
Setelah melihat kumpulan video yang Ryan kirim. Angkasa menjadi serba salah. Ia sampai mengecek sendiri kebenaran video itu dan benar saja, berkali-kali Angkasa cari, berkali-kali itu juga berita itu-itu saja yang muncul.
Lagipun salah stu kejadian di video itu juga Angkasa kenali. Tidak mungkin jika itu editan.
Tapi, kenapa Ayahnya melakukan itu?
Yang Angkasa tahu Ayahnya hanya orang yang tak berambisi besar, bertolak belakang dengan Ibunya. Tapi kenapa sekarang?
Tanpa banyak berpikir lagi, Angkasa memutuskan untuk menemui Ayahnya di ruang kerja rumah. Sekarang tepat jam 12 malam, tapi ia tahu Ayahnya pasti tidur larut sekali. Itu karena dia juga sering tidak tidur malam. Kebiasaan buruk memang.
Dengan langkah hati-hati dan seminimal mungkin tak mengeluarkan suara, Angkasa akhirnya sampai didepan ruang kerja Wijaya. Lampu masih menyala, terlihat dari kaca kabur yang ada dipintu ruangan.
Angkasa tadinya ingin masuk, tapi ia jadi mengurungkan niat begitu mendengar suara orang bercakap-cakap. Membicarakan hal yang tidak begitu Angkasa kenali.
"Kamu cerita apa ke mereka, hah?!" pekikan itu berasal dari telepon—mungkin—karena terdengar agak tidak jelas. Wijaya didalam sana tertawa, khas orang kaya.
"Hanya kutambahi sedikit bumbu fiksi," jawab Wijaya dengan enteng.
"Kamu! Benar-benar!" ucap wanita ditelepon itu geram.
Angkasa melebarkan matanya, tunggu ... bukankah ini suara—
"Elina, Elina, sebanyak apapun usahamu, tetap tidak akan merubah fakta. Mereka sudah sangat membencimu."
"Aku tahu itu berat. Dibenci oleh anak sendiri. Ck, aku sungguh prihatin. Tapi aku juga tidak ingin imageku jelek. Jika mereka tahu bahwa kamu adalah Ibu mereka, yang tentunya kaya raya, terkenal dan hidup penuh kemewahan, jadi orang terkaya di dunia. Sedangkan aku hanya seorang CEO dari perusahaan yang hanya dikenal beberapa negara. Itu akan membuatku terasa jadi lelaki yang kedudukannya lebih rendah dari istrinya—"
"Apa pedulimu!" teriak Elina memotong kalimat Wijaya. "Yang kamu pedulikan hanya uang, jabatan, ketenaran!"
Wijaya terkekeh. "Aku ingin mengakhiri omong kosong ini. Sudahlah, jangan berusaha lebih keras atau kulit berkeriput itu terus tumbuh," ucap Wijaya langsung menutup telepon sepihak.
Wijaya yang sedang menelpon membelakangi meja kerjanya terkekeh pelan. Ia kemudian memutar kursinya dan terhentak begitu melihat Angkasa sudah berdiri didepannya, menatapnya dingin dan tajam.
"A-angkasa? Kamu butuh apa—"
"Apa maksud semua tadi?"
"Tadi? Ah, itu. Hanya bisnis."
Angkasa menghela napas kasar. Bosan jika ayahnya sudsh bertele-tele seperti ini.
"Bisnis untuk menghancurkan kehidupan anakmu sendiri?" tanya Angkasa sarkastik.
__ADS_1
Wijaya mengalihkan tatapannya. Persis seerti maling tertangkap basah yang mencoba mencari alasan.
"Seberapa banyak kamu mendengar?"
"Kurasa ... semua."
"Ck, aku nggak nyangka Ayah selicik ini," gumam Angkasa sambil berdecak kesal.
Wijaya hanya menatap Angkasa diam. Tidak berniat menjawab.
"Aku sudah tau semuanya," ucap Angkasa menggeram pelan menatap Wijaya.
"Lalu? Kamu mau apa kalo sudah tau semua, hah?"
Angkasa mendengkus menatap Wijaya. "Aku akan pergi."
"Kalau begitu pergilah!"
Angkasa melebarkan matanya. Semudah itu?
Wijaya kembi membalik kursinya. Angkasa kemudian menggeram, kesal. Tanpa pamit, Angkasa kemudian segera pergi meninggalkan ruangan. Ia benar-benar tidak bercanda, ia benar-benar pergi dari rumah.
Angkasa segera pergi, ia berjalan tanpa menaiki motor. Tak tahu harus pergi kemana.
💗💗💗
Wijaya tadinya tak ingin bercerita kemana Angkasa pergi. Tapi memang sifat Raya yang keras kepala dan terus memaksa untuk bercerita kemana Angkasa.
"Saya tidak tahu," jawab Wijaya tenang.
Raya menyipitkan matanya. Merasa aneh. Bukannya jika anak pergi harusnya orang tua khawatir? Ini kok...
"Oh, iya. Kamu mau saya antar atau—"
"Raya naik ojek aja, Om," jawab Raya sopan.
Wijaya hanya berdeham pelan dan tersenyum tipis. Tidak seperti hari biasa, ia hari ini berangkat lebih siang. Biasanya dia akan berangkat saat fajar belum muncul.
Raya segera pamit dan pergi. Beralasan untuk mencari Angkasa di sekolah padahal mau tanya Ryan. Dia kan sahabat paling lengketnya Angkasa.
Tak butuh waktu lama untuk Raya sampai ke sekolah. Ia segera melesat untuk menemui Ryan, yang kalo pagi gini biasanya nongkrong bareng anak IPS di warung belakang sekolah.
__ADS_1
"WOY RYAN!!!" teriak Raya melambaikan tangan ke arah gerombolan siswa laki-laki yang sedang bagi-bagi rokok.
"YAH GUE MASA DAPET YANG KRETEK!" protes Ryan tak mendengar teriakan Raya malah mendekati temannya meminta ganti rokok.
"Ya udah sih. Syukurin aja. Rejeki lo dapet kretek," ucap temannya tak menghiraukan langsung menyalakan korek.
"RYAN! WIY BUDEK BANGET SIH!" teriak Raya marah. Ia menjambak rambut Ryan yang langsung berbalik meminta ampun.
"EH IYA! IYA RAYA CANTIK! LO TANYA APA? WOY, ***** RAMBUT GUE RONTOK," ucap Ryan meracau sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
Raya mengdengkus keras. Ia kemudian melepas jambakannya dan berganti menatap Ryan sinis.
"Jangan galak-galak atuh neng," ucap aryan mencoba menggoda. Membuat Raya jadi kesal.
"Angkasa mana?" tanya Raya langsung. Dengan suara cemprengnya dan gaya khas anak-anak membuat muka marah Raya jadi lucu.
"Ampun dah ... eh, iya maksud gue Angkasa, kenapa dia, hah, pergi, hah, gimana-gimana?" tanya Ryan malah jadi kacau.
"Heleh, salting bilang aja kali," ucap salah satu teman Ryan sambil tertawa menggoda dan bersiul-siul dengan gaya dilebih-lebihkan.
"Apa sih lo ah, ganggu!" sentak Ryan tak suka. Ia kemudian kembali menatap Raya. "Eh, tadi apa? Angkasa? Oh dia ...."
"Dia di mana?"
"Di kel—eh, kenapa lo tiba-tiba nanyain dia?"
Raya memutar matanya jengah. "Dia pergi dari semalem. Ayahnya yang cerita, gue kira lo tau."
"Lah, dia nggak ada ngomong sama gue."
"Trus dia kemana?"
Ryan mengetuk dagunya berpikir. Tapi langsung teringat.
"Eh, dia pergi semalem? Sambil marah-marah nggak?"
"Ya mana gue tau elah."
"Kalo iya, berarti ada masalah."
"Trus dia ada dimana?"
__ADS_1
"Gue nggak tau pasti."
💗💗💗