Angkasa

Angkasa
07. Peduli


__ADS_3

Angkasa mempercepat langkahnya begitu bel masuk peringatan terakhir terdengar, dia sampai di sekolah tepat waktu. Untung saja.


"Lo habis dari mana?" tanya Ryan mengintrogasi saat Angkasa baru saja masuk. Angkasa hanya diam, manik mata Angkasa kemudian memandang bangku Raya yang tak berpenghuni. Apakah gadis itu masih mencarinya?


"Bukan urusan lo," ucap Angkasa masa bodo. Ryan mendengkus kasar. Temannya ini tidak tahu seberapa khawatirnya dia saat Angkasa tiba-tiba pergi tadi.


"Ah, lo mah. Gue kan saha--eh, eh, ada Bu Nunung! Omaigat! Gawat," ucap Ryan yang langsung lari terbirit-birit menuju mejanya dan Angkasa.


Angkasa yang sudah lebih dulu duduk hanya memasang wajah tenang tanpa ekspresi, walaupun saat ini hatinya sedang bertanya-tanya dimana Raya sebenarnya? Tasnya masih ada tetapi orangnya kemana?


"Eh, Sa, lo tau nggak? Hari ini sih Raya aneh," ucap Ryan sambil menyenggol lengan Angkasa.


"Kenal kan lo sama si Raya? Itu lho, cewek yang kemaren gue kenalin," desak Ryan agar Angkasa mau bicara. Angkasa kemudian memandang Ryan dengan tatapan bodo amat.


"Ngapa emang?"


"Gue rasa, dia kayanya suka sama lo deh." Ryan kembali menerka-nerka ucapannya yng menurut Angkasa sangat tidak masuk akal.


"Tadi bilangnya mau ke kantin, tapi nggak balik-balik," ucap Ryan membuat Angkasa mendecih pelan. Ryan kemudian memandang Angkasa.


"Kenapa lo?"


Angkasa kemudian menoleh, ia menggeleng perlahan. Sebenarnya ada beberapa terkaan yang muncul dalam kelala Angkasa, seperti Raya yang sengaja pergi untuk bolos karena tahu bahwa jam pembelajaran setelah istirahat bukannya diisi Pak Nano, tetapi malah Bu Nunung. Atau bisa jadi cewek itu benar-benar mencari Angkasa.


Tapi, biarlah, toh nanti balik sendiri. Bukan urusan Angkasa. Angkasa kan tidak suka mencampuri urusan orang lain.


--💗--


Angkasa masih terduduk di kursinya saat siswa terakhir keluar dari kelas. Perasaannya menjadi tak enak, hingga jam pulang Raya masih belum terlihat batang hidungnya. Kemana sebenarnya cewek itu?


"Nggak pulang lo?" Ryan menepuk punggung Angkasa membuat Angkasa menoleh.


"Duluan aja," ucap Angkasa singkat sembar mengeluarkan headshet dan mengenakannya.


Ryan kemudian menghela napasnya. "Gue tungguin, lo pasti nungguin Raya ya? Ngaku lo."


Angkasa menatap Ryan bingung. "Lo kenapa sih? Bukan urusan lo juga."


"Oh, iya, gue kan lupa kalo seorang Angkasa nggak suka urusannya diganggu orang," ucap Ryan dengan suara sengaja dibesarkan membuat Angkasa mendengkus.


"Eh, tapi gue mau tanya beneran," sahut Ryan dengan nada yang kali ini berubah serius.


Angkasa dengan tak berselera menatap Ryan. Ryan juga menatap Angkasa cukup lama.


"Cepetan, gue nggak suka tatap-tatapan sama lo." Angkasa mendengkus—lagi—membuat Ryan sedikit terkekeh.


"Sebelumnya gue mau tanya," kata cowok itu, "lo suka nggak sama Raya?"


Angkasa mengangkat sebelah alisnya, musik yang tadinya mengisi ruang telinganya tiba-tiba saja hilang entah kemana. Bibirnya kemudian mengantup. Sebenarnya pertanyaan Ryan sangatlah sederhana. Angkasa hanya tinggal menjawab tidak, tapi kenapa hal itu susah sekali untuk dilakukan?


"Suka nggak? Suka nggak?" desak Ryan membuat Angkasa memundurkan sedikit kepalanya karena Ryan yang mencondongkan tubuhnya ke arah Angkasa.

__ADS_1


"Ng-nggak, kok," ucap Angkasa akhirnya.


Seketika senyum cerah terkembang di wajah Ryan, cowok itu kemudian memeluk Angkasa dengan erat membuat Angkasa seketika menjadi meragukan bahwa Ryan adalah seorang yang normal. Kini Angkasa sudah mendapat jawaban, bahwa Ryan itu sungguh-sungguh tidak normal.


"Thanks, Sa, lo nggak suka sama Raya. Soalnya lo tau nggak?"


"Nggak."


"Ish, nyebelin!"


"Emang gue nggak tau kan?"


"Ehm, iya sih. Ya udah sekarang gue kasih tau," ucap Ryan penuh semangat.


"Gue sebenernya anu sama Raya," ucap Ryan membuat Angkasa bingung.


Anu?


"Eh, eh, jangan pikiran aneh-aneh dong. Nganu-nya itu artinya suka. Gue suka sama dia! Ya allah! Untuk pertama kalinya akhirnya gue ngerasain apa itu cinta!" ucap Ryan.


"Apaan pertama kalinya? Lo aja udah punya banyak mantan." Angkasa menyahuti membuat ekspresi Ryan yang tadinya sangat jelek, menjadi tambah jelek.


"Itu kan cuma main-main. Nggak tau gimana rasa yang sebenarnya, kalo ini gue bener-bener kaya gimana ya ... ya intinya gue kaya ngerasa beda gitu kalo di deket dia," jelas Ryan. Angkasa hanya mengangguk, bukan informasi yang penting.


"RYAN! GUE UDAH NUNGGUIN LO! LAMA AMAT NGE-DATE SAMA ANGKASA!" teriak seorang gadis berkuncir kuda dari ambang pintu kelas.


Ryan menoleh kebelakang dan nyengir tanpa rasa bersalah.


"Tan, lo dibilang nenek lampir sama Ryan," adu Angkasa kepada cewek berdiri di ambang pintu itu. Raut wajah Ryan berubah jelek ketika mendengar Angkasa mengadu pada Tania.


Habislah riwayatnya nanti!


"Lo ngomomg apa ha tentang gue?! Nenek lampir iya?! Ashiap! Sekarang gue kutuk lo biar kuping lo ini tambah lebar!" ucap Tania sembari mengomel dan mengucapkan sumpah serapahnya seperti nenek lampir.


"Aduh, Tania, yang cantik! Sodara gue paling baik! Cantiknya kaya mimi peri--eh, nggak-nggak cantiknya kaya Jisoo BLACKPINK! Pacarnya Sehun, selingkuhannya Kai, istrinya Xiumin! Gue mohon maaf banget! Nggak bermaksud kok, suwer!" runtuk Ryan sambil terus memegangi telinganya yang sepertinya sudah tak berbentuk lagi!


"Ada yang kurang!" ucap Tania sangar.


"Oh, iya. Adiknya Hanbin iKON, maafin gue ya? Please!"


"Nah, gitu dong. Kalo ngomong yang lengkap. Udah, ah, ayo gue laper! Mampir beli pizza double chesee dulu ya?" kata Tania sambil melepaskan tangannya dari telinga Ryan dan berjalan pergi sambil menyeret cowok itu keluar kelas.


Ryan hanya pasrah, nyalinya ciut saat bertemu dengan Tania! Kenapa dia harus mempunyai saudara sesadis itu?! Apa salah dan dosa Ryan sampai menerima azab yang begitu pedih ini?!


Sedangkan Angkasa merapalkan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada Tania sehingga dia bisa mengambil tas Raya tanpa ketahuan bahwa dia dan Raya sebelumnya saling mengenal.


Dengan langkap santainya Angkasa mengambil tas Raya dan memasukkannya kedalam tasnya yang lebih besar kemudian berjalan ke arah parkiran yang sudah sepi untuk pulang. Walaupun hatinya masih penasaran, kemana gadis itu sebenarnya?


--💗--


Angkasa memasuki kawasan perumahannya, sore ini udara cukup segar. Ia tidak akan melewatkan waktunya untuk bermain basket nanti, dan mungkin Angga juga akan berkunjung lagi.

__ADS_1


Tapi pemandangan di beranda rumahnya membuat Angkasa mengurungkan niatnya itu.


Angkasa segera turun dari motornya dan menghampiri gadis yang Angkasa yakini sudah berjam-jam berada di sana.


"Lo kenapa? Baju lo kok basah?" tanya Angkasa dengan nada yang berbeda dengan Angkasa yang tadi, lebih lembut.


Gadis itu mendongak, memperhatikan setiap lekuk wajah Angkasa. "Lo kemana aja? Gue cariin lo kemana-mana."


Angkasa menatap Raya dengan tatapan sedikit khawatir. "Lo kehujanan? Kok nggak nelpon gue? Badan lo juga anget, Papah kemana?"


"Iya, gue kehujanan. Lo bilang jangan ganggu lo, jadi gue cari lo tanpa ngasih tau lo. Papa lo belum balik," jawab Raya dengan penuh penekanan disetiap kalimatnya.


"Berarti Papah nggak bakalan pulang malam ini," gumam Angkasa yang masih dapat didengar Raya. Angkasa kemudian segera berjalan ke pintu utama rumahnya dan memutar kunci serta membuka kenop pintu.


Ia kemudian menyodorkan tangannya untuk membantu Raya berdiri. Raya menyambutnya, tapi belum sempat gadis itu berdiri sempurna, tubuhnya sudah kembali rubuh. Angkasa dengan sigap menahan tubuh Raya agar tidak menyentuh lantai.


Raya memejamkan matanya, kepalanya kembali berdenyut kencang. Padahal tadi sudah hilang. Tapi nyeri dikepala itu kembali lagi.


"Lo pusing?" tanya Angkasa masih dengan posisi setengah condong ke arah Raya.


Raya menggeleng, tapi ekspresi wajahnya mengatakan hal lain. Tanpa aba-aba, Angkasa segera membopong gadis itu dan segera membawanya masuk ke dalam rumah. Dengan langkah cepat Angkasa membawa Raya masuk ke kamar gadis itu.


"Ganti baju, gue bikinin makan," ucap Angkasa singkat lalu keluar. Tak lupa dia menutup pintu kamar gadis itu.


Raya mengangguk pelan sambil berjalan mengambil setelah baju santai dan segera mengganti pakaiannya.


Setelah selesai, dia merebahkan tubuhnya di kasur. Nyeri dikepalanya semakin menjadi membuat Raya lebih memilih memejamkan matanya.


"Masih pusing nggak?" tanya Angkasa membuat Raya membuka matanya. Sedikit terkejut karena ternyata lelaki itu masih belum mengganti baju sekolahnya.


"Lo ngak ganti baju dulu?"


"Masih pusing nggak?" tanya Angkasa balik dengan pertanyaan, membuat Raya mengangguk mengalah.


"Makan," titah Angkasa sembari menyodorkan semangkuk bubur panas. Raya menggeleng, lidahnya sedang tidak berselera.


"Nggak, nggak mau," ucap Raya memalingkan wajahnya.


"Oke, kalo gitu gue suapin," putus Angkasa sembari menyodorkan sesendok penuh bubur. Raya terngaga. Hah? Beneran ini Angkasa?


"Cepetan, keburu dingin."


Dengan terpaksa, Raya menyambut sesendok bubur itu dengan wajah cemberut. Tapi entah kenapa hatinya berubah menghangat.


"Lo kenapa cari gue? Kan tadi gue udah bilang kalo jangan cari gue," kata Angkasa membuka percakapan.


Raya meneguk segelas air yang terletak di atas nakas sebelah kasurnya. Ia kemudian memandang Angkasa dengan tatapan dalam.


"Karena gue peduli sama lo."


--💗--

__ADS_1


__ADS_2