Angkasa

Angkasa
30. Antagonis


__ADS_3

"Lo tau kenapa Raya lebih banyak diam waktu ketemu sama nyokapnya kan?"


"Lo bilang dia bukan nyokap kandungnya kan? Tapi kenapa dia sebegitu nggak sukanya sama nyokap tirinya?"


Dylan membenarkan posisi duduknya, menyesap teh hangatnya dan berdeham.


"Kalaupun gue mau, gue juga akan benci dia kalo tau fakta ini. Tapi ... gue nggak bisa, dia yang nyelametin hidup gue," ucap Dylan memndang lurus kedepan. Anak rambutnya bergerak pelan terkena embusan angin dingin Jakarta.


"Emang dia ngelakuin apa?"


"Dulu, waktu gue masih SMP dan tentunya Raya masih SD. Kejadian yang kayanya nggak pernah bakal Raya lupain. Gue cuma anak panti asuhan yang waktu itu lagi main bareng di pinggir jalan, MKKB banget emang udah SMP masih main dipinggir jalan. Main pasir lagi. Trus ada truk-kalo nggak salah truk semen waktu itu. Dan gue hampir ketabrak.


"Untungnya Chika-"


"Lo manggil nyokap lo dengan nama?" sela Angkasa membuat Dylan mendengkus.


"Dia nyokap tiri gue, Angkasa! Bebas dong gue mau panggil dia apa," geram Dylan kesal.


"Gue lanjut nih, jangan dipotong lagi," sambung Dylan.


"Iya iya," jawab Angkasa mengibaskan tangannya.


"Nah, Chika ini nyelametin hidup gue. Tapi dia mempertaruhkan hidupnya sendiri demi gue. Dia yang ketabrak. Tapi yang gue heran, dia masih bisa hidup, ya gila sih setengah tulangnya patah semua. Kata dokter dulu waktu gue tanya ada kesempatan hidup atau enggak, dokternya bilang ada. Gue lega dong, kalau gitu berarti gue nggak termasuk pembunuh."


"Kok pembunuh?"


"ARRGGGHHH!!! UDAH BERAPA KALI, SA, GUE BILANG JANGAN POTONG KALIMAT GUE! NGERTI NGGAK SIH LO!"


"oh gitu. Sori-sori gue keceplosan nanya."


"Udah jangan potong lagi!"

__ADS_1


"Iya."


"Kenapa gue bilang pembunuh? Ya secara gue yang hampir ketabrak. Tapi dia nyelametin itu kaya gue udah utang budi banget sama dia dan kalo sampe dia mati gue yang merasa bersalah banget. Paham kan lo? Iyalah, otak pinter masa ngerti kalimat gue nggak bisa. Lanjut, trus nggak lama setelah itu-sekitar beberapa bulan, hampir setahun kalo nggak salah-dia balik lagi. Kali ini dia udah nggak sakit, dia dateng buat adopsi gue.


"Chika tuh wanita baik. Tapi dia kejebak sama Papanya Raya-wait, lah gue lupa jalan ceritanya bakal kesini! Aduh gimana nih?! Udah terlanjur gue cerita ke elo. *****, *****! Aduh gimana nih!"


Angkasa mengerjap. Melihat Dylan yang tiba-tiba jadi kalap begini. Memang kenapa dengan Papa Raya? Apakah ada rahasia lainnya dalam keluarga Raya?


"Ke-"


"Jangan tanya! Jangan tanya kelanjutannya!"


"Kena-"


"SSSHHTT! DIEM GUE BILANG! JANGAN TANYA!"


"Ck. Kenapa-"


"Lo kenapa sih? Gue nggak mau nanya itu." tapi nanti bakal gue tanya. Gue juga berhak tau ada apa sama keluarga ini.


"Ini tuh besar banget! Besar pokoknya!"


"Apasih besar?! Jangan ambigu dong."


"Elah siapa juga yang ambigu! Pokoknya ini besar! Otak lo aja kali yang ambigu."


Dylan masih menggaruk resah rambutnya sedangkan Angkasa menatap Dylan santai. Dia menunggu timing yang pas.


Lalu saat Dylan mulai berdiri, hendak pergi kedalam rumah, Angkasa segera itu berdiri. Menghadang Dylan. Dan sebelum Dylan sempat menyadari apa yang sedang terjadi Angkasa segera mendorong Dylan kebelakang sampai punggung cowok itu terhantam dinding rumah Raya membuat Dylan meringis kecil. Angkasa memepetnya di depan rumah.


DIDEPAN RUMAH WOY!

__ADS_1


NTAR KALO ADA ORANG LIAT DIKIRA ANEH-ANEH KAN BERABE!


"Sa, lo apaan sih?" tanya Dylan mulai merasa tak enak. Karena Angkasa mulai merapatkan kakinya ke kaki Dylan. Ingin mengunci gerakan Dylan agar cowok itu tak bergerak.


Tapi Angkasa tak menjawab ucapan Dylan dia menaikkan tangan kirinya persis didepan leher Dylan dan segera melingkarkan disana. Tak lupa tangan Dylan dia kunci dengan menaruhnya belakang badan Dylan dan menekannya.


"Lo mau pergi kemana hm?" desis Angkasa terlihat menyeramkan. Wajah putih susunya bersinar ditimpa cahaya remang bulan membuat Dylan menegak salivanya. Dia kan sudah berjanji tidak akan membiarkan rahasia ini terbuka.


"Ceritain semua yang lo tau ke gue. Sekarang," desak Angkasa mendekatkan wajahnya ke wajah Dylan membuat Dylan menegang. Duh, kalo tetangga liat gimana coba, posisi mereka tuh gampang buat disalah pahamkan.


"Oke." Setelah beberapa menit saling tatap akhirnya Dylan menyerah. Takut naksir sama muka Angkasa yang susah dibedain cantik atau ganteng. "Gue bakal cerita, sebenernya gue nggak takut sih tapi gue juga pernah diancam dengan cara begitu. Tapi lebih sereman sama lo hehe."


"Pernah? Siapa?" tanya Angkasa melonggarkan kunciannya ditubuh Dylan.


"Sama Papanya Raya. Dia ngancem gue pake cara kaya lo. Dan waktu itu berhasil bikin gue ketakutan setengah mati sambil bawa pisau. Tapi ya gue akui lo lebih sadis sih, muka lo aja hampir nyentuh muka gue. Gue jadi meragukan kejantanan lo," jelas Dylan masih sempat bercanda membuat Angkasa menyikut perut Dylan keras membuat cowok itu mengaduh tapi tetap melanjutkan ceritanya.


"Sebenarnya yang jadi tokoh antagonisnya disini adalah ayahnya Raya. Dia nutupin semua fakta biar Raya nggak benci sama dia tapi malah benci sama Chika. Padahal itu semua keliru!"


Angkasa mengernyit. Tak mengerti kenapa sekarang Dylan jadi menggebu-gebu menceritakannya. Seperti sebuah cerita yang sudah lama ia simpan dan ingin ia ceritakan pada orang lain.


"Gue tau semua, Sa, kesalahpahaman Raya, baiknya Chika dan gimana busuknya si Chandra dulu."


"Dan lo ... pasti pengen nyeritain semua ini ke Raya kan?"


"Hm ... lo bener. Udah lama banget gue pengen cerita. Tapi selalu ada halangan. Dan sekarang, gue cerita ke elo. Gue harap lo bisa sampaiin ini ke Raya."


Angkasa tersenyum tipis. Ia kemudian mengangguk.


"Jadi ..."


💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2