
Sore itu Siena tengah duduk di teras rumah panti sendirian, ia tengah memikirkan masa depan adik adiknya. Semakin lama semakin besar pengeluaran yang harus Siena keluarkan. Sementara gajinya tidak cukup untuk menutupi itu semua.
"Ya Rabb..aku harus bagaimana?" gumam Siena pelan. "Setiap bulan aku tidak memiliki sisa uang, meskipun sekedar untuk berjaga jaga jika ada pengeluaran mendadak."
Lamunan Siena buyar, saat melihat sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman rumahnya. Ia terkejut melihat kedatangan kakek Hardi bersama Alya.
"Kakek? tante?" ucapnya pelan, ia berdiri menyambut kedatangan mereka berdua.
"Selamat sore nduk," sapa kakek Hardi tersenyum ramah pada Siena.
Siena menundukkan kepala sesaat, "kakek..tante.." Kemudian Siena mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di kursi.
"Siena maaf ya..karena sebelumnya tidak ada janji dulu untuk datang menemuimu," ucap Alya.
"Ih tante..tidak apa apa..aku bukan orang penting kok," celoteh Siena sambil tertawa kecil.
"Siena..maksud kedatangan kami kesini..ada tawaran buatmu juga adik adikmu."
"Maksud kakek?" Siena sudah deg degan, ia mengira kalau kakek Hardi akan menjodohkannya lagi. Namun dugaan Siena salah.
"Jadi begini nduk?" Kakek Hardi membenarkan duduknya. "Bukan kakek hendak meremehkan kemampuanmu dalam merawat dan membiayai adik adikmu, tapi..semenjak Bu Silvi tiada..tidak ada salahnya bukan? jika kakek membantu meringankan bebanmu, nduk?" ucap Kakek Hardi menatap Siena.
"Tentu saja tidak Kek..dengan senang hati," jawab Siena sopan.
"Kakek tahu, semenjak Bu Silvi tiada..semua menjadi tanggungjawabmu, tapi apakah kau bisa menjamin semuanya Siena?" Siena menggelengkan kepala. "Nah..maksud kedatangan kami..kami bermaksud mengambil alih tanggungjawab adik adikmu. Ini semua kakek lakukan untuk masa depan adik adikmu yang lebih baik lagi." Siena terdiam, ia mencoba mencerna semua ucapan kakek Hardi.
__ADS_1
"Tante dan kakek, bermaksud memindahkan anak anak ke panti asuhan yang lebih besar dan banyak pengasuhnya. Kebetulan..kami yang mengelola panti asuhan itu. Letaknya ada di Jakarta Timur," sela Alya menimpali penjelasan kakek Hardi.
"Jika kau tak keberatan, besok atau lusa..anak anak bisa kami pindahkan ke panti yang lebih layak dan terjamin. Bukan maksud kami merendahkanmu atau tidak mempercayai usaha kerasmu nduk." Kakek Hardi melipat kedua tangannya sesaat. "Di sana fasilitasnya semua terjamin..dan adik adikmu bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi..bagaimana?" tanya Kakek Hardi.
"Tentu saja kau juga boleh ikut ke sana dan merawat adik adikmu jika kau mau..atau..kalau kau tidak bisa ikut karena bekerja..tidak masalah..kau masih bisa menjenguk..menginap atau membiayai mereka.. sesuka hatimu saja Siena." Alya lebih memperjelas.
Siena menganggukkan kepala tanda ia mengerti, "kakek..tante..bolehkah aku minta waktu sehari untuk berpikir dan mendiskusikannya dengan anak anak?" tanya Siena menatap Kakek Hardi lalu beralih menatap Alya.
"Tentu saja sayang," jawab Alya.
"Terima kasih tante..kakek..kalian sudah perduli terhadap kami."
"Jangan sungkan Siena, tante suka dengan gadis yang baik, tangguh dan bertanggungjawab sepertimu nak." Alya tersenyum menatap Siena. "Lebih senang lagi kalau kau jadi menantu tante."
Siena tersipu malu, "tante bisa saja, aku hanya melakukan apa yang menurut hatiku benar tante.." Alya menganggukkan kepala menatap kagum pada Siena. Awalnya ia memang tidak suka dengan ide kakek Hardi untuk menjodohkan Siena dengan Reegan, tapi semenjak ia melihat Siena langsung. Alya langsung jatuh hati melihat sikap dan kelembutan Siena.
"Oh, tentu saja tidak kakek..aku senang mendengar kabar baik ini," sahut Siena cepat.
"Kalau begitu, kami permisi dulu Siena."
"Kok cepat cepat pulang tante?" tanya Siena.
"Iya nduk, sebentar lagi ada tamu yang akan berkunjung ke rumah," potong Kakek Hardi.
"Baiklah kek..tante..terima kadih sudah bersedia mampir."
__ADS_1
Mereka menganggukkan kepala, "sama sama nduk." Kakek Hardi dan Alya bangun dari duduknya, lalu berpamitan pulang pada Siena.
***
Siena termenung di kamarnya, ia menatap langit langit kamar. Semua ucapan Kakek Hardi dan Alya terpikirkan oleh Siena.
"Apakah aku harus merelakan adik adikku demi masa depan mereka lebih baik? atau aku menpertahankan mereka demi egoku sendiri?" gumam Siena. "Andai saja Ibu masih ada, mungkin aku tidak sebingung ini."
Siena bangun lalu duduk di tepi tempat tidur, "ada baiknya aku bicarakan dahulu dengan anak anak, jika mereka setuju..maka aku akan melepaskan mereka semua." Siena berdiri, ia melangkahkan kakinya keluar kamar dan memanggil semua anak anak untuk kumpul di ruang tamu. Setelah semuanya terkumpul Siena mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang menjadi usulan kakek Hardi dan Alya.
Siena mulai menceritakannya pada anak anak yang sudah beranjak remaja.
"Kakak..butuh pendapat kalian..dan kakak mau mendengar apa yang ingin kalian sampaikan pada kakak." Siena menatap satu persatu adik adiknya. Siena mulai mendengarkan satu persatu pendapat mereka. Ada yang setuju dan tidak menolak untuk pindah tempat. Namun tidak bagi Ranti, Zidan dan Sifa. Mereka menolak untuk meninggalkan panti asuhan yang sudah sekian lama mereka tinggali.
"Jadi? bagaimana keputusan kalian?" tanya Siena lagi untuk memastikan.
"Keputusannya, Aku, Zidan dan Sifa tetap di sini bersama kakak. Suka dan duka bisa kita lewati bersama kakak.," jawab Ranti di benarkan oleh Zidan dan Sifa.
"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Siena lagi.
"Kakak..kami pindah dari sini tidak apa apa..kami juga ingin sekolah yang tinggi biar bisa hidup seperti yang lain."
Siena menganggukkan kepala, "baik..jika itu mau kalian..karena kakak tidak memaksa kalian untuk pindah. Biarpun kalian nanti jauh dari kakak..kakak pasti akan menjenguk kalian." Siena tersenyum, ia menatap semua adik adiknya dengan mata berkaca kaca. Siapa yang tidak ingin bahagia? siapa yang tidak ingin punya masa depan cerah? siapa yang tidak ingin memiliki orang tua meski hanya orangtua angkat. Semua orang pasti menginginkannya. Siena memeluk satu persatu adik adiknya.
"Mulai besok kalian rapikan pakaian dan bawa barang barang milik kalian, kakak harap kalian betah di sana dan jangan nakal. Belajarlah dengan giat, tidak hanya pintar dalam pelajaran. Namun kalian harus memiliki keahlian dan kreatif untul bekal kalian di masa yang akan datang. Waktu pasti akan terus berubah..kalian harus balance dalam setiap perubahan. Kalian mengerti?" ucap Siena memberikan semangat dan juga pesan pesan untuk adik adiknya.
__ADS_1
"Mengerti kak!" jawab mereka serempak.
"Kami tidak akan pernah lupa semua pesan pesan Ibu maupun pesan kakak," sela Lola tersenyum lalu memeluk Siena erat. "Kami akan sangat merindukan kakak. Jangan lupakan kami kak.' Siena menganggukkan kepala, semua anak anak saling berpelukan penuh rasa haru. Suka duka telah mereka lewati bersama. Tidak ada yang mampu merasakan ketika sebuah kesabaran di uji sampai batas kemampuan. Hanya Sang Maha Kuasa yang tahu, diam lebih baik untuk lebih memaknai hidup.