The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 88: Cuddle in death 1


__ADS_3

Diam di tempat adalah sebuah kesalahan. Berlari dan bersembunyi dari masalah bukanlah sebuah pilihan. Ya, memang terkadang butuh sebuah pelarian untuk menarik diri dan melihat dengan jelas. Jika yang dibutuhkan satu tindakan bisa memberi makna tanpa memikirkan hasil akhir, adalah satu tindakan tepat untuk saat ini, kenapa tidak? dari pada harus menyerah begitu saja tanpa melakukan apapun.


Siena mengganti pakaiannya dengan celana panjang berwarna hitam terdapat beberapa kantong, untuk menyimpan senjata, di padukan dengan jaket hitam yang melekat pas ditubuhnya. Ia selipkan dua senjata api di balik jaket. Setelah selesai ia balik badan menghadap cermin melihat pantulan wajahnya di cermin itu. Siena tersenyum, sekilas wajah Kenzi hadir di pikiran. Ia ulurkan tangan menyentuh cermin dengan jari telunjuknya. "Kau tidak sendirian," gumamnya pelan menatap tajam ke pantulan wajahnya di cermin. Gadis itu siap terluka, berkorban demi orang orang yang ia cintai dengan segenap hatinya.


"Sayang, kau sudah siap?"


Siena memalingkan wajahnya menatap ke arah Surya yang sudah berdiri di sampingnya. Gadis itu menganggukkan kepala dengan mantap. "Siap Pa."


Surya berjalan mendekat ke arah Siena, tangannya menangkup wajah putri satu satunya. "Dengar sayang, jika terjadi sesuatu dengan Papa, kau harus segera pergi meninggalkan Negara ini."


"Tidak Pa, tidak akan terjadi apa apa dengan kita semua," ucap Siena dengan penuh keyakinan dan harapan besar. Ia tatap wajah Papanya dengan dalam, lalu menganggukkan kepala dan tersenyum tipis.


Surya tersenyum, mengangguk cepat. Lalu mereka berjalan bersama meninggalkan rumah untuk menjalankan rencana selanjutnya, untuk menemui dua gangster terkenal di kota itu, Siena telah membayar mereka dengan harga fantastis. Untuk menyerang langsung ke pusat tempat markas Crips dan Hernet meng-operasikan bisnis ilegal juga tempat mereka berkumpul.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai. Siena langsung membicarakan apa apa saja yang harus mereka kerjakan. Berkat bantuan Surya semua menjadi lancar tanpa ada kendala. Setelah mereka selesai menyusun rencana, Siena dan Surya bergegas menyusul Kenzi, di ikuti mereka dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Iring iringan kendaran mereka mulai melaju kencang ke tempat tujuan.


***


Sementara itu di tempat lain, pihak Kepolisian mulai beegerak melakukan penggerebekan di beberapa markas Crips yang biasa beroperasi di waktu bersamaan. Pihak berwajib mengerahkan pasukannya untuk meringkus sekaligus menghentikan kejahatan organisasi itu, yang selama ini tak terjamah pihak berwajib. Semua itu berkat adanya kerjasama Kenzi dan pihak berwajib. Suara sirine terdengar di sepanjang jalan, baku tembak antara pihak berwajib dengan anak buah Bos besarpun tidak dapat di hindari. Bukan tanpa perlawanan, dengan sengit mereka melawan pihak berwajib hingga korban mati maupun luka luka berjatuhan. Baik dari pihak Crips ataupun pihak berwajib.

__ADS_1


"Diam di tempat!"


Polisi mulai merangsek masuk ke inti markas Crips dimana obat obatan terlarang di produksi. Namun untuk kali ini mereka tidak menduganya dengan apa yang mereka lihat. Semua barang barang ilegal dan obat obatan terlaramg sudah kosong. Bos besar hanya meninggalkan beberapa wanita tahanan dan para pekerja pembuat obat.


Kenzi mulai memcium keganjalan di markas pusat itu. Sesaat Kenzi diam mematung memperhatikan seisi ruangan yang sudah kosong. Sementara pihak berwajib menangkap orang orang yang ada di dalam ruangan itu, beserta barang barang yang bisa di jadikan bahan bukti.


"Bagaimana?"


Kenzi memalingkan wajahnya menatap ke arah Marsya. Sesaat ia tertegun, "sebaiknya kau urus di sini sampai selesai, biar aku bergerak dan kau tunggu konfirmasi dari aku."


Marsya menganggukkan kepala, "apa kau butuh bantuan?" Marsya menoleh ke arah tiga anak buah Kenzi yang terdiam.


"Tidak, kau ikuti saja apa kataku." Kenzi mengalihkan pandangan menatap ke arah tiga pengawalnya, ia memberikan kode pada mereka untuk segera meninggalkan tempat.


***


"Bos." Samuel mulai angkat bicara setelah beberapa menit melihat Kenzi hanya diam duduk di kursi ruangan markas Crips yang sudah kosong.


Kenzi tengadahkan wajahnya menatap Samuel, lalu berdiri. "Sepertinya, aku tahu di mana mereka berada." Kenzi menepuk bahu Samuel sekilas. Kenzi mulai menyusun rencana ulang, ia tidak mau kecolongan lagi.

__ADS_1


"Siap Bos! jawab mereka serempak. Kemudian mereka melangkahkan kakinya keluar ruangan. Kenzi masuk ke dalam mobilnya sendirian. Sementara tiga anak buahnya menggunakan kendaraan lain mengikuti Kenzi dari belakang.


Satu jam berlalu, akhirnya mereka sampai di ujung jalan raya. Kenzi menepikan mobilnya di ikuti yang lainnya lalu keluar dari dalam mobil. Kenzi berdiri sembari melepas kaca mata hitamnya, lalu ia lempar sembarangan kejalan. Tatapan jauh lurus kedepan melihat sebuah bangunan di antara perbatasan kota Hongkong itulah Hernet dan Livian bersembunyi bersama anak buahnya yang lain. Tempat itulah mereka menyembunyikan barang barang ilegalnya.


Mata Kenzi menyipit menatap jauh ke depan, terdapat lahan kosong membentang luas. Jalan berbatu dan terdapat pohon pohon besar. Pria itu menundukkan kepala mengambil sebatang cerutu lalu menyalakannya. Ia hisap dalam dalam cerutu, lalu memalingkan wajah menatap Samuel dan yang lain, tengah menatap lurus ke depan pada sebuah bangunan yang nampak kecil dari kejauhan. Ia balik badan membuka pintu mobil dan mencari sebuah peta bangunan yang pernah ia simpan di dalam tas yang sudah lama tak pernah ia buka di dalam mobil. Lalu ia ambil denah bangunan itu di tunjukkan pada Samuel dan yang lain.


Mereka jongkok di tepi jalan raya, dan menundukkan kepala memperhatikan denah bangunan yang Kenzi tunjukkan. Dengan jarinya, Kenzi memberitahu mereka apa apa saja yang harus mereka lakukan. Titik titik di mana mereka harus menyerang dengan senyap. Memang itu tidak akan mudah. Ya, Kenzi akui itu. Namun ia percaya pada kemampuan tiga anak buahnya yang sudah terlatih di jalanan.


"Kalian siap?!" Kenzi menatap satu persatu anak buahnya.


"Siap Bos!" ucap mereka serempak. Lalu mereka kembali berdiri. Kenzi memberikan denah lokasi itu pada Samuel.


Kenzi menyentuh pundak Yeng Chen, menatap dalam satu persatu mereka. Sebelum berangkat Kenzi menyampaikan kata kata yang tak pernah ia ucapkan sebelumnya pada mereka. Bahwasanya, Kenzi sudah menganggap mereka seperti adik adiknya sendiri. Dan dia memberikan dua pilihan pada mereka. Mundur saat itu juga dan pergi sejauh mungkin dari Negara ini, atau ikut berjuang bersamanya meski nyawa taruhannya.


Dengan mata berkaca kaca menatap wajah Kenzi, Akira angkat bicara. "Kau kakak sekaligus pelindungku."


"Kau yang mengangkat aku dari jalanan," timpal Yeng Chen.


"Kau juga telah memberiku kehidupan." Samuel ikut menimpali.

__ADS_1


Mereka mengangguk bersamaan lalu memeluk tubuh Kenzi dengan erat di selingi tertawa seakan tidak ada jarak lagi di antara mereka. Hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Kenzi tertawa kecil, ia melepas pelukan mereka, lalu menepuk pipi Akira. "Jangan lemah, ayo berangkat!"


Mereka mengangguk cepat, Akira mengusap kedua matanya, menahan air matanya yang hampir jatuh. Lalu mereka semua mempersiapkan semua senjata dan bahan bahan peledak untuk di gunakan nanti. Setelah selesai mereka berkemas dengan tas kecil di punggung masing masing, lalu berjalan menuju bangunan yang letaknya lumayan jauh.


__ADS_2