The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Meski gadis itu tidak pernah tahu, bagaiamana rasanya di manja dan di sayang Ayahnya. Tetapi mendengar sang Ayah mati sebelum melihat wajah putrinya yang telah dewasa. Membuat Miko semakin sedih. Sejak kecil, ia berharap bertemu dengan Ayah yang telah menelantarkan Ibunya. Kini harapannya pupus sudah, apalagi yang telah membunuh ayahnya, orangtua dari pria yang ia cintai dalam diam.


Dengan langkah gontai, Miko berjalan perlahan menyusuri tepi jalan raya. Sesekali kakinya menendang udara kosong. Langkahnya terhenti di sebuah taman terbuka ia duduk di tepi taman.


"Miko!"


Gadis itu menoleh, melihat Jiro turun dari atas motor. Lalu berjalan mendekati gadis itu, jongkok di hadapannya, meraih kedua tangan Miko.


"Kenapa kau pergi begitu saja?" tanya Jiro menatap lembut wajah gadis di hadapannya.


Miko menarik tangannya, menundukkan kepala sesaat.


"Untuk apa kau menyusulku?" tanya Miko balik.


"Aku khawatir padamu, apa tidak boleh?"


Miko berdiri, melangkahkan kaki. Di ikuti Jiro ikut berdiri menyusul Miko. Menarik tangannya hingga mundur ke belakang.


"Jangan pergi, aku mencintaimu." pria itu mendekap erat tubuh Miko.


Namun Miko hanya diam, ia enggan menjawab ucapan Jiro. Menatao tajam kedua bola matanya. Ia melihat kesungguhan di mata pria di hadapannya.


"Aku tidak tahu," jawab Miko.


"Aku tunggu sampai kau siap." Jiro melepas pelukannya. Ia menoleh ke arah samping melihat empat pria kekar sudah berdiri di sampingnya. Jiro memperhatikan empat pria itu, dan ia menyadari kalau ke empat pria itu anak buah Kanaye. Rupanya, ayahnya Kanaye masih tidak terima dengan kematian putranya dan kebebasan Kenzi dari tuduhan yang menjeratnya.


Tanpa basa basi, ke empat pria itu langsung menyerang Jiro dan Miko. Pertarungan pun tidak dapat di hindari. Sementara dari arah lain, Zoya tengah memperhatikan pertarungan itu. Ia enggan untuk membantu karena ada Miko. Tapi melihat mereka berdua mulai kewalahan. Akhirnya Zoya membantu mereka.

__ADS_1


"Zoya?" ucap Miko dan Jiro bersamaan.


"Tenang, aku akan membantumu." Zoya langsung mengayunkan tinju ke wajah musuh. Namun, pada akhirnya gadis itu pun kewalahan. Hingga membuat Jiro khawatir, ia berlari membantu Zoya.


Menyadari datang bantuan dari pria yang sangat di cintainya. Zoya tersenyum menatap Jiro sesaat. Hingga ia tidak menyadari salah satu pria menghajar wajah Zoya hingga gadis itu terpental jauh lalu ambruk di jalan.


"Zoya!" Jiro berlari ke arah Zoya lalu membantunya berdiri. Dari hidungnya keluar darah segar. "Kau tidak apa apa?"


Zoya meludah darah ke jalan lalu menganggukkan kepala. Baru saja Zoya hendak bicara lagi, Jiro sudah berlalu dari hadapannya membantu Miko yang kewalahan melawan empat pria sekaligus.


Zoya terdiam sesaat, lalu ia kembali membantu Jiro dan Miko. Lawan menjadi seimbang, Jiro berhasil melumpuhkan dua pria sekaligus. Sementara Miko terkena pukulan di perut. Membuat Jiro berhambur menerjang pria itu dan memukul, menendang pria tersebut bertubi tubi. Hingga tak berkutik lagi, tapi dari arah lain satu pria yang masih berdiri di belakang Jiro. Pria itu mengambil balok lalu di ayunkan ke arah Jiro.


"Awas!" pekik Zoya langsung menubruk tubuh Jiro. Hingga balok itu mengenai kepala Zoya, keduanya ambruk di jalan. Kepala Zoya mengalir darah segar membasahi wajahnya.


"Zoya?" Jiro menatap wajah gadis itu. Lalu berdiri membantu Miko menghabisi pria yang memegang balok. Sementara Zoya di abaikan begitu saja.


Jiro menendang punggung pria itu hingga terhuyung, lalu ia merebut balok di tangan pria itu. Mengayunkan ke punggung pria itu hingga tak sadarkan diri.


"Kau tidak apa apa?" Jiro memegang perut Miko.


"Tidak, aku tidak apa apa," jawab Miko meringis kesakitan.


"Aku obati dulu lukamu." Jiro menyentuh bibir Miko yang mengeluarkan darah. Lalu mereka berjalan meninggalkan tempat itu. Melupakan Zoya yang terluka parah karena melindungi Jiro. Saking khawatirnya dengan gadis yang ia cintai. Jiro lupa, ada gadis lain yang sangat membutuhkan pertolongannya.


Zoya berusaha bangun dan berdiri dengan tertatih berjalan menyusul Jiro dan Miko. Namun luka di kepalanya terlalu parah, hingga ia tak sanggup berdiri.


Gadis itu terdiam menatap mereka berdua sudah pergi jauh dari hadapannya. Ia berusaha teriak tapi sudah tak sanggup lagi bersuara. Hatinya telah lebih dulu terluka melihat sikap Jiro.

__ADS_1


"Tak seharusnya kumencintaimu di dunia ini. Dan dia mengabaikanku begitu saja dalam keadaan terluka. Apakah dia menafikkan keiklasan hatiku, untuk mendapatkan secebis hatimu. Apakah kau tidak bisa membedakan antara kaca dan permata? apakah karena aku seorang putri mafia? apakah aku sehina itu?"


Gadis itu menundukkan kepala, dengan kedua tangan mencengkram rumput. Tetes demi tetes darah di kepalanya jatuh mewarnai rumput hijau. Perlahan pandangan matanya mengabur, kesadaran Zoya telah hilang dan ia pun tak sadarkan diri, telungkup di atas rumput.


***


Sementara Jiro mengantarkan Miko ke rumahnya. Setelah memastikan gadis itu baik baik saja. Ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Namun di tengah perjalanan, Jiro baru mengingat Zoya.


"Bodoh! bodoh sekali aku, Zoya tengah terluka. Dan aku melupakannya begitu saja! ia merutuki kebodohan dan kesalahannya. Lalu memutar arah motornya kembali ke taman. Namun sesampainya di taman, ia tidak menemukan lagi Zoya. Ia hanya mendapatkan kalung liontin yang Zoya kenakan di atas rumput, basah oleh darah.


" Kalung milik Zoya," ucap Jiro pelan. Lalu ia masukkan kalung liontin itu ke dalam saku celana. Ia menutuskan untuk ke rumah Zoya untuk memastikan keadaannya. Walau bagaimanapun, ia harus bertanggungjawab. Kemudian, pria itu kembali naik ke atas motor melaju kencang menuju rumah Zoya.


Tak butuh waktu lama, ia telah sampai di depan pintu gerbang rumah Zoya.Jiro meminta izin untuk di bukakan pintu gerbang. Namun penjaga gerbang itu mengusir Jiro atas perintah Adelfo. Karena Adelfo sendiri tidak ada di rumah. Pria itu membawa Zoya ke rumah sakit. Jiro merasa bersalah dan meminta keterangan pada penjaga gerbang kerumah sakit mana, Adelfo membawa Zoya. Namun penjaga itu tidak memberitahunya, yang ada penjaga gerbang itu mengusir Jiro.


Karena tidak ingin memperkeruh situasi, akhirnya Jiro mengalah dan kembali pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Jiro menjelaskan semuanya pada Kenzi dan Siena. Kesalahan Jiro mengabaikan Zoya membuat Siena marah.


"Ibu tidak mau tahu, kau harus temukan di mana Zoya di rawat. Dan kau harus meminta maaf, apapun yang terjadi kau harus menghadapinya. Jangan jadi pengecut Nak."


"Maafkan aku, Bu," ucap Jiro menyesal.


"Pergilah, minta maaf pada Zoya. Terlepas dia memaafkanmu atau tidak, itu sudah menjadi konsekwensi yang harus kau terima."


"Baik Bu.."


Jiro melangkahkan kakinya kembali meninggalkan rumah. Kenzi hanya diam, ia merangkul bahu Siena. "Apa kau tidak terlalu keras pada putra kita?"

__ADS_1


Siena menggelengkan kepala, "aku tidak tahu, tapi apa yang Jiro lakukan sudah salah. Dan dia harus menjadi pria yang bertanggungjawab."


__ADS_2