Angkasa

Angkasa
Semakin dekat


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 229


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Sudah seminggu lebih sejak kepergian Suci ke Swiss, kini Revi pun telah berhasil mengambil hati Stevi selaku ibunda dari Muzaki.


Bahkan Stevi tampak sangat akrab dengan Revi dan selalu tertawa ketika berbincang dengan gadis cantik itu.


Memang tak mudah awalnya bagi Revi untuk bisa dekat dengan Stevi, namun usaha terus-terusan yang dilakukan Revi berhasil membuat Stevi sadar bahwa Revi adalah gadis yang tulus.


Hal itu pun membuat Muzaki merasa senang melihatnya, ia bangga pada kekasihnya yang tak kenal lelah untuk mendapatkan hati mamanya, walau berkali-kali mamanya selaku mengusirnya.


"Revi, hari ini kamu bawa apa lagi buat tante? Rasanya tante gak enak setiap kali kamu kesini, kamu selalu bawain tante makanan." kata Stevi.


"Ah iya tante, kali ini aku bawa kue durian buatan aku sendiri. Enggak sendiri sih sebenarnya, aku juga dibantu sama bibik aku. Tapi, pastinya aku buatin ini khusus untuk tante supaya tante bisa terus cobain masakan aku," ucap Revi.


"Waduh sayang, kelihatannya enak banget nih kuenya!" ujar Stevi tersenyum.


"Yeh si mama, pasti enak lah orang gratis." cibir Muzaki yang berdiri di samping Revi.


"Kak, jangan gitu sama mama kamu sendiri!" Revi mengingatkan kekasihnya itu.


"Gapapa sayang, Zaki mah udah biasa begitu. Yaudah, duduk dulu ya kalian berdua! Kita makan kuenya sama-sama," pinta Stevi.


"Iya mah/tante," ucap Revi dan Muzaki.


Setelahnya, mereka pun duduk di sofa bersamaan sambil saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Stevi juga meminta pada Revi untuk duduk di dekatnya.


"Revi, sini dong duduknya di sebelah tante! Jangan di samping Zaki terus!" pinta Stevi.


"Iya tante," Revi setuju dan berpindah posisi duduk di sebelah Stevi.


Stevi pun langsung merangkul Revi dan mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut, membuat Revi merasa sangat nyaman.


"Makasih ya Revi sayang! Kamu selalu bisa bikin tante tersenyum, biarpun selama ini sikap tante ke kamu itu sangat jahat. Maafin tante juga ya, karena sikap tante yang selalu jahatin kamu! Tante benar-benar menyesal melakukan itu, padahal kamu adalah anak yang baik!" ucap Stevi.


"Gapapa tante, tante gak perlu minta maaf. Tante udah mau terima aku di keluarga ini aja aku udah senang, itu artinya usaha aku selama ini buat deketin tante gak sia-sia." kata Revi.


"Iya sayang, udah pasti tante terima kamu! Justru tante akan jadi orang yang paling bodoh kalau mengabaikan wanita seperti kamu, kamu itu gadis yang baik dan cantik. Muzaki sangat beruntung bisa mendapatkan kamu, Revi!" ucap Stevi.


"Tante terlalu berlebihan ah! Aku cuma wanita biasa kok, justru aku yang beruntung bisa dapetin lelaki seperti kak Zaki!" ucap Revi tersenyum.


"Enggak lah Rev, mama benar kok. Kamu itu hampir sempurna untuk ukuran wanita, jadi aku yang beruntung bisa dapat kekasih seperti kamu. Apalagi kalau nanti kita bisa menikah," ujar Muzaki.


"Sudah jangan pada berdebat gitu! Mending gini aja biar adil, kalian berdua sama-sama beruntung karena kalian itu lelaki dan perempuan yang baik! Mama harap kalian bisa langgeng terus ya sampai pernikahan!" ucap Stevi.


"Aamiin!" ucap Revi dan Muzaki mengaminkan.


"Tante, semalam tante nyenyak gak tidurnya?" tanya Revi menatap wajah Stevi.


"Alhamdulillah nyenyak sayang! Itu berkat resep dari kamu, emang kamu luar biasa ya Revi!" jawab Stevi mengeratkan pelukannya pada Revi.


"Alhamdulillah, aku ikut senang kalau gitu!" ucap Revi tersenyum.


"Oh ya, tante boleh minta sesuatu sama kamu cantik?" tanya Stevi tiba-tiba.


"Boleh dong tante, boleh banget malah! Tante bilang aja sama aku, tante mau apa!" ucap Revi penasaran.


"Mulai sekarang, kamu jangan panggil tante dengan sebutan tante lagi ya! Kamu panggil aja tante ini mama, supaya kita bisa lebih akrab sayang!" pinta Stevi.


"Tante serius?" tanya Revi kaget.


"Serius dong sayang!" jawab Stevi.


Sontak Revi yang terkejut spontan menoleh ke arah Muzaki, ia seakan tak percaya kalau saat ini Stevi sudah memintanya untuk dipanggil mama.


"Oke deh tante, mulai saat ini aku bakal panggil tante dengan sebutan mama." kata Revi.


"Bagus! Awas ya kalau masih panggil tante, nanti mama ngambek sama kamu!" ucap Stevi.


"Hahaha... iya tante, eh maksud aku mama." kata Revi disertai tawa renyahnya.


"Nah kan, baru awal aja udah lupa kamu." ujar Stevi.

__ADS_1


"Iya mama," Revi mengulang ucapannya dan memberanikan diri ikut memeluk tubuh Stevi.


Muzaki bertambah senang melihat kedekatan antara mamanya dan kekasihnya saat ini, ia pun bisa bernafas lega setidaknya untuk sekarang karena Revi serta mamanya sudah akrab.


β€’


β€’


Waktu berlalu begitu cepat, kini Muzaki beserta mamanya sudah berada di rumah Revi untuk memenuhi undangan dari Marcel dan juga Juliana dalam rangka saling mengenal satu sama lain.


Memang sebelum ini kedua orang tua mereka belum pernah bertemu, sehingga inilah saat yang tepat bagi mereka untuk melakukan pertemuan mengingat Revi dan Muzaki sangat berharap bisa berlanjut ke jenjang lebih serius.


"Mah, ini dia rumahnya orang tua Revi." kata Muzaki begitu turun dari taksinya.


Stevi pun sangat terpukau melihat rumah itu.


"Waw luar biasa! Rumahnya besar sekali nak! Kamu yakin orang tua Revi mau terima kamu? Mereka dari keluarga kaya raya, sedangkan kita hanya rakyat biasa." kata Stevi cemas.


"Insyaallah mah, awalnya aku emang ragu setelah mengetahui Revi ternyata anak orang kaya. Tapi, begitu aku kenal dia dan kedua orangtuanya, aku jadi yakin karena mereka adalah orang baik-baik yang enggak memandang harta seseorang. Bahkan mama papanya sudah bisa terima aku, jadi mama gak perlu cemas ya!" jawab Muzaki.


"Syukurlah nak! Mama ikut senang kalau memang mereka sudah bisa terima kamu! Semoga saja kalian bisa bersatu ya!" ucap Stevi.


"Aamiin mah! Yaudah, yuk kita masuk sekarang!" ucap Muzaki menggandeng tangan mamanya.


"Iya sayang," Stevi mengangguk lalu melangkah maju bersama putranya.


Mereka langsung disambut oleh pak Fadlul, selaku satpam yang berjaga disana.


"Eh den Zaki sudah datang," ujarnya.


"Ah iya pak, kenalkan ini mama saya. Kebetulan kamu sudah ada janji dengan Revi dan orangtuanya untuk makan malam bersama disini," ucap Muzaki.


"Iya den, tuan sama nyonya tadi udah bilang kok. Yasudah den, mari masuk ke dalam! Tuan dan nyonya sudah menunggu di dalam," ujar Fadlul.


"Terimakasih pak!" ucap Muzaki.


Pak Fadlul pun membuka pintu pagar, menyilahkan Muzaki serta Stevi masuk ke dalam.


"Silahkan den, Bu!" ucap Fadlul.


"Iya pak, terimakasih!" ucap Muzaki tersenyum.


"Makasih ya pak!" ucap Stevi.


"Sama-sama den, Bu." kata pak Fadlul.


"Mah, mama suka banget ya sama pemandangan di rumah Revi?" tanya Muzaki.


"Iya Zaki, baru kali ini mama masuk ke rumah orang kaya sebagai calon mertua dari anaknya. Mama benar-benar gak nyangka!" jawab Stevi.


"Hahaha..." Muzaki tertawa lepas.


Sesampainya di teras rumah, rupanya mereka sudah disambut oleh Marcel serta Juliana yang berdiri tepat di depan pintu sambil tersenyum.


"Selamat datang, Bu Stevi dan juga Muzaki di rumah kami!" ucap Marcel.


"Selamat datang dan selamat malam ya, makasih sudah memenuhi undangan kami dengan datang kesini!" sahut Juliana.


"Aduh! Om sama tante kok pake begini segala sih? Justru harusnya aku sama mama yang bilang begitu ke om dan tante, gak bagus lah kalo om dan tante kayak gini!" ucap Muzaki.


"Loh, kamu ini gimana sih Zaki? Kan om sama tante tuan rumahnya disini, jadi kita memang sudah harus menyambut kalian. Oh ya, ini mama kamu kan Zaki?" ucap Marcel.


"Iya om, benar. Ini mama aku. Mah, ini orang tua Revi, om Marcel dan tante Juliana." Muzaki mengenalkan mereka sambil tersenyum.


"Salam kenal ya Bu! Saya Marcel, dan ini istri saya Juliana!" ucap Marcel berjabat tangan dengan Stevi.


"Iya pak," Stevi tersenyum lebar.


Tak hanya Marcel, Juliana pun juga bersalaman dengan Stevi seraya mengenalkan diri.


"Yasudah, kita langsung masuk aja yuk! Itu makanannya udah siap semua kok di meja," ucap Marcel.


"Iya, mari masuk semuanya!" sahut Juliana.


"Makasih om, tante!" ucap Muzaki.


Mereka pun masuk ke dalam secara bersamaan, Stevi tambah terpukau melihat isi dalam rumah itu.


"Luar biasa!" batin Stevi.


β€’


β€’


Mereka kini sudah duduk bersama-sama di meja makan, namun Muzaki sangat heran karena tak ada Revi disana.


Melihat Muzaki terus celingak-celinguk, Marcel pun reflek bertanya pada lelaki itu, walaupun ia sudah tahu siapa yang sedang dicari olehnya.


"Zaki, kamu lagi cari siapa celingak-celinguk begitu?" tanya Marcel menggoda Muzaki.

__ADS_1


"Eh om, enggak kok. Aku cuma agak sakit leher aja, jadi mau dicoba buat tolah-toleh supaya sakitnya hilang." Muzaki menjawab dengan kebohongan dan ekspresi salah tingkah.


"Hahaha... kamu gak perlu bohong gitu Zaki, om tahu kok kamu pasti lagi cari Revi kan?" ujar Marcel tertawa keras.


"Ohh kamu cari Revi? Sabar dulu ya, Revi itu lagi dandan di kamarnya. Tadi sih bilangnya cuma sebentar, tapi gak tahu nih malah lama banget belum turun juga sampai sekarang. Padahal dia ke kamar udah dari habis Maghrib," sahut Juliana.


"Yaudah gapapa om, tante, mungkin Revi sebentar lagi juga bakal turun." ucap Muzaki.


"Jangan! Mah, mama susulin gih Revi ke kamarnya! Bilang sama dia kalau pangerannya sudah datang, suruh dia supaya cepat kesini gitu!" bisik Marcel di telinga istrinya.


"Iya pah," ucap Juliana singkat.


"Eee sebentar ya Bu, Zaki, saya mau ke kamarnya Revi dulu!" ucap Juliana pamit pada Muzaki dan juga ibundanya.


"Iya tante," ucap Muzaki.


"Iya Bu," ucap Stevi.


Juliana pun beranjak dari kursinya, lalu pergi menaiki tangga menuju kamar putrinya.


Sementara Muzaki bersama sang ibu dan juga Marcel tetap berada disana melanjutkan perbincangan selagi menunggu Revi untuk datang kesana dan bergabung dengan mereka.


"Sabar ya Zaki! Sebentar lagi Revi pasti turun kesini, baru kita bisa mulai acara makan malamnya!" ucap Marcel.


"Iya om, santai aja!" ucap Muzaki tersenyum.


"Bu, kalau misal udah lapar atau mau cicip sedikit silahkan aja Bu! Itu kan sudah disediakan hidangan pembukanya sama pelayan disini, dijamin semua rasanya enak-enak kok Bu!" ucap Marcel.


"Ah enggak usah pak, saya mah nanti aja makannya bareng-bareng!" ucap Stevi menolak.


"Oh begitu.."


"Rev, kamu kenapa lama banget sih? Harusnya kamu gak perlu dandan terlalu lama begini, aku juga gak permasalahkan itu kok!" batin Muzaki.


β€’


β€’


TOK TOK TOK...


"Revi, sayang buka pintunya sayang! Itu Zaki sama mamanya udah sampai, kamu cepetan dong dandannya! Kamu gak mau kan bikin mereka nunggu lama?" teriak Juliana dari luar.


"Iya mah..." jawab Revi dari dalam.


Ceklek...


Akhirnya Revi keluar membuka pintu, menemui mamanya yang sudah berdiri disana.


"Loh Revi, kamu kok masih belum ganti baju juga? Daritadi kamu ngapain aja sayang?" tanya Juliana terheran-heran.


"Iya mah, aku tuh bingung mau pakai baju apa. Makanya aku belum keluar," jawab Revi.


"Ya ampun! Udah, kamu pakai baju apa aja yang kamu punya! Kasihan itu Muzaki sama mamanya sudah menunggu di bawah, kamu kebiasaan deh lama banget dandannya! Udah yuk, mama bantu kamu buat siap-siap!" ucap Juliana.


"Iya mah, makasih!" ucap Revi tersenyum.


Juliana dan Revi pun masuk ke dalam, Juliana hendak membantu Revi untuk segera bersiap-siap berganti pakaian.


"Nah, ini bajunya bagus buat kamu sayang! Kayaknya cocok deh dipake sama kamu!" Juliana langsung mengambil satu set pakaian dari dalam lemari Revi dan meminta Revi memakainya.


"Iya sih mah, tadi aku juga mikir buat pake ini. Tapi, emang beneran bagus?" ucap Revi bingung.


"Iya sayang, ini bagus kok. Udah cepat kamu pakai terus kita langsung ke bawah temuin Zaki sama mamanya!" pinta Juliana.


"Iya deh mah, aku pakai ini." kata Revi.


Juliana mengangguk tersenyum, Revi pun mengambil gaun berwarna merah itu lalu memakainya di kamar mandi. Juliana menunggu sembari duduk di atas ranjang dengan menggelengkan kepalanya.


Tak lama kemudian, Revi keluar dari kamar mandi dengan gaun yang sudah melekat di tubuhnya. Juliana sangat takjub melihat kecantikan putrinya, ia berdiri dengan senyuman menghiasi bibirnya menghampiri putrinya itu.


"Tuh kan sayang, kamu emang cantik banget pakai gaun ini!" puji Juliana.


"Masa sih mah?" tanya Revi tak percaya.


"Iya sayang, coba deh kamu muter! Mama mau lihat kamu dari sisi samping dan belakang," pinta Juliana.


Revi mengangguk, lalu memutar tubuhnya dengan perlahan sesuai perintah Juliana.


"Aduh sayang! Ini mah udah pasti Muzaki bakal terpesona sama kamu, kamu luar biasa cantiknya! Benar-benar keturunan mama!" ucap Juliana tersenyum renyah.


"Ah mama bisa aja! Semoga benar deh yang mama bilang! Aku takut aja kak Zaki gak suka lihat aku begini," ucap Revi.


"Gak mungkin dia gak suka, udah yuk kita turun sekarang samperin mereka!" pinta Juliana.


"Iya mah," Revi mengangguk setuju, lalu berjalan bersamaan dengan mamanya keluar dari kamar sambil bergandengan tangan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2