Angkasa

Angkasa
Tak akan berhenti


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 198


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Revi yang kesal memutuskan untuk tidak jadi mengikuti latihan menembak bersama Charlie dan pergi dari tempat itu, ya memang sedari awal Revi juga terpaksa saja ikut dengan Charlie kesana karena tak mau membuat mamanya marah.


Charlie pun tak membiarkan Revi pergi begitu saja dari sana, ia terus berusaha mengejar gadis itu dan berhasil menyusulnya ke depan. Pria itu menarik lengan Revi dari belakang, sampai akhirnya Revi terhenti lalu menoleh dengan wajah jengkel.


"Rev, tunggu Rev! Jangan pergi dulu, dengerin aku!" ucap Charlie sedikit berteriak.


"Haish, kamu mau apa lagi sih? Aku kan udah bilang sama kamu, aku gak mau latihan disini kalo kita cuma berdua! Jadi, jangan tahan aku dan biarin aku pergi dari sini!" tegas Revi.


"Aku gak akan biarin itu terjadi! Kamu harus tetap disini sama aku! Ingat Rev, kamu gak mau kan bikin mama kamu marah?!" ucap Charlie.


Revi terdiam memikirkan perkataan Charlie, ada benarnya juga apa yang baru saja dikatakan oleh pria tersebut, ya karena Juliana pasti akan sangat marah dan kecewa pada Revi jika gadis itu pergi dari sana meninggalkan Charlie.


"Gimana Rev? Masih mau pergi?" tanya Charlie.


"Aku tetap pada keputusan aku! Kalau kamu gak bolehin aku buat ajak kak Zaki atau Latifah, aku bakal pergi dari sini! Aku gak perduli mau mama marah atau apa, karena aku cuma pengen jaga perasaan kak Zaki selaku kekasih aku! Aku gak mau dia salah paham nantinya!" jawab Revi tegas.


"Oh gitu, yaudah deh kamu boleh kok ajak Zaki dan si Latifah teman kamu itu!" ujar Charlie.


"Beneran nih? Kak Charlie bolehin aku buat ajak mereka ikut latihan nembak disini?" tanya Revi memastikan.


"Iya..." jawab Charlie menganggukkan kepalanya.


"Oke deh! Kalo gini kan aku gak jadi pergi dari sini, sebentar ya kak biar aku hubungin dulu kak Zaki sama Latifah buat minta mereka susul kita disini! Pasti bakal seru banget deh!" ujar Revi.


Charlie menghela nafasnya, melepaskan tangan Revi lalu memalingkan wajahnya.


"Seru apanya? Yang ada bakal boring banget! Gue paling cuma bisa lihatin kalian mesra-mesraan, aaarrgghh dasar sialan!" umpat Charlie dalam hati.


Revi pun mulai menghubungi Muzaki dengan ponsel miliknya, ia sangat berharap kalau Muzaki mau datang kesana dan menemaninya agar ia tidak hanya berduaan dengan Charlie.


Cukup lama Revi menunggu untuk Muzaki menjawab telpon darinya, namun pada akhirnya pria itu mengangkat telpon dari Revi dan mulai berbicara lebih dulu.


πŸ“ž"Halo Rev, assalamualaikum!" ucap Muzaki.


πŸ“ž"Waalaikumsallam, iya halo kak!" ucap Revi pelan.


πŸ“ž"Ada apa ya Rev?" tanya Muzaki.


πŸ“ž"Umm, kak Zaki lagi sibuk gak? Kalau enggak, aku mau ajak kak Zaki buat ikut latihan nembak sama aku dan kak Charlie!" jelas Revi.


πŸ“ž"Ohh waduh, kayaknya kalo sekarang gak bisa deh Rev! Ini aku juga lagi ada urusan penting, mungkin lain waktu baru aku bisa sayang! Maaf ya, gapapa kan?!" ucap Muzaki menolak.


πŸ“ž"Oh gitu ya, kak? Yaudah deh gapapa, semoga urusannya cepat kelar ya kak!" ucap Revi.


πŸ“ž"Iya, aamiin Rev! Sekali lagi maaf ya, aku gak bisa nemenin kamu disana! Tapi, kalau kamu mau latihan nembak sama Charlie gapapa kok aku kasih izin buat kamu! Yang penting kalian jangan terlalu dekat aja, nanti aku cemburu!" ucap Muzaki.


πŸ“ž"Iya kak, pasti kok!" ucap Revi.

__ADS_1


Tuuutttt...


Setelah telpon itu mati, Charlie pun kembali mendekati Revi dan bertanya pada gadis itu dengan penuh harap.


"Gimana Rev? Si Zaki mau kamu ajak datang kesini?" tanya Charlie.


"Enggak, kak Zaki lagi sibuk ada urusan penting jadi dia gak bisa datang kesini! Tapi, aku coba telpon Latifah dan ajak dia! Siapa tahu dia bisa, sebentar ya kak!" ucap Revi.


"Oh yaudah deh, silahkan!" ucap Charlie.


Revi kali ini menghubungi nomor Latifah, ia sangat berharap sohibnya itu bisa menemani ia disana agar tidak hanya berduaan dengan Charlie.


Akan tetapi, rupanya Latifah juga tidak bisa ikut dengan Revi latihan menembak disana, ya karena gadis itu ada jadwal kuliah di pagi hari ini.


"Gimana? Si Latifah bisa?" tanya Charlie tersenyum melihat raut kekecewaan di wajah Revi.


"Gak bisa juga, dia ada jadwal kuliah!" jawab Revi menggeleng pelan.


"Nah kan, berarti emang udah benar bahwa kita ditakdirkan untuk berduaan di tempat ini! Udah lah Rev, gausah kecewa gitu! Aku janji bakal bikin hari kamu penuh warna, yuk kita masuk lagi ke dalam dan mulai latihan!" ucap Charlie.


Revi menghela nafas panjang, akhirnya ia terpaksa ikut bersama Charlie ke dalam tempat itu lagi, karena ia memang tak mempunyai pilihan lain.


β€’


β€’


Sementara itu, Suci yang masih berada di depan kantor polisi bersama Muzaki dan Wisnu merasa heran ketika melihat Muzaki menatap layar ponsel dengan wajah bingung.


Suci pun menghampiri Muzaki, untuk bertanya langsung padanya.


"Muz, kamu kenapa? Siapa yang nelpon?" tanya Suci penasaran.


"Eee ini barusan Revi telpon aku, dia ajak aku buat latihan nembak. Tapi, udah aku bilang ke dia kalau aku lagi ada urusan!" jawab Muzaki.


"Ohh kalo emang kamu mau temenin dia, gapapa kok Muz. Lagian kan urusan aku di kantor polisi ini udah selesai, tinggal nunggu waktu aja supaya dua orang maling itu ketangkap dan mobil aku bisa balik lagi!" ucap Suci.


"Iya juga sih, tapi bener kamu udah gapapa Suci? Kalau kamu masih butuh bantuan aku, bilang aja ya! Pasti aku bakal bantu kamu kok, kita kan udah temenan lama!" ucap Muzaki.


"Iya Muz, aku baik-baik aja kok! Udah kamu susul aja pacar kamu, gausah cemasin aku!" ujar Suci.


"Yaudah deh, kalian hati-hati ya pulangnya! Kalo gitu aku duluan ya, assalamualaikum!" ucap Muzaki pamitan.


"Waalaikumsallam..." ucap Suci dan Wisnu.


Cupp!


Suci melongok lebar saat Muzaki menarik tengkuknya dan mengecup keningnya di hadapan Wisnu, bahkan Wisnu juga sampai menganga lebar menyaksikan momen tersebut.


Setelahnya, Muzaki langsung pergi tanpa menghiraukan dua orang yang tengah terkejut itu. Sedangkan Wisnu sekarang menatap ke arah Suci, terlihat gadis itu juga masih syok memegangi keningnya dan terus memandangi Muzaki.


"Suci, lu baper ya abis dicium sama si Zaki? Baru kali ini juga gue lihat Muzaki begitu ke cewek, padahal dia suka malu gitu tiap kali ketemu sama cewek!" ucap Wisnu.


"Apaan sih? Gue biasa aja kok, udah ah gue mau pulang!" ujar Suci cemberut.


"Gue anterin ya?" ucap Wisnu.


"Gausah, gue bisa pulang sendiri! Gue juga gak mau ngerepotin lu, makasih ya udah bantu gue buat laporin ini ke polisi!" ucap Suci.


"Gak ngerepotin kok! Udah ya gue anterin aja, biar lu hemat juga!" ucap Wisnu.


"Yaudah deh, terserah lu aja! Tapi, bukan gue yang mau ya ini lu sendiri yang maksa!" ucap Suci dengan wajah dingin dan cuek.


"Iya, gue tahu kok!" ucap Wisnu tersenyum.


Gadis itu memalingkan wajahnya, tanpa diduga Wisnus langsung menggandeng tangan Suci dan menariknya ke arah parkiran tempat motornya berada, membuat Suci syok namun hanya bisa pasrah tak melakukan perlawanan.


"Dilihat-lihat Wisnu kok baik banget ya sama gue?" gumam Suci dalam hati.

__ADS_1


Sesampainya di dekat motor, Wisnu melepas genggaman tangannya lalu memberikan helm kepada Suci, lebih tepatnya Wisnu langsung memakaikan helm itu di kepala Suci dan mengaitkan talinya sambil tersenyum.


"Pake helm dulu, biar selamat pas di jalan!" ucap Wisnu dengan senyum lebarnya.


"Nu, lu apaan sih? Ngapain coba pakein gue helm segala kayak gini? Lu pikir gue anak kecil apa? Kalo cuma pake helm, gue juga bisa kali!" ujar Suci.


"Gapapa, biar romantis!" ucap Wisnu santai.


"Hah? Maksud lu?" tanya Suci terkejut.


"Udah gausah dipikirin, yuk naik aja!" ucap Wisnu sambil memakai helmnya.


Suci pun melakukan apa yang diminta Wisnu, ia naik ke atas jok motor pria itu dan sedikit menjaga jarak agar tak terlalu dekat dengan Wisnu, berbeda ketika ia dibonceng Muzaki sebelumnya.


β€’


β€’


Disisi lain, Laras tiba di kampusnya bersama Zian si lelaki yang memaksa untuk mengantarnya bahkan sampai rela membayar Radian agar mau bekerjasama dengannya demi bisa mengantar Laras ke kampus berdua.


Gadis itu turun dari motor, melepas helm dan kemudian berlalu pergi dengan wajah cemberut tanpa berbicara apapun. Namun, tentunya Zian tak membiarkan Laras pergi begitu saja sebelum mereka berbicara sejenak disana.


Ya Zian mencekal lengan gadis itu dari belakang, membuat Laras tidak bisa pergi kemana-mana untuk saat ini.


"Tunggu Laras! Aku masih mau ngobrol sama kamu, jangan pergi dulu dong!" ucap Zian.


"Ish, apaan sih? Udah cukup ya, kamu tadi udah bikin aku kesel dengan maksa-maksa buat anterin aku ke kampus! Sekarang kamu jangan paksa aku lagi buat ngobrol sama kamu, karena aku gak mau! Cepat lepasin tangan aku, atau aku bakal teriak dan orang-orang nanti gebukin kamu!" ucap Laras.


"Laras sayang, kamu sabar dong jangan emosi begitu sama aku! Disini niat aku baik loh, aku cuma mau bikin kamu bahagia sama aku! Aku tahu kamu lagi sedih dan kecewa sama Muzaki, itu sebabnya aku datang buat menghibur kamu sayang! Lagipun, aku juga cinta sama kamu dan aku tulus mencintai kamu sayangku!" ucap Zian serius.


"Udah deh gausah gombal! Emang kak Zian mau ngomong apa lagi sama aku? Bukannya udah jelas ya semuanya? Aku kan udah bilang sama kamu, aku gak akan pernah bisa suka sama kamu walau sampai lebaran monyet sekalipun!" ucap Laras.


"Iya aku tahu, tapi itu kan sekarang. Kita gak ada yang tahu gimana perasaan kamu ke depannya sama aku, ya kan? Bisa jadi justru nanti kamu yang ngejar-ngejar aku!" ucap Zian tersenyum tipis.


"Hah apa? Kamu gak salah ngomong gitu? Mana mungkin aku kejar-kejar kak Zian? Orang aku aja gak cinta sama kak Zian, cintaku cuma untuk kak Zaki seorang! Biarpun kak Zaki udah jadi miliknya Revi, tapi aku akan tetap cinta sama dia bukan kak Zian!" ucap Laras menatap tajam ke arah Zian.


"Ya gapapa kok, terus aja kamu cinta sama Zaki! Biar hati kamu makin sakit sayang, saran aku sebaiknya kamu moveon dan buka hati kamu buat aku! Ingat Laras, sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik! Bukan begitu yang kamu bicarakan sama aku? Lalu kenapa, kamu malah tetap kekeuh cinta sama Zaki?" ucap Zian.


"Ya karena aku emang cuma cinta sama kak Zaki! Harusnya kak Zian paham dan jangan pernah deketin aku lagi!" ujar Laras emosi.


"Iya iya, oke aku paham kok! Tapi, aku juga cinta mati sama kamu Laras! Kalau kamu aja boleh tetap cinta sama Muzaki, kenapa aku enggak? Apa salah kalau aku pengen memperjuangkan cinta aku ke kamu? Dengar ya Laras, sampai kapanpun aku gak akan berhenti kejar kamu! Karena aku mau buktikan ke kamu, betapa aku mencintai kamu!" ucap Zian sangat serius dan tegas.


Laras terdiam memalingkan wajahnya, namun dengan segera Zian menarik serta mencengkeram rahang wanita itu, Zian mendekat dan menatap mata Laras dari jarak cukup dekat.


"Sayang, tatap mata aku! Lihatlah betapa mata ini sangat bahagia tiap kali melihat kamu, dia selalu senang disaat aku bertemu dengan kamu! Apa kamu gak bisa rasain itu?" ucap Zian dengan bibir bergetar membuat Laras makin deg-degan.


Lalu, pria itu menarik satu tangan Laras dan menaruhnya pada bagian dadanya.


"Kamu bisa rasain kan? Jantung aku berdetak kencang, itu karena kamu sayang! Aku ini tulus cinta sama kamu, harusnya kamu sadar dan tahu itu! Lupakan Muzaki, buka hati kamu buat aku sayang! Aku janji akan bikin kamu bahagia, dan kamu gak akan pernah sedih lagi!" ucap Zian.


Laras masih terdiam membisu, matanya sesekali melirik ke wajah Zian dengan tangan yang masih menempel di dada pria itu.


Tiba-tiba saja Laras menarik tangannya lepas dari genggaman pria itu, ia kini mendongak menatap tajam ke arah Zian dengan wajah emosi.


"Maaf ya kak Zian! Sekali lagi aku peringatkan ke kamu, jangan ganggu aku dan jangan pernah berharap aku bakal balas perasaan kak Zian itu! Karena aku gak cinta sama kak Zian!" tegas Laras.


Gadis itu berbalik, lalu melangkah pergi dengan cepat meninggalkan Zian disana.


Zian hanya bisa diam menatap punggung Laras yang perlahan menjauh, ingin sekali ia memanggil dan menahan gadis itu namun ia memilih untuk tetap diam membiarkan Laras pergi sesuai kemauannya.


"Laras, aku akan tetap perjuangkan cinta ini walau beribu kali kamu mengusir aku! Karena aku yakin, suatu saat nanti kamu pasti bisa buka hati kamu buat aku sayang!" ucap Zian penuh keyakinan.


Pria itu pun ikut pergi dari sana menyusul Laras, ia tersenyum dan menyemangati dirinya sendiri agar tidak menyerah untuk mendekati Laras.


"AYO ZIAN!" gumamnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2