The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 71: Dignity


__ADS_3

"Berita hari ini benar benar tidak sesuai fakta, dan menjadi trending topic selama dua hari ini," ucap Samuel kepada Kenzi yang sedang duduk di kursi.


Kenzi, penasehat jaringan terlarang dan sulit di tangkap. Pemilik mata gelap hanya tersenyum menatap Samuel.


"Mereka sengaja menyudutkanku dan menimpakan kesalahan padaku. Mereka hendak cuci tangan.." ungkap Kenzi.


"Kau benar, bos..pergerakan kita akan terus di awasi. Kita akan kesulitan untuk meninggalkan Hongkong." Samuel berkata dengan nada bingung.


"Jadi? aku tidak akan pernah bisa pulang ke Negaraku?!" ucap Siena menatap Kenzi dan Samuel bergantian dengan tatapan kecewa.


"Tidak Siena..bukan begitu." Kenzi berdiri mendekati Siena dan menangkup wajahnya. "Dengar, kita akan pulang."


Siena menepis tangan Kenzi dan berkata, "kau bohong!" ia langsung berlari keluar ruangan. Kenzi mengusap rambutnya kasar, lalu berjalan menyusul Siena.


Kenzi menatap Siena yang telungkup di atas tempat tidur, membenamkan wajahnya di bantal menangis kecewa. Kenzi menarik napas panjang, lalu berjalan menghampiri Siena.


"Siena.." ucap Kenzi pelan. Ia naik ke atas tempat tidur karena Siena tidak merespon panggilannya dan menarik bahu Siena untuk menghadapnya.


Siena memalingkan wajahnya menatap pria pemilik mata gelap yang tengah duduk di sampingnya, "apalagi? kau mau bohongin aku apalagi. Jelas aku mendengar percakapan kalian."


"Aku tahu Siena, tapi bukan berarti kau tidak bisa pulang." Kenzi berbaring di samping Siena dan memeluk tubuhnya erat.


"Kau tidak perlu membohongiku lagi, katakan saja kalau kita tidak bisa pulang," ucap Siena lirih, menatap kedua bola mata Kenzi.


"Kau tidak perlu khawatir, bagaimana caranya. Aku akan tepati janjiku padamu Siena." Kenzi tersenyum sembari menyelipkan rambut di telinga Siena.


"Bagaimana caranya?" tanya Siena.

__ADS_1


Kenzi terdiam mengusap pipi Siena dengan lembut, "akan aku atur..kau tenang saja, percaya padaku." Kenzi langsung mencium bibir Siena sekilas. "Bagaimana? kau percaya padaku?" tanya Kenzi mengusap bibir Siena.


Siena menganggukkan kepala, "aku percaya padamu." Kenzi langsung tersenyum, ia peluk erat tubuh Siena dan membenamkan wajahnya di leher jenjang milik Siena.


"Beri aku waktu, dan jangan pernah pergi dariku." Kenzi tengadahkan wajah menatap Siena sesaat, ia kembali benamkan wajahnya di leher Siena.


Sesaat hening, tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Siena hanya merasakan hembusan napas Kenzi di lehernya. Meskipun hidupnya berada di tengah tengah bahaya. Ada rasa nyaman dan tenang ketika dia berada di dekat Kenzi. Perlahan tangan nya membalas pelukan Kenzi.


Kenzi tersenyum dan pejamkan matanya merasakan pelukan hangat Siena. Hingga tanpa terasa hasrat yang Kenzi miliki tak dapat ia tahan lagi. Perlahan tangannya mulai membuka satu persatu kancing baju Siena yang hanya diam tanpa ada perlawanan. Namun detik berikutnya Siena mulai bereaksi. Ia menarik kembali pakaiannya dan mengancingkan bajunya kembali.


"Kenapa?" tanya Kenzi bingung.


Siena hanya menggelengkan kepalanya, "tidak sekarang."


Kenzi menghela napas dalam dalam. Lalu ia bangun dan turun dari atas tempat tidur. Ia ulurkan tangan memgusap lembut pipi Siena.


***


Kenzi berjalan perlahan ke kamar Siena, ia membuka pintu perlahan dan memperhatikan Siena dari balik celah pintu dan berjalan mendekati Siena yang tengah tertidur pulas.


"Akan aku tepati janjiku Siena, aku hanya butuh kau tetap ada di sampingku." Kenzi membungkukkan badan mencium sesaat kening Siena. Setelah itu ia berjalan keluar kamar dan menutup pintunya.


"Bos," ucap Samuel saat melihat Kenzi berjalan ke arahnya.


"Kau tetap di sini, dan jaga baik baik istriku."


Samuel mengangguk cepat, ia menatap punggung Kenzi yang berjalan keluar rumah. Kenzi meninggalkan rumahnya malam itu menggunakan motor dengan perlengkapan senjata di tubuhnya untuk menemui Livian dan menyelesaikan permasalahannya dengan bos besar.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Kenzi sudah berada di markas Crips milik Livian tempat mereka berinteraksi menjual dan tempat berkumpulnya para pecandu. Ia berdiri di depan, lalu menelpon Pihak kepolisian.


Kenzi duduk di atas motor sembari menyalakan cerutu. Ia menunggu waktu yang tepat untuk beraksi. Tak lama dua buah mobil datang dari arah lain dan berhenti di depan markas Crips. Kenzi langsung turun dari atas motor dan membuang cerutu lalu ia injak. Saat melihat dua mobil lain datang dan berhadapan dengan mereka yang baru saja datang.


Kenzi langsung menembaki mereka saat tengah bertransaksi. Mereka langsung berlari dan bersembunyi dan menembaki Kenzi. Di saat bersamaan empat mobil patroli pihak kepolisian langsung datang dan mengepung mereka dari berbagai sisi. Sementara Kenzi sendiri masuk ke dalam markas diam diam menghancurkan alat alat obat terlarang. Para pekerja di dalam markas itu langsung berhamburan. Tanpa memberikan kesempatan, Kenzi menembaki semua anak buah Livian.


Kenzi langsung keluar dari pintu belakang saat polisi merangsek masuk ke dalam markas dan menangkap anak buah Livian yang masih tersisa. Malam itu Kenzi tidak hanya menghancurkan satu markas, tapi beberapa tempat rahasia milik Livian.


Sampai pada akhirnya usaha Kenzi tidak sia sia, ia berhasil menemui Livian tengah bersenang senang dengan seorang wanita di kamarnya.


"Kau sudah melukai istriku," ucap Kenzi mengarahkan senjata apinya ke wajah Livian.


Livian tertawa terkekeh menatap Kenzi, "istri? sejak kapan kau perduli terhadap seorang wanita biasa," ledek Livian membuat Kenzi semakin geram. "Kau telah menjatuhkan kehornatanmu sendiri sebagai penasehat outfit ini hanya demi wanita itu."


"Tutup mulutmu!" seru Kenzi menarik pelatuknya.


Livian tertawa, "kita sudah bekerjasama dan berteman lebih dari dua puluh tahun Kenzi, hanya karena wanita itu kau mau membunuhku?" Livian berusaha mengulur waktu, hinga polisi datang.


"Teman?" Kenzi tertawa sinis. "Seorang teman tidak akan melukai wanita yang di cintainya."


Detik berikutnya terdengar suara sirine mobil polisi di luar markas. Livian langsung menerjang Kenzi saat dia lengah. Ia terhuyung kebelakang kembali berlari mengejar Livian yang melarikan diri mendekati polisi yang berada di luar markas.


"Tangkap aku, lindungi aku!" seru Livian mengangkat kedua tangan mendekati Marsya dan Sheila juga beberapa anggota polisk lainnya yang mengarahkan senjata api padanya.


Kenzi tersenyum sinis melihat sandiwara yang di lakukan Livian. Ia berjalan mundur sembari mengarahkan senjata api ke hadapan mereka. "Dasar pecundang." Menatap geram Livian yang tersenyum menyeringai ke arahnya.


"Menyerahlah Kenzi, kau sudah di kepung! ujar Sheila. Namun Kenzi menembaki mereka semua sembari balik badan dan berlari ke belakang markas lalu naik ke atas motor miliknya.

__ADS_1


" Berhenti! seru salah satu polisi yang mengejar Kenzi, namun ia tidak memperdulikannya. Kenzi melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Lagi lagi pihak kepolisian harus kehilangan jejak Kenzi.


__ADS_2