The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Di bawah selimut, Miko yang tengah memeluk dirinya sendiri terlihat amat menyedihkan. Suasana sunyi, kilatan cahaya putih petir di sertai suara gemuruh memekakkan telinga. Dirinya yang tengah di ambang keputus asaan. Haruskah ia korbankan cintanya demi ambisi mereka? atau berlari sejauh mungkin dan kembali pada Jiro? ah, Miko mendesah gusar. Saat ini ia berada di persimpangan, antara cinta dan dendam.


'Aku mencintaimu Jiro, sangat mencintaimu. Aku tidak rela jika kau bersama dia," gumam Miko.


Gadis itu kembali menenggelamkan angannya ke dalam mimpi yang indah bersama pria yang ia cintai. Beberapa menit, hanya hening. Tak ada suara apapun selain suara petir yang membahana. Tak lama suara petir sudah hilang dari pendengaran pertanda hujan mulai berhenti. Tiba tiba gadis itu terbangun dan membuang selimutnya. Ia turun dari atas tempat tidur, menyambar jaket kulit berwarna hitam yang ada di atas tempat tidur lalu memakainya. Rambutnya yang ikal dan panjang, di ikat sembarangan. Lalu ia melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Aku harus menemui Zoya untuk menjelaskan semuanya." Miko melangkahkan kakinya keluar rumah.


***


Sementara di lain tempat, Adelfo dan Kenzi pergi ke suatu tempat. Setelah mereka mendapatkan informasi siapa yang memalsukan dokumen kematian musuh besar Kenzi. Untuk memastikan kebenaran itu, Kenzi meminta bantuan Adelfo untuk menyelidikinya. Mereka berjalan perlahan melewati lorong gelap dengan aneka grafiti yang menempel di dindingnya. Tikus dan kucing saling berkejaran di balik sampah yang menumpuk. Mereka juga bisa mendengar bunyi pecahan kaca dan meja yang di lempar ke dinding. Suara jeritan wanita dan laki laki yang tengah mengamuk. Di kota Kowloon berbeda dengan tempat tinggal Kenzi dan Adelfo. Kota yang padat penduduk, hal hal yang biasa di dengar. Semua orang memiliki masalah masing masing dan jalan pikirannya masing masing. Dan siapapun tidak perlu bersikap sok pahlawan.


Tak lama mereka telah sampai di bangunan tua. Adelfo dan Kenzi berdiri di pintu berwarna coklat lalu menggedor pintunya.


"Albert!" seru Kenzi.


Tak lama Albert membuka pintu, wajahnya terlihat lelah dan kusam. Aroma rokok menyengat menyeruak keluar ketika pria itu membuka pintu. Adelfo langsung mendorong tubuh pria ringkih itu, lalu mereka masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu terlihat sangat kotor di penuhi abu rokok, tumpukan koran, botol minuman dan sisa sisa sampah yang berserakan. Alfred, seorang Dokter sekaligus ilmuwan yang gagal karena ia depresi setelah kematian istrinya. Pria itulah yang membantu para elit global yang menyembuhkan dan menyembunyikan musuh besar Kenzi.


Alfred mempersilahkan mereka duduk, namun Kenzi mencengkram kerah bajunya. Sesaat mata Kenzi melirik ke arah tumpukan uang, sebagian berserakan di atas meja. "Katakan di mana Hernet dan Livian, brengsek!"


"Mereka sudah mati!" Alfred menyingkirkan tangan Kenzi dengan dorongan lemah. Pria itu kembali terhempas ke atas sofa lalu menatap ke arah Kenzi dan Adelfo.


"Kau jangan berbohong!" Kenzi mulai muak melihat pria itu. "Katakan di mana mereka! sekali lagi Kenzi bertanya dengan nada marah.


"Mereka hidup atau mati, apa perduliku. Bagiku uang segalanya." Alfred terkekeh lalu mengembuskan napas gusar.


"Brengsek," umpat Adelfo.


Kenzi menumpahkan amarahnya kepada Alfred, memukul pria itu tanpa ampun, hingga wajahnya bengkak.


"Cukup!" Adelfo menghentikan Kenzi, lalu menarik lengannya. "Bukan begini caranya, sampai matipun dia tidak akan mengakuinya."


Kenzi menoleh ke arah Adelfo, alisnya bertaut menatap pria itu mengeluarkan pematik dari saku celananya.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Kenzi bingung.


"Kau pegang erat erat Alfred." Adelfo tertawa terkekeh.


Kenzi tidak mengerti maksud Adelfo, tapi ia menuruti perintah Adelfo. Kemudian kenzi mencengkram kerah baju pria itu supaya berdiri. Menarik kedua tangan Alfred kebelakang dan menguncinya. Sementara Adelfo melepas celana panjang pria yang ada dalam kungkungan Kenzi, beserta celana dalamnya. Kenzi menatap jengah Adelfo yang menyalakan pematik lalu jongkok di hadapan pria itu.


"Ya Tuhan, dalam keadaan seperti ini. Sempat sempatnya dia bertingkah konyol," ucap Kenzi dalam hati.


Adelfo tengadahkan wajah menatap Alfred yang ketakutan, lalu ia dekatkan pematik yang menyala ke daerah sensitif Alfred. Pria itu berteriak histeris berusaha lepas dari kungkungan Kenzi. Namun tubuhnya yang ringkih, tidak dapat mengimbangi tenaga Kenzi. Sementara Adelfo tertawa terbahak bahak sesekali mengibaskan tangannya karena aroma bau terbakar.


"Apa yang kau lakukan!" pria itu matanya melebar. Saat daerah sensitifnya terasa panas. Sementara Kenzi terbatuk kecil dan memalingkan wajah saat mencium aroma rambut yang terbakar.


Adelfo tertawa terbahak bahak menatap pria itu yang kelojotan karena kepanasan.


Ahhhkkkkkk!!" pria itu mengerang cukup kencang. Adelfo kembali tertawa dan kembali membakar area sensitifnya.


"Cepat katakan! atau kau akan kehilangan barang berhargamu!" bentak Adelfo.


"Hentikan! aku akan mengatakannya!" pekik Alfred mengerang lagi, matanya melotot, menelan salivanya susah.


Alfred menganggukkan kepalanya, lalu ia menunjuk ke bawah tempat tidur. Adelfo mengalihkan pandangannya pada tempat tidur. Lalu ia berjalan dan menggeser tempat tidur tersebut. Nampak sebuah lubang cukup besar, lalu ia memasukkan tangannya ke dalam lubang itu dan mengeluarkan sebuah kotak. Adelfo membuka kotak itu yang berisikan dokumen penting yang selama ini Alfred sembunyikan. Lalu ia mengambil dokumen itu, di selipkannya di balik jaket.


"Sekarang lepaskan aku!" Pria itu kembali memberontak.


"Tidak, katakan di mana mereka menyembunyikan Hernet dan Livian!" ucap Kenzi geram.


"Baik!"


Pria itu membuka mulutnya menyebut nama kota, tapi belum selesai Alfred mengatakannya. Dari arah kaca jendela, sebuah peluru melesat ke dada kiri Alfred tanpa sempat menghindar.


"Prank!"


Kenzi dan Adelfo menoleh ke arah suara. Mereka melihat seorang pria berlari. Lalu mereka langsung berlari keluar bangunan tua itu. Meninggalkan Alfred dalam keadaan sekarat.

__ADS_1


Sesampainya di luar, mereka melihat sebuah mobil melaju dengan kencang. "Ah sial!" rutuk Kenzi.


Mereka tidak dapat mengejar mobil itu, karena kendaraan milik Kenzi, ada jauh dari lokasi.


"Ayo kita kejar!" Adelfo langsung berlari mendahului Kenzi menuju lorong yang mereka lewati tadi.


***


Sementara Miko tengah berdiri di depan rumah Zoya, pakaiannya sedikit basah oleh air hujan. Karena ia menggunakan motor untuk sampai ke rumah Zoya.


"Ada apa kau ke sini?" tanya Zoya menatap Miko penuh selidik.


"Zoya, biarkan aku masuk. Aku janji, tidak akan menyakitimu."


Sesaat Zoya terdiam, memperhatikan Miko. Ada rasa kasihan, tapi ia pun ragu setelah kejadian tempo hari.


"Kau tidak berbohong?" tanya Zoya lagi.


Miko menggelengkan kepalanya. Dengan ragu ragu, akhirnya Zoya mempersilahkan Miko untuk duduk di teras rumahnya. Ia tidak mengizinkan Miko untuk masuk. Di tambah anak buah Adelfo tidak mengizinkan Miko untuk dekat dekat dengan Zoya.


"Aku ambilkan kau handuk untuk mengeringkan rambutmu," ucap Zoya.


"Tidak perlu, aku hanya ingin minta tolong padamu."


"Minta tolong apa?" tanya Zoya.


"Bantu aku supaya bisa bertemu Jiro, sekali saja." Miko melipat kedua tangannya memohon pada Zoya.


Gadis itu memalingkan wajahnya sesaat, "tidak bisa, kau sudah berusaha mencelakainya."


"Aku mohon, sekali saja..aku berjanji akan menjauhi kalian berdua."


Zoya terdiam, awalnya ia ragu. Namun dari tatapan mata Miko, gadis itu melihat ada sebuah penyesalan. Zoya sendiri belum tahu apa ia akan menuruti keinginan Miko atau sebaliknya. Saat ini Adelfo tidak ada di rumah. Zoya khawatir ada sesuatu di balim ke datangan Miko. lalu ia meminta Miko untuk pulang saja. Zoya akan mengabari Miko jika memang Jiro bersedia untuk menemuinya. Zoya juga khawatir kalau Kenzi atau Adelfo akan memaki Miko jika tetap berada di rumahnya.

__ADS_1


"Bailah, kau kabari aku secepatnya."


Zoya menganggukkan kepala, menatap kepergian Miko dari rumahnya.


__ADS_2