Angkasa

Angkasa
09. Rasa


__ADS_3

"Masih pusing?" tanya Angkasa saat Raya terbangun, tidak biasanya gadis itu bangun jam lima pagi.


Raya mengangguk, ia kemudian memandang handuk kecil yang sedikit basa di kepalanya. Ia kemudian memandang Angkasa yang masih berdiri di depan jendela kamarnya.


"Ini apaan, Sa?" tanya Raya sembari meraba handuk itu.


"Handuk," jawab Angkasa singkat.


Raya mendecih, "Ya, tau ini handuk, maksud gue buat apa gitu lho."


"Oh, makanya bilang yang jelas," ucap Angkasa, "tadi lo panas, gue kompres deh. Takutnya tambah panas kan repot, jangan salah paham."


Ucapan Angkasa membuat Raya terdiam, entah mengapa ia merasa ada rasa hangat dalam hatinya saat Angkasa mengatakan hal itu. Angkasa perhatian padanya, tk seerti biasanya.


"Iya, gue tau. Cuma kewajiban dari bokap gue, buat jaga gue," balas Raya sembari menaikkan selimutnya kembali.


"Sa, gue hari ini ijin ya? Kepala gue masih berat."


"Iya."


Angkasa kemudian segera keluar dan bergegas bersiap. Sedangkan Raya memandang Angkasa dengan tak henti-hentinya untuk tersenyum.


--💗--


Mesya tersenyum, pagi ini udara cukup dingin. Tapi hal itu tak menutup Mesya untuk datang ke sekolah sepagi mungkin. Apalagi jika bukan untuk mengintip Angkasa dari pojok jendela, itu sudah menjadi kebiasaannya. Bahkan saat dulu Angkasa masih berpacaran dengan kakak kelasnya sendiri.


Dulu memang banyak yang beranggapan bahwa Angkasa itu playboy, walaupun dilihat dari sisi manapun tak nampak dari mana definisi playboy itu berasal. Menurut Mesya itu hanyalah gosip yang sengaja disebarkan agar banyak yang membenci Angkasa dan membuat hubungan Angkasa dan kakak kelasnya itu berakhir. Dan benar saja. Keduanya memutuskan hubungan tak lama setelah gosip itu beredar.


Mesya juga kadang membelikan coklat untuk ia taruh di kolong laci milik Angkasa. Tapi ia tak pernah memberi nama aslinya sebagai si pengirim. Biar bagaimanapun dia adalah seorang perempuan yang di Mandalika cukup terkenal sebagai cewek yang dingin dan tidak blak-blak-an dalam melakukan sesuatu. Tidak seperti kumpulan geng cabe milik Vella, Sisi dan Grace.


Dengan sabar ia menunggu Angkasa di pojok tangga dekat pintu kelas Angkasa. Dan benar saja, tak lama setelah itu Angkasa datang. Manik mata Mesya perlahan mengintip Angkasa dari pojok jendela. Ia tersenyum saat Angkasa merogoh kolong lacinya dan mengambil coklat milik Mesya.


Tapi ada yang berbeda kali ini, kenapa Angkasa memasukkan coklat itu ke dalam tas bukannya memindahkannya ke kolong meja Ryan?


Biasanya kan dia seperti itu, yang membuat Ryan beranggapan bahwa dia punya secret admire. Padahal itu dari Angkasa. Biasa cowok jomblo yang nggak punya penggemar tuh ya gini.


Mesya memang harusnya merasa senang karena Angkasa menerima pemberiannya, tapi apakah Angkasa benar-benar tahu bahwa dia yang memberikan coklat itu?


"Jadi lo yang selama ini ngasih coklat ini ke gue?" tanya Angkasa dengan suara yang sengaja ia keraskan agar dapat menembus kaca jendela. Mesya terkesiap. Ia kemudian terduduk dan mengerjapkan matanya.


Apakah Angkasa barusan bertanya kepadanya?


Langkah kaki Angkasa kemudian terdengar keras, Mesya kemudian menahan napasnya menunggu Angkasa muncul dari balik pintu. Lelaki itu kemudian berjalan mendekati Mesya dan membungkuk sembilan puluh derajat mendekat wajahnya ke arah gadis itu.


Untunglah pagi ini keadaan sekolah masih sepi.


"Lo belum jawab pertanyaan gue," ucap Angkasa tajam, "jadi lo yang selama ini ngasih coklat ke gue?"


Mesya menelan salivanya dengan susah payah, ia kemudian tersenyum dan memundurkan wajahnya sedikit. "Ya, enggak lah, Sa. Mana mungkin gue ngasih coklat ke elo?" ucap Masya berusaha kalem.


Angkasa masih menatap intens Mesya. Namun sedetik kemudian Angkasa membenarkan ucapan Mesya. "Bener juga sih, lo kan nggak pernah suka sama cowok."


Mesya kemudian menjitak kepala Angkasa keras, "Ya enggak gitu juga kali! Gue masih normal!" ucapnya tak terima.

__ADS_1


Angkasa kemudian terkekeh.


"Eh, ngomong-ngomong bukan lo beneran yang naruh tuh coklat?" tanya Angkasa serius.


Mesya berdecak, disatu sisi ingin mengakui disisi lain malu kalo Angkasa sampe tau!


"Ya jelas ... nggak lah!" ucap Mesya mantap walau hatinya ragu.


Angkasa kemudian berohria dan kembali menegakkan tubuhnya. "Gue kira elo. Soalnya setiap pagi lo disini."


"Lah, lo tau tiap pagi gue disini?" tanya Mesya melongo.


"Ya tau lah, oneng! Keliatan kali jendela. Mata gue masih normal," balas Angkasa.


Mesya mengangguk-angguk. Untung Angkasa tidak tahu kalo alasan Mesya berada disana adalah karena Angkasa.


"Eh, Sya, katanya ada yang nembak lo kemaren? Siapa?" tanya Angkasa.


Mesya menatap Angkasa, mengerjap sebentar lalu berdeham berusaha menormalkan detak jantungnya.


"Ehm... yang itu... lo tau dari mana?" tanya Mesya menurunkan pandangannya.


"Satu sekolah juga udah tau kalo, Sya," ucap Angkasa enteng.


"Hah? Masa? Ya ampun!" pekik Mesya keras membuat Angkasa terkejut dan memundurkan diri beberapa langkah.


"Kalo beritanya dari Angga siapa yang nggak tau," celetuk Angkasa membuat Mesya membelalakkan matanya. Wajahnya kemudian berubah menjadi garang.


"Jadj ini gara-gara Angga si cowok dugong itu? Dia dimana sekarang? MAU GUE BOTAKIN!"


"Kalo yang lo cari Erlangga Bramasta, tuh orangnya baru aja masuk kelas," ucap Angkasa menunjuk ke pintu kelas membuat wajah Mesya langsung merah padam karena marah.


"ERLANGGA BRAMASTA! SINI LO! GUE BOTAKIN PAKE GUNTING TAMANNYA PAK BOWO!" teriak Mesya keras sambil melangkah menuju kelas 12 MIPA 1.


kita lihat bagaimana riwayat seorang Angga habis di tangan Mesya Prameswara.


--💗--


06.00 PM


Angkasa : Oi


Angkasa : Muka datar


Angkasa menipiskan bibirnya, ia lalu duduk di atas kasur. Memandang tanda ceklis dua yang belum juga berubah biru.


Tak berapa lama ceklis tersebut berubah warna dan tulisan online di atas berubah menjadi typing membuat Angkasa menegakkan diri. Kedua sudut bibirnya terangkat sedikit saat mendapat pesan balasan. Membayangkan bagaimana raut wajah gadis itu sekarang. Si cewek dinginnya 12 MIPA 1.


Mesya : Ye, ada yang nggak punya kaca nih dirumah


Mesya : Heran nggak sadar diri banget


Angkasa : Gue mau nanya

__ADS_1


Mesya : Tanya apa muka tembok? :)


Angkasa : Ck, dasar muka dua


Mesya : Ha?


Angkasa : Iya lo muka dua, sama gue lo lancar tuh ngomong. Sama orang lain irit banget.


Mesya : Lo juga ogeb


Angkasa : Masa sih? :)


Mesya : Pernah ngrasain oseng-oseng sendal jepit nggak, Sa? :)


Angkasa : Wah aku belum pernah merasakannya


Mesya : Ya allah bukan temen gue


Angkasa : Trus siapa? Masa gebetan :(


Angkasa tertawa melihat pesan yang ia kirimkan pada Mesya. Sungguh, itu bukan dirinya. Entah kenapa dia bisa bertingkah seperti ini. Dirasuki setan Angga? Mungkin, mungkin saja.


Di sisi lain Mesya sedang menahan detak jantungnya yang menggila. Padahal ia tahu Angkasa hanya main-main saja. Tapi kenapa dia malah kebaperan seperti ini sih!


Cewek emang ribet, apa-apa pake perasaan. Trus baper, tapi habis itu cuma digantungin. Kan ngenes.


Mesya : Ah ngaco lo


Mesya : Cepet mau tanya apa


Mesya : Hape gue mau disita soalnya


Angkasa : Hehe oke, pertanyaan nggak penting sebenernya


Mesya : Apa? Bahasa Indo? Gue liat lo paling nggak bisa soal dialog gitu. Padahal menurut gue itu paling gampang haha :)


Angkasa : Jaat kamu :(


Mesya : //auto muntah gue


Angkasa : Oke serius, gue nggak mau tanya itu


Mesya : Lah terus?


Angkasa : Tapi lo jangan ketawa ya


Mesya : Otak lo kan lebih pinter, Sa :)


Mesya : Yang ada gue yang ngetawain diri gue sendiri kalo gue nggak bisa jawab pertanyaan yang menurut lo gampang :)


Angkasa : Gue mau tanya...


Angkasa : Lo pernah suka sama lawan jenis?

__ADS_1


--💗--


__ADS_2