The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 129: End?


__ADS_3

Dua mobil beriringan melaju dengan kecepatan tinggi, sesekali tangan Siena keluar dan mengarahkan senjata apinya pada mobil Livian.


"Dor! Dor!


Sasaran Siena meleset, ia menambah kecepatan mobilnya hingga berhasil menyusul Livian dengan jarak yang cukup dekat. Siena menabrakkan mobilnya ke mobil Livian.


"BRAKK!


Mobil Livian oleng, tapi detik berikutnya pria itu menambah kecepatan laju mobilnya. Tidak ingin ketinggalan Siena berusaha mensejajarkan mobilnya, ia melirik ke arah Livian dari balik kaca mobil, lalu menabrakkan mobilnya ke samping.


"BRAKK!"


"Hahahahahah!"


Livian tertawa puas menoleh ke belakang sesaat, "Siena, kau benar benar keras kepala." Dari kaca spion Livian melihat mobil Siena tertinggal jauh.


Livian mendengus geram, mobilnya berhenti tepat di sebuah rumah tepi jalan. "Aku tahu tidak akan pernah bisa memilikimu." Livian tersenyum sinis. "Jika aku tidak bisa memilikimu, aku ingin kau mati Siena!" Livian memutar arah mobilnya menunggu kedatangan mobil Siena. Ia tahu, kalau wanita itu tidak akan berhenti mengejarnya.


Dengan tatapan tajam ke depan, mobilnya terus menyala. "Datanglah sayang, aku menunggumu." Livian tertawa menyeringai.


Tak lama, Livian melihat mobil Siena melaju kencang mendekat ke arahnya. Livian tersenyum sinis dengan tatapan tajam.


"Brumm! Brumm!


"Kemarilah sayang." Perlahan Livian tancap gas bersamaan dengan mobil Siena mendekat


"BRAKKK!!


Tabrakan tidak dapat di hindari lagi. Mobil Siena naik ke atas mobil Livian lalu berguling di jalan aspal terbalik. Sementara mobil Livian terseret jauh lalu berguling di jalan aspal dalam posisi terbalik.


"Ahhkk!" Siena mengerang terhimpit di dalam mobil. Wajahnya bersimbah darah, ia terbatuk lalu berusaha keluar dari dalam mobil yang rusak. Usaha keras Siena membuahkan hasil, ia berhasil keluar lalu merangkak menjauh dari mobil.


Tatapannya tajam ke arah Livian yang tengah berjalan dengan tertatih mendekatinya, tubuh dan wajahnya bersimbah darah. Livian menjatuhkan tubuhnya menyentuh pipi Siena. "K, kau- kk,keras kepa-la, Ss, Si, ena."


Siena tertawa lebar memperlihatkan giginya yang berwarna merah darah, menatap wajah Livian. "Aku, sudah bi,bilang. Ja, jangan kau gang, gu..kke, luar, gaku." Tangan kanannya meraba pinggangnya untuk mengambil senjata api.


Livian berdiri tertatih, menarik kerah baju Siena untuk berdiri. "Kau, pi, pikir bisa me, mengalahkanku?"


Siena tertawa lagi, lalu ia arahkan senjata api pada wajah Livian, namun belum sempat Siena menembaknya. Livian terlebih dulu menghunuskan pisau di perut Siena.

__ADS_1


"Jleb!"


Mata Siena melotot menatap pisau yang menancap di perutnya, lalu beralih menatap Livian yang tertawa puas. "Se, selamat tingg, tinggal Si, Siena.."


Perlahan tubuh Siena tumbang ke jalan raya bersamaan dengan jari Siena menarik pelatuk, peluru melesat ke dada kiri Livian.


"Dor!


" Brukk!"


Tubuh Siena ambruk telentang di jalan raya, darah segar mengalir membasahi aspal. Sementara Livian terjungkal lalu berusaha bangun dan berdiri sembari memegang dada kanannya. Ia tertawa kencang, lalu meludah darah di jalan. Di saat bersamaan dari arah belakang mobil Kenzi menepi lalu mengarahkan senjatanya ke punggung Livian.


"Dor! Dor! Dor! Dor!


Empat peluru bersarang di punggung Livian, lalu tubuhnya oleng. Belum puas Kenzi menembak, ia lesatkan kembali pelurunya ke perut Livian berkali kali hingga ambruk di jalan aspal.


Kenzi langsung berlari dan jongkok di hadapan Siena, " Sayang..sayang bertahanlah." Lalu ia mengalihkan pandangannya pada tubuh Livian dengan tatapan benci. "Pergilah kau!"


"Dor! Dor!


Kenzi menembak tubuh Livian yang sudah tak bernyawa lagi. Lalu mengangkat tubuh Siena membawanya masuk ke dalam mobil.


Sesekali tangannya mengusap darah di mulut Siena. "Sayang bertahanlah, semua sudah berakhir."


Kenzi melajukan mobilnya gila gilaan, ia khawatir dan takut terlambat menolong Siena. Apa jadinya jika terjadi apa apa dengan istrinya. Ia tidak akan sanggup untuk bertahan hidup tanpa adanya Siena di sisinya.


"Sayang, bertahanlah.." ucapnya lirih.


Tiga puluh menit berlalu, Kenzi berhasil selamat membawa Siena di halaman rumah sakit. Namun tubuh Siena sudah dingin, wajahnya pucat pasi kehilangan banyak darah. Napasnya mulai melambat. Kenzi keluar dari pintu mobil tergesa gesa. lalu ia mengeluarkan tubuh Siena dari dalam mobil. Setengah berlari ia menggendong masuk ke dalam rumah sakit.


"Suster! di mana ruang UGD!" pekik Kenzi.


"Mari Tuan, lewat sini," sahut salah satu perawat rumah sakit. Lalu Kenzi masuk ke dalam ruang UGD.


"Sus siapkan alat operasi, ukur tekanan darahnya, pasang alat oksigen!"


Kenzi berdiri mematung menatap jari jemari Siena tak bergerak sama sekali. Matanya berkaxa kaca, lalu mengusap wajahnya pelan. "Bertahanlah sayang, demi putra kita."


"Detak jantungnya sudah tidak ada." Dokter terus bekerja bersama Suster untuk menyadarkan Siena.

__ADS_1


Bulir air mata jatuh dari sudut mata Kenzi. "Sayang, bertahanlah.."


Mata Kenzi melebar, ia menahan napas sejenak saat melihat jari jemari Siena mulai bergerak. Perlahan tapi pasti Siena terbatuk, kesadarannya kembali, ia meringis kesakita.


Kenzi langsung mendekat menggenggam erat tangan Siena. "Sayang bertahanlah, semua sudah berakhir..aku ada di sini."


"Maaf tuan, sebaiknya anda menunggu di luar." Suster menarik pelan lengan Kenzi dan membawanya keluar.


"Sus, selamatkan istri saya.." ucap Kenzi dengan tatapan ke arah Siena.


Kenzi berdiri terpaku di depan pintu ruangan yang tertutup. Ia menyeka air mata di pipinya, lalu menyandarkan tubuh di pintu ruangan.


"Sayang, bertahanlah.."


****


Empat jam berlalu, Kenzi masih duduk di kursi luar ruangan. Ia belum di perbolehkan melihat Siena, karena kondisinya masih dalam keadaan kritis.


"Ya Tuhan, berikan aku kesempatan.." ucap Kenzi pelan.


"Kenzi."


Kenzi tengadahkan wajahnya menatap Yu yang sudah berdiri di hadapannya. Ia berdiri langsung memeluk Yu. "Kakak Yu, Siena.."


Yu menepuk punggung Kenzi pelan. "Dia wanita tangguh, tenangkan hatimu."


Kenzi melepaskan pelukannya sembari menyeka air mata di pipinya. Lalu duduk kembali di kursi bersebelahan dengan Yu.


"Bagaimana keadaan putrimu?" Kenzi menoleh ke arah Yu.


"Putriku masih dalam perawatan, dia trauma." Yu menghela napas panjang, lalu merangkul bahu Kenzi. "Maafkan aku.."


Kenzi tersenyum samar, "tidak perlu minta maaf, aku mengerti."


"Semua sudah berakhir, Livian tewas." Yu menatap Kenzi.


Kenzi menganggukkan kepalanya. "Ya, aku tahu."


Kenzi menundukkan kepalanya, mungkin saat ini ia bisa bernapas lega Livian telah mati. Tapi tetap saja organisasi itu tidak akan pernah mati. Namun setidaknya Livian sudah tidak akan mengganggu keluarganya lagi.

__ADS_1


Kenzi berharap, Tuhan memberikannya kesempatan kedua, ia berjanji akan mengubur masa lalunya, dan melepaskan identitasnya sebagai mafia. Cukup menjadi rahasia dia dan Siena. Tidak untuk Helion, putranya, ia tidak ingin Helion terjebak ke dalam dunia hitam kelak dia dewasa.


__ADS_2