The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 40: Perjanjian


__ADS_3

Pemakaman pak Karta di lakukan di pagi hari, Keenan dan Dinda turut hadir di pemakaman bersama Rei. Sementara Siena terus berusaha menenangkan Hana yang tak berhenti menangis. Hingga pemakaman telah usai dilakukan dengan lancar.


"Siena, aku pamit pulang dulu..kalau kau butuh bantuanku..jangan sungkan untuk menelponku. Oke?" ucap Keenan.


"Iya..terima kasih ya.." Siena berdiri memeluk Dinda sesaat.


"Iklaskan kepergian kakek..kakak yang sabar ya."


Siena menganggukkan kepala, "terima kasih Dinda.." Siena tersenyum samar.


Keenan mengusap punggung Siena sesaat, lalu mereka melangkahkan kakinya keluar rumah di antar Siena.


Sementara Hana terus menangis di ruang makan ia duduk di temani Rei. "Tante, iklaskan kepergian kakek."


"Rei, tentu saja tante iklaskan kepergian kakek..tapi..?" Hana tidak melanjutkan ucapannya.


"Aku tahu..Siena bukan?"


Hana menganggukkan kepala, "siapa yang akan menjaga Siena lagi..tante takut sekali Rei.." ucap Hana menangkup wajahnya sendiri.


"Ada aku, tante..tante tidak perlu khawatir..aku akan menjaga Siena dari pria itu bagaimanapun caranya." Rei berdiri, ia menuangkan air mineral ke dalam gelas.


"Tapi Rei..kau tahu sendiri bukan? dia itu siapa?" Hana semakin kalut.


"Tante..aku tahu..tapi sampai kapan tante akan diam terus?" Rei menyodorkan gelas ke hadapan Hana.


"Ini semua salah tante..andai saja waktu itu.."


"Ada apa ma?" potong Siena.


Hana dan Rei menoleh ke arah Siena, "tidak sayang..maksud mama..andai saja kita tidak terlambat membawa kakek ke rumah sakit," jawab Hana berbohong.


"Ma..jangan menyalahkan diri sendiri," ucap Siena. Ia duduk di kursi di sebelah Hana. "Sebaiknya mama istirahat ya?"


Hana menganggukkan kepala, "iya sayang.." Hana berdiri, ia menatap Rei sesaat, lalu melangkahkan kaki menuju kamar pribadinya.


"Aneh.." gumam Siena.


"Aneh kenapa Si?" tanya Rei.


Siena menatap Rei sesaat, "tidak apa apa."


Rei diam memperhatikan wajah Siena yang tengah melamun. "Kasihan sekali Siena, ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di rumah ini," ucap Rei dalam hati.


"Siena.."


"Iya? ada apa?" Siena menatap wajah Rei.


"Sepertinya kau lelah, istirahatlah..temani mamamu.." ucap Rei.


"Baik Rei, terima kasih ya..kau selalu membantu kami." Siena tersenyum, ia mekangkahkan kakinya menuju kamar Hana.

__ADS_1


***


Keesokan paginya Siena telah bersiap siap ke kantor untuk menggantikan almarhum Pak Karta. "Pagi ma.." sapa Siena mengecup pipi Hana.


"Pagi sayang," jawab Hana menatap Siena sendu.


"Mama baik baik saja?" tanya Siena.


"Iya sayang, kau jangan pikirkan mama.'


Hana berdiri, ia menungkan coklat hangat ke dalam gelas, lalu ia letakkan di hadapan Siena. " Minum dan habiskan.."


"Terima kasih ma.." sahut Siena. Perlahan ia ambil coklat hangat dan menyecapnya perlahan.


"Siena, jaga diri kamu baik baik sayang."


Siena meletakkan gelas di atas meja, ia mengerutkan dahi mendengar pernyataan Hana. "Kenapa ma?


" Tidak apa apa sayang, apa tidak boleh..mama mengkhawatirkan putrinya sendiri?" Hana tersenyum samar.


"Tidak ma.." Siena berdiri lalu memeluk Hana dari belakang. Ia cium pipi kanan Hana dengan lembut. "Aku berangkat kerja dulu ma..mama baik baik di rumah ya."


Hana menganggukkan kepala, "kau juga sayang."


Siena melepaskan pelukannya, lalu ia melangkahkan kakinya keluar rumah menuju kantor.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Siena sampai di halaman perusahaan tempat ia bekerja. Ia keluar dari pintu mobil, menatap Keenan yang melambaikan tangan padanya.


"Siena!" seru Keenan.


"Kau telat sepuluh menit," ucap Keenan menunjuk jam tangannya.


"Maaf, aku bangun terlambat," sahut Siena.


"Ayo kita masuk!" Keenan berjalan beriringan dengan Siena. Sesampainya di dalam kantor, Keenan memperkenalkan Siena pada seluruh staff.


"Ini Bu Siena, cucu Pak Karta pemilik perusahaan ini," ucap Keenan di hadapan semua staffnya.


"Pagi bu..! ucap mereka serempak.


Siena menundukkan kepala sesaat, ia tersenyum menatap mereka semua.


"Tunggu!"


Siena dan Keenan menoleh ke arah dua pria yang menggunakan setelan jas hitam telah berdiri di belakang mereka.


"Pak Kenzi? Adrian?" ucap Keenan menundukkan kepala sesaat. Siena hanya diam memperhatikan Keenan dan dua pria di hadapannya. Rasanya ia pernah melihat mereka berdua.


"Keenan, kau tahu bukan? Tuan Kenzi pemilik saham terbesar di perusahaan ini, sementara Pak Karta memiliki hutang yang belum bisa ia lunaskan. Jadi..perusahaan ini akan di ambil alih sepenuhnya oleh Tuan Kenzi," jelas Adrian pada Keenan.


"Maaf Adrian, soal itu saya tidak tahu menahu," jawab Keenan. Tapi di sini, nona Siena masih punya hak di perusahaan ini," jawab Keenan.

__ADS_1


"Begini saja, kau masih belum mengerti. Sebaiknya kita bicarakan di dalam kantor. Dan panggil Rei selaku saksi surat perjanjian yang di tandatangani pak Karta!" ungkap Adrian lagi.


"Baik!" sahut Keenan. Kemudian ia meminta sekertaris untuk menelpon Rei supaya datang ke kantor. Sementara Adrian, Kenzi, terlebih dulu menunggu di ruang meeting.


Tak lama kemudian Rei datang langsung menemui Siena dan Keenan di ruangan.


"Rei, sebenarnya ada apa ini?" tanya Siena bingung.


Rei terdiam, "tidak ada apa apa Siena," jawab Rei.


"Sebaiknya kita bicarakan di ruang meeting supaya lebih jelas, Keenan kau ikut aku," ucap Rei nampak serius.


"Baik.." sahut Keenan.


"Dan kau Siena, tunggu di sini."


"Tapi Rei, aku perlu tahu," ucap Siena


"Tidak perlu, biar aku atasi sendiri," jawab Rei berlalu begitu saja di ikuti Keenan.


Mereka melangkahkan kakinya menuju ruang meeting. Nampak Kenzi yang terlihat dingin dan angkuh duduk dengan santai di sebelah Adrian dan dua orang pengacara.


Mereka duduk berhadapan dengan Kenzi dan yang lain. Sesaat saling tatap tanpa ada yang bicara. Kenzi menatap dingin Rei seakan ingin menelannya hidup hidup. Sementara Rei menatap Kenzi dengan penuh kewaspadaan.


"Oke, kita mulai sekarang!" ucap Adrian berdiri. Ia melangkahkan kaki mendekati dua pengacara dan mengeluarkan beberapa dokumen utang piutang dan dokumen surat perjanjian antara pak Karta dan Kenzi.


Adrian mengambil dokumen itu, lalu menyodorkannya pada Rei untuk di pelajari apa isi dari surat perjanjian antara pak Karta dan Kenzi, lima belas tahun yang lalu.


Sesaat Rei menatap balik Kenzi yang masih menatapnya tajam. Perlahan ia buka dokumen itu dan membacanya secara perlahan. Mata Rei berkali kali terbelalak saat membaca surat perjanjian itu. Ia tutup dokumen itu setelah selesai ia baca.


"Lalu apa maumu Kenzi?" tanya Rei melemparkan dokumen itu ke hadapan Kenzi.


Kenzi hanya diam tanpa ekspresi, ia lebih tertarik memperhatikan Siena dari balik kaca ruangan yang selama ini ia tunggu berdasarkan perjanjian Pak.


"Sepertinya kami tidak perlu menjelaskan lagi bukan?" ucap Adrian.


"Kau tahu isi perjanjian itu, jika Hana atau pak Karta melanggar perjanjian ini. Kami tidak segan segan memasukkan Bu Hana ke penjara dan kau harus membayar hutang hutang pak Karta dalam tempo satu minggu," jelas Adrian. "Jika tidak..Siena akan kami bawa sebagai pertukaran."


"Ya! aku tahu itu, tapi perjanjian bahwa Siena yang akan menjadi pertaruhan di meja judi, aku tidak melihatnya dalam kontrak waktu itu. Kau jangan curang!" seru Rei.


"Rei, mungkin kau tidak teliti waktu membaca surat perjanjian waktu itu, jadi kau tidak punya hak untuk mengancam kami!"


Rei menatap tajam Adrian dan Kenzi, ingin rasanya ia menghajar pria itu. Namun ia memikirkan keselamatan Siena.


"Gila! ini gila!" seru Keenan. Ia balik badan dan melangkahkan kakinya keluar ruangan, di ikuti dua pengacara.


"Aku tahu, kalian sengaja menjebak pak Karta dan Bu Hana bukan?" ucap Rei menatap Kenzi dan Adrian.


Kenzi hanya diam, ia tersenyum miring menatap Rei. "Lindungi dia semampumu Rei." Kenzi berdiri lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan di ikuti Adrian.


Rei duduk termenung, ia teringat semua kata kata Pak Karta dulu sewaktu dia meminta Rei mencari Siena yang di bawa pergi ayahnya sewaktu masih bayi.

__ADS_1


"Ini semua salah Hana, jika dulu dia tidak terlibat dengan sindikat mafia itu, mungkin aku tidak akan meminta Surya untuk meninggalkan rumah bersama bayinya. Aku tidak menyangka perbuatan Hana akan mengakibatkan putrinya menjadi taruhan di meja judi. Aku sudah berusaha membayar hutang Hana dan mengembalikan semua yang sudah Hana pakai untuk berjudi. Tapi sial lagi lagi Hana berulah. Ia malah melenyapkan pria itu dan mengambil uang milik pria yang ia bunuh. Aku tidak mungkin memberikan cucuku satu satunya untuk menebus hutang dan kesalahan Hana."


Rei menghela napas dalam dalam, kini ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan Siena. Perlahan ia berdiri dan meninggalkan ruangan.


__ADS_2