Angkasa

Angkasa
06. Marah?


__ADS_3

"Maaf, Sa," mohon Raya. Sejak setengah jam yang lalu Raya masih belum pergi juga dari depan pintu kamar Angkasa.


Gadis itu terus saja memohon maaf pada Angkasa, lelaki itu mengunci pintu kamarnya dan tidak mengatakan sepatah katapun sejak dia datang entah dari mana. Tentu saja Raya merasa bersalah karena ia dengan tanpa ijin membuka buku Angkasa yang ternyata itu adalah buku yang Angkasa rahasiakan.


Mata tajam Angkasa masih membayangi Raya, jam yang sudah menunjukkan angka satu itupun tak membuat Raya tergerak untuk kembali ke kamarnya.


"Maaf, Sa, gue nggak tau. Please, Sa, bukain pintunya." Suara serak Raya kembali terdengar.


Sedangkan di dalam, Angkasa pun masih belum tidur, dia mendesah perlahan, ia harusnya tidak membentak gadis itu tadi. Amarahnya memang tak tertahankan, bodoh.


Ia memijit pangkat hidungnya, berharap sedikit mengurangi rasa pusing di kepalanya sekarang. Bermain bola basket tadi tak membantunya.


Ya, tadi Angkasa berniat untuk melepas emosinya dengan basket. Tapi saat sampai di rumah tak membantunya sama sekali. Ia malah semakin kesal. Mood-nya sangat buruk! Entahlah besok dia bisa mengatasinya atau tidak.


Angkasa kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas dekat tempat tidurnya. Mencari kontak Raya dan mengetikkan beberapa kata di kolom chat itu. Setelah selesai dan memastikan bahwa pesan tersebut telah terkirim, Angkasa bangkit dan masuk ke kamar mandi. Kebiasaannya selain bermain basket di malam hari, adalah mandi air hangat malam.


Angkasa menyalakan shower dan membasahi seluruh tubuhnya. Sedangkan Raya masih meratapi nasibnya di depan pintu kamar Angkasa, matanya terbuka lebar saat mendapati Angkasa mengirimkan pesan kepadanya.


Angkanata :


|Udh, balik ke kmr lo


|Gw baik2 aja


Pesan itu mungkin sedikit melegakan hati Raya, tapi tetap saja, rasa bersalahnya belum cukup hilang. Raya kembali memandang pintu kamar Angkasa, berharap lelaki itu ada di depannya sekarang.


"Maaf, Sa, gue nggak bermaksud. Maaf," bisik Raya. Entah kenapa ada rasa aneh, yang Raya pun tak tau rasa apa itu.


--💗--


Keesokan harinya, Angkasa masih tak berbicara pada Raya. Menatap Raya pun tidak. Angkasa seperti menjauh, dia tetap menurunkan Raya di halte tanpa berkata apapun dan di kelas pun dia seperti patung hidup. Tidak berbicara sama sekali. Bahkan dengan Ryan pun tidak.


"Lo kenapa, Sa? Nggak biasanya tiba-tiba nggak mau ngomong sama sekali," ucap Ryan yang langsung membuat Raya fokus pada kedua cowok yang sedang duduk di meja pojok itu. Angkasa dan Ryan.


"Kenapa sih? Biasanya jawab, ya, walaupun cuma 'iya' atau 'hmmm'. Tapi hari ini nggak ngomong sma sekali lo, kenapa? Bau mulut?" tanya Ryan lagi membuat Angkasa menatap tajam cowok itu.


Tanpa berkata apapun Angkasa bangkit dan meninggalkan kelas, mengundang berbagai pertanyaan bercokolan di kepala Ryan. Raya pun hanya menatap kepergian Angkasa dengan tatapan kosong.


"Hadeh, tuh temen gue kenapa ya?" ucap Ryan tiba-tiba yang sudah berada di samping Raya sambil menelungkupkan tangannya. Raya hampir saja terjatuh karena kaget. Dia kira Dera sudah kembali dari kantin. Tapi ternyata cowok menyebalkan itu.

__ADS_1


"Apa gara-gara kemaren dia ketemu lo jadi kaya gitu ya?" celetuk Ryan tiba-tiba membuat Raya membulatkan matanya.


"Sembarangan! Masa gara-gara gue?" sahut Raya. Tapi emang bener, sih, gara-gara gue.


Ryan kemudian memandang Raya dengan mata yang seperti orang mengantuk. "Siapa tau aja, dia mood-nya anjlok gara-gara liat muka lo."


Raya mendengkus, pasti Angkasa masih marah soal yang kemarin. Dengan gerakan cepat Raya bangkit membuat Ryan mendongak cepat.


"Mau kemana lo?"


"Kantin." Bohong, Raya sebenarnya ingin menemui Angkasa. Walaupun dia tidak tahu dimana lelaki itu, dia akan tetap mencarinya. Bahkan sampai ujung dunia pun dia akan mencarinya!


"Yah, sini aja temenin gue," ucap Ryan.


Raya menggeleng, "Nggak, gue haus. Mau beli minum."


"Ya udah, gue juga mau ke kantin, bareng aja." Ryan kemudian berdiri untuk mengikuti Raya pergi. Dia curiga kalau Raya pergi ada hubungannya dengan Angkasa.


"Habis dari kantin gue mau ke perpustakaan," ucap Raya cepat.


Ryan menghentikan langkahnya, "Tumben, biasanya males kalo ke perpustakaan," ucap Ryan terkekeh kecil.


--💗--


Rayaarcha :


|Lo dimana?


|Sa?


|Please, jawab


|Lo ada dimana sih?


|Udah mau masuk


|Sa?


|Jangan cuma diread doang

__ADS_1


|Lo nggak disekolah?


Angkasa mendesah perlahan, apakah cewek itu tidak lelah? Dia hanya ingin tenang, dan cewek itu selalu mengusiknya. Bahkan dia mencoba menghilang sebentar pun bagai tak diijinkan oleh cewek itu.


: Angkanata


Jangan ganggu gw|


Setelah mengirimkan tiga kata itu Angkasa segera mematikan ponselnya, kembali men-dribble bola orange yang sedari tadi berada di tangannya. Rumah kosong dekat sekolah adalah tempat yang sering Angkasa kunjungi saat mood-nya tidak bagus. Dan lebih baiknya di rumah kosong itu ada lapangan basket yang masih terawat. Hanya luarnya saja yang terlihat menyeramkan, tetapi dalamnya sangat luar biasa.


Rumah ini juga rumah yang biasa Angkasa dan Darren kunjungi berdua. Hanya mereka yng berani dan akhirnya mereka berdua mendekor ulang rumah tersebut menjadi lebih baik, tetapi tetap membiarkan tampilan luarnya seperti rumah tak terpakai. Hanya mereka berdua yang tau rumah ini.


Peluh kembali menetes saat Angkasa dengan sukses men-shooting bola orange itu masuk ke keranjang. Emosinya seakan diajak bermain disini.


"Angkasa," panggil seorang gadis dengan suara lembut.


Ah, Angkasa lupa. Bukan hanya dia dan Darren yang tahu rumah ini. Tapi gadis yang dulu pernahnada dalam hidup Angkasa.


Netra coklat milik Angkasa bertemu dengan netra hitam pekat milik gadis itu, gadis itu tersenyum, namun Angkasa hanya terdiam tak menanggapi.


Dengan gerakan mulus, Angkasa membuang bola basket di tangannya dan berhasil masuk kembali dalam keranjang memberi skor baru pada permainan Angkasa.


"Keahlian basket kamu belum luntur, ya? Malah tambah jago," puji gadis itu, tangannya tergerak menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi pandangannya.


Ia kira rumah ini sudah dilupakan oleh Angkasa maupun Darren, namun ternyata Angkasa masih menyempatkan diri berkunjung ke sini.


"Kamu lagi marah? Muka kamu kok merah gitu?" tanya gadis itu ia kemudian mempercepat jalannya dan meraba pipi Angkasa lembut.


Angkasa terdiam, bingung ingin merespon seperti apa pada gadis yang sudah lama tidak bertemu dengannya.


"Aku nggak ada kelas hari ini, dan tadinya aku nyempetin ke sini buat ngenang masa lalu kita dulu. Kebetulan banget kamu ada disini," jelas gadis itu. Tangannya masih menempel di pipi Angkasa.


Tanpa persetujuan Angkasa, gadis itu kemudian memajukan tubuhnya. Melingkarkan tangannya dipinggang Angkasa, serta meletakkan kepalanya di dada bidang Angkasa. Ia kemudian memeluk Angkasa erat.


Dan entah kenapa saat itu juga detak jangtung Angkasa rasanya semakin bertambah cepat. Kedua sudut bibir gadis itu terangkat sempurna.


"Aku kangen kamu. Kalo kamu, kangen aku nggak?"


--💗--

__ADS_1


__ADS_2