
Kenzi menyesap kopinya perlahan melihat langit yang terlihat gelap yang tadinya berwarna semburat oranye. Kopi hitam kental memberikan sedikit efek tenang pada dirinya. Kenzi tidak sanggup membayangkan, terlalu perih. Dia tidak bisa berkata apa apa lagi di hadapan wanita itu.
"Kenzi." Kenzi mendongakkan kepalanya lalu melihat Yu mendekatinya. Rambut pria itu berantakan dan bajunya kotor selepas bermain dengan Helion.
"Maaf aku mengganggumu." Yu duduk di kursi berhadapan dengan Kenzi.
"Kau kotor sekali." Kenzi tertawa kecil mengingat kenakalan putranya.
"Tidak apa." Jawab Yu singkat. "Ada yang mau aku sampaikan terkait kasus kematian Livian dan penyeranganmu tempo hari."
"Aku tahu." Kenzi kembali menyecap kopinya. Pembicaraan tentang organisasi itu tidak pernah me jadi topik menarik buatnya.
"Mereka memutar balikkan fakta." Yu menatap tajam Kenzi.
"Aku tahu, aku mendengarnya apa yang orang penting itu katakan di media. Dari awal sampai akhir aku mendengarkan rekaman itu."
"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan Pengacara terbaik di kota ini." Yu mengusap rambutnya yang berantakan.
"Oke, kalau begitu aku pulang dulu. Besok pagi aku jemput kau di sini." Yu berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir di halaman.
Kenzi meletakkan cangkir di atas meja mengeluarkan sekotak rokok lalu ia ambil sebatang dan menyalakannya. Sudah lama Kenzi tidak menyentuh rokok ataupun alkohol, sejak lahirnya putra mereka. Hari hari kelam yang mereka lewati bersama menyisakan banyak luka.
***
Kenzi berjalan memasuki kamar Siena untuk mengganti pakaiannya. Ia melepas kemeja dan berjalan perlahan menuju pintu kamar mandi. "Kau dari mana?" tanya Siena.
Kenzi berhenti melangkah lalu balik badan menatap Siena yang duduk di kursi roda. Kenzi menarik napas panjang lalu berjalan mendekati Siena. "Aku pikir kau sudah tidur."
"Tapi kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja."
Kenzi menundukkan kepala menatap kertas bertuliskan sebuah nama. "Reegan?"
"Benar, entah kenapa aku mengingat nama itu," ucap Siena menatap kertas di tangannya.
Kenzi berusaha menahan perih yang tiba tiba menjalar di dadanya mendengar Siena hanya mengingat nama Reegan. Seketika Siena melihat wajah Kenzi yang menegang dan ia merasa sangat menyesal.
"Sudah malam, sebaiknya kau tidur." Kenzi mendorong kursi roda Siena lalu mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur. Setelah selesai Kenzi berjalan keluar kamar meninggalkan Siena sendirian di kamar. Pria itu tidak sanggup berada di ruangan yang sama dengan Siena. Apalagi mengetahui kalau pikirannya hanya mengingat satu nama saja.
Siena menatap kosong langit langit kamarnya, dia benci perasaan bersalah yang menggerogoti hatinya. Dia juga bingung dengan perasaannya dengan Pria asing yang kini berada di rumahnya bersama.
__ADS_1
***
Dua minggu berlalu sejak malam itu. Kenzi dan Siena nyaris tidak lagi pernah bicara, Kenzi hanya menemani dan membantunya saat Siena membutuhkan bantuan. Mereka berdua seperti orang asing dalam satu rumah.
Saat Siena terbangun ia memperhatikan kasurnya selalu rapi. Seperti pria itu tidak pernah masuk ke dalam kamarnya setelah dia tidur. Siena bangun dan turun dari atas tempat tidur. Ia menyeret kedua kakinya meski pincang untuk menemui Kenzi.
"Kau mau sarapan?" tanya Kenzi, menuangkan susu hangat di gelas. Siena memperhatikan ruangan dapur terdapat lemari tempat menyimpan minuman.
"Apa kau minum alkohol?" tanya Siena balik.
Kenzi menarik napas dalam, "bukankah kau sudah tahu sejak kita belum menikah?"
"Kau juga merokok?" tatapan Siena tertuju pada sekotak rokok yang tergeletak di atas meja.
Kenzi lagi lagi mendengus kesal. Mengapa Siena tidak bisa mengingatnya. "Ya." jawab Kenzi singkat.
"Aku tidak suka pria perokok dan peminum, dan aku juga baru tahu kalau kau seorang mafia. Aku melihat senjata api di dalam lemari pakaianmu."
"Deg!
Kenzi meletakkan gelas diatas meja, lalu berjalan memdekati Siena. " Kau sudah tahu semuanya sejak kita belum menikah."
"Dokter bilang, kau amnesia akibat kecelakaan." Kenzi duduk di kursi menangkup wajahnya. Entah harus dengan cara apa lagi ia mengingatkan Siena. Tiba tiba mata Kenzi membulat, ia teringat Rei dan Keenan. Mungkin jika mereka datang ke sini, mereka bisa membantu memulihkan ingatanya?
"Apakah kau baik baik saja?" tanya Siena.
"Iya," sahut Kenzi.
"Aku ingin mengganti pakaian, tapi aku kesulitan untuk membuka bajuku ini." Siena menperlihatkan tangannya yang masih di perban.
"Baiklah, kita ke kamar." Kenzi mengangkat tubuh Siena pelan lalu menggendongnya. Sepanjang jalan, Siena terus memperhatikan wajah Kenzi. Mungkin otaknya tidak mampu mengingat Kenzi. Tapi perasaan yang ia miliki untuk pria itu tidak terhapuskan. Perlahan Siena meletakkan kepalanya di dada Kenzi.
"Apa kau sudah mengingatku?" tanya Kenzi memperhatikan sikap Siena yang lebih lembut dari sebelumnya.
"Siena menggelengkan kepalanya. " Tidak, aku tidak mengingatmu."
Kenzi menarik napas panjang, ia kesal. Di pikirnya Siena mulai mengingat tentangnya meski cuma sedikit. Tapi ternyata tidak sama sekali.
"Kemarilah." Kenzi membuka piyama yang Siena kenakan perlahan, sementara Siena sendiri terus memperhatikan wajah Kenzi terlihat raut sedih dan lelah. Tapi ia sendiri masih belum bisa mengingat apapun.
__ADS_1
"Sudah.." Kenzi tersenyum lalu jongkok di hadapan Siena menyelipkan rambut di telinganya. "Bagaimana kalau kita pulang ke Indonesia?"
"Indonesia?" Siena menautkan kedua alisnya menatap wajah Kenzi. Nama Indonesia serasa tidak asing baginya. Lalu ia mengangguk cepat. Mungkin di sana ia akan kembali mengingat semua memorinya yang hilang. "Apa aku tinggal di sana?"
Kenzi menganggukkan kepalanya, kau punya dua sahabat di sana sayang." Kenzi coba mengingatkan tentang Rei dan Keenan.
"Keenan?"
"Iya sayang, kau mau?" tanya Kenzi.
"Iya, aku mau. Tapi-?"
"Tapi apa?" potong Kenzi.
"Apakah..apakah Reegan juga ada di sana?"
Kenzi langsung berdiri menarik napas dalam menahan rasa sakit di hatinya. "Ya." jawab Kenzi singkat.
Siena mengerutkan dahi menatap wajah Kenzi tetlihat marah. Ia tidak mengerti mengapa pria itu selalu marah jika ia menyebut nama Reegan.
"Sekarang kau sarapan." Kenzi mendorong kursi roda menuju meja makan. Lalu ia memberikan roti bakar dengan selai kacang kesukaan Siena. Setelah itu ia menelpon Yu untuk memintanya mengurus kepulangannya ke Indonesia. Kenzi berharap, setelah pulang ke Indonesia Siena bisa mengingatnya secara perlahan meski ia sendiri tidak yakin. Namun bagi Kenzi, apapun akan dia lakukan untuk wanita yang sangat ia cintai. Kepentingan Siena dan Helion di atas segala- galanya. Meski ia harus hancur berkali kali.
Kenzi mendesah gusar, kapan hari hari kelam akan berakhir tergantikan dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang seperti apa Kenzi pun tidak tahu. Saat ini ia lebih fokus pada kesembuhan Siena. Pria itu menatap wajah Siena yang tengah menikmati sarapannya. Sesekali ia bercanda dengan Helion yang duduk di sampingnya. Meski Siena tidak bisa mengingatnya, setidaknya ia masih punya perasaan dengan putra satu satunya itu.
Ponsel milik Kenzi berdering membuyarkan lamunannya. Ia merogoh saku celananya. menatap sebuah nama yang tertera di layar ponsel. "Marsya?" Ponsel Kenzi dekatkan di telinganya.
"Halo?" sapa Kenzi.
Kenzi berdiri lalu berjalan keluar menuju teras. Lalu duduk di kursi, di ikuti Samuel dari belakang. Samuel berjengkit kaget saat Kenzi melempar ponselnya ke lantai.
"Bos!" ucap Samuel ragu ragu.
"Sial!" rutuk Kenzi mengusap rambutnya dengan kasar.
"Ada apa?" tanya Samuel.
"Mereka memutar balikkan fakta dan menjadikanku tersangka dalam kasus ini." Kenzi menarik napas panjang. "Aku membutuhkan saksi untuk memulihkan nama baikku, tapi kau tahu sendiri bukan? saksi satu satunya istriku, dan dia sedang amnesia."
Samuel mengangguk anggukkan kepalanya. "Bagaimana caranya memulihkan ingatan Nona Siena?"
__ADS_1
Kenzi diam menggelengkan kepalanya, rencana untuk pulang ke Indonesia terpaksa di batalkan. Mungkin rencana awal untuk mendatangkan Rei dan Keenan perlu di lakukan?