The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 123: farewell


__ADS_3

Sabtu malam pukul 8:30.


Kenzi sudah bersiap siap bersama tiga anak buahnya. Mereka tinggal menunggu Siena yang masih ada di kamarnya bersama Helion juga Kenzi.


Helion yang sudah tertidur pulas terpaksa di bangunkan oleh Ibunya. "Sayang, maafkan ibu.." Siena mengangkat tubuh Helion dan menggendongnya lalu di berikan pada Kenzi.


"Ayah?" Helion bangun dari tidurnya, ia sudah berada di pangkuan Kenzi. "Ayah mau kemana?" tanyanya sambil mengucek kedua matanya.


"Kita kerumah Om kamu sayang." Kenzi tersenyum menatap wajah polos putranya lalu mencium pipi Helion sekilas. Lalu beralih menatap Siena. "Sayang, ayo berangkat sekarang." Siena menganggukkan kepala sambil menyeret kopernya keluar kamar mengikuti langkah Kenzi.


Bos!


Samuel langsung membukakan pintu rumah. Kenzi keluar menggendong Helion di ikuti Siena dan yang lain. Lalu Samuel mengunci pintu rumah dan mereka semua berangkat ke tempat yang sudah di tentukan Rei.


Satu jam berlalu akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Mereka mengambil jalan yang memutar, tujuannya jika ada yang mengikuti akan kehilangan jejak di tengah perjalanan. Dan tempat yang Rei katakan tak jauh masih di sekitar Jakarta. Hanya saja Rei mengambil rute bolak balik dan berputar putar.


Rei dan Kenan beserta istrinya sudah menunggu di rumah itu, dan mereka sudah mempersiapkan segala halnya dari keperluan dapur hingga anggota keluarga. Mereka sudah buat stok, supaya anggota yang tinggal di rumah itu tidak boleh ada yang keluar rumah selama Kenzi pergi. Dengan begitu mereka aman tanpa ada yang mengetahui keberadaannya.


"Hai ganteng, sini Om gendong!" seru Kenan mengulurkan kedua tangan mengangkat tubuh Helion lalu menggendongnya. Mereka langsung masuk ke dalam rumah. Kedua anak buah Kenzi membereskan semua barang bawaannya.


Kenan membawa Helion ke kamar karena dia masih mengantuk di temani Dinda. Kenan kembali keluar kamar bergabung dengan yang lain, duduk di samping Rei.


"Rei, Ken, aku ucapkan terima kasih." Kenzi tersenyum menatap mereka berdua.


"Jangan sungkan, kita keluarga," sahut Kenan.

__ADS_1


"Iya Kenan benar, lagi pula selama ini kami selalu ingin membantu. Tapi kau sendiri yang menutup diri." Rei menatap tajam Kenzi, lalu menundukkan kepalanya.


"Aku tahu, selama ini aku telah salah menilai." Kenzi tersenyum tipis.


"Tidak masalah, yang terpenting sekarang kau secepatnya selesaikan masalah ini. Dan ingat." Rei menunjuk ke arah Kenzi. "Kau harus kembali, aku tidak mau ya, merawat Siena dan Helion."


Kenzi terdiam sesaat menatap Rei, detik berikutnya ia tertawa di ikuti Kenan dan yang lain. Kenzi menganggukkan kepala, "aku pasti kembali, pasti."


Semakin malam obrolan mereka makin hangat dan santai. Dengan di temani secangkir kopi dan cemilan yang di sediakan Siena. Di mulai dari Kenzi yang menceritakan dan mentertawakan kesalahannya sewaktu masih menjadi mafia. Rei dan Keenan yang sudah sejak dulu mereka lucu dan mereka memberikan ide ide pada Kenzi yang sebelumnya tidak pernah Kenzi tahu.


Kenzi menoleh ke arah Siena yang berdiri di depan pintu dapur dan tersenyum padanya. Siena menarik napas dalam dalam, hampir saja hubungannya dengan Kenzi retak gara gara si Livian. Beruntung selalu ada cara untuk meluluhkan hati Kenzi meski dengan cara yang tak biasa. Siena berjalan menghampiri mereka lalu duduk di sebelah Kenzi.


"Kapan kau berangkat?" tanya Kenan.


Kenzi merangkul bahu Siena dan mendekap erat. "Besok pagi."


"Ya, dia sudah menghubungiku." Kenzi menoleh ke arah Siena. "Sayang, sebaiknya kau istirahat. Aku akan kembali ke rumah."


Siena menganggukkan kepala, "baiklah."


Kenzi berdiri bersama Siena, di ikuti yang lain. "Ingat pesanku, kau harus kembali secepatnya." Rei menepuk pundak Kenzi.


Kenzi menoleh menganggukkan kepalanya. "Jangan kau sisakan, aku tidak mau di repotkan lagi," sela Kenan. Kenzi tersenyum tipis lalu merangkul satu persatu sahabat Siena.


"Terima kasih." Kenzi melangkahkan kakinya bersama Siena sampai halaman rumah. Kenzi memeluk tubuh Siena erat, tangannya mengusap punggung Siena yang menangis di dadanya. "Jangan menangis sayang, aku pasti kembali."

__ADS_1


Siena menganggukkan kepalanya, "jaga harta kita satu satunya, Helion."


"Tentu sayang, tanpa kau minta." Siena melepaskan pelukannya, menangkup wajah Kenzi. "Jaga dirimu baik baik di sana."


Kenzi tersenyum tipis, mencium kening Siena dengan dalam. Lalu ia berjalan dan membuka pintu mobil. Siena diam terpaku menatap Kenzi lewat kaca mobil. Siena melambaikan tangan saat mobil Kenzi melaju meninggalkan halaman rumah.


Keenan merangkul bahu Siena dan mengusapnya, "kita berdoa Si.."


Siena menoleh ke arah Keenan lalu meneluknya. "Sudah, kau jangan menangis. Sudah jalan hidupmu seperti ini. Kau harus kuat." Keenan berusaha membesarkan hati Siena. Lalu memapahnya masuk ke dalam rumah.


Siena langsung masuk ke dalam kamar Helion. Ia tatap wajah putranya cukup lama lalu ia naik ke atas tempat tidur, mencium pipi Helion dengan lembut. Apakah ia bisa tidur tenang di saat suaminya di sana sendirian? apa yang harus ia lakukan? berkali kali Siena mendesah gusar, tubuhnya ia sandarkan di bantal dengan tatapan ke langit langit kamar.


"Papa..andai kau masih hidup. Aku tahu, Papa tidak akan membiarkan Kenzi pergi sendirian," gumam Siena. Bulir air mata mulai turun dari sudut netranya. Terlintas di benaknya untuk membantu Kenzi. Tapi pastinya akan di larang Kenzi.


***


Sementara itu, Kenzi yang sudah berada di rumahnya sendiri. Terasa sepi dan sunyi berada di rumah sebesar itu. Seharusnya Kenzi tidak perlu merasakan sepi, karena dia sudah terbiasa sendirian. Tapi sejak ia memutuskan untuk memiliki keluarga, hidupnya lebih berwarna dengan berbagai masalah pelik. Tetapi kini ia merasa sepi, dan ia menyadari satu hal. Istri dan anaknya lebih penting dan sangat berarti di banding yang lainnya. Dengan sekuat tenaga, pikiran ia curahkan untuk melindungi keluarga kecilnya.


Kenzi tersenyum tipis, mengingat wajah Siena dan tawa candanya bersama Helion. Ia menghela napas dalam dalam, dan berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa. Wajah Siena dan Helion mengganggu pikirannya. Lalu ia bangun dan keluar dari kamar menuju dapur membuat secangkir kopi. Setelah itu ia duduk di kursi teras depan rumahnya. Menyalakan sebatang cerutu lalu ia hisap dalam dalam. Saat mengingat mereka berdua membuat Kenzi semakin gila. Gila tidak dapat menahan rindu dan tidak bisa pisah jauh seperti ini. Namun ia harus menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu jika menginginkan hidup tenang. Berlari menghindarpun percuma, mereka akan terus mencari Kenzi. Satu satunya jalan adalah di bunuh atau membunuh.


Tak terasa, cerutunya hampir habis dan kopi di cangkir tersisa ampasnya saja. Waktu terus berjalan dan pagi menjelang. Terlihat sinar orange di ufuk timur. Kenzi berdiri dan masuk ke dalam rumah untuk bersiap siap.


Satu jam berlalu, Kenzi telah selesai. Menggunakan kemeja putih dan mantel berwarna hitam. Ia gunakan kaca mata hitamnya lalu tangannya meraih koper kecil berisi beberapa pakaian dan surat surat. Kenzi bergegas keluar rumah.


***

__ADS_1


Sementara di rumah Rei, di dalam rumah terdengar suara tawa Helion tengah bercanda bersama Kenan dan Dinda. Sementara Rei membantu Akira membuat makan pagi. Samuel seperti biasa duduk di tepi jendela memperhatikan sekitar rumah. Siena sendiri masih berdiam diri di kamarnya. Hatinya menjadi sangat tidak tenang memikirkan Kenzi. Ia berjalan mondar mandir di dalam kamar dengan gelisah. "Menunggu hal yang paling menjengkelkan," gumamnya pelan.


Ia menghentikan langkahnya lalu tercenung cukup lama, entah apa yang ada di pikiran Siena saat ini. Perlahan ia berjalan mendekati meja lalu membongkar isi tasnya. Ia mengambil surat surat penting, menghela napas panjang menatap paspor di tangannya.


__ADS_2