The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 118: Crisis


__ADS_3

Dua jam berlalu mereka masih menunggu di luar. Tak lama kemudian Samuel membuka pintu kamar dan meminta yang lain untuk masuk ke dalam kamar.


Kenzi melihat Akira sudah duduk di kursi roda Kening dan tangannya di balut dengan perban Sementara Yeng Chen masih dalam keadaan koma dengan alat alat medis terpasang di tubuhnya.


"Untuk saat ini, aku tidak bisa meninggalkan pasien." Dokter pribadi Kenzi menyeka keringat di keningnya.


"Sebaiknya kau istirahat, Sam!"


Samuel menganggukkan kepala lalu ia mempersilahkan Dokter untuk mengikutinya menuju kamar tamu dan beristirahat.


"Akira, apa kau sudah lebih baik?" tanya Kenzi mendekati Akira yang duduk terpaku menatap ke arah Yeng Chen.


"Bos." Akira menoleh ke arah Kenzi.


"Katakan siapa yang melakukannya? Livian?" Akira menganggukkan kepala.


"Livian menjebak kami," ucap Akira. Ia menceritakan pada Kenzi tentang rencana busuk Livian. "Dia hendak menculik Nona Siena dan akan membawanya pergi ke New York."


"Lancang!" seru Kenzi, tangannya mengepal, bibirnya mengatup menahan amarah. Matanya melirik tajam ke arah Siena membuat Siena mundur selangkah berdiri di belakang tubuh Yu.


Perlahan Kenzi berjalan mendekati Siena dan menarik tangannya dengan kasar, "masuk ke kamarmu."


"Tapi kenapa?" tanya Siena menatap raut wajah Kenzi terlihat sangat marah.


"Kau tanya kenapa?" Kenzi tersenyum samar. "Aku tidak mau, Livian merebutmu dariku!"


"Kenzi tenanglah! ini bukan solusi yang tepat." Yu berusaha menengahi tapi Kenzi tidak mau mendengarkan.


"Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar kamar tanpa seizinku, kau paham?!" Mata Kenzi melebar menatap Siena.


"Apa kau sudah gila? aku istrimu, bukan tawananmu!" pekik Siena tidak mengerti dengan sikap Kenzi sekarang, dia berubah menjadi pemarah.


"Jangan banyak bicara, ikuti saja mauku!" Kenzi menarik paksa tangan Siena dan menyeretnya keluar kamar.

__ADS_1


"Kenzi! tenangkan pikiranmu, Livian senang melihat kau kacau seperti ini!" Yu terus mengingatkan Kenzi. Namun Kenzi mengabaikan semua nasehat Yu. Yu menggelengkan kepala menatap Kenzi menyeret Siena keluar dari ruangan.


"Ayo masuk!" Kenzi menyeret Siena dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Kenapa kau menyakitiku lagi." Mata Siena berkaca kaca menatap bingung ke arah Kenzi.


"Jangan menangis, aku tidak suka melihat kau menangis." Kenzi balik badan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.


Siena turun dari atas tempat tidur dan berlari mengejar Kenzi memeluknya dari belakang. "Jangan lakukan ini padaku, aku istrimu."


Kenzi terdiam menatap jari jemari Siena. Ia melepaskan tangan Siena dari pinggangnya.


"Aku tidak mau berbuat kasar lebih dari ini."


Siena menggelengkan kepala dengan air mata berlinang. "Setan apa yang merasukimu."


Kenzi mendengus kesal, lalu ia balik badan keluar ruangan dan mengunci pintu kamar dari luar. Siena berlari ke arah pintu menggedor gedor pintu berkali kali. "Kenzi buka! jangan perlakukan aku seperti ini!" pekik Siena dalam kamar. "Kenzi! aku istrimu!"


Kenzi menyandarkan tubuhnya ke pintu dan matanya terpejam. "Maafkan aku sayang, aku tidak ingin kehilanganmu." Hanya dengan cara mengurungnya, Livian tidak akan bisa menyentuh Siena. Berkali kali Kenzi kecolongan, sejak kematian Surya dan penjebakan terhadap dua anak buahnya membuat dia menjadi semakin tidak terkendali emosinya.


Kenzi duduk termenung di teras rumah, dengan tatapan mata kosong ke depan. "Apa yang sudah kulakukan pada istriku sendiri?" ucapnya pelan. Ia mengusap wajahnya gusar, lalu mengambil sebatang rokok di dalam kotak yang tergeletak di atas meja dan menyalakannya. Ia teringat bagaimana perjuangannya selama ini bersama Siena. Pantaskah ia di perlakikan seperti itu? setelah cinta dan kasih sayang Siena berikan dengan segenap jiwanya. "Ahh sial!" Kenzi mengusap rambutnya kasar menundukkan kepala mengambil senjata api yang terselip di pinggangnya


Dari arah pintu Yu memperhatikan Kenzi dengan tatapan sedih. Urusan hati, Yu tidak mau ikut campur. Tapi sikap Kenzi terhadap Siena tidak di benarkan. Kenzi membuang rokoknya ke asbak yang ada di atas meja, lalu ia berdiri dan menarik pelatuk senjatanya. Ia balik badan menatap Yu yang sudah berdiri di hadapannya.


"Sampai kapan kau akan mengurung istrimu?" tanya Yu.


"Aku tahu itu salah."


"Memang bukan urusanku, tapi caramu memperlakukan istrimu, itu sangat berlebihan Kenzi." Yu mencengkram lengan Kenzi kuat. "Ingat, musuh punya banyak kesempatan saat kau kacau."


Kenzi menganggukkan kepalanya, lalu beranjak pergi masuk ke dalam rumah menuju kamar Siena. Ia merogoh saku celananya mengambil kunci lalu membuka pintu kamar. Ia melihat Siena tengah duduk melamun di atas tempat tidur.


" Sayang?"

__ADS_1


Siena menoleh ke arah Kenzi lalu ia turun dari atas tempat tidur menghampiri Kenzi dan memeluknya. "Sayang, aku mohon jangan kurung aku." Siena tengadahkan wajahnya menatap Kenzi. "Aku rindu sosok suamiku yang mengerti segala hal tentang aku."


"Sayang, maafkan aku..maafkan aku.." ucap Kenzi membalas pelukan Siena.


"Kau tidak akan mengurungku lagi?" Siena tengadahkan wajahnya menatap raut wajah Kenzi sudah lebih tenang sebelumnya.


"Tidak sayang, hapus air matamu. Aku tidak bisa melihat kau menangis." Tangan Kenzi terulur menghapus air mata di pipi Siena. "Sekarang kau istirahat, aku akan menjagamu. Tidak akan kubiarkan siapapun melukaimu apalagi merebutmu dariku."


"Cup!"


Kenzi mencium kening Siena sekilas lalu mengangkat tubuhnya lalu ia baringkan di atas tempat tidur. "Kau diam di sini, aku ambilkan makan malammu."


Siena menganggukkan kepalanya, "jangan lama lama."


Kenzi mencubit hidung Siena sesaat lalu ia beranjak pergi keluar kamar. Siena duduk termenung selepas Kenzi pergi. Ia bersyukur Kenzi menyadari kekeliruannya, Siena mengerti ketakutan akan kehilangannya begitu besar. Siena menghela napas dalam dalam. "Livian, kau akan membayar setiap tetesan darah dan air mata keluargaku."


Tak lama Kenzi kembali dengan membawa nampan berisi makanan di tangannya. Ia menautkan kedua alisnya menatap Siena yang melamun. "Sayang, apa kau masih marah padaku?" Kenzi meletakkan nampan di hadapan Siena.


"Tidak, aku hanya berpikir bagaimana caranya membalas perbuatan Livian." Dengan sangat hati hati Siena menyampaikannya pada Kenzi.


"Tidak sayang, biar aku yang melakukannya. Jika dia melakukannya dengan cara licik. Aku juga harus melakukan hal yang sama." Kenzi menganggukkan kepala menatap Siena.


"Tapi kau harus berhati hati, aku tidak mau terjadi apa apa padamu." Siena memeluk Kenzi sesaat.


"Aku minta maaf.." ucap Kenzi pelan. Ia menyesali perlakuannya tadi pada Siena.


"Aku sudah memaafkanmu, terus kapan aku makan?"


"Ah iya." Kenzi mengambil sendok di atas nampan lalu menyuapi Siena dengan penuh kasih sayang. Tatapannya lurus ke wajah Siena, ia tidak berhenti merutuki kebodohannya yang hampir saja menghancurkan keluarganya sendiri.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Siena sembari mengusap bibirnya.


"Aku mencintaimu..sangat mencintaimu.."

__ADS_1


Siena tersenyum tipis, ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Kenzi lalu memeluknya dengan erat.


__ADS_2