Angkasa

Angkasa
05. Mom & S


__ADS_3

Angkasa kembali membalikkan halaman buku itu, buku tebal yang mengingatkannya pada seseorang. Satu persatu foto kembali mengingatkan Angkasa pada masa-masa paling bahagia sekaligus masa ia seperti kehilangan separuh jiwanya.


Hanya lampu belajar yang menemani Angkasa di malam minggu yang dingin ini. Ayahnya hari ini tak pulang, lagi, saking seringnya Angkasa sampai hapal apa yang ayahnya lakukan diluar sana. Kebiasaan.


Angkasa kemudian menuliskan beberapa kata di atas foto seorang perempuan paruh baya bersama seorang gadis dengan lesung pipit yang cantik. Kedua menggunakan baju dengan tema sama membuat mereka terlihat serasi dengan wajah cerah menambah kesan ceria dalam foto itu.


Sayangnya, itu tak bertahan lama.


Selesai mencoretkan beberapa kata, Angkasa kemudian bangkit menyambar hoodie hitam kesanyangannya lalu kemudian mengenakannya. Ia kemudian menuruni tangga dan berjalan keluar rumah.


Mungkin untuk beberapa menit kedepan dia bisa meninggalkan Raya sendiri di rumah, dia tentu bukan anak kecil lagi kan yang harus diawasi setiap saat kan?


Celana training bergaris biru tua yang sering ia gunakan sudah memastikan kemana tujuannya saat ini, dimalam yang dingin ini.


--💗--


Raya bosan!


Sangat bosan!


Rumah Angkasa terasa seperti rumah kosong, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan makan malam pun Angkasa hanya sendiri dan tidak mau mengajak Raya. Tuan rumah macam apa itu?


Berjam-jam berada di kamar juga tidak membuat mood Raya membaik, malah semakin buruk!


Ia tidak tahu harus berbuat apa, mengobrol di telepon dengan Rain pun tak banyak membantu. Dan kegabutannya inilah yang membuatnya terpikirkan dengan Ryan, tentu saja ocehan cowok itu akan sangat membantunya menghilangkan rasa gabut-nya ini.


"Halo! Aduh nelpon duluan, udah kangen lo sama gue?" ucap cowok dari ujung sambungan telepon yang langsung membuat Raya mendesis, rasa kesal pada cowok itu kembali muncul.


"Gue lagi gabut tau!" sahut Raya membuat Ryan terkekeh.

__ADS_1


"Alah, nggak usah ngelak. Gue itu emang ngangenin kok," ucapnya lagi-lagi dengan tingkat kepercayaan diri diatas rata-rata.


"Udah, udah. Gue nelpon lo buat ilangin kegabutan gue ini. Bukannya nambah pening kepala gue," sebal Raya membuat tawa diseberang sambungan semakin terdengar keras.


"Gue bukan dokter penghilang kegabutan."


"Gue nggak butuh di obatin sama lo."


"Ya udah gue matiin nih telepon."


"Ah, lo mah, ngeselin!"


"Ada telepon lain nih mau masuk, udah ya gue mau terima telepon dari bebeb gue. Bhay!"


"Idih! Sombong amat lo! Oke, fine, bhay!"


Oke, kali ini yang ia butuhkan adalah coklat!


Dengan langkah seribu Raya segera pergi menuju dapur tempat Angkasa menyimpan coklat-coklat yang sekarang Raya tahu itu dari cewek-cewek yang suka pada Angkasa tapi tidak mau mengakuinya secara langsung.


Dan itu tentu menjadi penghasilan Angkasa, dia menjual kembali coklatnya dengan harga tinggi tanpa modal. Dasar, katanya orang kaya tapi jualan nggak modal. Batin Raya kadang-kadang.


Sukses mendapat apa yang dia cari, Raya segera kembali ke kamarnya. Tapi langkahnya kemudian berhenti di depan pintu kamar milik Angkasa yang setengah terbuka memperlihatkan lampu belajar Angkasa yang masih menyala.


Raya kira Angkasa ada di rumah, tapi ternyata cowok itu pergi entah kemana. Tanpa permisi pun Raya masuk kamar Angkasa, suasana berubah dingin saat ia melangkah masuk.


Niat awal untuk mematikan lampu belajar sirna ketika matanya mendapatin sebuah buku tebal tergeletak dengan posisi terbuka menampilkan beberapa foto polaroid yang terlihat masih bagus.


Dengan ke-kepo-an tingkat tinggi yang Raya punya, ia segera mengambil buku itu dan duduk di tepi kasur milik Angkasa.

__ADS_1


Membuka lembar pertama yang menampilkan foto Angkasa kecil beserta dua orang yang Raya yakini adalah ayah dan bunda Angkasa.


"Gue nggak tau kalo Angkasa punya mama yang cantik banget kaya gini," gumam Raya sembari menggigit coklat yang ia ambil tadi.


Memasuki lembar berikutnya Raya tersenyum melihat perkembangan wajah Angkasa. Angkasa kecil terlihat sangat menggemaskan, matanya indah dan kulitnya putih bersih. Sama persis seperti Angkasa sekarang, hanya saja sekarang sudah tak ber-ekspresi.


"Lucu banget lo waktu kecil!" gemas Raya saat melihat foto Angkasa kecil yang sedang menangis itu.


Dibawahnya tertulis kata-kata yang membuat Raya tak berhenti untuk tersenyum.


"Ini hari pertama gue kehilangan mainan gue, gara-gara Langit yang ngerusakin dan ngebuang semuanya. Nggak punya hati emang!"


Lembar-lembar berikutnya kebanyakan adalah foto Angkasa dan Langit yang memang Raya tahu itu adalah kakak Angkasa. Mereka terlihat begitu mirip, bedanya Langit memiliki lesung pipit yang menonjol di pipi kanannya.


Tapi saat Raya mencapai lembar dimana buku tadi terbuka membuat Raya bertanya-tanya, siapa orang yang begitu dekat dengan ibu Angkasa dan Angkasa?


Apakah itu Senja? Adik Angkasa seperti dengan apa yang dulu Ayah Angkasa ceritakan?


Dugaan Raya pun semakin di perkuat dengan tulisan tangan Angkasa yang masih baru, pasti ditulis tadi beberapa menit sebelum Raya masuk kesini.


"I miss them." Mom & S


"Mom and S? Pasti ibunya Angkasa sama Senja," gumam Raya.


"Ngapain lo masuk kamar gue?"


Suara itu langsung saja membuat Raya terkesiap. Seluruh tubuhnya menegang!


--💗--

__ADS_1


__ADS_2