
Sehari sejak peristiwa malam itu, Siena berpikir keras bagaimana caranya untuk melarikan diri. Meskipun ia tidak memiliki keberanian tapi Siena tidak ingin terus berada dalam kendali Kenzi.
Perlahan ia mendekati pintu dan membukanya. Ia berdiri memperhatikan ke luar kamar. "Sepi.." ucap Siena pelan.
Dengan berjalan perlahan ia keluar kamar dan menutup pintu. "Tumben sepi, apa tidak ada orang?" gumamnya.
Ia berjalan menyusuri tiap lorong ruangan lalu menurini tiap anak tanggan dengan tatapan waspada. Di tengah anak tangga Diena menghentikan langkahnya lalu jongkok. Ia melihat Adrian berjalan tergesa gesa menuju pintu belakang club. Setelah di rasa cukup aman, Siena kembali melangkahkan kakinya menuruni tangga hingga lantai dasar club.
"Sepertinya memang tidak ada orang."
Siena memperhatikan sekitar, lalu ia berlari menuju pintu keluar club. Namun sayang, pintu keluar terkunci. Meski Siena mengguncangnya berkali kali, pintu itu tidak terbuka sama sekali. Dengan rasa kecewa ia kembali berjalan untuk mencari jalan keluar.
"Mungkin aku harus lewat jalan belakang," ucap Siena.
Dengan mengendap endap Siena melalui jalan yang Adrian lewati. Ia tersenyum saat melihat pintu keluar terbuka. Ia bergegas berlari ke arah pintu yang terbuka. Naas, bukan jalan keluar yang Siena temukan.
Ia kembali mundur ke belakang dan menatap ke arah ruangan di balik celah pintu. Dari sana ia bisa melihat dan mendengar percakapan mereka. Nampak Kenzi duduk di kursi di kelilingi anak buahnya. Sementara Adrian duduk di kursi berhadapan dengan Kenzi.
"Aku sudah bilang padamu berkali kali, kenapa kau menjual barang terlarang," ucap Kenzi menatap Adrian tajam.
"Aku tidak melakukannya, bukankah kau tau tuan..selama ini aku punya banyak relasi sendiri.
"Aku mengangkatmu dari jalanan untuk tidak terlibat dengan penjualan obat obatan, kau tahu bagaimana keluargaku! tapi kenapa kau lakukan, jawab!" Kenzi berdiri menatap tajam Adrian.
"Aku minta maaf, beri aku kesempatan lagi..akan aku perbaiki semuanya," jawab Adrian menatap lekat wajah Kenzi.
"Hukum dia!
'Beri aku kesempatan, beri aku kesempatan." Berkali kali Adrian memohon, tapi Kenzi tidak menggubrisnya.
"Lakukan cepat!" perintah Kenzi pada salah satu anak buahnya.
"Kenzi, beri aku kesempatan," ucap Adrian lagi.
__ADS_1
Namun Kenzi hanya diam tidak memberikan jawaban apapun. Ia menatap salah satu anak buahnya yang menganggukkan kepala, ia mengambil besi berukuran sedang dan menghampiri Adrian. Sementara dua pria lainnya mengangkat tubuh Adrian supaya berdiri. Tanpa basa basi lagi, pria yang memegang besi langsung memukul kaki kanan Adrian berkali kali tanpa ampun.
Suara teriakan Adrian terdengar memekakkan telinga Siena yang memperhatikan di balik celah pintu.
"Aku ampuni nyawamu, tapi kau tidak bisa lagi tinggal di sini. Sekarang juga tinggalkan tempat ini!" seru Kenzi menatap marah Adrian.
Adrian yang ambruk ke lantai tanpa bisa menggerakkan lagi satu kakinya berusaha bangun. Tangannya mencengkram meja, ia berdiri menatap tajam Kenzi. Dengan langkah tertatih Adrian pergi meninggalkan ruangan dan tidak akan pernah kembali lagi.
Kenzi mendengus kesal, ia beranjak pergi meninggalkan ruangan. Siena terkejut saat melihat Kenzi tengah berjalan ke arah pintu di mana Siena bersembunyi.
"Celaka, dia ke sini," ucap Siena.
Ia berjalan mundur, langsung balik badan dan bergegas pergi. Namun terlambat, Kenzi sudah mengetahui keberadaan Siena. Dengan langkah cepat Kenzi menyusul Siena yang berlari dan menarik tangannya hingga mundur ke belakang beberapa langkah.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kenzi menatap wajah Siena yang ketakutan.
Siena menggelengkan kepala, "ti, tidak..aku.."
"Cepat kembali ke kamarmu!" Kenzi memotong ucapan Siena. Ia langsung menarik tangan Siena menuju lantai dua club.
Kenzi menatap tajam Siena, lalu ia balik badan melangkahkan kakinya. "Kenapa kau menyiksa Adrian? bukankah dia orang kepercayaanmu?" tanya Siena menatap punggung Kenzi.
Kenzi menoleh ke arah Siena, ia kembali mendekatinya. "Kau tidak perlu ikut campur urusanku." Kenzi naik ke atas tempat tidur dan mencium bibir Siena cukup lama.
"Jangan pernah berpikir kau bisa bebas Siena," ucap Kenzi sembari mengusap bibirnya sendiri. Ia turun dari atas tempat tidur lalu beranjak pergi meninggalkan Siena sendirian di kamar.
"Aku tidak takut dengan ancamanmu, kita lihat nanti malan," gumam Siena.
***
Malam.
Siena perlahan membuka pintu kamar, terdengar suara musik Dj dari lantai dasar. Ia berjalan perlahan dan menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Tidak ada orang," ucap Siena terus berjalan menyuduri lorong hingga ia sampai di antara kerumunan para pengunjung club yang tengah meliuk liuk menari di lantai dansa. Nampak beberapa pria tengah mengawasi para pengunjung yang hendak bertransaksi dengan mereka. Siena terus berjalan menuju pintu keluar, sesekali ia bersembunyi saat berhadapan dengan anak buah Kenzi.
Ia berjalan merangkak di kolong meja, hingga ia melihat pintu keluar, dengan cepat Siena keluar dari kolong meja dan berlari menuju pintu keluar. Namun lagi lagi sial, anak buah Kenzi mengetahui ia melarikan diri. Siena terus berlari menyusuri tepi jalan dengan sekuat tenaga.
"Berhenti nona!" seru pria itu.
"Buggg!
Siena menabrak dada Kenzi hingga ia terhuyung ke belakang. " Kenzi..aku..?"
"Diam!" Kenzi membentak Siena dan berjalan mendekat menarik paksa lengan Siena. "Kembali ke kamarmu!"
"Tidak! lepaskan aku!" Seru Siena. "Aku mau pulang! aku mau pulang!" ia terus memberontak sepanjang jalan. Menggigit, menendang, itu yang Siena lakukan pada Kenzi.
Kenzi menghentika langkahnya, ia menatap wajah Siena kesal. "Apa maumu? kau rindu ibumu?" tanya Kenzi.
Siena mengusap air matanya, ia mengangguk cepat. "Aku mau ketemu mamaku.." ucapnya.
Kenzi terdiam, ia hanya menatap wajah dan rambut Siena yang berantakan. "Baik, aku antarkan kau untuk bertemu ibumu." Kenzi kembali menarik tangan Siena untuk terus berjalan hingga halaman club.
"Siapkan mobil!" perintah Kenzi pada salah satu anak buahnya.
"Baik tuan!" sahut pria itu.
Kenzi kembali menarik paksa tangan Siena untuk masuk ke dalam mobil bersamanya.
"Aku bisa pulang sendiri, kau tidak perlu mrngantarku," ucap Siena membenarkan rambutnya yang menghalangi pandangan matanya.
"Diam, dan berhenti merengek Siena! aku akan mengantarkan kau ke tempat di mana ibumu berada." Kenzi merangkul bahu Siena lalu mendekap mulutnya dengan tangan.
"Duduk yang manis dan jangan banyak bicara, aku pusing tiap hari mendengar rengekanmu."
Siena berusaha meldpaskan tangan Kenzi dari mulutnya, namun itu sia sia. "Kau keras kepala juga Siena." Akhirnya Kenzi menurunkan tangannya dari mulut Siena. Namun ia kembali mencium bibir Siena secara paksa sepanjang perjalanan hingga Siena kesulitan bernapas.
__ADS_1
"Kalau kau diam, aku tidak akan melakukannya. Bagaimana?"
Napas Siena naik turun dengan cepat, ia menatap benci wajah Kenzi. Ia tidak berani angkat bicara lagi sepanjang jalan.