The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 68: shallow heart


__ADS_3

Kenzi melangkahkan kakinya memasuki ruangan Livian. Ia tersenyum sinis saat melihat Inspektur Sheila duduk di kursi menyilangkan kakinya.


"Aku tidak menyangka outfit ataupun pihak kepolisian menempatkanmu di posisi tertinggi."


"Jaga mulutmu Kenzi." Sheila menurunkan kedua kakinya ke bawah meja.


"Aku dengar kau butuh uang?" ucap Kenzi mencemooh.


Sheila mengatup bibirnya menahan amarah yang menggelegak di tubuhnya. Posisi dia memang tidak mengenakkan. Bahkan dia bisa berkhianat terhadap kepolosian sendiri ataupun terhadap outfit.


"Diamlah Kenzi!" Livian masuk ke dalan ruangan langsung duduk bersebelahan dengan Sheila.


Kenzi tertawa terbahak bahak saat melihat Livian bisa bekerjasama dengan Sheila. Ia terbatuk batuk sembari mematikan cerutunya di asbak.


"Aku harap kau bisa bekerjasama Kenzi, dengan begitu akan ada keuntungan besar di outfit. Serahkan gadis itu pada Inspektur Sheila." Livian berdiri, ia berjalan menuju lemari tempat penyimpanan berbagai macam minuman beralkohol.


Kenzi terdiam menatap Livian yang menuangkan minuman ke dalam gelas. "Apa jaminannya kalau kau tidak akan melukai istriku?" Kenzi tersenyum sinis memalingkan wajahnya menatap Sheila.


"Percaya padaku," sahut Sheila.


Kenzi kembali tertawa terbahak bahak, ia masih ingat saat kejadian di masa lalu. Bagaimana mereka mengorbankan Yeng Chen untuk kepentingan outfit.


"Adakah kepercayaan yang tersisa untukku?" Kenzi berdiri dengan kedua tangan mencengkram meja menatap geram Livian dan Sheila.


"Jangan pernah kalian sentuh istriku, atau kau akan menyesal." Kenzi berdiri tegap, lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Livian dan Sheila saling pandang sesaat, "atur segalanya sebelum mereka meninggalkan Hongkong, pergunakan dua teman gadis itu," ucap Livian


"Kau tidak perlu khawatir, aku butuh uang secepatnya." Sheila berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan untuk mengatur anak buahnya dalam penangkapan Kenzi besok.


***


"Besok kalian harus ikut kami," ucap Sheila mulai mengatur siasat.


"Kapan Kenzi akan membawa gadis itu?" tanya Marsya sembari meletakkan dua gelas kopi di atas meja.


"Pukul sembilan pagi," jawab Sheila.

__ADS_1


"Aku tidak mau gagal untuk kali ini, waktu kami tersisa dua hari di Hongkong." Rei mengambil gelas kopi di atas meja dan menyecapnya perlahan.


Sementara Keenan hanya memperhatikan alur cerita yang di berikan Sheila. Ia merasa ada yang ganjal dengan penuturan Sheila. Jika Kenzi memang hendak melenyapkan Siena. Kenapa dia harus membawa Siena jauh jauh. Bukankah dia bisa melakukannya kapan saja? sampai saat ini Siena masih baik baik saja, pikir Keenan. Ada keinginan untuk mencari tahu, tapi pergerakan Keenan terbatas di Negara lain.


"Kalian harus bekerjasama jika memang menginginkan teman kalian kembali ke Indonesia." Sheila berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan di ikuti Marsya.


"Rei, apa kau percaya apa yang mereka katakan?" tanya Keenan.


"Aku percaya, mereka Polisi." Rei berdiri dan mengajak Keenan untuk pulang ke rumah Marsya. Sementara Keenan sendiri meragukan semua keterangan Sheila yang mengatakan jika Kenzi hendak melenyapkan Siena.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Keenan tidak berhenti memikirkan Siena, ia mencoba mencerna semua ucapan Inspektur Sheila. Berbeda dengan Rei, dia mempercayakan semuanya kepada Marsya dan Sheila. Sepintas mata, Keenan melihat Sheila tengah berbincang dengan dua pria tak di kenal menggunakan mantel berwarna hitam.


"Aku yakin ada yang tidak beres," ucap Keenan dalam hati.


***


Siena terbangun dari tidurnya, ia merasakan pusing di kepala yang terasa berat lalu ia turun dari atas tempat tidur menghampiri meja yang tak jauh dari tempat tidurnya.


Ia mengambil dua butir obat lalu menelannya untuk meredakan sakit di kepala. Dengan kedua tangan mencengkram meja ia menundukkan kepala.


"Apa kau baik baik saja?" tanya Kenzi dari arah pintu kamar yang terbuka.


"Aku hanya pusing."


Kenzi merengkuh pinggang Siena dan mendekapnya erat sembari mencium kening Siena. "Besok kita pulang ke Indonesia." Kenzi tersenyum menatap kedua bola mata Siena.


"Benarkah?" mata Siena berbinar.


Kenzi menganggukkan kepala, "bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Siena balik.


Kenzi melepaskan pelukannnya, ia duduk di tepi tempat tidur. "Aku keluar dari pekerjaanku."


Siena duduk di sebelah Kenzi, "katakan apa yang tidak aku tahu."


Kenzi memalingkan wajahnya menatap Siena, "tidak ada."


"Kau tidak perlu berbohong." Siena menundukkan kepala sesaat, ia berdiri menghadap Kenzi.

__ADS_1


"Aku tahu kau berbohong, aku tahu ini tidak akan mudah. Kau keluar dari pekerjaanmu atau tidak, tetap akan menjadi sebuah ancaman baik buatmu atau aku sendiri."


Kenzi berdiri dan menangkup wajah Siena." Aku hanya ingin bersamamu."


"Tidak Kenzi! aku tidak mau mati sia sia!" Siena menurunkan tangan Kenzi.


"Tidak akan! tidak akan pernah Siena. Tidak kuizinkan siapapun melukaimu." Kenzi memeluk tubuh Siena erat. "Percayalah padaku."


"Tidak! mana mungkin aku percaya padamu!" Siena mendorong tubuh Kenzi, ia menangis lalu naik ke atas tempat tidur. Kenzi menundukkan kepala sesaat, ia memalingkan wajah menatap Siena yang menangis. Perlahan ia naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Siena.


"Kau jangan menangis, lebih baik kau maki maki aku atau kau bisa memukulku sepuas hatimu." Kenzi menarik bahu Siena supaya menghadapnya. Ia menganggukkan kepala menatap bulu mata Siena yang lentik basah oleh air mata. Ia mendekap tubuh Siena dengan erat, mengusap punggung Siena untuk menenangkan bahwa semua akan baik baik saja.


"Aku tidak mau mati sia sia.." ucap Siena lirih dalam pelukan Kenzi.


"Tidurlah, dan jangan berpikir yang lain. Besok kita pulang." Kenzi mencium puncak kepala Siena. Lalu ia bangun dan turun dari atas tempat tidur dan melangkahkan kakinya keluar kamar untuk menemui Akira dan Yeng Chen di lantai dasar.


"Ada apa bos?" tanya Yeng Chen, ia duduk di kursi berhadapan dengan Kenzi. Sementara Akira meletakkan dua gelas wiski di atas meja lalu duduk bersebelahan dengan Yeng Chen.


Kenzi menarik napas dalam, ia mengambil gelas wiski di atas meja. "Persiapkan senjata, besok kita tinggalkan Hongkong."


"Baik bos," sahut Yeng Chen.


"Bagaimana dengan outfit?" tanya Akira.


Kenzi menatap Akira sesaat sembari memainkan gelas. "Aku tidak perduli lagi."


"Aku setuju," sahut Akira. "Apapun yang terjadi, kami ikut tuan."


"Bagaimana denganmu Yang Chen?" Kenzi meletakkan gelas wiski di atas meja, menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Terserah bos, aku ikut." Yeng chen mengambil gelas wiski di atas meja dan menyecapnya perlahan.


Kenzi menatap dalam Yeng Chen, dengan kedua tangan ia lipat di dada, "Samuel sudah menyelesaikan tugas tugasnya di Indonesia, kita tinggalkan bisnis haram ini."


"Bagaimana dengan nona Siena?" sela Akira.


"Dia istriku, tentu saja ikut bersama kita."

__ADS_1


Akira menganggukkan kepala, ia melirik Yeng Chen sesaat. Semenjak dia menjadi yatim piatu, hanya Kenzi yang menjadi panutannya dan banyak membantu dia keluar dari lembah hitam.


__ADS_2