
"Udah, sekarang lo tidur."
Raya memandang Angkasa dengn tatapan tak terdefinisikan. "Temenin."
Angkasa mengerutkan keningnya. "Hah? Maksud lo?"
"Iya, temenin gue. Gue kalo lagi sakit biasanya suka halu. Halunya gaje. Kaya liat hantu gitu, temenin ya?" mohon Raya kepada Angkasa. Angkasa kemudian menghembuskan napasnya perlahan.
"Oke, gue duduk sini." Angkasa mengalah, dia kemudian duduk di tepi tempat tidur Raya. Tetapi bukannya memejamkan mata, Raya malah menarik-narik Angkasa untuk menaikkan tubuhnya ke atas kasur.
"Apaan?" tanya Angkasa sedikit risi.
"Lo tiduran sini, nanti kalo lo pergi gue gimana?" ucap Raya.
"Tidur? Satu ranjang sama lo? Gila!"
"Ih, ya kita jauhan dikit."
Angkasa menggeleng tegas, "Nggak, ntar terjadi hal yang tidak diinginkan. Gue repot nanti."
Raya tetap ngotot pada pendiriannya, pokoknya Angkasa harus tidur disebelahnya! Kalau bukan terpaksa dia juga tidak mau, biasanya kan saat dia sakit Mamanya yang menemaninya, kini berhubung dia hanya berdua dengan Angkasa maka Angkasa harus menggantikan posisi Mamanya.
"Cepet, ah, tidur. Nanti gue tinggal lho."
"Lo tidur sini dulu," ucap Raya ngotot.
"Ah, elah! Nggak mau."
"Ya udah gue nggak mau tidur."
"Mau sembuh nggak lo?"
"Ya mau lah."
"Tidur!"
"Ya lo makanya tidur di sebelah gue!"
"Nggak mau!"
"Ya udah gue nggak tidur!"
"Serah! Gue mau pergi!"
"Sana pergi! Nggak peduli juga kan lo sama gue?"
__ADS_1
Ucapan Raya membuat Angkasa menghentikan kalimatnya yang sudah diujung lidahnya. Entah kenapa kata-kata itu membuat darahnya berdesir. Angkasa yang sudah bangkit sambil membawa nampan berisi sisa makanan Raya pun terdiam.
Raya masih menatap Angkasa kesal, tak lama, Angkasa mendesah perlahan dan kembali menghempaskan bokongnya ke tepi kasur Raya. Dengan suara perlahan, Angkasa mengucapkan kata-kata itu dengan susah paya yang sukses membuat Raya tersenyum lebar.
"Oke, gue bakalan tidur di sebelah lo. Tapi lo jangan berani-berani deketin gue," ucap Angkasa mengalah.
"Makacih, Angkasa!" pekik Raya senang.
Angkasa mendengkus kemudian meletakkan guling di tengah-tengah kasur Raya dan menunjuk guling itu dengan penuh penekanan.
"Ini batasnya! Awas kalo ngelanggar."
Setelah mengucapkan itu Angkasa merebahkan tubuhnya membelakangi Raya. Agak canggung jika kondisinya seperti ini, gadis aneh. Memang siapa yang mau tidur satu ranjang padahal mereka tidak memiliki hubungan apapun.
Dasar gadis aneh!
--💗--
Angkasa membuka matanya perlahan, matahari masih belum menampakkan dirinya tapi Angkasa sudah terbangun. Ia mengerjap beberapa kali sampai tersadar bahwa dia masih berada dalam kamar Raya.
Angkasa hampir saja terjatuh saat melihat wajah Raya yang sangat dekat dengannya, well, tanpa ia sadari saat tidur dia membalikkan badan ke arah Raya. Padahal dia tidak ingin melakukannya!
Mata Angkasa masih mengerjap-ngerjap, tidak bukan terpesona dengan wajah bantal Raya. Mana ada cowok yang terpesona dengan wajah Raya yang menurutnya sangat menjijikkan saat sedang tidur, termasuk Ryan? Ah, sudahlah kenapa Angkasa memikirkan hal itu?
Setelah merasa energinya cukup terkumpul, dengan gerakan perlahan, Angkasa bangkit dari tidurnya. Mengusap matanya beberapa kali lalu menatap jam weker yang berada di atas nakas dekat lampu tidur.
Angkasa kemudian memutar badannya, menatap gadis yang kini masih terlelap dalam alam mimpinya. Perlahan, tangan Angkasa mengusap puncak kepala Raya dan turun hingga ke dahi gadis itu.
"Kok malah panas sih?" gumam Angkasa pada dirinya sendiri setelah merasakan suhu tubuh Raya.
Angkasa kemudian berjalan, menuju kamar mandi milik gadis itu dan mengambil air serta handuk kecil. Setelah sudah, Angkasa kembali menghampiri Raya dan memeras hantuk kecil itu serta ia tempelkan di dahi Raya.
Sepertinya gadis itu benar-benar sakit.
Selesai dengan mengompres Raya, Angkasa kemudian melangkah ke arah tumpukan alat melukis milik adiknya--Senja yang sudah tak berbentuk karena ulang Raya. Ia mengambil satu buku cukup tebal milik Senja. Sepertinya mengingat masa lalu dengan adiknya untuk mengobati rindu tak ada salahnya.
Lembar pertama dimulai dengan gambar khas anak taman kanak-kanak. Angkasa tersenyum kecil. Gambar ini adalah gambar pertama Senja saat ia membelikan alat melukis serta pensil warna yang dulu sangat Senja inginkan.
Gambar-gambar itu mengingatkan sepuluh tahun yang lalu saat Angkasa masih berumur tujuh tahun, tepat saat ulang tahunnya ia membelikan Senja alat gambar. Tentu saja gadis kecil itu sangat gembira. Semua orang datang, dan saat itulah dia bertemu dengan seseorang yang tak menyangka akan memberikan kenangn begitu dalam di hati Angkasa. Sangat dalam.
"Sa, kenangan lo masih abadi di keluarga gue," gumam Angkasa, kali ini dia tidak berbicara pada dirinya sendiri. Tapi gumamannya itu ia tujukan pada seseorang yang kini masih sangat melekat dihatinya.
--💗--
"Aku nggak nyangka kamu berhasil, Langit," ucap gadis itu sembari tersenyum.
__ADS_1
Pria ber-jas hitam bernama Langit pun ikut tersenyum, seakan tersihir dengan aura dari gadis ber-dress merah selutut itu. Langit kemudian memangkas jarak antara dia dan gadis itu. Gadis itupun juga ikut memangkas jaraknya dengan Langit samai jarak diantara mereka habis.
"Kamu lama, aku nunggu setengah jam yang lalu lho," ucap Langit, ia kemudian melingkarkan tangan kirinya ke pinggang gadis itu dan bergerak pelan mengikuti irama dansa yang menenangkan. Sedangkan tangan kanannya sibuk memegang minuman mahal khas orang kaya.
Gadis itupun menyambut perlakuan Langit dengan senang hati, ia kemudian melingkarkan tangannya ke leher jenjang pria itu dengan mesra.
Semua tamu undangan yang berada disitu seakan tersihir dengan aura kuat dari pasangan Langit dan gadis itu. Ada yang nampak iri, ada juga yang terasa lemas melihat begitu hangatnya mereka berdua.
Malam yang semakin larut tak membuat tamu undangan berniat meninggalkan pesta malam itu untuk memperingati lahirnya CEO baru dari Perusahaan Wijaya yang kini sudah mendunia. Dialah Langit, usianya baru dua puluh tahun dan masih duduk dibangku kuliah tapi sudah berhasil membuat nama Wijaya Commpany melejit.
Gadis itu--Sashi juga bangga dan bahagia akan kesuksesan yang diraih pacarnya saat ini. Angin dingin Jakarta tidak membuat kehangatan dalam pesta itu menyurut.
Semua tamu hanyut dalam suasana pesta bertemakan outdoor. Langit dan Sashi pun larut dalam jalinan asmara mereka, seakan hanya mereka yang ada di dunia ini.
"Aku denger, katanya kamu mau nambahin program baru buat Wijaya Commpany? Program apa emang?" tanya Sashi saat mereka sedang duduk di kursi rotan dengan meja kecil di antara mereka.
Langit mengangguk singkat sambil menatap kolam renang yang malam itu nampak bercahaya.
"Masih ingat dengan peresmian CEO baru periode yang dulu?" Sashi mengangguk, Langit kemudian tersenyum kecil. "Dulu, aku cumua berangan-angan bisa kaya Papa yang mimpin perusahaan sebesar ini, tapi ternyata angan itu bisa aku capai sampai bisa gantiin Papa jadi CEO di perusahaan keluarga sendiri."
"Itu berarti kamu hebat," puji Sashi.
Langit terkekeh, "Itu juga dukungan dari kamu, tanpa kamu mungkin aku belum bisa jadi CEO sekarang," balas Langit membuat kedua pipi Sashi memanas.
"Udah, deh, jangan gombal dulu untuk saat ini. Kita kan masih punya tugas skripsi akhir," celetuk Sashi membuat Langit tersenyum.
"Emang kamu mau kuliah di mana sih? Jangan jauh-jauh dari aku mendingan," balas Langit membuat Sashi terkekeh kecil.
"Iya, kalo aku pergi kan nanti Langit jadi rindu," ucapnya terkekeh, "aku rencananya mau kuliah di Indonesia aja. Tapi Papa bilang mau daftarin aku beasiswa di luar negri. Tapi liat nanti aja."
"Kalau kamu ke luar negri, aku juga bakalan ikut kok. Tenang aja."
"Heh? Kan kamu perlu urus perusahaan?" Sashi menepuk paha Langit pelan membuat Langit tertawa.
"Kan Wijaya Commpany nggak cuma di Indonesia, di seluruh dunia ada!" seru Langit.
Sashi tersenyum penuh arti. Senyuman Langit terus membuatnya rindu pada seseorang yang dulu dia sia-siakan.
"Langit, kita kapan ke Jogja buat ngasih undangan pertunangan kita sama keluarga kamu?" tanya Sashi mengubah arah pembicaraan.
Senyum di wajah Langit perlahan memudar. "Aku mau selesaikan masalah orang tua dulu, kalau sudah aku janji akan bawa kamu ke Jogja. Lagipun orang tua kita sudah tahu satu sama lain, tinggal tunggu hari untuk peresmiannya aja."
Sashi mengangguk, "Iya."
"Hanya satu yang aku minta, tetap jaga hati kamu untuk aku, ya?"
__ADS_1
"Iya, Langit," ucap Sashi dengan lirih. Entah kapan dia bisa benar-benar melepaskan perasaannya yang dulu pernah berlabuh dihatinya.
--💗--