
"Sifa! itu sepatu kakak! kau mau bawa kemana?!" pekik Siena berlari mengejar anak perempuan berusia 5 tahun.
"Kejar sifa kak!" Sifa tertawa cekikikan sambil berlari membawa dua sepatu Siena. Sifa terus berlari ke arah dapur. Namun Siena berhasil menangkap Sifa dengan memeluknya erat.
"Nah loh..kembalikan sepatu kakak," ucap Siena melepas pelukannya sembari memegang tangan bocah perempuan itu.
"Tidak!" Sifa cemberut, lalu ia sembunyikan sepatu Siena ke belakang tubuh mungilnya
"Adek..nanti kakak terlambat bekerja."
"Sifa berikan sepatu kakak..tapi?"
"Tapi apa?" tanya Siena tertawa kecil melihat tingkah lucu Sifa.
"Kakak janji..pulang kerja..beliin Sifa coklat," ucap Sifa tersenyum malu malu.
"mmm.." Siena terdiam sejenak menggoda Sifa yang terlihat cemberut. "Baiklah..kakak belikan kamu coklat."
"Horee!!! Sifa kembali tersenyum sumringah, lalu ia berikan sepatu Siena. " Nih sepatunya kak."
"Makasih sayang.." Siena ambil sepatunya lalu ia mencium kedua pipi Sifa. Sifa tertawa geli lalu ia berlari ke kamarnya. Siena berdiri lalu ia memakai sepatunya. "Sifa..anak nakal," gumam Siena tersenyum.
"Prankkk!!
Siena berjengkit kaget saat mendengar suara piring pecah dari arah dapur, ia langsung berlari dan berdiri di depan pintu dapur menatap Bu Silvi, " Ibu! ada apa!" seru Siena lalu berlari menghampirinya. "Ibu baik baik saja bukan?" Siena memperhatikan piring yang pecah terbelah menjadi beberapa bagian di lantai.
"Ibu tidak apa apa nak..ibu hanya sedikit pusing saja," jawab Bu Silvi lalu ia jongkok memungut pecahan piring, di bantu Siena.
"Ibu kalau sakit istirahat saja, biar aku yang gantiin ibu," ucap Siena menatap sesaat ke arah bu Silvi.
"Tidak nak..kau harus bekerja..ibu baik baik saja."
"Benar? ibu baik baik saja..atau sebaiknya aku ambil cuti sehari ini saja bu?"
"Tidak perlu nak..ibu baik baik saja kok." Bu Silvi berdiri lalu memasukkan pecahan piring ke dalam plastik lalu mengikatnya.
"Ibu yakin?" tanya Siena lagi, ia merasa sangat khawatir.
"Siena..ibu baik baik saja kok..lebih baik kau berangkat kerja, nanti kesiangan loh."
"Baiklah bu..tapi kalau ada apa apa..cepat hubungi aku," ucap Siena. Bu Silvi tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Kalau begitu, aku berangkat dulu bu.." Siena mencium tangan Bu Silvi lalu ia kembali ke kamar untuk mengambil tas, setelah itu ia langsung berangkat bekerja. Sepanjang perjalanannya ke kantor, Siena tidak berhenti memikirkan Bu Silvi.
Lima belas menit kemudian Siena telah sampai di tempat ia bekerja. Siena langsung memasuki ruangannya.
__ADS_1
"Kenapa aku kepikiran terus ibu?" tanya Siena pada dirinya sendiri, ia tidak menyadari kehadiran Keenan yang sudah berdiri di hadapannya.
"Siena? apa kau baik baik saja?" tanya Keenan duduk di kursi.
"Kau? sejak kapan kau ada di sini?"
"Sejak kau belum lahir," jawab Keenan tertawa kecil. Siena memajukan bibirnya menatap Keenan yang terlihat bahagia.
"Ehemm!
" Apa?" Keenan mengerutkan dahi menatap Siena.
"Yang lagi bahagia, sampai lupa sahabat sendiri," sindir Siena.
"Cemburu nih ceritanya," goda Keenan.
"Tidak," sahut Siena.
"Si..senalam aku jadian dengan Maria..kita resmi pacaran dan aku serius ingin menikahinya."
Siena matanya terbelalak, "secepat itu?" Keenan menganggukkan kepala.
"Kalau itu sudah menjadi pilihanmu." Siena mengangkat kedua bahunya, ia berdiri mendekati Keenan. "Aku ikut bahagia mendengarnya."
"Terima kasih..kau memang sahabatku."
"Tentu..akan aku ingat semua pesanmu itu nyonya Siena." Keenan tertawa kecil. "Si..aku mau?" Keenan tidak melanjutkan ucapannya, saat suara ponsel milik Siena berbunyi.
Siena mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja, lalu ia membuka layar ponsel. "Ibu?" Siena menggeser icon berwarna hijau lalu ia dekatkan ponsel di telinganya.
"Ibu ada apa?" Siena langsung bertanya saat panggilan terhubung, tapi yang menjawab bukanlah Bu Silvi melainkan seorang Polisi, membuat Siena terkejut, jantungnya serasa mau copot saat mendengar Bu Silvi kecelakaan lalu lintas. Tak terasa ponsel di genggaman Siena hampir saja jatuh.
"Baik Pak..saya akan segera ke sana."
"Ada apa Si?" tanya Keenan.
"Ibu..Ibu.." ucap Siena air matanya berlinang.
"Bu Silvi kenapa?" Keenan berdiri mendekati Siena.
"Ibu kecelakaan, dan sekarang ada di dirumah sakit," jawab Siena lalu ia mengambil tas yang ada di atas meja.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Keenan menarik tangan Siena, lalu mereka langsung menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
***
Siena dan Keenan berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sepanjang perjalanan Siena terus menangis. Hingga langkah mereka terhenti saat melihat seorang Dokter keluar dari ruang operasi.
"Dokter, bagaimana Ibu saya?" tanya Siena dengan nada suara bergetar.
"Pasien sedang dalam masa kritis."
"Sudah berapa lama Dok?" tanya Keenan dengan nada suara lebih stabil di banding Siena.
"Dua jam." Dokter menjawab pertanyaan Keenan.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" ucap Siena pelan.
"Seseorang menabrak korban saat hendak berangkat ke pasar, menurut keterangan Pak Polisi. Korban terjepit diantara dua mobil dari arah depan dan belakang. Tulang tangannya patah, ada beberapa benturan di kepalanya," ucap Dokter.
"Keenan..bagaimana dengan Ibu.." ucap Siena terisak mendengar penjelasan Dokter.
"Sabar Si..sebaiknya kita berdo'a..semoga Bu Silvi baik baik saja." Keenan merangkul pundak Siena dan memeluknya erat.
"Aku takut.." isak Siena.
"Hei..kau jangan berpikir yang tidak tidak." Keenan berusaha menenangkan Siena."
Siena teringat kejadian tadi pagi, seolah piring pecah adalah pertanda buruk membuat Siena semakin keras menangis.
"Siena..tenanglah," kata Keenan mengusap punggung Siena lalu memeluknya.
"Aku takut kehilangan Ibu.."
"Tidak Si. .Bu Silvi tidak akan meninggalkanmu..tidak ada yang pergi..kau jangan bicara seperti itu," ucap Keenan, ia terdiam untuk meyakinkan ucapannya sendiri.
"Apa yang bisa kami lakukan Dok?" tanya Keenan, matanya menatap ke arah Dokter.
"Kami membutuhkan izin dari keluarganya, karena harus di lakukan operasi."
"Baik Dok." Dokter mempersilahkan Siena dan Keenan untuk menandatangani berkas berkas yang harus Siena isi sebagai orang yang bertanggungjawab atas segala tanggungan medis Bu Silvi.
"Bagaimana?" tanya Keenan mendekati Siena lalu merangkulnya. Keenan merasakan badan Siena gemetaran.
"Semua tergantung Dokter, Keenan," jawab Siena. "Dokter akan melakukan operasi pada otak Bu Silvi."
Keenan tahu seberapa besar kerusakan yang di akibatkan oleh kecelakaan mobil itu, dan itu berakibat parah pada kondisi Bu Silvi.
__ADS_1
"Keenan..apakah Ibu akan sembuh total setelah operasi?" tanya Siena.
"Aku tidak tahu Siena..tapi kita tidak boleh berhenti berharap." Siena meremas tangannya cemas. Dia dan Keenan hanya bisa berharap yang terbaik sekarang. Dan bila suatu hari nanti terjadi sesuatu pada Bu Silvi. Siena tidak tahu harus bagaimana, apalagi banyak beban di rumah yang harus ia pikul sendirian nanti.