The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and Love


__ADS_3

Satu jam berlalu, Jiro baru saja selesai dan langsung berjalan keluar gedung di kawal dua bodyguardnya meninggalkan tempat pertemuan.


Sepanjang perjalanan di dalam mobil. Jiro terus memikirkan Miko. Ia tidak habis mengerti kenapa gadis itu pergi begitu saja sebelum Jiro mengenalnya. Yang membuat Jiro penasaran dengan gadis itu, selain liar. Miko terlihat bukan gadis tunawisma kebanyakan. Namun belum sempat Jiro mengenalnya lebih jauh, gadis itu menghilang bak di telan bumi. Selama ini Jiro berusaha mencari keberadaan gadis itu dengan mengerahkan anak buahnya. Bahkan identitas yang di pakai gadis itu palsu.


"Tuan muda, pertemuan selanjutnya dengan Tuan Darien."


"Ethan, Aku mau kau batalkan pertemuan dengannya hari ini." Mata Jiro melirik sekilas ke arah Ethan yang duduk di depan.


"Tidak bisa tuan, tempo hari tuan muda sudah membatalkannya." Jiro menghela napas panjang, matanya menatap ke arah tepi jalan raya dari balik kaca jendela.


"Baiklah."


Hari ini suasana hati Jiro sedang tidak nyaman, pikirannya mengembara kemana mana. Ada sesuatu hal yang membuatnya gelisah, hingga ia tidak fokus. Tetapi Jiro sendiri tidak tahu, apa yang menyebabkannya tidak nyaman. Yang dia tahu, tidak berhenti memikirkan Miko.


"Tuan, kita ada masalah!" ucap Ethan menatap lurus ke depan.


"Masalah?"


Jiro menautkan kedua alisnya, mengikuti arah pandang Ethan. Melihat empat mobil berwarna putih berjajar menghalangi jalan. Jiro mendengus kesal menatap sepuluh pria menggunakan setelan jas putih berbaris menghadang mobil milik Jiro.


Jiro keluar dari pintu mobil di ikuti Ethan dan dua bodyguardnya dari mobil lain yang terparkir di belakang mobil milik Jiro.


Pria muda itu berjalan mendekati mereka semua dengan di kawal dua bodyguard nya. Menatap tajam mereka semua.


"Sepertinya, putri mafia itu masih menaruh dendam." Ethan berbisik di telinga Jiro.


"Kau benar," timpal Jiro tanpa menoleh ke arah Ethan.


Salah satu pria berjas putih maju beberapa langkah ke hadapan Jiro.

__ADS_1


"Nona Zoya ingin bertemu dengan Anda."


Jiro tersenyum sinis, melirik sesaat ke arah Ethan. "Bertemu?" Mata Jiro memicing menatap pria itu. Untuk pertama kalinya Zoya mengundang Jiro untuk datang ke rumahnya dengan undangan yang tak biasa. Tentu Ziro tidak mudah percaya, dan terkesan aneh. Untuk apa Zoya meminta bertemu? sementara dia tidak punya kepentingan apa apa dengan Jiro.


"Katakan pada Nona Zoya, aku tidak bisa."


Jiro menggelengkan kepala, tertawa aneh dengan undangan Zoya. Lalu ia balik badan hendak melangkahkan kakinya.


"Jika anda menolak, maka kami akan memaksa anda."


Jiro menghentikan langkahnya menoleh ke belakang menatap pria itu. "Aku bukan cecunguknya dia, yang bisa seenaknya dia perintah!"


"Maafkan kami tuan," pria itu mengangkat satu jarinya memberikan kode pada temannya untuk menangkap Jiro.


Tanpa menunggu aba aba lagi, ke sembilan pria itu langsung maju hendak menangkap Jiro. Namun sebelum mereka menyentuh tangan Jiro, dua pengawal Jiro langsung menghadang. Perkelahian pun tidak dapat di elakkan. Dua lawan sembilan bukan hal yang mudah untuk di lumpuhkan. Mereka sama sama terlatih di jalanan, dalam hal bela diri atau senjata api tidak di ragukan lagi.


Jiro berdiri memperhatikan jalannya pertarungan yang berlangsung lama, akhirnya Jiro maju bersama Ethan membantu dua pengawalnya. Bagi pria itu tidak perlu gengsi atau bersembunyi di balik ketiak pengawalnya ketika dalam bahaya. Jiro akan turun langsung membantu.


"Lebih baik, anda ikut kami." Pria itu mengarahkan senjatanya pada wajah Jiro. "Suruh anak buahmu untuk meletakkan senjatanya."


Jiro menoleh ke arah dua pengawalnya lalu menganggukkan kepala. Dua pengawal itu perlahan menurunkan senjatanya.


"Baik tuan, kami tidak ingin melukai anda. Nona Zoya tidak inginkan itu." Pria itu maju selangkah mendekati Jiro. Namun dari arah belakang pria itu, sebuah motor berhenti mendadak. Seseorang turun dari atas motor, lalu melepas helmnya dan di letakkan di atas motor.


"Miko?" mata Jiro melebar saat melihat gadus yang dia cari selama ini, tengah berjalan mendekati pria yang mengarahkan senjata. Jiro terus menatap Miko yang terlihat beda, gadis itu terlihat lebih cantik menggunakan celana jeans hitam ketat, di padukan jaket hitam yang melekat pas di tubuhnya, rambutnya yang panjang terikat sembarangan.


Gadis itu berhenti tepat di belakang pria yang mengarahkan senjatanya pada Jiro. Lalu ia mengambil senjata di balik jaketnya, ia tempelkan di pelipis pria itu.


"Turunkan senjatamu, dan pergi dari sini. Cepat." Miko melirik tajam ke arah Jiro lalu tersenyum, membuat hati Jiro tidak karuan.

__ADS_1


"Kau rupanya," ucap pria itu menurunkan senjata apinya. "Ingat, kau akan menerima akibatnya dari Nona Zoya." Pria itu mundur bersama teman temannya kembali masuk ke dalam mobil masing masing.


Jiro menautkan kedua alisnya memperhatikan mereka. Kenapa anak buah Zoya mundur dengan mudah saat Miko datang? ada hubungan apa? pertanyaan terus berputar di benak Jiro. Namun ia memilih untuk diam, melihat Miko di hadapannya sudah membuatnya senang. Jiro berjalan mendekati Miko.


"Miko, kau kemana selama ini? aku mencarimu kemana mana? kenapa kau pergi begitu saja?"


Mendapat banyak pertanyaan layaknya seorang kekasih, Miko tertawa terbahak bahak. Membuat Jiro kembali diam, apa yang lucu?


Miko berjalan lebih dekat dengan Jiro, tangannya membenarkan dasi yang terlihat miring karena pertarungan tadi. Membuat Jiro semakin salah tingkah.


"Tuan muda, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu." Miko menurunkan tangannya, lalu mendekatkan wajahnya berbisik di telinga Jiro. "Aku baik baik saja tuan." Miko kembali menarik wajahnya, tangannya menyentuh dada Jiro dengan telunjuknya.


"Hati hati, di sini banyak anggota gangster."


Miko tersenyum menatap kedua bola mata Jiro yang diam terpaku menatap gadis itu. Lidahnya kelu, tidak tahu harus bicara apa.


"Silahkan lanjutkan perjalananmu." Miko menurunkan tangannya lalu berjalan mendekati motornya.


Jiro memperhatikan Miko tanpa berkedip, tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibir Jiro. Dia tersadar saat motor yang di gunakan Miko melaju dengan kecepatan tinggi.


"Miko! pekik Jiro berlari mengejar motor Miko, namun sayang, Miko sudah jauh dan tidak mungkin bisa di kejar. " Ah sial, kenapa aku lupa menanyakan nomer ponselnya," gerutu Jiro.


Detik berikutnya Jiro tertawa sendiri sembari mengusap rambutnya kasar. "Miko, aku pasti menemukanmu lagi."


Jiro menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati dua pengawal dan Ethan.


"Kita lanjutkan perjalanan."


"Baik tuan," sahut Ethan. Lalu membukakan pintu mobil untuk Jiro.

__ADS_1


"Dia terlihat sangat berbeda. Cantik dan dewasa," ucap Jiro dalam hati. Wajah Miko bermain main di kepalanya, membuat pria itu menepuk keningnya sendiri.


"Ya ampun, aku ini kenapa?"


__ADS_2