung.
Siena dan Dinda saling tatap sesaat, lalu beralih menatap Rei. "Kau baik baik saja?" tanya Dinda. Rei hanya menganggukkan kepala.
"Ya, aku baik baik saja."
Dari arah halaman rumah, Samuel berjalan mendekati mereka. "Nona, sebaiknya kalian di dalam rumah."
Siena menatap Samuel lalu menganggukkan kepala. "Pindah ke dalam yuk?" ajak Siena pada mereka.
"Sebaiknya kita pulang," sela Rei.
"Kok pulang?" tanya Siena sedikit kecewa.
"Oke jagoan, tante pulang dulu," ucap Dinda mencium pipi Helion. "Kak, kami pulang dulu ya."
Siena menganggukkan kepala menatap punggung mereka. Di sela langkah Dinda menoleh ke arah Siena melambaikan tangan.
"Hati hati di jalan! pekik Siena tersenyum lebar.
***
Sementara Kenzi dan Yu tengah berada di Club milik sahabatnya. " Jadi? kau terima tantangan Dany Tan?" tanya sahabatnya.
"Kau benar Alan, aku datang kesini minta bantuanmu." Kenzi menyalakan cerutu lalu menghisapnya dalam dalam.
"Tentu, dengan senang hati." Alan menuangkan sebotol minuman kedalam gelas lalu ia sodorkan kehadapan Yu dan Kenzi. Meskipun pertandingan itu masih lama dan Kenzi punya banyak waktu untuk menyusun rencana untuk menghindari hal yang tak di inginkan ataupun kecurangan yang akan di lakukan Dany Tan.
Dunia kriminal yang sudah Kenzi geluti selama ini kecurangan dan kejutan selalu ada baik dari pihak lawan atau musuh. Strategi baru harus selalu mereka miliki untuk mengantisipasi. Tidak menutup kemungkinan kekalahan dan kematian akan datang kapan saja.
__ADS_1
"Apa kau butuh orang untuk penjagaan di rumahmu?" tawar Alan pada Kenzi. Ia melirik sesaat ke arah Kenzi.
"Sepertinya begi-?" Kenzi menghentikan ucapannya. Sekilas mata ia melihat seorang pria tengah duduk tak jauh dari tempat mereka mengeluarkan senjata api mengarah pada mereka. Dengan sigap kaki Kenzi mendorong meja hingga Yu ataupun Alan ikut terjungkal bersamaan dengan sebuah peluru melesat mengenai salah satu penjaga Alan. Sontak kegaduhan terjadi di dalam Club. Para pengunjung berlarian menyelamatkan diri. Ada yang bersembunyi di tempat aman.
"DOR!! DOR!!
Bukan satu pria, tapi lebih dari tiga pria menembaki ke arah persembunyian Kenzi dan dua sahabatnya. Mata Kenzi menatap waspada pada setiap gerakan musuh dengan senjata api ditangannya. Sekelebat ia melihat bayangan mendekat. Kenzi langsung keluar dari persembunyian dengan berguling di lantai dansa dan menembak pria yang baru saja mendekati Kenzi.
" Dor! Dor!
Peluru melesat bersamaan dengan tumbangnya dua pria tadi. Di susul suara tembakan dari arah Yu yang berhasil melumpuhkan tiga pria sekaligus. Yu memberi kode pada Kenzi tersisa satu orang. Kenzi menganggukkan kepala, ia keluar lagi dari balik meja besar yang terguling dan berdiri tegap dengan mengarahkan senjatanya ke berbagai arah dengan tatapan waspada pada setiap gerakan yang mencurigakan. Dari arah belakang seorang pria keluar dan melepaskan satu peluru ke arah Kenzi. Bersamaan dengan Yu yang melesatkan pelurunya dari arah samping kepada pria tadi.
Kenzi memanfaatkan sinar cahaya lampu yang mulai redup untuk mengetahui posisi musuh. Kenzi menjatuhkan tubuhnya lalu berguling ke lantai bersamaan dengan ambruknya musuh. Peluru melesat mengenai kaca lemari tempat penyimpanan minuman.
Kenzi menatao tubuh musuh yang tergeletak di lantai bersimbah darah. Lalu beralih tengadahkan wajah menatap Yu. "Sudah ku bilang tersisa satu," ucap Yu.
Kenzi langsung bangun dan berdiri tegap memastikan siapa musuh mereka. Yu dan Kenzi beserta Alan memeriksa tubuh pria tadi. "Anak buah Dany Tan." Alan menatap Kenzi.
"Kakak Yu, sebaiknya kita segera pulang!" Kenzi teringat Siena dan putranya dirumah. Yu menganggukkan kepala, ia menepuk pundak Alan sesaat.
"Kau urus mereka sebelum Polisi datang." Alan menganggukkan kepala. Kemudian mereka berdua bergegas meninggalkan Club.
Dengan kecepatan tinggi Kenzi melajukan mobilnya, ia sangat khawatir akan keselamatan anak dan istrinya. Jantungnya berdegup kencang, berkali kali ia hampir menabrak pengendara lain.
Yu berusaha menenangkan Kenzi yang tidak fokus ke jalan raya. Tak lama kemudian mereka telah sampai di halaman rumahnya. Kenzi langsung bergegas masuk ke dakam rumah. Sementara Yu memeriksa keadaan sekitar.
Setengah berlari Kenzi memasuki rumahnya, di ruang tamu ia tidak melihat siapa siapa. Kenzi bergegas ke kamar Helion. Namun Helion tidak ada di kamarnya. Ia kembali berlari menuju kamar pribadinya. Saat ia membuka pintu, dengan menarik napas panjang lega, ia mengusap dadanya. Kenzi tersenyum menghampiri Siena dan Helion yang tengah tertidur pulas.
Ia mencium pipi Siena cukup lama, lalu ia mencium kening Helion. "Hei, kau sudah pulang?" Siena terbangun saat Kenzi mengusap pipi Siena dengan lembut.
"Iya sayang, maaf aku mengganggumu." Kenzi tersenyum dan duduk di tepi tempat tidur.
Siena bangun lalu duduk di atas tempat tidur, tangannya menyentuh kening Kenzi. "Kau berkeringat?" ucap Siena menatap tajam wajah Kenzi. "Apa yang kau khawatirkan?"
Kenzi menurunkan tangan Siena dari keningnta, tersenyum lebar. "Aku khawatir kau di bawa, Rei." Goda Kenzi.
__ADS_1
"Ah kau, ada ada saja." Siena memeluk tubuh Kenzi dan membenamkan wajahnya di dada Kenzi. Ia mendengar degup jantung Kenzi yang tak beraturan. Ia tahu kalau suaminya tengah berbohong. Bukan takut terhadap Rei, tapi sudah terjadi sesuatu padanya. Namun Siena tidak tahu apa.