
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 181
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Muzaki telah sampai di tempat ia janjian dengan Revi untuk bertemu, pria itu pun duduk disana menunggu Revi yang masih belum hadir sambil bermain ponsel serta menikmati pemandangan di sekitarnya.
Ya Muzaki tiba di sebuah cafe outdoor bernama Molinaro Cafe yang terletak dekat sebuah hutan, sehingga pemandangan disana sangat indah dan menyejukkan mata.
Muzaki sendiri lupa bahwa ia sudah berjanji juga untuk menjemput Revi di rumahnya, ia justru datang langsung ke cafe tersebut tanpa mengabari Revi dan membuat gadis itu mungkin saja keheranan.
Tliingg...
Tak lama kemudian, ponsel miliknya berdering menandakan ada pesan yang masuk. Muzaki langsung membukanya dan terlihat nama Revi terpampang di layar ponselnya itu.
πRevi : Kak, kak Zaki udah dimana?
Setelah membacanya, Muzaki dengan cepat membalas pesan tersebut dan mengatakan kalau ia sudah sampai di lokasi pertemuan mereka.
^^^πMuzaki : Aku udah sampe di tempat kita janjian nih Rev, kamu dimana?^^^
Tliingg...
Balasan dari Revi langsung masuk ke ponselnya.
πRevi : Kok gitu sih kak? Aku kan gak tahu tempatnya dimana, bukannya kak Zaki udah janji mau jemput aku di rumah dan kita bareng-bareng ke tempatnya? Kenapa kak Zaki malah udah dateng duluan disana?
Begitu membaca pesan balasan dari Revi itu, Muzaki reflek menepuk jidatnya dan baru ingat kalau ia sudah berjanji akan menjemput Revi di rumahnya.
"Aduh, bodoh banget gue! Bisa-bisanya gue lupa sama janji gue sendiri!" ujar Muzaki.
Akhirnya pria itu bangkit dari duduknya, tak lupa ia mengirim pesan pada Revi yang berisi kalau ia akan segera putar balik menjemput gadis itu di rumahnya.
Dengan tergesa-gesa Muzaki keluar dari cafe tersebut, lalu menaiki motornya menuju ke arah rumah Revi yang letaknya lumayan jauh dari sana sehingga ia perlu ngebut dalam melajukan motornya.
"Maaf ya Rev! Padahal saya masih muda loh, kok bisa pikun begini sih?" gumam Muzaki dalam hati.
β€οΈ
Sementara itu, Revi yang tengah berdiri di depan gerbang merasa jengkel pada Muzaki karena pria itu lupa untuk menjemputnya lebih dulu disana sesuai janjinya tadi, sehingga ia harus menunggu lama lagi sampai Muzaki datang kesana.
"Huft, kak Zaki ini gimana sih? Masa dia bisa lupa sama janjinya sendiri? Harus nunggu lagi deh aku, mana masih panas banget disini!" batin Revi.
Tiba-tiba pak Fadlul muncul dari arah belakang, ia masih berada di dalam halaman rumah Revi dan penasaran karena nona nya itu tak kunjung pergi dari sana, padahal Revi sudah pamit padanya tadi.
"Eee non, non Revi kok masih berdiri disini? Gak jadi perginya apa gimana non?" tanya pak Fadlul.
"Eh pak, jadi kok. Cuma ini temenku agak telat dikit, biasalah teman kalau janjian suka terlambat kayak gini!" jawab Revi.
"Ohh hahaha iya juga sih ya," ujar pak Fadlul.
"Iya pak itu dia, saya jadi kesel banget nih!" ujar Revi.
"Sabar non! Gimana kalau non Revi nunggu nya di dalam aja sambil duduk? Biar gak kepanasan non!" saran pak Fadlul.
"Boleh deh pak, disini emang panas banget gak tahan saya kalau kelamaan! Tapi, kalo nanti teman saya datang bapak tolong langsung bilang ke saya ya!" ucap Revi.
"Siap non! Silahkan masuk non, duh kasihan non Revi sampe kepanasan gitu!" ucap pak Fadlul.
"Ahaha makasih pak!" ucap Revi.
Saat Revi hendak masuk ke dalam rumahnya lagi, tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekatnya dan itu tak lain adalah Arsyan sang mantan.
Pria itu langsung membuka helmnya dan turun dari motor, lalu mengejar Revi. Ia mencekal lengan Revi dari belakang menahan gadis itu agar tidak masuk ke dalam.
"Eh eh eh, tunggu Rev!" ucap Arsyan.
"Haish, kamu lagi kamu lagi! Mau apa sih kamu selalu dateng kesini?" ujar Revi.
"Eee aku mau bicara sama kamu, Rev!" ucap Arsyan.
Revi memutar bola mata merasa kesal dan malas meladeni Arsyan, ia menarik paksa lengannya dari cengkraman Arsyan kemudian melipat kedua tangan di depan.
"Bicara apa?" tanya Revi jutek.
__ADS_1
"Aku bisa bantu kamu lepas dari paksaan mama kamu yang ingin jodohin kamu, aku tau Rev sekarang ini kamu lagi pusing kan karena mama kamu terus aja paksa kamu buat jadian sama orang yang gak kamu cintai?" ucap Arsyan.
"Hah? Kamu tahu darimana soal itu? Perasaan aku gak pernah cerita-cerita deh ke kamu," tanya Revi.
"Kamu kayak gak tahu aku aja, aku ini kan jago mencari sesuatu tentang kamu! Apa sih yang aku gak tahu dari kamu? Soal pacaran pura-pura kamu kan aku juga tahu," jawab Arsyan tersenyum.
"Haish, udah deh Arsyan kamu jangan ikut campur masalah pribadi aku! Aku gak butuh bantuan kamu, kamu pergi aja gih sana!" ujar Revi.
"Ayolah Rev! Ini kan demi kebaikan kamu juga, emang kamu gak mau lepas dari jeratan mama kamu yang terus-terusan paksa kamu buat deket sama cowok asing itu?" paksa Arsyan.
"Ya iya juga sih, tapi aku lebih baik begitu daripada harus terima bantuan dari kamu!" ucap Revi.
Arsyan terdiam, perkataan Revi cukup menusuk hatinya. Namun, pria itu tetap berusaha kuat demi memperjuangkan cintanya pada Revi.
"Gapapa deh, mungkin sekarang kamu masih bilang gitu, tapi lain waktu kamu mohon-mohon ke aku gak ada yang tahu kan?" ujar Arsyan.
"Dih kepedean banget!" cibir Revi.
β’
β’
Muzaki menghentikan motornya sejenak ke pinggir, ia sadar kalau ada yang tidak beres pada kondisi ban motornya itu, ia pun turun dan coba mengecek apa yang terjadi dengan bannya.
Dan benar saja ternyata ban motor miliknya itu kempes, sehingga ia tak mungkin bisa melanjutkan perjalanan menuju rumah Revi dan menjemput gadis itu untuk pergi ke cafe.
"Duh kempes lagi! Gimana ya?" gumam Muzaki.
Akhirnya mau tidak mau, Muzaki terpaksa mendorong motornya mencari bengkel terdekat yang ada di sekitar sana.
"Haish ada-ada aja nih motor pake kempes segala, mana masih jauh lagi dari rumah Revi!" ujar Muzaki.
Disaat ia tengah asyik mendorong motor, tiba-tiba saja tanpa sengaja Muzaki bertemu dengan Laras yang baru turun dari angkot. Ya suatu kebetulan yang tidak diduga oleh Muzaki, karena ia bisa bertemu Laras di tempat itu.
"Loh Laras? Kamu abis darimana?" tegur Muzaki.
Gadis itu reflek menoleh sehabis membayar ongkos angkot, ya sebelumnya Laras memang tidak sadar kalau ada Muzaki disana. Ia langsung tersenyum dan menghampiri pria itu.
"Kak Zaki? Ini aku baru abis dari rumah temen, kak Zaki sendiri ngapain disini?" ucap Laras.
"Ohh aku sih rencananya pengen ke rumah Revi, tapi ini malah kempes bannya. Jadi aja aku harus dorong motor ini sampe ke bengkel!" jelas Muzaki.
"Ya ampun, kasihan banget sih kak Zaki!" ujar Laras.
"Iya nih, nasib aku emang lagi gak beruntung! Coba aja tadi aku gak pake lupa segala buat jemput Revi, mungkin kejadiannya gak bakal kayak gini!" ucap Muzaki geleng-geleng kepala.
"Sabar ya kak! Yaudah gini deh, biar aku bantu dorong sampai kak Zaki nemu bengkel, gimana?!" ucap Laras menawarkan diri membantu Muzaki.
"Gapapa kak, aku bantu ya?" ucap Laras memaksa.
Gadis itu bahkan langsung mendekati Muzaki dan bersiap mendorong motor pria itu, sedangkan Muzaki tampak hanya terpaku menatap wajah Laras tanpa berbicara apapun.
"Kak, kak Zaki kenapa? Ayo kita langsung jalan aja cari bengkel nya!" tegur Laras.
"Eh eee kamu yakin mau bantu aku? Ini masih lumayan panas loh, gak takut kepanasan? Nanti kamu juga capek tau Laras!" ujar Muzaki.
"Gapapa kak, panas sore mah biasa aja!" ucap Laras.
"Yaudah deh kalo kamu maksa, tapi aku gak suruh kamu loh ya!" ucap Muzaki.
"Iya kak, tenang aja!" ucap Laras tersenyum.
Muzaki tersenyum lalu mulai mendorong motornya kembali bersama Laras, gadis itu tampak bahagia karena bisa membantu Muzaki seperti sebelumnya pria itu sering membantu dirinya.
Namun, tak lama ponselnya berdering dan membuat Laras harus berhenti sejenak untuk mengangkat telpon tersebut.
"Kak, aku angkat telpon dulu ya?" ucap Laras.
"Oh iya iya, angkat aja siapa tau penting!" ucap Muzaki memberi izin.
"Makasih kak! Sebentar ya?" ucap Laras.
"Oke!"
Muzaki pun kembali menurunkan standar motornya, ia juga mengambil nafas beristirahat sejenak karena ia benar-benar kelelahan saat ini setelah mendorong motor cukup jauh.
"Duh, ngapain sih kak Zian telpon aku segala?" gumam Laras dalam hati.
Dengan sangat terpaksa, Laras pun mengangkat telpon itu agak menjauh dari Muzaki karena tak mau membuat pria itu mendengar apa yang ia bicarakan dengan Zian di telpon.
π"Halo! Ada apa ya kak?" ucap Laras agak berbisik.
π"Hey, halo sayang! Kamu lagi dimana? Ini aku ke rumah kamu, tapi kata mama kamu, kamu lagi main ke rumah teman. Rumahnya itu dimana sayang? Biar aku jemput kamu ya, terus kita pulang bareng?" ucap Zian.
π"Hah? Eee gausah kak, aku bisa pulang sendiri kok! Ini kebetulan aku lagi di jalan, tunggu aja dulu kak sebentar!" ucap Laras.
π"Oh, yakin nih gak mau aku jemput? Ini panas loh sayang!" tanya Zian.
π"Iya kak, gapapa aku kuat kok! Kak Zian tunggu aja di rumah aku dulu, ya?" ucap Laras.
__ADS_1
π"Oh gitu, oke deh sayang!" ucap Zian.
π"Yaudah ya kak, aku tutup dulu telponnya? Bye!" ucap Laras.
π"Bye sayang!" ucap Zian.
Tuuutttt....
Laras langsung mematikan teleponnya, lalu kembali menghampiri Muzaki.
"Siapa Laras?" tanya Muzaki.
"Eee ini barusan kak Zian yang telpon aku, dia bilang kalau dia udah sampe di rumah ku dan pengen ketemu sama aku!" jawab Laras.
"Ohh yaudah kamu pulang aja Ras, daripada nanti kamu telat ketemu sama Zian nya!" usul Muzaki.
"Tapi kak, aku kan lagi bantu kak Zaki dorong motor!" ucap Laras.
"Gapapa, biar aku sendiri aja. Udah kamu pulang, terus temuin Zian! Kasihan dia pasti nungguin kamu daritadi, gausah mikirin aku Ras! Aku bakal baik-baik aja kok!" ucap Muzaki tersenyum.
"Gimana aku gak mikirin kamu kak? Aku kan suka sama kak Zaki!" batin Laras.
"Eee iya deh kak, kalo gitu aku pulang dulu ya? Kak Zaki hati-hati ya dorong motornya, semangat mungkin di depan sana ada bengkel!" ucap Laras.
"Iya Ras, udah pulang gih!" ucap Muzaki.
"Nanti lah kak, aku pesan ojek online dulu biar cepat sampe rumahnya!" ucap Laras.
"Oh oke, aku temenin!" ucap Muzaki.
Laras pun memesan ojek online melalui ponselnya, tak lama ia langsung mendapatkan driver ojek online dengan nama Radian, tentunya Laras cukup terkejut melihat driver yang ia dapatkan.
"Udah dapet?" tanya Muzaki.
"Eee udah kak, ini aku dapet drivernya kak Radian!" jawab Laras.
"Radian?" ujar Muzaki terkejut.
β’
β’
Sehabis menghubungi Laras, Zian kini kembali menatap wajah ibu kandung dari wanita tercintanya tersebut, yakni Maryam yang sudah ada di depan pintu bersama dirinya sedari tadi.
"Gimana nak Zian? Laras udah mau pulang?" tanya Maryam.
"Eee katanya sih udah di jalan, tante. Tadinya mau aku jemput, tapi kayanya gausah! Aku malah disuruh nunggu aja disini sama dia," jelas Zian.
"Oh gitu, yaudah masuk aja nak Zian tunggunya di dalam sambil minum!" ucap Maryam.
"Eee gausah deh tante, saya tunggu disini aja. Biar begitu Laras sampai, saya bisa langsung ketemu sama dia!" ucap Zian.
"Ohh ya terserah kamu aja! Sebentar ya, tante bikinin minum buat kamu dulu!" ucap Maryam.
"Iya, makasih tante!" ucap Zian tersenyum.
"Silahkan duduk nak Zian!" ucap Maryam.
"Iya tante,"
Zian pun duduk pada kursi yang tersedia di teras rumah Laras, sedangkan Maryam masuk ke dalam rumahnya membuatkan minuman untuk Zian seorang diri karena pembantunya izin pulang.
"Hadeh Laras kok lama banget ya?" ujar Zian sambil celingak-celinguk menanti kehadiran Laras.
β€οΈ
Radian sudah datang di tempat Laras berada, ia cukup malas saat melihat ada Muzaki juga disana tengah bersama Laras.
"Ras, lu kenapa pesan ojek? Kan ada si Zaki tuh!" tanya Radian heran.
"Eee anu ban motornya kak Zaki kempes, kak. Makanya aku pesan ojek online, soalnya udah ditunggu di rumah!" jawab Laras.
"Ohh, makanya Zaki jangan suka mainin perempuan! Nah kan kena karmanya!" cibir Radian.
"Hah? Maksud lu apa sih?" tanya Muzaki.
"Hahaha pake pura-pura gak tahu lagi, udah yuk Ras buruan! Gue males lama-lama ngeliat cowok wibu itu, nih helmnya!" ucap Radian.
Laras mengambil helm dari tangan Radian dan memakainya, ia menoleh sejenak ke arah Muzaki lalu berpamitan dengannya.
"Kak Zaki, aku duluan ya?" ucap Laras.
"Iya Laras, hati-hati ya!" ucap Muzaki tersenyum.
Setelahnya, Laras pun naik ke atas motor Radian dan melambaikan tangan ke arah Muzaki. Radian tampak terkekeh menyaksikan momen itu, ia langsung melajukan motornya tanpa berbicara apapun lagi.
Sementara Muzaki hanya bisa menghela nafasnya dengan apa yang dikatakan Radian tadi, ia merasa itu tak benar karena memang ia tidak pernah memainkan perasaan wanita.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...