
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...
...×××...
#ANGKASA EPS. 191
...•...
...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️...
Revi sudah sampai di kampusnya pagi ini, ia datang diantar oleh sang papa yang kebetulan juga hendak pergi ke kantor, sehingga Revi mengambil kesempatan untuk pergi bersama dengan papanya.
Gadis itu menoleh sejenak ke arah sang papa, untuk pamit turun ke kampusnya.
"Pah, aku kuliah dulu ya?" ucap Revi.
Saat Revi hendak mencium tangan Marcel dan turun dari mobil, tiba-tiba Marcel menahan tangan putrinya karena ia ingin bicara sejenak dengannya.
"Tunggu dulu Rev, papa mau bicara!" ucap Marcel.
"Umm, iya pah. Papa mau bicara apa?" tanya Revi penasaran.
"Begini sayang, papa cuma mau minta sama kamu buat sabar dulu! Jangan terbawa emosi sama kelakuan mama kamu yang terus maksa kamu buat dekat dengan Charlie, biarkan papa yang coba bujuk mama kamu supaya bisa berhenti memaksa kamu begitu!" ucap Marcel tampak serius.
"Papa gak perlu minta gitu sama aku, udah pasti aku juga bakal tahan emosi kok! Lagian mana mungkin aku bisa marah sama mamaku sendiri? Ya walau aku juga agak kesel sih sama mama," ucap Revi.
"Bagus itu! Papa janji kok bakal usaha supaya mama kamu berhenti jodohin kamu! Menurut papa, Charlie itu juga kurang cocok lah sama kamu! Entah kenapa papa malah lebih sreg sama Muzaki, jadi tentukan aja pilihan kamu sendiri ya sayang!" ucap Marcel.
"Iya pah, makasih ya papa udah mau dukung aku! Tapi, papa jangan sampai ribut atau bertengkar sama mama! Aku gak mau itu terjadi!" ucap Revi.
"Tenang aja sayang! Papa bisa kontrol diri kok, walau emang iya kadang mama kamu ngeselin dan mancing emosi papa! Yaudah, sekarang kamu boleh turun lanjut kuliah!" ucap Marcel.
"Oke pah! Aku pamit, assalamualaikum!" ucap Revi.
"Waalaikumsallam! Oh ya, nanti kamu pulangnya sama siapa sayang?" tanya Marcel.
"Eee aku dijemput kak Zaki, pah!" jawab Revi.
"Ohh gitu, yaudah papa lega deh dengarnya! Kamu semangat ya kuliahnya, jadikan Muzaki sebagai motivasi kamu buat sukses jangan malah malas buat kuliah! Ingat sayang, papa pengen kamu jadi penerus di perusahaan papa! Jadi, kamu harus buktikan kalau kamu pantas disana!" ucap Marcel.
"Iya pah, aku bakal usahain kok! Papa juga hati-hati ya di jalan, jangan ngebut loh pah!" ucap Revi sambil tersenyum menatap wajah papanya.
"Oke sayang, papa nurut kok sama kamu!" ucap Marcel sembari mengusap wajah putrinya itu.
Setelahnya, mereka berpelukan sejenak di dalam mobil sebelum Revi membuka pintu dan melambai ke arah sang papa lalu keluar dari sana, gadis itu berjalan ke depan kampus masih sambil menatap ke arah mobil papanya.
Sementara Marcel membuka kaca, tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Revi sebelum menancap gas pergi dari sana meninggalkan putrinya itu sendirian.
Kini Revi berbalik dan mulai melangkah ke dalam kampus setelah papanya pergi, ia merasa senang karena sang papa mendukung hubungannya dengan Muzaki, biarpun mamanya masih kekeuh untuk menjodohkan ia dengan Charlie.
"Revi!"
Teriakan itu membuat Revi terhenti, ia menoleh dan melihat sosok Laras tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum.
"Laras? Kenapa ya?" tanya Revi bingung.
"Eee Rev, gue mau bicara sebentar dong sama lu! Kita ke kantin dulu yuk sebentar!" jawab Laras.
"Sekarang?" tanya Revi.
"Ya iyalah Rev, masa tahun depan? Keburu gue jerawatan nanti! Emang kenapa sih, lu gak bisa ngobrol sama gue sekarang?" ujar Laras.
"Sorry banget nih Ras! Gue ada kelas beberapa menit lagi, jadi gue gak bisa ngobrol sama lu sekarang! Kalau nanti sekitar dua jam lagi, mungkin gue bisa kok!" ucap Revi.
__ADS_1
"Oh gitu, yaudah deh gapapa gue tungguin sampe kelas lu selesai!" ucap Laras.
"Emang lu mau bicara apa sih, kayaknya penting banget?" tanya Revi penasaran.
"Eee nanti aja gue ceritain, udah sekarang lu mending ke kelas deh! Nanti kalau telat lu bisa ketinggalan pelajaran!" ucap Laras.
"Iya sih, yaudah sorry ya!" ucap Revi.
"Santai!"
Revi pun berjalan menuju kelasnya, sedangkan Laras berdiri disana menggigit jari.
•
•
Saat Revi sedang berjalan, tiba-tiba ia malah bertemu dengan Radian yang kebetulan juga ada kelas di pagi ini. Radian tengah sendirian berada di depannya, membuat Revi bingung harus apa saat ini.
Radian tersenyum begitu melihat sosok Revi ada di hadapannya, ia tak bisa memungkiri bahwa saat ini hatinya masih ada untuk Revi biarpun ia sudah memiliki seorang istri yang tak kalah cantik.
"Hai Rev! Kamu ada kelas ya?" ucap Radian.
"Umm, iya kak hai juga! Kebetulan sebentar lagi kelas ku mulai, kalo kak Radian sendiri udah selesai kelasnya?" ucap Revi.
"Sebenarnya belum sih, ini lagi mau ke tukang fotocopy dulu di depan. Kamu bisa temenin aku gak, Rev? Soalnya ada yang mau aku bicarain sama kamu sebentar!" ucap Radian.
"Duh, maaf kak gak bisa! Tadi kan aku udah bilang, sebentar lagi kelas ku dimulai!" ucap Revi.
"Oh iya ya, aku lupa! Yaudah gapapa deh, lain kali aja kita bicaranya! Kalo gitu aku duluan ya, Rev? Kamu semangat belajarnya!" ucap Radian.
"Iya kak, kak Radian juga! Eh sebentar deh kak, kak Oni kok gak kelihatan? Dia gak ada kelas juga?" ucap Revi bertanya tentang Oni.
"Hari ini enggak, besok baru ada! Kenapa? Kamu kangen ya sama dia?" ucap Radian.
"Eee ahaha ya gitu deh, biasanya kan aku sama kak Oni selalu ketemu di tempat latihan dance. Tapi, semenjak kak Oni keluar dari tim, kita jadi jarang ketemuan deh! Ya aku maklum sih, kan kak Oni juga lagi hamil!" ucap Revi.
"Iya Rev, dia gak bisa kalo disuruh dance lagi kayak waktu dulu! Nanti yang ada terjadi sesuatu sama calon anak kami, lagian sekarang kan tim dance makin berkembang di tangan kamu!" ucap Radian.
"Apaan sih kak? Biasa aja kok, ini semua kan awalnya dari kak Oni, aku cuma terusin!" ucap Revi.
"Eee yaudah kak, aku harus cepat-cepat ke kelas! Takutnya dosennya udah sampe, terus aku malah gak dibolehin masuk kelas!" ucap Revi.
"Iya, aku juga mau buru-buru ke tukang fotocopy! Sampai ketemu lagi ya Rev!" ucap Radian.
Revi tersenyum manis menganggukkan kepalanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas meninggalkan Radian. Begitu juga dengan Radian, pria itu berjalan ke arah yang berlawanan untuk pergi menuju tukang fotocopy.
"Aduh, rasanya gue susah banget lupain Revi! Gue selalu aja pengen didekat dia, padahal gue ini kan udah punya Oni! Ayolah Radian, lu harus bisa moveon dari Revi! Walaupun susah, gue yakin kalo lu pasti bisa Radian! Ini semua demi Oni dan calon anak lu sendiri, semangat!" gumam Radian.
Sepanjang perjalanan, Revi kini jadi memikirkan Radian yang nampaknya bertingkah aneh tiap kali bertemu dengannya. Ia merasakan sesuatu berbeda terjadi pada Radian, dan ia yakin itu karena Radian masih mencintai dirinya.
"*Apa iya kak Radian masih cinta sama aku? Tapi, masa sih? Kak Radian kan udah punya istri, terus istrinya juga secantik kak Oni!" batin Revi.
"Ah udah deh lupain aja, gak penting juga buat aku! Kalaupun benar kak Radian masih cinta sama aku, ya biarin aja aku gak perduli! Yang penting aku gak mau balas perasaan kak Radian!" sambungnya*.
Revi pun berusaha menepis pikiran mengenai Radian dan fokus berjalan menuju kelasnya.
•
•
Disisi lain, Muzaki yang baru sampai di rumah sesudah mengantar Stevi alias mamanya itu belanja ke pasar langsung memarkir motornya di dalam garasi. Ia menurunkan barang belanjaan milik mamanya dan membawanya ke dalam bersama dengan sang mama yang berjalan di sampingnya.
Stevi coba berbincang sejenak dengan putranya sembari mereka berjalan ke dalam rumah, ya Stevi memang penasaran mengenai perubahan sikap Muzaki belakangan ini yang menjadi lebih ceria dan seringkali suka berdiam diri di kamar.
"Muz, mama mau tanya deh sama kamu! Tapi, mama harap kamu jawab yang jujur ya sayang jangan bohong apalagi ngeles!" ucap Stevi.
"Iya mah, mama emang mau tanya soal apa sih? Kayaknya penting banget gitu!" ujar Muzaki bingung.
"Ini soal sikap kamu belakangan ini yang berubah, menurut mama kamu jadi lebih ceria dan sering senyum-senyum sendiri sambil pegang hp kamu! Mama juga pernah dengar, kamu lagi telponan sambil ketawa-ketawa di kamar! Sebenarnya ada apa sih sayang? Siapa yang bikin kamu jadi kayak gitu? Apa kamu udah punya pacar?" tanya Stevi.
Muzaki terdiam sejenak berpikir, ia bingung harus berbicara pada Stevi mengenai Revi atau tidak, karena ia takut jika nantinya sang mama tak setuju pada hubungannya dengan Revi.
"Umm, iya mah. Sebenarnya aku itu udah punya pacar dan setiap malam aku telponan sama dia, maaf ya mah karena aku gak cerita sama mama soal ini!" jawab Muzaki gugup.
__ADS_1
"Apa sayang? Kamu udah pacar? Terus, siapa wanita itu? Kenapa kamu gak pernah kenalin dia ke mama, sayang?" tanya Stevi penasaran.
"Eee dia itu...."
Belum sempat Muzaki menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Suci datang dan memanggil namanya dari arah luar gerbang, hingga membuat Muzaki serta mamanya menoleh ke arah yang sama.
"Muz, tante! Assalamualaikum..." ucap Suci.
"Waalaikumsallam, eh Suci ayo masuk sayang!" ucap Stevi tersenyum.
Muzaki menghela nafas lega, karena dengan kedatangan Suci otomatis mamanya tidak akan membahas mengenai kekasihnya lagi.
Sementara Suci tersenyum, lalu masuk sesuai perintah Stevi, ia berdiri di dekat Muzaki dan Stevi sambil menatap keduanya.
"Halo tante, Muzaki!" ucap Suci.
"Halo juga sayang! Uhh kamu pagi-pagi begini udah cantik, wangi, rapih banget lagi! Emang benar-benar wanita idaman kamu sayang! Andai aja Muzaki bisa balikan sama kamu, pasti tante bakalan ikut senang!" ucap Stevi mendekati Suci.
"Eee haha tante bisa aja deh! Kita gak mungkin balikan lagi tante, secara Zaki kan udah punya pacar baru!" ucap Suci mencium tangan Stevi.
"Hah? Kamu sudah tahu soal itu sayang?" tanya Stevi agak terkejut.
Muzaki pun ikut kaget mendengar Suci membahas mengenai pacarnya, padahal ia sudah senang karena mamanya lupa tentang itu, tapi Suci malah kembali membahasnya disana.
"Iya tante, Muzaki udah cerita kok sama aku!" jawab Suci sambil melirik ke arah Muzaki.
"Oalah, jahat kamu Zaki! Kamu cerita ke Suci tentang pacar kamu, tapi kenapa ke mama enggak?!" ujar Stevi geram.
"Mah, bukan gitu! Aku cuma—"
"Udah udah, kita lanjut ngobrol di dalam aja yuk! Disini panas, kasihan kamu Suci!" potong Stevi.
"Iya tante.." ucap Suci tersenyum.
Stevi merengkuh pinggang Suci dan jalan bersama ke dalam rumah itu, sedangkan Muzaki mendekat sejenak ke arah telinga Suci dan berbisik disana.
"Jangan bahas soal itu lagi!" bisiknya.
•
•
Siang harinya, Revi kembali bertemu dengan Laras yang sebetulnya dari pagi ingin berbicara dengannya namun tak bisa karena Revi harus mengikuti kelas terlebih dahulu.
Ya kini Revi telah menyelesaikan kelasnya, ia pun menemui Laras dan keduanya berbicara bersama di kantin sambil menikmati segelas jus serta cemilan untuk menemani obrolan mereka.
"Ras, kamu mau bicara apa sih? Keliatannya penting banget, aku jadi penasaran deh!" ujar Revi.
"Eee aku mau tanya deh sama kamu, ini soal hubungan kamu dan kak Zaki. Tapi, tolong kamu jangan marah ya Rev!" ucap Laras.
"Oh enggak lah, ngapain juga aku marah? Emang mau tanya apa tentang aku dan kak Zaki?" ujar Revi.
"Jadi gini, asal kamu tahu aja Rev, sebenarnya aku udah lama jatuh cinta sama kak Zaki! Aku selalu senang dan ngerasa nyaman tiap kali ada di dekat dia, sikapnya yang lembut juga bikin aku merasa kalau dia pun suka sama aku! Tapi, ternyata dugaan aku salah karena nyatanya dia malah nembak kamu dan kalian berdua sekarang udah jadian!" ucap Laras.
Revi syok mendengar penjelasan Laras, matanya berbinar tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya itu. Sahabat satu timnya itu ternyata menyukai laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya.
"Ka-kamu serius, Laras?" tanya Revi gugup.
"Iya Rev, aku emang suka sama kak Zaki! Sampai sekarang aku masih belum terima ngeliat kamu dan kak Zaki pacaran!" jawab Laras.
Revi menutupi mulutnya dengan telapak tangan, ia tak bisa menahan rasa terkejutnya.
"Bu-bukannya kamu udah jadian sama kak Zian? Kalian kelihatan dekat dan mesra banget loh, iya kan?" tanya Revi lagi.
"Enggak Rev, aku sama sekali gak ada hubungan apa-apa dengan kak Zian! Kita cuma sebatas teman, mungkin emang iya kak Zian suka sama aku! Tapi, jujur aku gak ada rasa sama sekali ke kak Zian! Karena rasa cintaku cuma untuk kak Zaki!" ucap Laras dengan tegas dan serius.
Tanpa disadari oleh keduanya, rupanya pernyataan Laras barusan didengar langsung oleh Zian yang kebetulan baru sampai di kantin hendak menyantap makanan disana.
"Apa??" ujar Zian terkejut.
Sontak Laras serta Revi langsung mengarahkan pandangan ke asal suara, mereka tak mengira kalau Zian ada disana dan mendengar semuanya.
"Kak Zian...??" ucap Laras menganga tipis.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...