
Sementara Kenzi tengah membicarakan langkah apa yang akan di ambil untuk menyelesaikan permasalahan. Di tempat lain, Jiro tengah membujuk Miko untuk tidak pergi membebaskan Ibunya sendirian.
"Itu terlalu berbahaya, lebih baik kita minta bantuan Ayahku saja. Dia lebih berpengalaman."
"Tidak!" Miko tetap bersikeras untuk tidak meminta bantuan siapa siapa, membuat Jiro kesal.
"Lalu apa maumu?" tanya Jiro semakin ragu dengan sikap Miko, namun ia masih tetap yakin. Kalau sikap Miko masih bisa di rubah.
"Aku tetap pergi sendiri," ucap Miko sambil berdiri. Menatap ke arah Jiro. "Jika kau mau, cukup kau saja yang membantuku."
Jiro terdiam sesaat, kata hatinya ragu untuk ikut dengan Miko. Tetapi ia juga tidak tega membiarkan gadis itu sendirian. Sampai saat ini, Jiro masih mempercayai apapun yang gadis itu katakan. Akhirnya Jiro memutuskan untuk ikut dengan Miko.
"Baiklah, aku ikut denganmu. Tapi jika Ibumu sudah selamat, kau tidak boleh terlibat lagi dengan mereka."
Miko tersenyum dan mengangguk cepat. "Terima kasih, kalau begitu kita berangkat sekarang." Gadis itu menarik tangan Jiro. Kemudian mereka pergi bersama ke markas Crips.
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di markas Crips. Jiro menepikan mobilnya di tepi jalan tak jauh dari markas. Lalu mereka berjalan kaki memasuki markas tersebut.
Betapa terkejutnya Jiro saat memasuki sebuah ruangan berukuran besar dua orang pria langsung memukul tengkuk Jiro hingga tak sadarkan diri. Kemudian kedua pria itu menyeret tubuh Jiro di bawa ke ruang bawah tanah dalam keadaan kedua kaki dan tangan terikat. Miko duduk di kursi memperhatikan Jiro yang tak sadarkan diri. Gadis itu duduk bersama seorang pria yang menggunakan penutup wajah, bertubuh tambun. Tertawa terkekeh saat buruannya dengan mudah masuk ke dalam perangkap.
"Kerja bagus," suaranya terdengar bas dan berat memuji Miko.
"Dia terlalu bodoh!" sahut Miko tersenyum menatap pria tambun itu.
"Ahhh! suara erangan dari bibir Jiro mengalihkan pandangan mereka berdua. Perlahan Jiro membuka matanya. Mengusap tengkuknya yang terasa sakit.
" Di mana aku?" ucapnya pelan, matanya melirik ke arah Miko dan pria yang menggunakan penutup wajah itu.
"Putranya tidak sehebat Kenzi. Bodoh sekali," ucap pria itu.
__ADS_1
"Miko, apa apaan ini?" Jiro berusaha bangun dengan susah payah lalu duduk di lantai menatap tajam pada mereka.
Miko berjalan mendekati Jiro lalu jongkok di hadapannya. "Kau terkejut?" gadis itu tersenyum mengangkat dagu Jiro.
"Aku tidak percaya kau setega itu padaku." Jiro menggelengkan kepalanya, menatap benci pada Miko. "Seharusnya aku mendengarkan apa kata Ayahku."
"Kau yang bodoh," sahut Miko.
"Apa yang kalian inginkan dariku?" matanya melirik tajam ke arah pria itu yang terus tertawa terkekeh.
"Aku butuh Kenzi. Bukan kau, anak muda." Pria itu berdiri menatap tajam Jiro. "Miko, ayo kita pergi dari sini."
Miko berdiri, sesaat menatap ke arah Jiro. Lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan Jiro di ruangan bawah tanah.
"Ah sial!" rutuk Jiro berusaha melepaskan ikatan di tangannya. "Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya pelan. Sesaat ia terdiam memutar otaknya untuk mengambil ponsel di dalam saku celananya. Mata Jiro melebar lalu ia merebahkan dirinya di atas lantai. Ia berusaha menyesuaikan kedua tangan yang terikat di belakang supaya pindah ke depan. Perlahan ia menggeser tangannya pelan pelan. Meski terasa sakit karena gesekan tali, tapi Jiro tetap berusaha. Tak lama usahanya membuahkan hasil.
Meski ke dua tangannya masih dalam keadaan terikat. Namun ia berhasil berpindah tangan ke depan. Lalu ia berusaha mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Ponsel miliknya berhasil ia keluarkan, lalu ia membuka layar ponsel dengan kedua tangannya yang terikat.
***
Sementara di kediaman Adelfo. Mereka masih berbincang bincang, menyusun strategi langsung ke sasaran utama tanpa menimbulkan kegaduhan. Kelicikan harus di balas dengan licik pula, itu yang di maksud Adelfo. Di tengah perbincangan, Zoya meminta izin untuk ke kamarnya. Setelah di kamar, gadis itu mengangkat telepon dari Jiro.
"Ada-?" Zoya tidak melanjutkan ucapannya.
"Zoya kau di mana? aku butuh bantuanmu," terdengar suara Jiro sangat pelan dan terdengar berbisik.
"Ada apa? kau dimana?" tanya Zoya balik. Kemudian gadis itu terdiam mendekatkan ponsel lebih dekat. Karena suara Jiro terdengar sangat pelan. Zoya mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan Jiro. Mata Zoya melebar mendengar Jiro di tahan Miko dan pria misterius di ruang bawah tanah. Tak lama sambungan telrpon terputus. Zoya berdiri sambil berjalan mondar mandir.
"Apa yang harus kulakukan?" ucapnya pelan. Zoya bingung harus bagaimana. Jiro meminta gadis itu untuk datang sendiri menyelamatkannya. Tetapi Zoya tidak ingin mengambil resiko, bagaimana kalau mereka juga tengah menjebak Jiro dan dirinya? seperti yang di katakan Kenzi tadi?
__ADS_1
"Tidak, aku harus beritahu Papa, ini bukan masalah mudah." Zoya langsung keluar kamar menemui Adelfo dan yang lain.
"Ada apa sayang?" tanya Siena melihat raut wajah Zoya yang terlihat pucat.
Gadis itu duduk di sebelah Adelfo, lalu menceritakan apa yang baru saja Jiro katakan.
"Sudah kuduga, ini akan terjadi!" ucap Kenzi bernada marah. Namun Siena kembali menenangkan Kenzi.
"Apa yang di katakan Nyonya Siena benar, kita tidak boleh gegabah dalam bertindak," timpal Adelfo sembari matanya melirik ke arah Siena. Lagi lagi, Zoya menangkap sikap genit papanya. Tak ayal, Adelfo kakinya kembali di injak Zoya cukup keras. Hingga ia mengerang cukup kencang.
"Aww, Zoya!" mata Adelfo melebar menatap tajam Zoya, tapi gadis itu membalas tatapan Adelfo.
"Ada apa?" tanya Kenzi menatap bingung Adelfo, pasalnya sudah dua kali pria itu mengerang kesakitan.
"Ah tidak, sepertinya kakiku kumat lagi." Adelfo menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu menoleh ke arah Zoya yang tersenyum tipis padanya.
"Lalu bagaimana?" tanya Kenzi lagi.
"Begini." Adelfo mulai menyusun rencana, ia berpikir putrinya akan dia libatkan.
"Aku tidak setuju, bagaimana kalau terjadi apa apa dengan Zoya," ucap Siena keberatan. Membuat Adelfo senang mendengar rasa keberatan Siena.
"Terima kasih Nyonya Siena, anda perduli dengan putriku," sahutnya tersenyum. Membuat Kenzi terus menggelengkan kepalanya, tiap kali Adelfo bicara pada Siena dengan nada suaranya lembut dan sopan.
"Tante tidak perlu khawatir, aku pasti baik baik saja. Demi Jiro, aku mau melakukan apa saja." Gadis itu tersenyum menundukkan kepala. Kini giliran Adelfo menginjak kaki Zoya, membuat gadis itu matanya mendelik sambil mengerang kesakitan.
"Papa!" tapi Adelfo hanya tersenyum lalu menjulurkan lidahnya pada Zoya.
Kenzi dan Siena saling pandang sesaat, lalu menggelengkan kepala. Detik berikutnya mereka tertawa melihat Zoya marah memukul lengan Adelfo.
__ADS_1
Dalam hati Kenzi, ia merasa iri melihat hangatnya hubungan ayah dan anak. Meski Adelfo terkenal sadis, tapi tidak dengan putrinya. Andai saja, kedua putra Kenzi tidak di butakan cinta. Siena yang memperhatikan perubahan Kenzi. Tangannya terulur menyentuh tangan Kenzi lalu menganggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa semua akan baik baik saja. Dan mereka pasti bisa melewati ini semua asalkan mereka terus bersama dan saling menjaga.