
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 184
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Latifah yang baru saja keluar dari rumahnya, tak sengaja justru menerima sebuah kiriman bunga dari seseorang yang tidak ia kenali, dan yang memberikan bunga itu adalah seorang anak kecil berusia kurang lebih delapan atau sembilan tahun.
Latifah pun bingung karena dari si anak kecil itu tak ada informasi apa-apa mengenai siapa yang mengirim bunga tersebut, terlebih di dalam bunga juga tidak terdapat kartu nama atau hal lainnya yang bisa ia jadikan petunjuk.
Hanya saja Latifah menemukan sebuah surat kecil berisikan sebuah tulisan yang tentunya dari si pengirim bunga, ia pun mengambilnya dan membaca isi surat tersebut di dalam hatinya.
"Hai Ifah! Kalau kamu udah terima bunga ini, aku mau kamu jalan ke arah samping rumah kamu! Temui aku disana, aku yakin pasti kamu penasaran kan siapa yang udah kasih bunga ini ke kamu? Please Ifah, datang ya dan jangan ajak siapapun! Aku gak ada niat jahat kok sama kamu!"
Begitulah isi yang tertera pada surat tersebut, sehingga Latifah semakin dibuat bingung.
"Ini apaan sih? Siapa coba yang ngirimin gue bunga kayak gini? Terus maksudnya apa dia pake ngirim beginian segala?" ujar Latifah terheran-heran.
Akhirnya karena penasaran, Latifah pun memutuskan untuk pergi ke tempat yang diberitahu oleh si pengirim bunga itu sembari membawa bunga di tangannya.
Latifah melangkah secara perlahan, ia terus melirik ke kanan dan kiri memastikan apakah tempat itu aman atau tidak, tentunya ia khawatir jika si pengirim ternyata berniat jahat padanya.
"Duh, mana sih dia? Kok gak ada?"
Setelah mencari kesana-kemari, Latifah menangkap sosok pria yang tengah duduk di kursi taman dekat tempat ia berdiri saat ini.
"Ah jangan-jangan dia orangnya!"
Latifah sangat yakin jika orang itulah yang mengirim bunga untuknya, ia pun bergerak cepat mendekati si pria tanpa tahu siapa pria tersebut.
"Heh!"
Latifah menyapa pria itu dengan kasar, ia bahkan melemparkan bunga di tangannya ke arah wajah si pria begitu pria itu menoleh, sepertinya ia sangat kesal pada kelakuan pria tersebut.
"Lu apa-apaan sih? Pasti lu kan yang udah kirim bunga itu ke gue? Maksudnya apa coba? Lu mau apa ha?" ujar Latifah emosi.
Perlahan pria itu menyingkirkan bunga yang menempel di wajahnya, sehingga Latifah dapat melihat jelas muka si pria dengan matanya. Seketika gadis itu terbelalak, karena yang dilihatnya adalah Digo si pria yang memang selalu mendekatinya.
"Kak Digo?" ujar Latifah terkejut.
"Hai Fah! Kamu apa kabar? Ini bunganya kok dibuang gitu aja sih? Gak sopan tau!" ucap Digo tersenyum.
"Eee ma-maaf kak, gue gak sengaja!" ucap Latifah.
"Gapapa, sini yuk duduk!" ucap Digo.
Pria itu berdiri dan menarik tangan Latifah ke dekatnya, ya kini keduanya duduk berdampingan di atas kursi berwarna putih itu, Digo bahkan dengan berani merangkul pundak Latifah.
"Kak, jangan kayak gini!" ucap Latifah.
"Udah biarin aja! Aku gak akan berbuat macam-macam kok sama kamu, lagian ini masih di kawasan rumah kamu!" ucap Digo.
"Ya iya sih kak, tapiβ"
"Sssttt! Aku cuma pengen dekat sama kamu, please jangan tolak aku Ifah!" potong Digo.
Latifah terdiam begitu Digo menaruh telunjuknya pada bagian bibirnya, detak jantung gadis itu seakan berhenti saat ditatap dari jarak yang cukup dekat oleh Digo.
"Kamu gemesin banget sih! Udah ya, nurut aja sama aku dan jangan nolak!" ucap Digo tersenyum.
__ADS_1
"Iya kak, emangnya apa yang mau lu omongin sih? Terus kenapa lu harus kasih bunga ke gue segala, lewat anak kecil lagi?" tanya Latifah.
"Aku cinta sama kamu, aku mau kamu jadi pacar aku! Ini kali kedua aku menyatakan itu ke kamu, aku harap jawaban kamu pun berbeda Fah! Karena aku emang beneran tulus sayang sama kamu!" ucap Digo dengan tegas.
Latifah terkejut mendengarnya.
"Apa? Gue ditembak lagi sama nih cowok? Gila sih, dia benar-benar gak jera! Padahal gue kan udah tolak dia sebelumnya, masih aja ngeyel pengen jadi pacar gue!" gumam Latifah dalam hati.
"Kenapa Fah? Ada yang salah?" tanya Digo.
"Eee enggak ada kok, kak. Gue cuma kaget dengar lu tembak gue lagi! Emangnya jawaban gue yang waktu itu kurang jelas ya buat lu?" ucap Latifah.
"Jadi, maksudnya sekarang jawaban lu masih sama kayak jawaban yang sebelumnya? Lu gak mau juga jadi pacar gue, iya?" tanya Digo.
"Iya kak, maaf ya! Gue ini gak cinta sama lu, dan yang namanya cinta itu gak bisa dipaksakan!" ujar Latifah.
"Kenapa sih Fah? Aku ini tulus kok sama kamu, aku pengen kamu jadi pacar aku! Tolong kasih kesempatan buat aku, aku bakal buktiin ke kamu kalau aku beneran cinta dan sayang sama kamu Latifah!" ucap Digo memohon.
"Kak, sekali lagi gue tegasin ke kak Digo! Gue ini gak suka sama lu, kak! Gue juga belum mau pacaran, jadi tolong ya kak jangan pernah paksa gue buat terima cinta lu!" ucap Latifah kesal.
"Fah, tapiβ"
"Udah cukup ya kak! Gue mau pergi dulu, sekali lagi gue ingetin supaya lu gak ngelakuin ini lagi!" potong Latifah.
Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, lalu berniat melangkah pergi kembali ke rumahnya. Namun, tentu saja Digo tidak membiarkan Latifah pergi begitu saja dan ia menahan gadis itu disana.
"Tunggu Fah, jangan pergi dulu dong! Aku masih mau ngobrol sama kamu Ifah!" ucap Digo.
"Gue gak bisa kak, cukup deh jangan tahan gue terus kayak gini! Atau gue teriak nih, supaya orang sini bisa dengar dan tangkap lu!" ancam Latifah.
"Eh eh jangan dong! Kalau aku ditangkap terus digebukin gimana?" ujar Digo.
"Ya makanya kak, tolong lepasin gue! Gue harus pergi karena gue masih ada urusan, maaf banget ya kak gue gak bisa terima cinta lu atau ngobrol lagi sama lu disini!" ucap Latifah.
"Eee Fah, please!" ucap Digo.
Latifah menarik paksa lengannya dari genggaman Digo dan berhasil, ia pun langsung melangkah pergi meninggalkan Digo tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Digo kali ini pasrah tak mau mengejar Latifah lagi, ia sudah menyerah walau sebenarnya masih ingin terus berjuang mendekati Latifah, ia hanya bisa terdiam menghela nafas sembari garuk-garuk kening.
Akhirnya pria itu memutuskan pergi dari sana dengan perasaan kecewa, ia membawa kembali bunga yang tadinya hendak diberikan untuk Latifah itu.
...β’β’β’...
Malam harinya, Radian pulang setelah selesai bekerja dan membawa cukup banyak uang dari hasil ojeknya. Pria itu masuk ke dalam, lalu bertemu dengan Oni yang kebetulan belum tidur.
Melihat suaminya sudah pulang, Oni pun menghampirinya sambil tersenyum dan berniat membantu Radian yang baru pulang dari kerjanya karena ia ingin menjadi seorang istri yang baik.
"Mas, akhirnya kamu pulang juga!" ucap Oni.
"Eh iya sayang, kamu belum tidur nih?" tanya Radian.
"Belum mas, aku kan nungguin kamu. Supaya kita bisa makan malam bareng, sini mas aku bantu bawain jaket kamu!" ucap Oni.
"Eh udah gausah, biar aku aja sendiri! Kamu duluan aja ke meja makan nanti aku nyusul!' ucap Radian.
"Gapapa mas, aku kan pengen layanin kamu! Udah sini aku aja yang bawain ke atas, sekalian aku siapin air panas buat kamu mandi!" ucap Oni memaksa.
"Aduh, kamu baik banget sih!" ucap Radian.
"Ya iya dong mas, aku kan istri kamu! Udah gapapa biar aku bawain jaket kamu, nanti kita sama-sama turun lagi ke bawah buat makan malam! Kebetulan aku udah masakin makanan kesukaan kamu loh mas, kamu mau kan?" ucap Oni.
"Iya aku pasti mau sama masakan kamu apapun itu!" ucap Radian tersenyum.
"Yaudah, sini aku bawain!" ucap Oni.
Oni mengambil jaket go-bek milik Radian dan membawanya ke atas, ia juga menggandeng suaminya itu berjalan bersama menuju kamar.
Di sela-sela perjalanan mereka, Radian menyempatkan diri mengendus leher Oni dan menghirup aroma tubuh istrinya itu yang sangat terasa harum di hidungnya.
"Mmhhh kamu masih wangi aja sayang! Aku paling suka sama wangi kamu yang ini, jangan ganti-ganti sabun atau parfum lagi ya sayang! Aku sukanya wangi ini!" ucap Radian.
"Oke mas!" ucap Oni tersenyum.
__ADS_1
Oni menaruh wajahnya di atas pundak sang suami, sedangkan Radian mengecup kening istrinya dengan lembut sambil tersenyum.
Cupp!
"Aku sayang sama kamu!" ucap Radian.
"Iya mas, aku juga sayang kok sama mas! Aku pengen jadi istri yang baik buat mas!" ucap Oni.
"Kamu udah baik kok sayang, aku justru ngerasa kamu sebagai istri paling baik di seluruh alam semesta! Selain itu, kamu juga cantik dan manis banget! Bikin aku selalu bahagia tiap kali ketemu sama kamu sayangku!" ucap Radian.
"Mas ih gombal mulu! Aku kan jadi terbang nih, emang mau nanti aku jatuh gara-gara terbang ketinggian?" ucap Oni tersipu.
"Gak ada yang gombal sayang, semua yang aku bilang itu fakta adanya!" ucap Radian.
"Iya deh iya, terserah kamu aja! Yang penting kamu bahagia, aku juga ngerasa kamu adalah suami yang paling baik di dunia! Karena kamu pekerja keras dan mau bertanggung jawab sama aku!" ucap Oni.
"Itu sih wajar sayang, namanya seorang suami ya pasti harus begitu! Kalau ada yang gak begitu, namanya dia belum siap buat jadi seorang suami dan gak pantas disebut suami sayang!" ucap Radian.
"Benar juga sih kata kamu! Yaudah, berarti aku termasuk istri yang beruntung dong ya? Karena aku bisa dapetin suami sebaik kamu! Makasih ya sayang, aku bahagia banget hidup berdua sama kamu! Biarpun kita masih tinggal di rumah orang tua aku, tapi tetep aja aku senang kok!" ucap Oni.
"Iya sayang, nanti kalau aku udah punya uang yang cukup pasti aku beliin rumah kok buat kita berdua tinggal sayang!" ucap Radian.
"Gausah buru-buru dipikirin mas, tinggal dimana aja aku gapapa kok!" ucap Oni.
"Yakin? Emang mau tidur di kolong jembatan?" ujar Radian.
"Ya gak gitu juga kali, mas!" ucap Oni.
"Hahaha...."
β’
β’
Revi sedang bersiap untuk tidur, ia merapihkan kasur dan kemudian naik ke atasnya sembari memeluk guling, ia tersenyum membayangkan kejadian saat di cafe bersama Muzaki tadi.
Ya ini adalah hari pertama ia dan Muzaki menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih yang asli bukan hanya rekayasa, ia merasa sangat senang karena ia memang mencintai Muzaki dan ingin berpuasa dengan pria itu walau terhalang restu.
"Huh akhirnya aku lega juga udah kasih keputusan sama kak Zaki! Tapi, kenapa aku malah jadi canggung ya tadi sehabis bilang gitu?" gumamnya.
Tak lama kemudian, ponsel miliknya berdering membuat ia harus bangkit kembali untuk mengecek siapakah yang menelponnya, dan ternyata itu adalah telpon dari Muzaki alias pacar barunya.
"Kak Zaki? Ada apa ya kak Zaki telpon aku malam malam begini?" ujar Revi heran.
Akhirnya Revi mengangkat telpon itu karena penasaran.
π"Halo kak Zaki! Ada apa telpon aku malam-malam begini? Emangnya kak Zaki belum tidur?" tanya Revi penasaran.
π"Assalamualaikum Rev, maaf ya aku ganggu kamu di waktu malam begini!" ucap Muzaki.
π"Eh eee iya aku lupa, waalaikumsallam kak Zaki! Gapapa kok, kak Zaki gak ganggu aku! Emangnya ada apa kak Zaki telpon aku? Pasti ada yang penting ya kak?" tanya Revi.
π"Sebenarnya gak terlalu penting sih, aku cuma rindu sama kamu! Boleh kan kalau kita telponan sebentar sambil persiapan tidur?" ucap Muzaki.
π"Oh gitu, ya jelas boleh lah kak! Aku juga pengen kok telponan sama kak Zaki, biar kayak orang-orang yang lain gitu istilah kerennya sleep call lah gitu!" ucap Revi malu-malu.
π"Hahaha iya begitu Rev, makasih ya kamu udah mau digangguin sama aku!" ucap Muzaki.
π"Gak ganggu kok kak, aku malah senang banget ditelpon sama cowok aku yang ganteng ini! Kalau bisa sih kita telponan nya agak lamaan!" ujar Revi.
π"Siap deh! Apa sih yang enggak buat kamu?" ucap Muzaki terkekeh.
π"Eee yaudah kak, jadi kita mulai dari obrolan tentang apa nih? Aku bingung banget mau bahas apa, soalnya aku orangnya susah buat cari topik sih kak!" ucap Revi kebingungan.
π"Gapapa sayang, ya sebenarnya aku juga bingung sih mau bicara apa sama kamu! Ya udah lah ya, kita ngobrol asal-asal aja mau bahas apa itu terserah kita selanjutnya nanti! Misalnya gini deh, tadi makan malam kamu pake apa?" ucap Muzaki.
Revi tersenyum menggelengkan kepala, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memegang guling.
π"Umm, tadi kebetulan bibik aku masak semur daging kak! Kalau kak Zaki sendiri makan pake apa? Pasti masakan mamanya kak Zaki enak banget deh ya?" ucap Revi.
π"Hahaha ya gitulah, aku selalu suka sama masakan mama apapun itu makanannya!" ucap Muzaki.
Ya sepasang kekasih baru itu terus mengobrol hingga waktu yang belum ditentukan, mereka tampak terus asyik telponan tanpa perduli waktu sudah semakin malam.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...