Angkasa

Angkasa
12. Cemburu


__ADS_3

--💗--


Angkasa menggigit bibir bawahnya, meneguk salivanya saat memasuki deretan 'kebutuhan cewek' membuatnya malu setengah mati. Semua orang berfokus padanya sekarang!


Angkasa mendengkus, mengumpat dalam hati. Ia meringis saat sampai didepan jajaran roti girl membuatnya kembali meneguk salivanya.


Matanya memandang satu deret bungkus orange yang membuatnya yakin itulah yang Raya inginkan, terlebih saat ada gambar sayapnya.


Benar-benar membuat Angkasa bergidik tak keruan.


"Mas, kok disini? Nyasar?" tanya mbak-mbak penjaga minimarket depan sekolahan.


Angkasa melongo, menatap mbak-mbak itu lama sampai akhirnya dia mengerjap. Ia berdeham, mencoba menormalkan kegugupannya.


"Saya mau beli... ini," ucap Angkasa menutup matanya sambil menunjuk jajaran bungkus orange itu.


Mbak-mbak itupun agak tergagap. Angkasa dengan malu tingkat tinggi mecoba menutupi kegugupannya dengan memasang topeng coolnya. Tapi tetap saja dia malu setengah mati!


"Ah, masnya nggak salah kan?" tanya mbak-mbak itu ragu.


"Iya, saya... butuh," ucap Angkasa gugup.


"Hah?!" mbak-mbak itu memekik kencang membuat beberapa pasang mata menatap mereka.


Angkasa semakin gugup, ia menggigit bibir bawahnya cemas. Bukan itu maksudnya, haduh bagaimana ini.


"Maksud saya bukan itu, mbak," ucap Angkasa menggaruk kepalanya. Topeng coolnya pun sudah hilang entah kemana berganti dengan wajah cemas walaupun memang kegantengannya nggak pernah hilang.


"Maksud saya... itu... buat...."


Angkasa menggantung kalimatnya, menggigit bibir bawahnya, kalau buat teman nanti dikira ngapa-ngapain, kalo buat gebetan... emang mereka udsh resmi?


Mbak-mbak yang langsung mengerti itupun mengibaskan tangan diudara membuat Angkasa tersenyum lega sampai...


"Pasti buat pacarnya ya, mas? Haduh, mas nggak usah grogi gitu dong. Ya udah yang ini kan?" ucap mbak-mbak itu sambil mengambil bungkusan orange di deretan paling depan.


Angkasa mengangguk kaku, ia kemudian segera mengikuti mbak-mbak itu menuju meja kasir sampai ia berhenti di deretan coklat. Angkasa tersenyum, mengambil satu coklat bertuliskan chungky bar ukuran sedang dan segera membawanya ke kasir. Tak lupa dia membeli minuman jus jeruk untuk Raya nanti.


"Sama ini ya, mbak. Trus plastiknya tolong di double biar nggak keliatan ada itunya," ucap Angkasa memelankan suaranya saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


Mbak-mbak itupun langsung mengerti dan segera mengemas barang-barang yang Angkasa beli. Angkasa kemudian menyodorkan kartu membuat mbaknya itu langsung membelalak.


"Masnya pasti anak orang kaya ya?" tebak mbak-mbak itu.


Angkasa memandang mbak-mbak itupun dan langsung mengerti. "Itu kartu dari ayah saya, padahal saya udah punya."


"Anak orang kaya ya beda lah, mas, apa-apa pasti keturuta—"


"Udah ya, mbak, cepetan. Keburu pacar saya nunggu," tegas Angkasa galak membuat mbak-mbak itupun langsung kicep dan segera menggesek kartu milik Angkasa.


Angkasa segera keluar dari minimarket itu dan berjalan santai menuju gerbang sekolah.

__ADS_1


--💗--


Raya mendongak begitu pintu UKS terbuka, sudut bibirnya menurun begitu yang dia tunggu-tunggu belum juga datang.


"Ngapain lo?" tanya Raya membuat cowok yng baru saja masuk langsung nyengir kuda.


"Eh, Raya, gue kira nggak ada orang. Gue mau tidur," ucap cowok itu menggaruk belakang kepalanya gugup.


Raya mengangguk mengerti. "Ya udah tidur aja sana, gue nggak mau pindah," ucap Raya membuat kening cowok itu mengerut.


"Emang kenapa? Itu tempat gue biasanya, pindah sana dong, Ray," mohon cowok itu.


"Nggak mau, Yan," tolak Raya membuat Ryan mencebik kesal.


Ryan kemudian berjalan ke arah tempat tidur yang berhadapan dengan Raya. Cowok itu masih mengerutkan keningnya. "Lo nggak pegel duduk kaya gitu?"


"Emang urusan lo?" tanya Raya dengan nada berubah ketus membuat Ryan mengerjap perlahan.


Buset, galak banget. Lagi PMS kali ya?


"O-oke, lo... lagi PMS, Ray? Kok galak," tanya Ryan dengan nada hati-hati.


Raya membulatkan mata, sedikit tersinggung dengan ucapan Ryan. "Apa lo bilang? Gue galak? Sini lo! Biar gue jitak tuh kepala sampe ke otak-otaknya!" ucap Raya tak terima.


"Eh, eh, sans aja dong, Ray, gue bercanda kok, jangan dimasukin—"


"Ray?"


Ryan mengangkat sebelah alisnya, menatap Raya dengan tatapan bertanya.


"Lho? Sa, lo ngapain disini?" tanya Ryan.


Angkasa masuk, dengan wajah gugup dia memandang Raya. Raya yang tidak mengerti hanya mengangkat alisnya bingung sedangkan Angkasa mendengkus.


Dasar nggak peka.


"Ehm, anu tadi beliin Raya sesuatu," ucap Angkasa dengan nada gugup.


Ryan menaikkan sebelah alisnya, masih tidak mengerti. "Maksud lo apaan?"


"Angkasa itu tadi...," ucap Raya menyahuti, tapi dia mana mungkin bilang bahwa Angkasa membelikannya pembalut? Dia sudah cukup malu menyuruh Angkasa membelikannya, masa Ryan juga harus tau sih!


"Sesuatu yang khusus buat cewek, lo nggak perlu tau, Yan," lanjut Raya.


"Angkasa cowok, dia tau, masa gue nggak boleh tau?"


"Itu... beda...."


Brak!


Suara pintu terdengar dibanting, kini Mbak Sinta sudah berdiri menghampiri Raya dengan napas terengah-engah tidak memperdulikan dua cowok yang ada di sana.

__ADS_1


"Haduh, maafin mbak ya, Ray. Gimana udah beli pembalutnya?" tanya Mbak Sinta membuat Ryan ternganga sedangkan Angkasa dan Raya hanya meringis pasrah.


"U-udah kok, mbak, tadi... udah dibeliin temen," cicit Raya pelan.


Mbak Sinta menghela napas lega. "Udah di pake belum?"


"Orangnya baru aja dateng," sahut Raya masih dengan mencicit kecil. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Siapa?" tanya Mbak Sinta mengedarkan pandangan, ia terkejut ketika mendapati dua lelaki yang kini berada dibelakangnya. Yang satu dengan wajah bingung yang satu dengan wajah pasrah.


"Lho, Angkasa, Ryan, kalian kok di sini?" tanya Mbak Sinta kaget.


Angkasa mengerjap. Tanpa berkata apapun dia menyerahkan tas plastik dan sweaternya ke pangkuan Raya lalu segera menyeret Ryan keluar UKS mwmbuat Mbak Sinta yang tidak mengerti keadaan hanya mengerjap heran.


Mbak Sinta kemudian memandang Raya dengan wajah bertanya. Raya masih menunduk meremas roknya, wajahnya memerah. Dia sangat malu!


"Yang beliin aku pembalut itu... Angkasa, mbak," ucapnya lirih.


--💗--


Wajah Angkasa merah padam. Melihat Ryan tertawa terbahak membuatnya ssmakin ingin memakan sahabatny ini hidup-hidup!


"LO? BELIIN DIA ROTI GIRL? HAHAHA GILA LO! KALO GUE MAH OGAH! MALU SETENGAH IDUP GUE, HAHAHAHA!" ucap Ryan sambil terbahak tak keruan.


Mereka kini sedang berada di depan pintu UKS, menunggu Raya yang masih didalam bersama Mbak Sinta.


Ryan mengusap matanya, terlalu lucu sampai air matanya keluar. Ia berjongkok, tawanya masih belum berhenti juga.


"Lo sih, lagian ngapain juga beliin dia, mending nyuruh si Mesya atau si Dera aja kali, haha, ****** banget," celetuk Ryan.


Angkasa mendengkus keras. "Ya elo yang pacarnya kemana aja? Bukannya diurusin malah ngeluyur," sentak Angkasa membuat Ryan mendongak kaget.


"Pacar?" tanya Ryan tak mengerti.


"Iya, Raya kan pacar lo. Lo harusnya tanggung jawab dong," ucap Angkasa dengan nada ketus.


"Tapi, Sa, gue—"


"Lo kalo niat pacaran yang bener, jangan cuma mainin cewek doang, Yan. Cewek kalo udah jatuh cinta jatuhnya dalem. Kalo Raya lo biarin gitu aja lo nggak ngertiin perasaan dia trus dia sakit hati, lo bisa ngobatin? Cewek lain aja lo tinggal pergi gimana dia? Mikir, Yan. Lo juga punya hati kan? Pake tuh hati," ucap Angkasa dengan nada kesal membuat Ryan mengerutkan keningnya.


Angkasa mendengkus keras sekali lagi dan segera berbalik pergi. Entah kenapa ia menjadi emosi begini, apakah ini yang dinamakan cemburu?


Entahlah. Yang pasti Angkasa nggak suka Ryan baperin Raya tapi ujung-ujungnya kaya mantan-mantan dia yang lain.


"Lo... cemburu sama gue sampe lo semarah itu cuma gara-gara Raya, Sa?" gumam Ryan pelan sambil menatap punggung Angkasa yang semakin kecil dan menghilang dibelokan ujung koridor.


Ryan menghela napasnya pelan. Menyandarkan tubuhnya di tembok.


Lo suka ya, sama Raya, Sa? Batin Ryan dalam hati sambil tertawa miris.


--💗--

__ADS_1


__ADS_2