The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 87: Hope


__ADS_3

Marsya menarik napas dalam dalam lalu mengembuskan dengan gusar ketika melihat setumpuk foto dan lembaran kertas yang terletak berantakan di atas meja.


"Bagaimana?" tanya Kenzi sembari menghirup kopinya. Matanya melihat satu persatu skema yang di buat Marsya di dinding.


"Crips dan Hernet memiliki garis merah yang sangat kuat." Marsya menundukkan kepala menatap salah satu foto di antara tumpukan foto lainnya.


"Adrian, dia tidak memiliki catatan kejahatan sama sekali, tapi dia terlibat dalam organisasi itu." Marsya memalingkan wajahnya menatap Kenzi.


"Dia anak buahku, tapi sudah lama membelot." Kenzi letakkan cangkir kopi di atas meja.


"Baik, semua sudah lengkap. Kau sudah melakukan pekerjaanmu." Marsya menepuk pundak Kenzi sekilas.


"Informasiku sudah cukup, mulai sekarang aku tidak memiliki kontrak apapun denganmu."


Marsya tersenyum, ia ulurkan tangannya ke hadapan Kenzi. "Terima kasih, kau telah bekerjasama, aku tunggu kedatanganmu besok."


Kenzi mengulurkan tangannya, membalas jabatan tangan Marsya. Lalu ia balik badan keluar dari dalam ruangan Marsya. Dia berpikir masalah satu telah selesai.


Namun ketika Kenzi berada di halaman Kantor Polisi, seorang pria tengah memperhatikannya dari kejauhan. Dia tersenyum menyeringai, menghisap rokoknya dalam dalam lalu ia buang ke jalan dan menginjaknya dengan sepatu yang ia kenakan.


"Kenzi sudah menyulut api," ucap pria itu, lalu meludah ke jalan aspal.


****


Kenzi duduk di tepi tempat tidur memperhatikan Siena yang masih tertidur lelap, perlahan ia menepuk pipi Siena dengan lembut. "Sayang bangun."


Tubuh Siena menggeliat di balik selimut, perlahan ia membuka mata mendapati Kenzi tengah duduk di sampingnya. "Hei.."


"Bangunlah, kau harus bersiap siap," ucap Kenzi menarik selimut di tubuh Siena.


"Sekarang?" mata Siena melebar menatap Kenzi yang menganggukkan kepala, lalu tersenyum mengusap lembut pipi Siena.

__ADS_1


Perlahan Siena bangun lalu turun dari atas tempat tidur, sementara Kenzi sendiri berlalu meninggalkan Siena tanpa bicara lagi. Membuat Siena mengerutkan dahi. "Dia kenapa?" Siena hanya mengangkat bahunya, lalu ia bergegas ke kamar mandi.


Lima belas menit waktu yang Siena habiskan. Akhirnya ia telah selesai dengan dirinya. Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Gadis itu menoleh menatap ke arah pintu yang terbuka. Nampak Kenzi berjalan menghampirinya dengan raut wajah serius.


"Kau sudah selesai?" tanya Kenzi, tangannya terulur mengusap rambut Siena yang di ikat rapi.


Siena menganggukkan kepala, ia balik badan menghadap Kenzi. Ke dua tangannya mengusap lembut dada Kenzi. "Kau belum siap siap?" matanya menatap tajam kedua bola mata pria pemilik mata gelap.


"Siena.." ucap Kenzi pelan, menurunkan ke dua tangan Siena.


"Hei, kenapa?" Siena menyentun pipi Kenzi, ia melihat raut wajah Kenzi yang menegang.


"Siena, dengarkan aku," ucap Kenzi menampuk wajah Siena, menatap dalam wajahnya. "Pulanglah bersama Papamu, aku menyusul setelah pekerjaanku selesai." Kenzi tersenyum terpaksa, ia menurunkan tangannya lalu menarik tangan Siena untuk keluar kamar. Tetapi Siena menahannya, Kenzi memalingkan wajahnya menatap gadis itu. "Ayo."


"Tidak, kalau aku pulang. Kau juga ikut pulang." Siena menepis tangan Kenzi. Untuk apa dia pulang ke Indonesia dengan selamat. Jika suaminya harus berjuang sendiri di sini.


Kenzi menghela napas panjang, "aku mohon, jangan membantah untuk kali ini."


Siena terdiam, membiarkan Kenzi menumpahkan semua isi hatinya. Tak lama Kenzi melepaskan pelukannnya, kembali menarik tangan Siena keluar kamar untuk menemui Surya yang telah lama menunggu di lantai dasar rumah.


"Sam, kau antarkan istriku, dan pastikan dia sudah naik pesawat." Kenzi menerintahkan Samuel untuk mengantarkan Siena ke tempat di mana ia telah menyewa pesawat pribadi untuk pulang ke Indonesia.


"Siap Bos! jawab Samuel mengangguk.


"Dan kalian berdua ikut aku!" Kenzi menatap Akira dan Yeng Chen yang telah bersiap dengan perlengkapan senjata.


"Siap!" jawab mereka serempak. Kenzi mengalihkan pandangan menatap wajah Siena dan memeluknya erat.


"Aku akan menyusulmu." Kenzi berkali kali mencium puncak kepala Siena, lalu beralih mencium kening dan bibir Siena sekilas.


"Pergilah!" Kenzi melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Mari Nona." Samuel mempersilahkan Siena dan Surya untuk berjalan lebih dulu.


Kenzi menganggukkan kepala, tangannya menggenggam erat tangan Siena seolah olah tidak ingin berpisah. Perlahan Kenzi melepaskan tangan Siena hingga tersisa jari jemari mereka yang masih salin bertaut enggan untuk berpisah.


"Aku mencintaimu," ucap Kenzi seiring jarinya terlepas dari jari Siena. Ia menatap ke arah Siena yang melangkahkan kakinya sembari menoleh ke belakang menatap ke arahnya.


Kenzi sudah mempersiapkan kepulangan Surya dan Siena terlebih dulu demi keselamatan nyawa mereka. Pria itu tidak akan sanggup jika wanita yang ia cintai terluka. Sementara dia sendiri hendak menyelesaikan pekerjaannya untuk ikut bergabung dalam penangkapan sindikat mafia yang sudah terorganisir. Kenzi menghela napas dalam, dadanya sesak. Ia langsung balik badan tidak ingin melihat kepergian Siena. Pria itu bisa mendengar suara Siena memanggilnya meski mobil yang membawanya telah melaju meninggalkan halaman rumah.


"Kalian berdua ikut aku!" Kenzi melangkahkan kakinya tanpa menoleh lagi ke belakang, di ikuti Akira dan Yeng Chen dari belakang menuju pintu rumah lainnya.


***


Samuel langsung membuka pintu mobil untuk Siena dan Surya, ia langsung mempersilahkan mereka berdua untuk berjalan lebih dulu, tapi Surya menolaknya.


"Ada apa tuan?" tanya Samuel, kedua alisnya bertaut.


Surya tersenyum lebar, ia berjalan mendekatu Samuel dan merangkul bahunya. Surya menolak bukan tidak mau pulang. Tapi pria itu meminta Samuel untuk segera pulang menyusul Kenzi.


Samuel sempat menolak, karena dia harus memastikan Siena sudah naik pesawat. Dengan alasan yang meyakinkan, akhirnya Surya berhasil membujuk Samuel untuk menyusul Kenzi.


"Baiklah tuan, jika itu maumu." Samuel membungkuk hormat pada Siena lalu ia kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya.


Surya tersenyum karena berhasil membujuk Samuel. Surya bermaksud membantu Kenzi secara diam diam dan membalaskan dendamnya pada Hernet. Jika ia bicara langsung kepada Kenzi. Tentu pria itu akan menolaknya. Lalu ia beralih menatap Siena, "sayang, kau pulang duluan. Papa akan menyusulmu."


Siena menggelengkan kepala, ia tahu maksud Surya mengusir Samuel. "Tidak Pa, aku tidak mungkin meninggalkan suamiku berjuang sendirian." Siena berjalan mendekati Surya, dan menceritakan rencananya pada Surya.


"Jadi? kau punya niat yang sama dengan Papa?" matanya melebar menatap wajah Siena.


"Iya Pa." Diamnya Siena bukan berarti gadis itu mau menuruti keinginan Kenzi. Tapi ia punya rencana lain untuk membantu suaminya. Siena tahu, semua rencana Kenzi pasti di gagalkan musuh.


"Dari mana kau dapat informasi itu sayang?" tanya Surya. Siena tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan Surya. Tapi ia langsung mengajak Surya untuk kembali ke rumah dan mengambil semua senjata yang sudah Siena siapkan tanpa sepengetahuan Kenzi.

__ADS_1


__ADS_2