
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 67
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Revi akhirnya dapat sampai di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari pasar malam, ia langsung saja masuk ke dalam rumah tersebut agar mama serta papanya tidak marah. Ia juga terus berharap supaya orangtuanya itu belum pulang ke rumah sehingga ia bisa aman, namun alangkah terkejutnya ia saat melihat mobil milik orangtuanya itu sudah terparkir di halaman depan rumahnya.
Revi pun bertambah panik dan bingung harus bagaimana saat ini, tiba-tiba ia mengurungkan niat untuk masuk ke rumah karena ia takut kalau mama atau papanya marah padanya. Kini Revi hanya bisa diam sembari mengusap wajahnya kasar dan bingung harus melakukan apa, ia tak berani masuk ke dalam dan bertemu mama papanya saat ini.
"Duh, ini gimana ya? Aku takut banget dimarahin mama sama papa!" gumam Revi ketakutan.
Ceklek....
Tiba-tiba saja pintu justru terbuka dan keluarlah mama serta papanya dari dalam sana, ya mereka berdua langsung menghampiri Revi yang masih terdiam di tepat dan menatapnya tajam. Tampak sekali kalau keduanya sangat marah dan kecewa pada Revi, karena Revi baru pulang di jam malam seperti ini tak seperti biasanya.
"Revi!" ucap Juliana sembari menatap tajam ke arah putrinya dengan raut marah.
__ADS_1
"I-i-iya mah," ucap Revi gugup sambil menunduk.
"Kamu abis darimana ha? Pergi gak pamit, pulang sampe semalam ini! Mau jadi apa kamu Revi?" ucap Juliana sangat emosi.
"Mah, aku kan udah pamit sama bik Munaroh. Lagian aku juga pergi sama supir, gak sendirian kok!" ucap Revi membela diri.
"Jangan alasan kamu Revi! Kamu itu salah, harusnya kamu mengaku salah dong bukannya malah membela diri kayak gitu! Kan kamu masih punya handphone, seenggaknya kamu kasih kabar ke mama atau papa kalau ingin pergi!" ucap Juliana.
"Iya Revi, bukannya apa-apa loh ini kita berdua cemas banget begitu tau kamu masih keluyuran di luar malam-malam begini! Apalagi kamu juga gak izin sama kita, terus juga kenapa kamu bilang sama bik Munaroh kalau bakal pergi sebentar? Padahal nyatanya kamu pergi lama sekali, bahkan jam segini kamu baru pulang sayang!" ujar Marcel.
"Mah, pah, aku minta maaf ya! Aku tau aku salah, harusnya aku emang gak maksa buat pergi ke pasar malam tadi sama teman kampus aku! Tapi, aku cuma bosan aja di rumah terus-terusan!" ucap Revi.
Melihat putrinya tertunduk lesu seperti itu, Juliana pun tidak tega untuk lanjut memarahi Revi.
"Revi, yaudah iya gapapa! Untuk kali ini mama sama papa masih beri kamu maaf, tapi mama harap lain kali kamu jangan seperti ini ya sayang! Nama itu khawatir banget loh sama kamu, seenggaknya kalau kamu mau pergi tuh kasih kabar dulu ke kita lewat sms atau telpon gitu!" ucap Juliana mendekat ke arah Revi kemudian memeluknya.
"I-i-iya mah, aku minta maaf ya? Aku juga gak akan pergi-pergi keluar sampe larut malam lagi kok, mah! Aku kapok dan gak mau bikin mama sama papa sedih atau khawatir kayak gini lagi, maafin aku ya mah, pah!" ucap Revi.
"Benar itu, yuk kita ngobrol di dalam sambil minum coklat panas buatan bik Munaroh!" sahut Marcel.
Revi hanya manggut-manggut sambil sedikit terisak karena ia masih bersedih, namun Revi juga senang lantaran mama dan papanya tidak marah lagi.
...β’β’β’...
TOK TOK TOK...
Oni yang sedang bersiap untuk tidur setelah cuci muka dan mematikan lampu, harus terpaksa bangkit kembali dari tidurnya lantaran ada suara ketukan pintu muncul dari arah luar. Oni pun menapakkan kaki ke lantai lalu berjalan menuju pintu dengan langkah perlahan, ia mengucek-ngucek mata sambil bertanya siapakah yang datang di depan kamarnya.
"Iya, siapa...??" tanya Oni dengan nada lemas dan malas sekali.
"Eee ini si mbok non," jawab orang di luar yang ternyata mbok Irma alias pekerja di rumah Oni.
__ADS_1
Ceklek...
Oni pun membuka pintu menatap wajah mbok Irma sambil sedikit menghela nafas dan mengucek matanya menahan kantuk.
"Eh mbok, ada apa sih?" tanya Oni.
"Iya non, maaf ya saya jadi ganggu waktu tidurnya non Oni!" ucap mbok Irma merasa bersalah.
"Gapapa mbok, ada apa?" ucap Oni.
"Eee anu non, itu loh den Radian masih tetep berdiri di depan pagar sampai sekarang! Padahal saya udah minta den Radian buat pulang karena udah malam, tapi den Radian tetap kekeuh mau terus disana sampe pagi katanya!" jelas mbok Irma.
"Hah? Loh Radian ternyata masih nekat disana? Aku kira dia udah pulang daritadi, haish ada-ada aja tuh cowok!" ucap Oni heran.
"Iya non, saran saya sih mending non Oni temuin dulu den Radian satu kali lagi!" ucap mbok Irma.
"Yah tapi saya udah ngantuk banget mbok, kalo harus keluar lagi nanti kena angin lagi terus ngantuk saya bisa hilang! Udah biarin aja Radian di luar, mbok juga tidur aja jangan diurusin dia mah! Nanti juga kalo ngantuk dia pulang sendiri," ucap Oni.
"Eee iya deh non, kalo gitu saya permisi dulu!" ucap mbok Irma pamit pada Oni.
"Iya mbok," ucap Oni tersenyum tipis.
Setelah mbok Irma pergi dari sana, Oni pun kembali masuk ke kamarnya dan menutup serta mengunci pintu rapat-rapat. Oni langsung naik ke ranjang dan bersiap untuk tidur, ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal dan menutup mata tidur menghadap ke samping seperti biasa agar merasa lebih nyaman, tak lupa juga Oni memeluk guling miliknya.
Namun, entah mengapa Oni tidak bisa tidur nyenyak saat ini dan selalu saja kembali membuka matanya karena ia kepikiran dengan Radian yang masih ada di depan pagar rumahnya. Oni pun bangkit lagi dari posisi tidurnya, ia duduk di atas ranjang sambil garuk-garuk rambut merasa gusar sendiri bingung harus bagaimana.
"Duh, gue gimana ini ya? Apa gue samperin aja si Radian di depan? Haish, lagian apa lagi sih yang mau diomongin sama tuh orang? Padahal tadi kan gue sama dia udah bicara banyak, mana dia cuma maksa-maksa buat nikah!" gumam Oni kesal.
Akhirnya Oni turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu kamarnya, ia keluar kamar lalu hendak menemui Radian di depan pagar rumahnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...