Angkasa

Angkasa
Sudah seminggu


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 147


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Seminggu kemudian...


Satu Minggu telah berlalu, Revi dan keluarga telah kembali ke rumah setelah puas merayakan lebaran di kampung bersama para saudara-saudara. Ya mereka tiba di rumah tepat pada pagi hari dengan pesawat yang mereka naiki, tentunya mereka harus pulang hari ini karena Marcel juga harus kembali bekerja esok hari sesudah berlibur di hari lebaran kemarin.


Revi serta kedua orangtuanya itu turun dari mobil taksi yang mereka pesan saat di bandara, mereka dibantu oleh pak Fadlul membawa barang bawaan dari kampung ke dalam rumah. Kebetulan pak Fadlul memang asli orang Jakarta sehingga ia tidak minta izin cuti seperti bik Munaroh, jadi pak Fadlul bisa tetap memantau rumah majikannya.


"Pak, maaf lahir batin ya!" ucap Marcel bersalaman dengan satpamnya itu.


"Sama-sama, pak. Maaf lahir batin juga!" ucap pak Fadlul.


"Maaf lahir batin ya, pak!" ucap Juliana.


"Maaf lahir batin pak Fadlul!" sahut Revi.


"Iya nyonya, non!" ucap pak Fadlul.


Setelah saling bersalam-salaman dan meminta maaf, akhirnya kini mereka melangkah masuk ke dalam rumah sambil membawa koper di tangan.


"Tuan, nyonya, ini kopernya mau saya bawakan sampai ke dalam kamar atau disini saja?" tanya pak Fadlul saat mereka sampai di ruang tamu.


"Eee sampe sini aja, pak. Terimakasih ya, udah bantuin kami bawa koper-koper ini! Kalau bapak pengen kembali ke depan, silahkan aja!" jawab Marcel mempersilahkan pak Fadlul pergi.


"Baik tuan, permisi!" ucap pak Fadlul berbalik badan dan berniat pergi.

__ADS_1


Setelah pak Fadlul pergi ke depan, kini Marcel dan Juliana mendekati Revi sembari memeluk tubuh putri mereka itu dengan erat.


"Sayang, kamu boleh istirahat!" ucap Juliana.


"Iya sayang, pasti kamu capek kan? Nanti biar papa bantu bawa kopernya ke kamar kamu, ya?" sahut Marcel mengusap puncak kepala Revi dengan lembut sambil tersenyum.


"Gausah, pah! Aku bisa sendiri kok, papa istirahat juga sama mama!" ucap Revi tersenyum.


"Ohh, oke deh sayang! Benar juga sih kata kamu, kebetulan papa emang capek banget nih! Mah, mama nanti pijitin papa ya?" ujar Marcel.


"Iya pah iya," ucap Juliana.


"Hahaha, cie cie yang mau pijit pijitan!" goda Revi.


"Apa sih kamu Rev?!" ujar Juliana tersipu.


"Yaudah, kalo gitu aku ke kamar duluan ya pah, mah? Selamat bersenang-senang di kamar!" ucap Revi sambil terkekeh sendiri.


"Hadeh, iya sayang. Udah sana istirahat gih!" ucap Juliana.


Revi pun membawa koper miliknya, lalu berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Sedangkan Marcel serta Juliana berpelukan disana sambil saling bertatapan dan tersenyum.


"Mah, yuk ke kamar!" ucap Marcel.


"Yuk!" ucap Juliana sambil mengangguk pelan.


Sementara Revi rupanya berhenti sejenak untuk memperhatikan mama papanya, ia tersenyum senang melihat kedua orangtuanya itu tampak mesra dan akrab saat ini, sungguh tak ada yang lebih bahagia baginya selain menyaksikan itu.


"Mama sama papa romantis banget, aku jadi makin senang lihatnya! Semoga mama dan papa bisa terus seperti ini selamanya, aamiin!" batin Revi.


Setelah mama papanya itu masuk ke kamar, Revi pun kembali melanjutkan langkahnya.


Di tengah perjalanan, ia teringat pada momen kemarin ketika lebaran di rumah neneknya bersama para saudara sepupu.


"Huft, waktu cepat sekali berlalu! Rasanya baru kemarin aku kumpul sama nenek dan saudaraku, tapi sekarang aku udah pulang aja! Semoga tahun depan aku masih bisa kumpul lagi sama mereka, sedih banget rasanya!" gumam Revi dalam hati.


Ceklek...


Gadis itu membuka pintu, lalu masuk ke kamarnya.


...β€’β€’β€’...


Disisi lain, Zian yang baru kembali dari kampungnya juga langsung pergi menemui Laras di rumahnya sambil membawa beberapa oleh-oleh untuk gadis itu dan keluarganya. Ia sengaja datang kesana lebih cepat agar bisa bertemu dengan Laras serta kedua orangtuanya secara langsung, tentu Zian sangat berharap bisa mendapat restu dari mereka.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah gadis itu, Zian pun langsung turun dari mobilku membawa barang bawaan di tangan yang akan ia berikan pada Laras. Ia tersenyum riang sembari merapihkan rambut lalu mulai mengetuk pintu, suasana disana sudah cukup sepi karena ini seminggu setelah lebaran dan kebanyakan orang telah mulai beraktivitas kembali.


TOK TOK TOK...


"Assalamualaikum, permisi!" ucap Zian sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsallam..."


Ada balasan dari dalam, itu adalah suara dari Maryam alias sang ibu Laras gadis yang dicintai Zian tersebut.


Ceklek...


"Eh nak Zian, ya?" ucap Maryam tersenyum.


"Iya tante, maaf lahir batin ya!" ucap Zian langsung mencium tangan wanita tua itu.


"Iya, maaf lahir batin juga nak Zian! Kenapa kamu baru datang sekarang? Padahal tante udah nunggu loh dari hari lebaran kemarin, kasihan Laras juga gak ada temen tuh di rumah terus dia!" ucap Maryam.


"Oh begitu tante? Duh maaf ya, kemarin itu aku pulang kampung sama keluarga. Nah ini aku udah bawain oleh-oleh buat tante sama Laras sekeluarga, maaf ya tan kalau gak banyak! Soalnya gak sempat belanja pas disana," ucap Zian.


"Wah ini banyak banget loh nak Zian! Kamu itu emang sukanya merendah ya? Makasih loh nak Zian, yuk masuk aja!" ucap Maryam.


"Eee boleh nih tante?" tanya Zian.


"Ya boleh dong, masa enggak?! Udah sini masuk, Laras nya ada di dalam kok!" ucap Maryam.


"Iya tante, makasih!" ucap Zian gugup.


Maryam memberi jalan bagi Zian untuk masuk, ya mereka pun melangkah memasuki rumah itu sambil membawa bawaan yang berisi oleh-oleh dari Zian dan keluarganya.


Maryam mempersilahkan Zian menunggu di sofa, karena ia akan membuat minuman serta memanggil Laras yang berada di kamar.


"Nak Zian, tunggu disini dulu ya! Tante mau buat minum dulu di dapur, sekalian panggil Laras juga!" ucap Maryam tersenyum.


"Oh iya tante," ucap Zian.


Setelahnya, Maryam pun pergi ke dapur. Sedangkan Zian perlahan duduk di sofa sambil celingak-celinguk, ia tak sabar bertemu dengan Laras yang sudah sangat ia rindukan itu.


"Pasti Laras makin cantik nih! Gue gak sabar banget pengen pegangan tangan sama dia!" gumam Zian.


Zian pun sudah membayangkan kejadian nanti saat ia bersalaman dengan Laras, menurutnya itu pasti akan terasa sangat nikmat dan menyenangkan.


"Uhh my baby...!!" batin Zian senyum-senyum.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2