
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...
...×××...
#ANGKASA EPS. 195
...•...
...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️...
Muzaki mengantar Revi pulang ke rumah dengan motornya, setelah hampir seharian penuh sepasang kekasih itu menikmati waktu libur mereka di kebun binatang bersama Radian dan juga Oni yang mereka temui disana.
Revi pun turun dari motor Muzaki dan melepas helm dari kepalanya, ia terlihat cemas karena pulang terlambat dari janji yang sudah ia ucapkan pada sang mama pagi tadi.
"Kenapa Rev? Kok kamu kelihatan panik gitu? Apa ada yang salah?" tanya Muzaki bingung.
"I-i-iya nih kak, aku baru banget inget kalau tadi pagi kan aku udah janji sama mama buat pulang gak terlalu sore! Gimana ya kak? Aku takut mama bakal marah sama aku karena udah ingkar janji, gimana juga kalah nanti mama semakin gak bolehin aku buat pergi sama kak Zaki?" ujar Revi.
"Tenang Rev! Maafin aku juga ya, karena aku malah keasyikan jalan-jalan sama kamu! Harusnya aku ingatin kamu untuk pulang tadi!" ucap Muzaki.
"Ih gapapa kak, justru aku senang bisa berduaan sama kak Zaki di kebun binatang tadi! Ya walau gak semua binatang bisa kita lihat karena waktu yang terbatas, tapi tetap aku bahagia kok kak! Makasih ya udah bikin hari Minggu aku kali ini tambah berwarna!" ucap Revi tersenyum.
"Sama-sama Rev, yaudah kamu masuk gih! Coba bicara pelan aja sama mama kamu, siapa tahu mama kamu bisa ngerti kan? Atau mau aku bantu buat bicara ke mama kamu?" ucap Muzaki.
"Eh jangan kak! Bukannya apa-apa, aku cuma takut mama malah semakin marah begitu lihat kak Zaki nanti! Jadi, sebaiknya kak Zaki pulang aja dan biar aku yang bicara sama mama! Maaf ya kak, aku cuma gak mau kak Zaki dimarahin!" ujar Revi.
"Iya gapapa Rev, aku juga paham kok! Yaudah, kamu hati-hati ya bicara sama mama kamu nya! Jangan sampai ikut kebawa emosi!" ucap Muzaki.
"Iya kak, insyallah aku bakal ingat pesan dari kak Zaki ini!" ucap Revi.
"Oke, good luck ya! Aku pulang dulu, assalamualaikum Rev!" ucap Muzaki tersenyum.
"Waalaikumsallam, hati-hati kak! Salam buat ibunya kak Zaki ya! Insyaallah kapan-kapan aku juga mau main ke rumah kak Zaki, terus ketemu sama ibunya kak Zaki!" ucap Revi.
"Ah iya, aku juga bakal bawa kamu ketemu sama mama kok! Ditunggu ya Rev, sampai ketemu lagi besok!" ucap Muzaki melambaikan tangan.
"Oke kak, bye!" ucap Revi.
Muzaki pun pergi menancap gas, sedangkan Revi melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan gugup, gadis itu khawatir kalau mamanya akan marah dan menghukumnya karena sudah ingkar janji.
Saat Revi tiba di teras rumah, terlihat Juliana sudah berada disana. Wanita itu berdiri menatap ke arahnya dengan sorot tajam dan kedua tangan yang diletakkan di depan, membuat Revi harus menelan saliva nya secara susah payah.
"Ma-mama? Assalamualaikum..." ucap Revi gugup namun berusaha tetap santai.
"Waalaikumsallam, darimana aja kamu? Kenapa jam segini baru pulang? Bukannya tadi udah janji sama mama buat gak lama-lama dan mau ikut mama ke rumah nak Charlie, ha?" ujar Juliana yang langsung mengintrogasi putrinya itu dengan tegas.
"Ma-maaf mah! Aku tadi lupa kalau aku udah janji sama mama, tapi itu bukan berarti aku sengaja kok buat menghindar dari mama!" jawab Revi.
"Oh gitu, bisa-bisanya ya kamu lupa sama janji kamu sendiri! Heran deh mama, pasti ini gara-gara kelakuan si Muzaki itu! Dia yang udah bikin kamu jadi kayak gini, emang ya dasar laki-laki gak bener!" ujar Juliana emosi.
"Mah, jangan hina kak Zaki kayak gitu terus! Semua yang mama bilang itu gak benar, kak Zaki tuh baik mah orangnya! Dia udah ajarin aku tentang kebaikan, sesuatu yang mama gak pernah ajarkan ke aku sejak kecil sampai aku sebesar ini!" ucap Revi dengan nada agak tegas.
Gadis itu tampak kesal dengan mamanya, ia langsung menerobos masuk begitu saja ke dalam rumahnya, melewati tubuh Juliana yang masih terdiam di tengah-tengah pintu masuk.
•
•
__ADS_1
Sementara itu, Muzaki sudah sampai di rumahnya dan langsung memasukkan motornya ke dalam garasi seperti biasa. Ia melepas helm, turun dari motornya lalu menuju ke teras depan rumahnya.
Saat ia hendak membuka pintu, tiba-tiba saja pintu sudah terbuka dari luar memperlihatkan sosok mamanya bersama gadis cantik yang tak lain adalah Suci, Muzaki terkejut dengan kehadiran Suci di rumahnya saat ini.
Ceklek...
"Loh Suci? Kamu kok bisa ada disini? Ngapain?" tanya Muzaki kebingungan.
"Eee..." Suci tampak gugup menjawabnya.
"Muzaki, kamu kok pulang bukannya ucap salam malah langsung tanya begitu ke Suci? Lagian apa salahnya kalau Suci main kesini?" ucap Stevi.
"Oh iya mah, Zaki lupa! Assalamualaikum mamaku sayang!" ucap Muzaki mencium tangan mamanya.
"Nah gitu dong! Waalaikumsallam, jangan baru pulang langsung interogasi anak gadis orang!" ucap Stevi.
"I-i-iya, maaf mah!" ucap Muzaki nyengir.
"Yasudah, tadi ini nak Suci datang kesini niatnya mau ketemu sama kamu! Tapi, ya karena kamu lagi jalan-jalan sama pacar kamu, jadinya dia cuma bisa ngobrol deh sama mama!" ucap Stevi.
"Ohh emang ada apa Suci? Kok kamu mau temuin aku?" tanya Muzaki.
"Gak ada apa-apa kok, Zaki. Eee yaudah ya aku pamit pulang dulu, tante, Zaki?" ucap Suci.
"Oh iya iya..." ucap Muzaki tersenyum.
"Loh kamu kok malah langsung pulang sih Suci? Ini kan udah ada Muzaki nya, tadi katanya kamu mau ketemu sama dia!" ujar Stevi heran.
"Gapapa tante, kan daritadi niat saya juga pengen pulang!" ucap Suci.
"Ya tapi kan kamu—"
"Mah, udah mama gak perlu tahan-tahan Suci kayak gitu! Kalau dia emang pengen pulang, ya biarin aja lah mah!" ucap Muzaki memotong ucapan mamanya.
"Iya deh iya, kamu hati-hati ya Suci! Mau diantar sama Muzaki apa enggak sayang?" ujar Stevi.
"Waalaikumsallam..." ucap Muzaki dan Stevi bersamaan.
Setelah Suci pergi dari rumahnya, kini Stevi beralih menatap wajah Muzaki, putranya itu. Sontak Muzaki terkejut saat mamanya menatap ia seperti hendak memarahinya.
"Mah, mama kenapa tatap aku begitu sih? Aku ada salah apa sama mama?" tanya Muzaki heran.
"Ya kamu itu loh Zaki! Kok kamu malah biarin Suci pulang gitu aja? Harusnya kamu tahan dong dia, kasihan tau dia!" ujar Stevi.
"Loh kok jadi salah aku sih, mah? Kan Suci sendiri yang mau pulang, aku gak sama sekali usir dia!" ujar Muzaki membela diri.
"Ya emang enggak, tapi kamu itu loh harusnya kamu tahan dia supaya dia gak pulang dan tetap disini ngobrol sama kamu! Mama yakin kalau Suci ada sesuatu penting yang mau diomongin ke kamu, eh tapi kamu malah gak peka kayak gitu!" ucap Stevi.
"Yaudah lah mah, Zaki capek banget nih abis seharian jalan-jalan! Kalau emang Suci mau ngomong penting sama aku, dia pasti datang lagi kok nanti! Udah ya mah, aku ke kamar dulu? Permisi!" ucap Muzaki.
Muzaki pun melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan mamanya disana.
"Haish anak itu benar-benar deh!" ujar Stevi.
•
•
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Charlie sudah datang ke rumah Revi seorang diri dengan mobil milik temannya seperti biasa. Ya pria itu sepertinya hendak menjemput Revi dan mengajak gadis itu pergi ke luar, walau belum tahu kemana kiranya Charlie akan membawa Revi pergi pagi ini.
Namun, Juliana tentunya sangat senang melihat kehadiran Charlie disana. Ia bahkan memaksa Revi untuk segera mandi dan bersiap pergi bersama Charlie, biarpun putrinya itu tentu saja tidak mau.
"Nak Charlie, duh maaf banget ya! Ini Revi baru banget selesai sarapan, dia juga belum mandi dan ganti baju!" ucap Juliana tersenyum.
"Ah gapapa tante, Revi kayak gini juga udah cantik kok! Dia gak kelihatan sama sekali kalo belum mandi, lagian sekarang saya cuma mau ajak Revi olahraga kok tan! Gimana? Apa saya dibolehkan ajak Revi, tante?" ucap Charlie.
"Oh ya jelas boleh dong nak Charlie! Udah Revi, kamu ganti baju aja ya gak perlu mandi! Terus langsung turun lagi kesini, kasihan nak Charlie nunggu kamu nih!" pinta Juliana.
__ADS_1
"Mah, aku males ah ini masih pagi tau! Aku lemes pengen tiduran dulu!" ucap Revi menolak.
"Hey sayang, jangan males dong! Kamu ikut ya sama nak Charlie sekarang, anggap aja ini sebagai pengganti karena kemarin kamu gak jadi pergi ke rumah nak Charlie bareng sama mama! Kamu gak lupa kan soal itu sayang?" ucap Juliana.
"Iya mah iya aku mau..." ucap Revi terpaksa.
"Nah gitu dong sayang! Yaudah, kamu buruan gih ganti baju sana cepat-cepat! Gak perlu mandi atau dandan, nak Charlie juga udah suka kok sama kamu sayang! Ya kan nak Charlie?" ujar Juliana.
"Ah iya tante, benar sekali! Revi itu kan memang sudah cantik dari sananya, jadi gak perlu pakai makeup juga tetap cantik kok!" jawab Charlie.
Revi hanya diam memalingkan wajahnya, jujur kali ini ia tidak merasa senang sama sekali walau dirinya dipuji oleh pria tersebut, padahal biasanya jika Muzaki memujinya pasti ia akan salting atau paling tidak wajahnya memerah.
"Kalo gitu aku ke kamar dulu ya mah, kak Charlie? Tunggu sebentar!" ucap Revi ketus.
"Iya Rev," ucap Juliana tersenyum.
Setelahnya, Revi pun beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamar untuk berganti pakaian. Sedangkan mamanya tetap disana menemani Charlie menanti Revi selesai berganti pakaian.
Saat di kamar, gadis itu masih tetap cemberut dan melampiaskan kekesalannya dengan cara memukul kursi dan meja yang ada disana, ia bingung pada mamanya karena selalu saja menjodohkan ia dengan Charlie, padahal sudah berkali-kali ia bilang kalau ia tidak tertarik sama sekali pada sosok Charlie.
"Huft, sampai kapan sih aku harus terus turutin kemauan mama kayak gini? Aku kan gak suka sama kak Charlie, aku juga harus jaga perasaan kak Zaki pacar aku! Kalo begini terus, lama-lama pasti kak Zaki juga cemburu!" gumam Revi.
Ceklek...
Tiba-tiba saja, pintu kamarnya terbuka dan membuat Revi terkejut. Ia menoleh lalu mendapati sosok papanya disana, seketika rasa kagetnya hilang karena yang datang ternyata papanya.
"Revi..." ucap Marcel memanggil putrinya.
"Eh papa?" ujar Revi sedikit kaget.
"Maaf ya sayang! Tadi pintu kamar kamu gak tertutup rapat, makanya papa masuk gitu aja tanpa ketuk dulu!" ucap Marcel.
"Ah iya, gapapa kok pah. Ada apa papa masuk ke kamar aku?" tanya Revi.
"Gak ada kok, papa cuma mau bicara sebentar sama kamu! Ini soal kelakuan mama kamu yang masih belum bisa berubah itu, maaf ya sayang karena papa gagal buat rubah sikap mama kamu! Papa juga bingung harus gimana lagi sayang, mama kamu itu terlalu sulit buat dibujuk!" ucap Marcel.
"Ohh itu mah bukan salah papa dong! Udah lah pah, papa gak perlu kayak gitu! Aku yakin kok lambat laun pasti mama bisa terima kak Zaki dan berhenti jodohin aku sama kak Charlie, mungkin cuma butuh waktu aja!" ucap Revi tersenyum.
"Aduh, kamu ini emang positif sekali ya orangnya! Papa bangga sama kamu sayang!" ucap Marcel.
"Ah biasa aja kok pah!" ucap Revi malu-malu.
Marcel menggerakkan tangannya, menarik tengkuk Revi dan mengecup kening putrinya itu dengan lembut, membuat gadis itu terpejam menikmati kecupan hangat dari papanya.
•
•
Disisi lain, Laras amat terkejut karena saat ia hendak keluar rumah untuk pergi kuliah, tiba-tiba saja di depan sudah ada sosok Zian yang berdiri menunggunya sambil tersenyum.
"Loh, kak Zian? Kamu ngapain disini? Terus kok diem aja gan ngetuk pintu?" tanya Laras bingung.
"Hai Ras, selamat pagi! Apa kabar kamu cantik? Kamu makin cantik aja sih, gak salah aku suka sama kamu sayang!" ucap Zian.
Pria itu menggerakkan tangannya hendak menyentuh pipi Laras, akan tetapi Laras dengan cepat langsung menepis tangan Zian karena ia sedang tidak mau disentuh oleh pria tersebut.
"Maaf kak! Tolong jangan sentuh aku! Permisi, aku mau ke kampus dulu!" ucap Laras.
"Eh tunggu dong sayang! Iya deh aku gak akan sentuh kamu, tapi kita ke kampusnya barengan ya? Aku antar kamu pakai mobil aku, supaya kamu gak capek dan kepanasan sayang! Please ya, kali ini aja aku mohon sama kamu!" ucap Zian memelas.
"Gak mau, biar aku naik ojek aja! Lagian aku udah pesan kok ojeknya, kak Zian pulang aja sana! Apa kak Zian lupa sama permintaan aku waktu itu? Aku kan udah minta supaya kak Zian menjauh dari aku, kenapa kak Zian balik lagi?!" ucap Laras kesal.
Zian hanya tersenyum manis memandangi wajah gadisnya, ia memang sudah meyakini dirinya bahwa ia akan bersabar untuk bisa mendapatkan hati Laras si gadis yang dicintainya.
...~Bersambung~...
^^^JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!^^^
__ADS_1