The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 14: Perpisahan


__ADS_3

Anak anak panti asuhan telah berkumpul di halaman rumah, sebagian ada yang hanya duduk di teras menunggu jemputan dari Kakek Hardi. Sementara yang lain ada yang tertawa gembira. Jelas terlihat dari wajah mereka yang masih polos. Siena sendiri sibuk mempersiapkan barang barang anak anak yang akan di bawa ke rumah yang baru. Ia bolak balik menenteng tas anak anak dari dalam rumah.


"Kak! kok jemputannya belum datang!" seru salah satu anak perempuan rambutnya di kuncir kuda. Siena berjalan mendekat ke arah anak itu.


"Sabar..mumngkin Kakek masih dalam perjalanan," jawab Siena menyunggingkan senyum pada anak itu. Siena tertegun menatap mereka semua, tidak sedikitpun ada raut wajah sedih akan berpisah dengannya. Siena mengangkat kedua bahunya, lalu melengos kembali masuk ke dalam rumah.


"tunggu dulu," ucap Siena teringat sesuatu. "Di mana Sifa? tanyanya. Ia menilik ke belakang mencari keberadaan Sifa, tapi ia tidak menemukannya. Kemudian ia berjalan ke kamar tempat Sifa biasa sembunyi. Benar saja, Siena bisa melihat kaki Sifa di balik gorden.


" Sifa? kau sedang apa di sana?" Siena langsung mendekat dan membuka gorden. Sifa tertawa kecil menatap Siena.


"Aku tidak mau ikut kak," ucapnya manja.


"Sayang..kalau kau tidak ikut, nanti di sini sama siapa?"


"Aku juga tidak mau ikut!"


Siena menoleh ke arah suara, Zidan dan Ranti berdiri di ambang pintu dengan wajah cemberut. Siena menghela napas panjang lalu mengangkat tubuh Sifa dan menggendongnya.


"Sayang, kalau kau tidak ikut. Siapa yang akan menjaga adik adikmu di sana?" Siena menurunkan tubuh Sifa.


"Kak, bukankah kita sudah membicarakannya semalam? kami tidak mau ikut pindah," ucap Ranti merangkul pundak Zidan.


"Baiklah kalau kalian tidak mau ikut, tapi kalian ikut kakak mengantarkan adik adikmu ya?" Siena sedikit membungkukkan badan menatap ketiga anak itu.


"Baik kak," jawab Rianti.


"Ayo," kata Siena.


Mereka berjalan keluar rumah dan berbaur dengan anak anak yang lain. Tak lama kemudian sebuah bus menepi di luar gerbang rumah panti asuhan. Siena langsung mendekat saat melihat mobil kakek Hardi di belakang dan menepi. Ia melihat Kakek Hardi dan Alya keluar dari pintu mobil menghampiri Siena.


"Nduk..apakah semua sudah siap?" ucap Kakek Hardi tersenyum menatap semua anak anak yang riang gembira


"Sudah Kek!" sahut Siena.

__ADS_1


"Sebaiknya kita berangkat sekarang selagi masih pagi," timpal Alya.


"Baik Tante!"


Siena memanggil anak anak untuk masuk ke dalam bus yang sudah di sediakan. Dengan sigap anak anak langsung berjalan ada juga yang setengah berlari memasuki pintu bus. Setelah semua di rasa Siena sudah masuk dan duduk manis di kursi. Siena kembali ke rumah untuk menutup pintu dan menguncinya.


"Kau ikut bersama kami?" tanya Alya menatap Siena.


"Tidak tante..aku ikut anak anak saja," jawab Siena.


"Baiklah."


Kemudian mereka masuk ke dalam mobil lagi, langsung meluncur ke tempat panti asuhan yang baru.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di panti asuhan yang baru. Siena menatap keseluruh halaman panti asuhan yang sangat luas. Rumahnya pun bertingkat dan sangat bagus.


"Mereka akan baik baik saja di sini," gumam Siena, tanpa terasa bulir air mata menetes dari sudut netranya.


"Kakak jangan sedih," ucap salah satu anak perempuan berusia tujuh tahun menarik ujung baju yang Siena kenakan.


"Kakak ikut bersama kami juga?" tanya anak itu.


"Tidak sayang, tapi kakak akan datang menjemguk kalian sesering mungkin."


"Nduk!" kakek Hardi berjalan mendekati Siena.


"Iya Kek!" sahut Siena berdiri tegap.


"Semua sudah selesai, apa kau mau ikut kami pulang? tanya kakek Hardi.


" Tentu saja Kek," kata Siena. "Sayang..kau kembali ke dalam, kakak mau pulang." Anak perempuan itu menganggukkan kepala, lalu mereka berjalan masuk kedalam panti untuk berpamitan pada anak anak.


Isak tangis, mengharu biru saat anak anak melepas kepergian Siena kembali ke rumah panti yang lama.

__ADS_1


***


Malamnya Siena merasa kesepian, rumah yang biasanya ramai oleh suara anak anak yang berlairan entah itu bercanda atau yang menangis. Kini tinggal Siena, Zidan, Ranti dan Sifa yang masih tetap tinggal bersama di rumah itu.


Siena berjalan keluar rumah dan duduk di teras, baru saja ia hendak duduk. Dari halaman rumah nampak Reegan tengah berdiri bersandar di mobil. Siena tidak jadi duduk, ia langsung menghampiri Reegan.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Siena menatap wajah tampan Reegan.


"Tidak ada," ucapnya dengan cuek tanpa melihat Siena, ia tengadahkan wajah menatap langit. "Aku hanya mampir sebentar untuk memastikan kau sudah di rumah."


Siena mengerutkan dahi, tangannya menggaruk rambutnya yang tak gatal. Dia bilang untuk memastikan? apa perduli dia? bukankah selama ini dia selalu bersikap angkuh? Siena mengangkat kedua bahunya dan masa bodoh dengan alasan Reegan datang kerumahnya.


"Hei! kenapa kau bengong?" tanya Reegan melirik sesaat ke arah Siena.


"Tidak ada," balas Siena.


"Dasar aneh, ya sudah..aku mau pulang," ucapnya lalu ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam tanpa melihat ke arah Siena lagi. Siena mundur beberapa langkah ke belakang saat mobil Reegan memutar arah.


"Dia yang aneh, atau dia yang terlalu aneh?" tanya Siena pada dirinya sendiri di barengi dengan tertawa kecil. Lalu ia kembali masuk ke dalam rumah.


Sementara itu di tempat Keenan. Maria tengah merayu Keenan supaya memberhentikan Siena sebagai sekertarisnya di kantor. Keenan sempat bersikeras menolak keinginan Maria yang terlalu berlebihan.


"Aku membutuhkan Siena, dia karyawan yang sangat ulet juga pintar," bela Keenan, justru membuat Maria semakin keras kepala memaksa Keenan untuk mencari pengganti Siena.


"Kau ini kenapa? bukankah kau tidak ada masalah dengan Siena?" ucap Keenan, ia merasa aneh dan tidak mengerti dengan sikap Maria yang tiba tiba saja cemburu. Bukankah dia sendiri tahu, kalau hubungannya dengan Siena sebatas pekerjaan dan sahabat saja?


"Aku tidak mau tahu, kau harus memberhentikan Siena."


"Tapi Maria.."


"Cukup! aku tidak mau debat lagi," potong Maria, lalu ia berdiri menatap tajam Keenan. "Kau pilih dia atau istrimu." Keenan melebarkan matanya menatap punggung Maria yang berlalu begitu saja tanpa mendengar dulu penjelasannya.


Keenan mengerutkan dahi, ia tidak habis pikir dengan sikap Maria yang tiba tiba saja berubah sikap senenjak mereka menikah. Seharusnya dari awal Keenan menyadari kalau Maria bukanlah wanita yang baik sesuai kriteria yang Keenan inginkan.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? apa yang harus aku katakan juga pada Siena?" ucapnya pelan, masih dalan posisi duduk termenung memikirkan sikap istrinya


__ADS_2