Angkasa

Angkasa
Tertipu


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 196


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Sama halnya dengan Zian yang kembali bersemangat mengejar cintanya pada Laras, kini Digo pun juga melakukan itu dan mendatangi rumah wanita incaran nya di pagi hari yang indah ini, ia bermaksud menjemput wanitanya itu agar mereka bisa pergi ke kampus secara bersamaan.


Ya tentunya wanita yang dimaksud adalah Latifah, sosok gadis cantik teman dari Revi itu memang telah berhasil menarik perhatian Digo, si anggota alligator yang belum pernah merasakan cinta sebelumnya, namun begitu melihat Latifah dirinya langsung dibuat klepek-klepek dalam sekejap.


Sesampainya di depan rumah Latifah, matanya langsung menangkap sosok gadis yang ia cintai itu sedang berada disana menyapu halaman, ya seketika wajahnya berbinar menandakan kesenangan yang amat sangat saat ia melihat gadisnya cukup rajin menyapu disana.


"Kamu keren baby! Memang gue gak salah pilih cewek, Latifah itu selain cantik, baik, tapi dia juga rajin bantu orangtuanya! Itu yang bikin gue tambah suka sama dia!" batin Digo.


Digo pun turun dari motornya, ia merapihkan rambutnya yang sempat berantakan dan segera berjalan menghampiri Latifah.


"Ehem ehem assalamualaikum..." ucap Digo.


"Waalaikumsallam, ehβ€”" ucapan Latifah terhenti saat ia melihat sosok Digo berdiri di depannya.


"Kak Digo? Mau ngapain?" sambungnya coba bertanya pada pria itu mengenai tujuannya datang ke rumah itu.


"Halo Ifah, selamat pagi! Kamu apa kabar nih? Udah lumayan lama ya aku gak main ke rumah kamu, rasanya aku rindu sekali!" ujar Digo.


"Kak maaf! Tapi, lu ada urusan apa ya sayang ke rumah gue pagi-pagi begini?" tanya Latifah.


"Kamu kenapa sih, Ifah? Kok kayak gak senang gitu lihat aku datang kesini? Emangnya salah seorang pria datang menghampiri wanitanya di rumahnya seperti ini? Enggak kan? Enggak dong!" ujar Digo.


"Hah? Wanitanya? Maksud lu apa? Emang lu pikir gue ini wanita lu gitu?" tanya Latifah tak mengerti.


"Ya mungkin kamu gak menganggap begitu, tapi aku tetap anggap kamu sebagai wanita aku! Sosok wanita yang aku cintai dengan tulus, dan pastinya gak akan aku biarkan lepas begitu aja dari pelukan aku!" jawab Digo sambil tersenyum.


"Eee sebenarnya kak Digo ini sakit atau apa sih? Gue udah bilang berulang kali sama kak Digo, gue ini gak suka sama lu! Apa harus gue teriak supaya satpam komplek usir lu dari sini?!" ujar Latifah.


"Maaf Fah! Tak mengapa jika kamu belum bisa membalas perasaan aku, tapi tolong jangan larang aku untuk mendekati kamu! Karena aku sedang ingin berjuang meyakini kamu bahwa aku memang benar-benar mencintai kamu setulus hati!" ucap Digo memohon pada Latifah.


"Cinta? Yang lu rasain tuh bukan cinta, kak! Gak mungkin lu bisa cinta sama gue gitu aja, palingan lu cuma terobsesi sama gue!" ujar Latifah.


"Siapa bilang? Aku beneran cinta sama kamu, aku tulus menyayangi kamu Latifah!" ucap Digo.


"Hadeh terserah kak Digo aja deh! Gue capek ladenin nya, mending gue masuk ke dalam! Nih lanjutin nyapunya!" ujar Latifah kesal dan memberikan sapu di tangannya kepada Digo.


"Okay, no problem!" ucap Digo tersenyum.


Pria itu dengan senang hati menyapu halaman rumah Latifah yang sebenarnya bersih itu, sedangkan Latifah sendiri sudah pergi.


"Sampai kapanpun, gue bakal terus berjuang supaya bisa yakinin kamu Latifah kalau gue ini beneran sayang dan cinta sama lu, bukan cuma sekedar obsesi!" gumam Digo dalam hati.


β€’


β€’


Sementara itu, Suci mengalami kendala pada mobilnya yang mengharuskan ia berhenti di pinggir jalan saat hendak menuju kampusnya. Ya gadisa cantik itu terlihat panik, karena mobil miliknya tiba-tiba saja mogok ketika sedang ia kendarai.


Suci pun keluar dari mobil, ia coba mengecek sendiri kondisi mobilnya dan memastikan apakah baik-baik saja atau tidak, namun karena ia bukan anak mesin, ia pun tak mengerti apa yang menjadi masalah pada mobilnya.


"Duh, gimana ya ini?"


Gadis itu terus dilanda kebingungan, sampai dua orang pria asing bertatto datang menghampirinya dan pura-pura bertanya mengenai mobil Suci.


"Mbak, mobilnya mogok ya?" tanya salah seorang dari pria itu, agak gemukan sebut saja si gemuk.


"Eh eee iya nih, mas. Tadi pas saya lagi nyetir, eh tiba-tiba aja mesinnya mati! Saya juga gak tahu kenapa, karena saya gak ngerti soal beginian!" jawab Suci masih belum merasa curiga.

__ADS_1


"Wah coba biar kita cek mbak, kebetulan kita agak ngerti lah soal mesin mobil begini! Biasanya juga kita suka bantu orang-orang yang mogok disini, karena lumayan banyak mbak mungkin karena kondisi jalannya yang menukik!" ucap si gemuk.


"Oh gitu, ya boleh deh mas! Tolong cek ya!" ucap Suci.


Gadis itu menyingkir memberi jalan bagi kedua pria asing tersebut untuk mengutak-atik mobilnya, ia mengeluarkan ponsel mengirim pesan pada temannya memberitahu soal mobil mogoknya.


"Waduh mbak, ini sih lumayan parah rusaknya! Harus dicek di bengkel, gini aja deh mbak biar mobil mbak kita bawa ke bengkel dekat sini buat diperiksa, gimana?" usul si gemuk.


"Iya mbak, soalnya kita kan gak punya alat-alat buat betulin mobilnya!" sahut pria yang lain, sebut saja si kecil karena badannya lebih kecil.


"Eee gimana cara bawanya, mas?" tanya Suci.


"Kita telpon teman dulu buat bantu tarik mobil ini ke bengkel, sekarang kuncinya mana mbak? Mau sekalian saya coba tes-tes sedikit, siapa tahu aja berhasil!" ucap si gemuk.


"Oh ini mas," ucap Suci langsung menyerahkan kunci mobilnya kepada si gemuk.


Terlihat si gemuk menepuk pundak si kecil, lalu masuk ke dalam mobil Suci. Sedangkan si kecil mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


Tak lama kemudian, secara tiba-tiba si kecil langsung menarik tas milik Suci dan membuat gadis itu terkejut, ia tak sempat menahan tasnya karena kaget dengan gerakan si kecil.


"Eh eh apa-apaan sih? Ini tas saya balikin!" ujar Suci berusaha menarik kembali tasnya.


"Diem lu!" bentak si kecil sambil menodongkan pisau ke arah Suci.


Sontak gadis itu terkejut dan terdiam seketika.


"Diam, atau gue bakal tusuk perut lu pake ini! Mau lu ha?" ancam si kecil.


Suci menggeleng ketakutan.


"Yaudah, sekarang serahin hp sama perhiasan yang lu pake itu ke gue! Cepat!" bentak si kecil.


"I-i-iya..."


Suci dengan sangat terpaksa memberikan apa yang pria itu mau, ia sungguh tak menyangka kalau kedua pria yang ditemuinya itu adalah sekelompok penjahat.


"Ayo bro cabut! Sebelum ada orang yang datang!" ucap si kecil.


"Siap bro!" si gemuk yang sudah berada di dalam mobil, langsung memutar kunci dan berhasil menyalakan mobil gadis itu.


Lalu, si kecil pun masuk ke dalam mobil dan si gemuk langsung menancap gas sambil tertawa.


"Hey tunggu itu mobil saya!" teriak Suci sambil berusaha mengejar mereka.


"TOLOONGG TOLOONGG...!!!"


Namun, ia tak berhasil mengejarnya karena mereka sudah pergi jauh dengan mobilnya, ya gadis itu hanya bisa menangis sesenggukan disana.


"Hiks hiks tolong...!!"


β€’


β€’


Sementara itu, Muzaki yang baru pulang dari mengantar ibunya berbelanja, tiba-tiba ditelpon oleh seseorang sehingga ia harus menunda membawa masuk barang belanjaan milik mamanya itu karena hendak mengangkat telpon lebih dulu.


"Muz, itu hp kamu bunyi loh, coba dicek dulu siapa yang nelpon!" ucap Stevi.


"Iya mah, eee ini nomor gak dikenal kok. Biarin aja lah mah paling juga gak penting, aku bantu mama dulu ke dalam bawa barang belanjaan!" ucap Muzaki.


"Hey, jangan gitu lah! Siapa tahu aja kan itu teman kamu atau orang yang kamu kenal, tapi dia ganti nomor! Coba aja diangkat dulu, ini biar mama yang bawa sendiri ke dalam!" ucap Stevi meminta putranya mengangkat telepon itu.


"Oh iya deh, mah. Tapi, beneran mama gapapa?" tanya Muzaki memastikan.


"Iya gapapa, mama baik-baik aja kok! Lagian belanjaan ini juga ringan gak terlalu berat, udah kamu angkat aja dulu!" jawab Stevi.


"Oke mah!"


Muzaki pun mengangkat telepon tersebut, sedangkan Stevi membawa barang belanjaan itu ke dalam seorang diri.


πŸ“ž"Halo assalamualaikum! Ini siapa ya?" ucap Muzaki bertanya karena penasaran.


πŸ“ž"Halo, waalaikumsallam Muz!" ucap seorang wanita dengan nada yang terdengar panik disertai isakan tangis.


πŸ“ž"Loh hey, kamu Suci kan? Kamu kenapa Suci? Kok kayak lagi panik gitu? Ada masalah apa?" tanya Muzaki cemas.


πŸ“ž"I-i-iya Muz ini aku, kamu bisa gak tolongin aku? Jemput aku di sekitaran jalan Thamrin, aku butuh banget bantuan kamu Muz!" ucap Suci.

__ADS_1


πŸ“ž"Hah? Emangnya kamu kenapa sih? Lagi mau ngapain kamu di jalan itu?" tanya Muzaki.


πŸ“ž"Ceritanya panjang Muz, kamu jemput aku aja dulu disini kalo bisa! Ya tapi aku gak maksa sih, karena aku tahu sekarang kamu bukan siapa-siapa aku lagi, tapi sekarang aku bingung harus hubungin siapa lagi selain kamu! Aku takut kalau aku telpon ke rumah, mama aku malah marah!" jawab Suci.


πŸ“ž"Oh yaudah, aku langsung on the way kesana jemput kamu! Kamu tolong spesifikasi lagi tempat kamu berada sekarang, biar aku gampang temuin kamu!" pinta Muzaki.


πŸ“ž"Iya Muz, ini aku lagi di warung kopi dekat persimpangan jalan. Kamu cepat kesini ya, aku takut banget Muz!" ucap Suci sesenggukan.


πŸ“ž"Oke! Aku kesana ya, kamu tenang dulu dan jangan kemana-mana!" ucap Muzaki.


πŸ“ž"Iya Muz, makasih!" ucap Suci.


Tuuutttt...


Telpon dimatikan oleh Muzaki, ia langsung menghampiri mamanya di dalam rumah untuk berpamitan sejenak sebelum pergi menjemput Suci yang sedang membutuhkan bantuannya.


"Mah, mah, mama aku pergi dulu ya mah?" ucap Muzaki tampak panik.


"Eh sayang, kamu kenapa panik gitu sih? Memangnya kamu mau pergi kemana lagi?" tanya Stevi terheran-heran.


"Iya mah, ini barusan Suci telpon aku minta dijemput! Dia kedengaran lagi panik terus sambil nangis gitu, aku khawatir dia kenapa-kenapa mah! Makanya sekarang aku mau jemput dia dulu, mama gapapa kan?" jawab Muzaki menjelaskan.


"Hah? Duh, yaudah Muz cepetan kamu jemput Suci! Mama juga takut dia kenapa-napa, cepat ya sayang! Tapi, jangan ngebut-ngebut juga bahaya!" ucap Stevi.


"Iya mah, aku pergi ya?" ucap Muzaki mencium tangan mamanya. "Assalamualaikum," sambungnya lalu berbalik dan kemudian pergi dari rumahnya dengan langkah tergesa-gesa.


"Waalaikumsallam, hati-hati Muz!" ujar Stevi.


Setelah Muzaki pergi, Stevi tampak tersenyum sembari memandang ke arah pintu.


"Ternyata kamu masih punya rasa perduli yang tinggi sama Suci, Muz! Mama jadi yakin kalau kamu pun masih mencintai Suci, semoga saja kamu bisa berubah pikiran dan mau balikan dengan Suci!" gumam Stevi dalam hati.


β€’


β€’


Suci masih terus menangis walau ia sedikit merasa tenang sesudah mengabari Muzaki, namun kehilangan mobil dan harta benda miliknya secara singkat itu membuatnya sangat syok, apalagi mobil itu adalah milik ayahnya yang baru selesai diservis beberapa hari lalu.


Para warga yang kebetulan tinggal di dekat sana pun coba membantu menenangkan Suci, biarpun mereka juga gagal mengejar dua orang maling mobil tadi. Terutama si pemilik warung kopi yang memberikan minum untuk Suci agar gadis itu bisa lebih tenang.


"Neng, ini diminum dulu! Jangan nangis terus neng, sebentar lagi mungkin pacarnya datang! Abis itu neng bisa langsung ke kantor polisi buat laporin kejadian ini!" ucap penjual itu.


"Iya bang, makasih ya! Tapi, saya udah gak punya apa-apa buat bayar minuman ini! Kan dompet saya diambil sama maling tadi!" ucap Suci.


"Waduh, gausah mikirin tentang itu neng! Saya ikhlas kok kasih minumnya, silahkan diminum aja neng!" ucap penjual itu.


"Serius bang?" tanya Suci memastikan.


"Iya dong neng, orang lagi kena musibah masa malah saya duitin sih? Udah minum aja neng, gausah malu-malu gitu! Supaya perasaan neng juga bisa lebih tenang!" jawab penjual itu.


"Makasih ya bang!" ucap Suci tersenyum.


"Sama-sama neng..."


Suci pun menengguk minuman di gelas itu sampai tersisa sedikit, tampaknya kepanikan yang ia rasakan saat ini membuatnya haus sehingga ingin terus minum. Namun, tetap saja itu tak cukup menghilangkan rasa paniknya saat ini.


"Duh, gimana ya aku bicaranya sama papa nanti? Pasti papa marah banget deh!" batin Suci.


Tak lama kemudian, seorang pria dengan motor merah datang dan berhenti di warung kopi itu. Ia turun menghampiri Suci, kemudian terlihat panik ketika melihat gadis itu sedang merenung.


"Suci!" ucapnya seraya berdiri menghadap Suci.


Sontak Suci menoleh, matanya terbelalak saat melihat Wisnu ada disana. Ya memang sebelum menghubungi Muzaki, ia sudah sempat mengirim pesan pada Wisnu yang mengatakan kalau mobilnya mogok.


"Suci, kamu kok disini? Mobil kamu yang mogok dimana? Aku udah bawa teman aku nih, dia montir jadi bisa lah cek mobil kamu!" ucap Wisnu terlihat penasaran.


Suci terdiam membisu, ia mengalihkan matanya ke arah lain karena bingung harus menjelaskan apa.


"Hey, Suci kamu kenapa?" tanya Wisnu heran.


"Mas? Masnya ini yang tadi ditelpon sama neng ini kan? Neng ini tuh baru kena musibah mas, mobil sama hartanya yang lain dibawa kabur maling pas lagi berhenti di jalanan depan sana!" jelas si pemilik warung pada Wisnu.


"Apa??" Wisnu terkejut mendengarnya.


...~Bersambung~...


^^^JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!^^^

__ADS_1


__ADS_2