Angkasa

Angkasa
Laras kabur


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...×××...


#ANGKASA EPS. 213


...•...


...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Revi dan Muzaki kini telah berada di mobil dalam perjalanan menuju rumah pria itu untuk menjemput Stevi yang sudah menunggu disana.


"Kak, aku baru tahu kalau kak Zaki bisa nyetir. Aku kira selama ini tuh kak Zaki cuma bisa naik motor aja, eh ternyata punya keahlian juga buat nyetir mobil. Tau gitu kita kalo bepergian pake mobil aja, kak!" ucap Revi menatap ke arah Muzaki.


"Iya Rev, aku emang sempat belajar nyetir mobil dulu waktu aku tinggal di kampung. Emang udah agak lama sih, tapi tetap aku masih ingat dasar-dasar menyetir mobil!" jawab Muzaki.


"Ahaha, bagus deh kak!" ujar Revi tertawa kecil.


Awalnya perjalanan itu cukup membuat Revi senang dan nyaman, namun lama kelamaan ia baru sadar kalau ia akan bertemu dengan calon mertuanya untuk pertama kali, Revi pun berubah menjadi panik dan bingung apa yang harus ia katakan nantinya ketika bertemu Stevi.


"Oh ya kak, nanti aku bicara apa ya pas pertama kali ketemu mama kamu?" tanya Revi bingung.


"Eee ya bicara aja kayak biasa sayang, ngapain pake mikir sih? Kamu kan udah terbiasa ngobrol, jadi harusnya gak perlu cemas lah!" jawab Muzaki.


"Ish, tetap aja aku canggung lah kak! Ini kan kali pertama aku ketemu sama mama kamu, gimana kalau nanti mama kamu gak suka sama aku? Kan hubungan kita jadi makin susah nanti, aku gak mau itu terjadi kak!" ucap Revi.


"Tenang aja sayang! Kamu jangan mikir yang enggak-enggak dulu! Aku yakin kamu pasti berhasil bikin mama kesemsem dan suka sama kamu, secara kamu kan anak yang baik!" ucap Muzaki.


"Belum tentu kak," ucap Revi cemberut.


"Kenapa belum tentu? Kamu ini anak cantik, baik, manis terus sopan santun lagi! Mama itu suka sama wanita yang begitu!" ucap Muzaki.


"Ah kak Zaki bisa aja, aku mah cuma cewek biasa gak seperti yang kamu bilang!" ucap Revi.


"Kamu mah sukanya merendah terus, padahal kamu ini termasuk salah satu wanita idaman yang diincar setiap laki-laki. Aku beruntung bisa memiliki kamu sayang!" ucap Muzaki tersenyum.


"Ih dasar tukang gombal!" cibir Revi tersipu.


"Gak gombal kok, semua yang aku bilang tadi itu fakta dan kamu emang wanita idaman sayang! Yaudah ya, kamu gak perlu cemas lagi sekarang! Kita jalani aja dulu untuk saat ini, soal mama aku terima kamu atau enggak itu urusan nanti dan gak perlu kamu pikirin sekarang!" ucap Muzaki.


"I-i-iya kak, tapi kan aku cuma pengen kelihatan baik di hadapan mama kamu. Aku gak mau mama kamu nilai aku gak pantas buat kamu, menurut kamu sekarang penampilan aku gimana, udah bagus apa belum?" ucap Revi.


"Udah kok, kamu cantik banget sayang! Aku aja tadi sampe pangling pas pertama lihat kamu, aku yakin mama juga bakal begitu!" ujar Muzaki.


"Ih serius kak! Terus nanti aku harus gimana pas ketemu sama mama kamu?" tanya Revi cemas.


"Ya gak gimana-gimana sayang, nanti biar aku bantu kamu ngomong sama mama deh! Udah ya, gausah cemas gitu pacarku!" ucap Muzaki sembari mengusap puncak kepala gadisnya.


Revi manggut-manggut setuju, lalu menghela nafas panjang untuk menenangkan diri sesuai perintah dari Muzaki, jujur ia memang kesulitan untuk bisa tenang mengingat Revi adalah seseorang yang pemalu dan lebih sering diam.


Muzaki terus mengusap wajah serta rambut Revi bermaksud membuat gadis itu tenang, ia yakin Revi masih belum tenang sepenuhnya karena terlihat dari raut wajahnya yang menunjukkan kegelisahan cukup dalam.


"Kasihan Revi, dia pasti panik banget! Saya harus bisa bantu dia buat bicara sama mama nanti, karena saya gak mau mama menyakiti perasaan Revi dengan kata-katanya!" batin Muzaki.




Singkat cerita, sepasang kekasih itu telah tiba di rumah Muzaki. Terlihat Stevi pun masih terduduk di teras rumah sendirian sembari memainkan ponselnya, Muzaki menatap sejenak ke arah Revi memastikan apakah Revi sudah siap bertemu dengan mamanya atau belum.


Revi sendiri memang merasa bingung, dirinya khawatir jika sang mama dari kekasihnya itu tak menyukainya menjadi kekasih Muzaki. Akibatnya, Revi masih terdiam di tempat ketika mereka sampai pada tujuannya, Revi masih belum dapat menenangkan diri untuk saat ini.

__ADS_1


"Sayang, kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Muzaki.


"Eh eee enggak kok, aku gak mikirin apa-apa. Aku cuma masih bingung aja, kira-kira aku bilang apa ya pas ketemu mama kamu nanti?" ucap Revi gugup.


"Udah tenang aja sayang! Aku kan tadi udah bilang sama kamu, jangan terlalu dipikirin soal itu! Biar aku bantu kamu nanti buat bicara sama mama, sekarang kita turun aja dulu temuin mama!" ucap Muzaki membujuk gadisnya.


"Iya kak, maaf ya aku lebay! Abisnya aku gugup banget ketemu sama mama kamu!" ucap Revi.


"Gapapa sayang, itu wajar kok. Dulu aku juga kayak kamu sewaktu aku pertama kali ketemu sama papa mama kamu, makanya sekarang aku bakal bantu kamu kok!" ucap Muzaki.


Revi tersenyum dan bernafas lega, ia bisa sedikit tenang setelah mendengar kata-kata dari sang kekasih, walau rasa cemasnya masih belum hilang.


"Yaudah, kita turun yuk!" ucap Muzaki.


"Iya kak..." Revi mengangguk setuju disertai senyuman manisnya.


Muzaki mencolek pipi gadisnya, kemudian turun lebih dulu dari mobil dan membukakan pintu untuk Revi serta membantu gadis itu keluar dari mobil, membuat Revi tersipu ketika Muzaki menuntunnya turun seperti sepasang kekasih pada umumnya.


"Kak Zaki apaan sih? Aku kan bisa turun sendiri, gak perlu dibantu kayak gini lah! Aku bukan anak kecil tahu, kak!" ucap Revi.


"Gapapa sayang, aku pengen manjain pacar aku. Biar pacar aku ini ngerasa diperlakukan seperti seorang ratu, kamu emang gak suka kalo aku bantuin begini?" ucap Muzaki.


"Ya suka sih, kak. Cuma kan aku takut kak Zaki malah kecapekan nanti!" ucap Revi.


"Gak bakal kok, masa cuma begini aja aku kecapekan sih? Kecuali kalau aku gendong kamu, eh iya ya apa aku gendong aja ya kamu sekalian? Biar kita bisa cepat sampai ke teras rumah, gimana?" ucap Muzaki tersenyum.


"Ish, jangan ah!" ujar Revi menolak keras.


"Hahaha kenapa sih kamu gak suka gitu kalo aku pengen gendong kamu? Padahal kan digendong sama aku tuh enak tau!" ujar Muzaki terkekeh.


"Ya emang enak, tapi aku malu lah kalau dilihat sama mama kamu nanti!" ucap Revi.


Muzaki tertawa kecil melihat ekspresi gadisnya, lalu kembali berjalan dengan merangkul pundak Revi sembari menghirup aroma rambut Revi yang sangat wangi itu.


"Zaki!" Stevi berteriak memanggil nama putranya begitu melihat Muzaki muncul disana, ia beranjak dari kursinya lalu menghampiri Muzaki.


"Kamu kok lama banget sih?" tanya Stevi heran.


Pandangan Stevi langsung berubah begitu melihat sosok gadis di samping Muzaki, ia menatap tajam dan menelisik membuat Revi menunduk karena tak berani bertatapan langsung dengan calon mertuanya itu.


"Iya mah, ini Revi pacar aku. Ayo sayang, kenalan sama mama aku! Tenang aja, mama orangnya baik kok!" ucap Muzaki mengenalkan Revi pada mamanya sambil tersenyum renyah.


"I-i-iya kak..." Revi tampak gugup dan perlahan mulai menatap Stevi walau jantungnya berdetak cukup kencang.


"Halo tante, assalamualaikum! Kenalkan saya Revi, saya kekasih kak Zaki!" ucap Revi mengenalkan diri di hadapan Stevi sembari mengulurkan tangan berharap Stevi mau bersalaman dengannya.


"Waalaikumsallam, saya Stevi mamanya Zaki. Senang bertemu dengan kamu!" ucap Stevi sedikit dingin, namun tetap mau berjabat tangan dengan Revi walau hanya sebentar.


"Makasih tante! Saya juga senang bisa kenal dan bertemu dengan tante disini," ucap Revi tersenyum.


"Syukurlah! Kelihatannya mama bisa terima Revi dengan baik, walau kayaknya mama belum terlalu suka juga sama Revi! Semoga aja lambat laun mama bisa semakin akrab dengan Revi, jadi saya gak perlu cemas lagi nanti!" batin Muzaki.




Disisi lain, Laras yang sebelumnya melihat sosok Zaenal di mall tersebut pun memutuskan untuk menghampiri pria itu dan meninggalkan Zian yang sedang asyik mengantri tiket disana.


Gadis itu tampak tersenyum dan melangkah ke arah Zaenal berada, ia memang sangat menyukai dosen tampan tersebut bukan hanya karena tampangnya, melainkan juga sikapnya yang dingin serta enak untuk didekati.


"Ehem ehem... permisi pak!" ucap Laras pelan.


Zaenal yang tengah berdiri seorang diri itu terkejut melihat kemunculan Laras disana, ia tak menyangka bisa bertemu dengan salah satu mahasiswi di kampusnya saat ini, padahal jarak mall tempatnya berada sekarang lumayan jauh dari lokasi kampus angkasa.


"Loh kamu? Kamu ini yang tadi dompetnya jatuh itu kan? Kok kamu bisa ada disini, lagi ngapain?" tanya Zaenal terheran-heran.


"Eee iya pak, hehe... saya Laras dan saya ini lagi keliling-keliling aja di mall ini, bapak sendiri ngapain ke mall sendirian? Emang bapak gak punya temen atau pacar gitu?" ucap Laras sedikit genit.


"Ohh hahaha... saya gak sendirian kok, ada sepupu saya yang lagi ke toilet. Kalau pacar sih ya emang saya belum punya, tapi mungkin sebentar lagi bakalan punya!" ucap Zaenal.


"Jadi bapak kesini sama sepupu? Waw sepupunya laki-laki apa cewek, pak?" tanya Laras.

__ADS_1


"Laki-laki. By the way kamu mending jangan panggil saya pak deh kalau disini, ini kan di luar area kampus jadi kamu panggil saya pake nama aja biar enakan! Lagian saya ini kan masih muda, gak cocok dipanggil bapak!" ucap Zaenal.


"Ah iya juga ya, yaudah aku panggil kamu Zaenal aja ya? Eee atau mungkin biar sopan, aku panggilnya pakai kak?" ujar Laras.


"Gausah, cukup Zaenal aja!" ucap Zaenal.


"Oke deh, Zaenal!" ucap Laras sambil tersenyum.


"Oh ya, kamu kesini sendirian aja? Gak sama teman-teman kamu?" tanya Zaenal.


"Eee enggak nih, aku emang suka menyendiri. Kira-kira kalo aku gabung sama kamu boleh enggak, Zaenal?" jawab Laras berbohong.


Ya Laras sengaja berbohong demi bisa pergi bersama Zaenal mengelilingi mall tersebut.


"Kamu mau gabung sama saya? Tapi, saya kan kesini sama sepupu saya, nanti dia gimana dong?" tanya Zaenal kebingungan.


"Ya gapapa ajak aja sepupu kamu juga, kan seru kalau bertiga jadi saya ada teman ngobrol gitu! Soalnya bosen nih daritadi aku sendirian terus, boleh ya aku gabung sama kamu?" pinta Laras.


"Ya, boleh kok!" ucap Zaenal tersenyum.


Melihat senyum di wajah Zaenal membuat Laras merinding, bukan karena takut melainkan sangat senang setelah dapat melihat senyum manis yang diberikan Zaenal padanya, gadis itu sangat senang sampai tak bisa berkata-kata untuk sementara ini.


❤️


Sementara itu, Zian yang baru selesai membeli tiket belum sadar bahwa Laras sudah tidak ada di dekatnya saat ini.


"Nah sayang, aku udah beli tiketnya nih. Kamu mau main ap—"


Ucapan pria itu terhenti, setelah ia menyadari bahwa Laras tidak ada disana. Zian pun panik dan celingak-celinguk mencari dimana Laras, namun ia tak berhasil menemukan gadis itu.


"Duh, Laras kamu kemana sih?" gumam Zian panik.


Akhirnya Zian melangkah dari tempat itu, berusaha mencari Laras yang sebenarnya tengah bersama Zaenal di tempat yang tak jauh dari sana. Namun, Zian justru tak melihat keberadaan Laras karena tertutup oleh gerombolan orang yang lewat.


Laras pun mengajak Zaenal bergegas pergi dari sana, karena ia tak mau jika Zian menemukan keberadaannya dan semua rencana yang sudah ia susun gagal hanya karena ketahuan oleh Zian.


"Pak, kita kesana yuk!" ucap Laras yang langsung menarik tangan Zaenal dan pergi dari sana.


"Eh eh eh kamu mau kemana...??" Zaenal amat terkejut saat tangannya ditarik begitu saja oleh Laras secara paksa.


"Udah pak, ikut saya aja!" ucap Laras tersenyum.


"Iya iya, tapi lepasin tangan saya! Kamu jangan kurang ajar ya sama saya, main tarik tarik tangan orang sembarangan aja! Saya ini kan sudah bilang sama kamu, saya lagi nunggu sepupu saya di toilet. Malah kamu ajak saya pergi! Nanti kalau dia nyariin saya gimana?" ujar Zaenal kesal.


"Iya pak, maaf! Yaudah, tadi sepupu bapak ke toilet mana? Biar kita susul aja!" ucap Laras.


"Kamu ini gimana sih? Sudah saya bilang jangan panggil saya bapak, masih aja dilakuin! Dasar bandel!" tegur Zaenal.


"Oh iya, saya lupa. Maksud saya tuh Zaenal, sepupu kamu tadi ke toilet mana?" ucap Laras.


"Eee disana sih." Zaenal menunjuk ke arah toilet tempat sepupunya berasa.


"Ohh, yaudah yuk kita kesana!" ajak Laras.


Gadis itu lagi-lagi langsung menarik tangan Zaenal dengan cepat dan memaksa, membuat Zaenal agak kesulitan mengimbangi langkah kaki Laras yang begitu cepat.


"Hey hey, pelan-pelan dong Laras!" ujar Zaenal.


"Nanti kelamaan, mending cepat sekalian tau!" ucap Laras tersenyum.


"Laras berhenti!" pinta Zaenal.


Namun, gadis itu tetap terus melangkah sembari menarik lengan Zaenal tanpa perduli dengan apa yang dikatakan pria itu. Sontak Zaenal emosi, ia menghentikan langkahnya, kemudian berganti menarik tangan Laras hingga gadis itu terjatuh ke dalam pelukannya.


Keduanya terlibat aksi saling tatap selama beberapa menit, Laras tampak gugup sekaligus senang karena dapat bertatapan seperti itu dan dipeluk oleh dosen idamannya.


"Ya Tuhan! Pak Zaenal ganteng banget. Ih bikin gue makin suka deh!" batin Laras.


Zaenal pun merasakan hal yang sama ketika bertatapan dengan Laras disana, terlebih saat ini posisinya adalah ia memeluk gadis itu dengan erat.


"Gadis ini cantik sekali!" batin Zaenal.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2