The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Siena masih terduduk di jalan aspal, tubuhnya gemetar menahan air mata yang semakin deras. Ryu putra bungsunya terus berusaha menenangkannya.


"Semua akan baik baik saja, aku yakin Ayah pasti bisa mengatasinya," bisiknya pelan. Ia terdiam kembali untuk meyakinkan ucapannya.


"Kau sudah berjanji untuk tetap bersamaku, hidup atau mati...kau bilang, aku lah nyawamu, hidup dan matimu..tapi kenapa kau ambil keputusan sendiri. Kau bilang, tidak akan pernah meninggalkanku.." gumam Siena lirih, berkali kali ia menelan salivanya susah. Tangannya yang basah oleh air mata, di remasnya pelan dengan kepala tertunduk. Tetes demi tetes air mata seakan tidak mau berhenti.


"Ibu, kita harus pergi dari sini seperti yang ayah bilang." Ryu berusaha untuk membujuk Siena yang masih enggan untuk meninggalkan Kenzi.


"Nyonya, aku tahu ini terdengar egois. Tapi, nyawa anak anakmu jangan kau pertaruhkan." Adelfo yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara.


Sementara Jiro hanya diam, berdiri membelakangi Siena. Kepalanya tertunduk, ia merasa sangat bersalah. Di sampingnya. Miko memperhatikan semuanya.


"Aku tidak layak berada di tengah tengah mereka, andai saja aku tidak menjebak mereka. Mungkin hal ini tidak akan terjadi," ucap Miko dalan hati.


Perlahan ia berjalan mundur, lalu balik badan berlari sekencang kencangnya meninggalkan mereka.


"Miko!!" seru Jiro menatap punggung gadis itu yang berlari menjauh.


Ryu berdiri menoleh ke arah berlarinya Miko lalu berjalan mendekati Jiro.


"Miko!


Jiro hendak berlari mengejar gadis itu, namun Ryu menubruk tubuh Kakaknya dan menahan pria itu supaya tidak mengejar Miko.


" Cukup Kak!" pekik Ryu. "Ibu lebih membutuhkan kita!"


"Lepas! Miko membahayakan dirinya sendiri! Jiro berusaha memberontak dalam pelukan Ryu. Namun Ryu tidak ingin melepaskan Jiro.


" Apa yang di katakan Ryu benar, ada kalanya kita harus melepas jika itu sudah menjadi keputusannya,' timpal Zoya.


"Tante Siena dan adikmu yang harus kau lindungi. kau harus memilih Jiro!" bentak Zoya kesal.


Sementara Siena masih diam duduk di atas jalan aspal, air matanya semakin deras mendengar pertengkaran ke dua buah hatinya. "Apa aku sanggup, mendidik mereka tanpamu sayang.." ucapnya lirih.


"Dia membutuhkanku!" Jiro mendorong tubuh Ryu.


"Ibu dan adik, lebih membutuhkanmu, kak!"


"Buk!!"


Jiro melayangkan tinju ke wajah Ryu. "Kalian tidak perlu mengajariku, mana yang harus aku pilih. Ini bukan pilihan, aku yang memulai semua ini. Jangan halangiku untuk membantu, Ayah!" Jiro langsung berlari kencang menyusul Miko dan meninggalkan mereka.


"Kakak!" pekik Ryu, menatap ke arah larinya Jiro.


"Kakak!" pekiknya lagi. Ryu menoleh ke arah Siena yang masih duduk di atas jalan. Ia bingung, apa harus mengejar Jiro, atau Siena.


"KAAAAKKKK!" jerit Ryu lagi, dengan tatapan terus ke arah ujung jalan. Lalu ia menoleh lagi ke arah Siena.

__ADS_1


"Ibu.."


Ryu berjalan mendekati Ibunya, lalu jongkok di hadapannya. "Ibu, aku mohon. Aku mohon Ibu." Tangannya merengkuh tubuh Siena lalu memeluknya erat.


"BRUMMMM!!!


"BRUMMMM!!"


"BRUMMMM!!"


Ryu, Adelfo dan Zoya menoleh ke arah suara, nampak enam buah motor melaju mengitari mereka. Masing masing motor ada dua pria dengan sebilah besi berukuran panjang di tangan mereka. Zoya mundur perlahan mendekati Adelfo yang siap siaga meski tanpa senjata api di tangannya. Ryu ikut berdiri dekat Siena menatap mereka dengan waspada.


"BRUMMM!"


"BRUMMM!"


"Bagaimana ini, Om?" tanya Ryu dengan tatapan waspada. Mereka bertiga mengelilingi Siena yang masih diam di tempatnya, dan tidak perduli dengan sekitar.


"Tetap waspada, kita hadapi bersama." Adelfo mengedarkan pandangannya, melihat musuh satu persatu turun dari atas motor dan berjalan mengelilingi mereka bertiga.


"Kenzi sudah tertipu," gumam Adelfo.


"Maksud Papa?" tanya Zoya dengan tatapan terus ke arah mereka.


"Kenzi berhasil mengelabui Hernet, tapi selain dari Hernet tidak bisa di kelabui. Dan mereka mengirim anak buahnya untuk membunuh kita semua," ungkap Adelfo.


"BUK!!"


Pria itu terjatuh, bersamaan dengan Adelfo yang ikut tersungkur, lalu bangun dan merebut besi di tangan musuh.


Melihat Ayahnya maju, Zoya ikut menerjang musuh di hadapannya. Pertarunganpun tidak dapat di elakkan. Sementara Ryu berusaha melindungi Ibunya, ia tidak memiliki keahlian apa apa selain ahli kimia. Namun demi Ibunya, ia rela menahan serangan musuh untuk melindungi Siena.


"BUKKK!!"


"BUKKK!!"


Musuh terus memukuli Ryu dengan besi, hingga pelipisnya luka robek, mengalirkan darah segar.


"Bukk!!"


Salah satu musuh mencengkram kerah baju Ryu dan meninju perutnya berkali kali hingga darah segar mengalir dari mulutnya. Tubuh Ryu tersungkur di hadapan Siena yang menundukkan kepalanya.


"Ibu, lari!" pekik Ryu menatap wajah Siena. Namun pria lain menarik kaki Ryu supaya menjauh dari Siena. Pria itu mengayunkan besi di tangannya ke arah kepala Ryu.


"BUKKK!!"


Ryu tengadahkan wajahnya ke atas menatap Siena yang sudah berdiri di hadapannya dan mencengkram tangan pria itu, lalu meninju perutnya berkali kali. Siena memutar tubuhnya lalu menendang perut pria itu dengan tenaga penuh.

__ADS_1


"BUKK!"


Pria itu tersungkur ke jalan aspal dan tidak berkutik lagi.


"Tidak aka kubiarkan, kalian menyakiti keluargaku lagi!" jerit Siena ke arah musuh, lalu ia merebut besi di tangan musuh, lalu mengayunkannya ke arah mereka, kaki dan tangan Siena bergerak lincah menghabisi pria yang telah melukai putranya.


Adelfo yang menyadari Siena tengah melawan musuh, melirik sesaat ke arahnya dan tersenyum samar. Begitu juga dengan Zoya, ia tidak memberikan kesempatan musuhnya untuk bernapas. Satu persatu tumbang tak berkutik lagi.


"Matilah kau, brengsek!" umpat Zoya, melayangkan tinju ke wajah pria terakhir.


"BUKK!!" Pria itu tersungkur ke jalan aspal.


Zoya menoleh ke arah Adelfo lalu berlari ke arahnya membantu pria itu, darah segar membasahi wajah Adelfo.


"Hiaaaaat!


" BUK!


"BUK!".


Zoya menerjang kedua musuh yang tengah Adelfo hadapi, dengan sebilah besi di tangannya. Kedua musuh tersebut ambruk dan tidak berkutik lagi.


" Kau tidak apa apa?' tanya Adelfo menatap wajah Zoya, sembari menyeka darah di mulutnya.


"Aku baik baik saja, Pa."


Mereka berdua menoleh ke arah Siena, lalu berjalan mendekatinya. "Kau baik baik saja?" tanya Adelfo pada Siena.


"Ya." Siena menjawab singkat lalu berjalan mendekati Ryu dan memeluknya erat.


"Ibu, maafkan aku tidak bisa melindungimu."


"Tidak apa apa sayang, maafkan Ibu juga."


"Sebaiknya kita cari tempat untuk bersembunyi, kita tidak bisa pergi dari kota ini. Sementara Jiro di luar sana." Adelfo memberi usul.


"Kau benar," sahut Siena melepaskan pelukannya.


"Klik!" suara pelatuk senjata api, tepat di pelipis Siena.


Adelfo dan yang lain menahan napas, menatap ke arah seorang wanita yang berdiri dengan senjata laras panjang, dia tempelkan senjata itu di pelipis Siena.


"Siapa kau!" seru Adelfo menatap wanita itu yang menggunakan penutup wajah. Hingga Adelfo atau yang lain tidak dapat mengenali wajah wanita tersebut.


Terdengar suara kekehan dari balik penutup wajahnya, "aku hanya menginginkan nyawa wanita ini."


Adelfo dan yang lain menatap ke arah Siena yang tidak bergerak di tempatnya. Siapa wanita itu? mengapa ia menginginkan nyawa Siena?

__ADS_1


__ADS_2