Angkasa

Angkasa
Revi bertemu Suci


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...×××...


#ANGKASA EPS. 218


...•...


...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Radian masih tampak emosi pada istrinya setelah kejadian siang tadi sewaktu di kampus, ia bahkan tak mau melirik istrinya yang sedari tadi terus berusaha membujuknya, untuk sekedar bicara pun Radian tak mau karena rasa kesalnya belum hilang.


Oni pun semakin gusar dan bingung, ia tak tahu harus melakukan apa lagi untuk bisa membujuk suaminya agar tidak ngambek lagi. Berbagai cara sudah ia gunakan, termasuk merayu dan mengenakan pakaian seksi di depan Radian, namun pria itu sepertinya benar-benar emosi.


"Mas, kamu mau sampai kapan sih diem terus kayak gini? Aku capek loh dicuekin mulu sama kamu, udah dong mas ayo bicara!" ucap Oni.


Radian hanya terdiam, ia berpura-pura sibuk dengan komputernya dan tak perduli pada Oni yang berada di belakangnya saat ini tengah berusaha membujuknya.


"Ayolah mas! Kamu boleh lakuin apa aja deh ke aku malam ini, gimana?" bujuk Oni.


Radian sama sekali tak menggubris ucapan Oni yang menggodanya itu, walau sebenarnya terbesit keinginan untuk segera melahap tubuh seksi istrinya yang sedari tadi dipamerkan padanya, namun rasa gengsi sekaligus emosi membuat ia tetap bertahan dan tak mau tergiur rayuan Oni.


"Mas, aku janji bakal lakuin apapun yang kamu minta deh! Terus aku juga gak dekat-dekat sama Muzaki atau laki-laki lain lagi ke depannya, tolong dong kamu jangan marah kayak gini!" ucap Oni merengek sembari memegang lengan Radian.


Saat disentuh oleh Oni, pria itu merasakan sebuah sensasi yang timbul di tubuhnya dan semakin sulit ia untuk mengendalikan dirinya.


"Aduh! Ini Oni kapan berhentinya sih? Dia gak tahu apa gue susah payah tahan diri?" batin Radian.


"Mas, aku minta maaf! Lagian tadi siang juga aku gak ada maksud buat deketin Muzaki kok, kan aku cuma pengen ketemu sama Revi. Ayolah mas Radian yang tampan, jangan marah terus ya sama aku! Kasihan nih calon anak kita, dia sedih banget daritadi karena dicuekin papanya!" ucap Oni.


"Cukup Oni!" bentak Radian sembari mencengkram tangan sang istri yang berada di pundaknya, ia berdiri lalu menatap Oni dengan tatapan tajam.


Oni justru tersenyum merasa senang ketika melihat Radian akhirnya mau berbicara dengannya, setelah sekian lama ia mengira kalau kali ini ia telah berhasil membujuk suaminya itu.


"Kamu udah mau maafin aku mas?" tanya Oni.


Bukannya menjawab, justru Radian mendorong tubuh Oni hingga terpentok ke dinding dan menaruh kedua tangan wanita itu di atas kepala sembari ia cengkram sekuat tenaga, Oni langsung dibuat jantungan oleh perlakuan suaminya yang cukup kasar itu, bisa diprediksi olehnya apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini.


"Mas, aku udah duga. Mana mungkin kamu bisa tahan sama godaan dari aku, ya kan?" ucap Oni.


"Diam! Kamu udah bangkitkan gairah aku sayang, sekarang kamu harus terima konsekuensinya! Aku gak akan biarin kamu istirahat walau semenit, malam ini sampai besok kamu harus terus puasin aku!" tegas Radian.


"Hah? Kamu udah gila apa gimana sih, mas? Masa iya dari malam sampai pagi? Yang ada aku bisa pingsan loh mas, terus anak kita nanti bisa terluka!" ucap Oni menolak keinginan Radian.


"Aku gak perduli! Suruh siapa kamu godain aku kayak tadi, ha!" bentak Radian.


"I-i-iya emang itu salah aku, tapi kan itu aku lakukan juga karena kamu cuekin aku. Lagian kamu sih, marah sampe segitunya!" cibir Oni.


"Kok jadi nyalahin aku? Padahal kamu sendiri yang tadi dekat-dekat sama Muzaki!" ujar Radian.


"Kan aku udah bilang mas, aku begitu karena aku pengen ketemu Revi, itu aja!" ucap Oni.


"Halah aku gak perduli!" Radian yang sudah terlanjur bergairah, langsung melumatt bibir Oni tanpa ampun sampai wanita itu kesulitan untuk bernafas dan meladeni permainan mulutnya.




Sementara itu, Laras masih bersama Zaenal si dosen tampan yang ia idam-idamkan itu. Ya mereka baru saja selesai berkeliling kota Jakarta menikmati keindahan sore hari disana serta berbelanja sebentar, Laras pun tampak senang karena hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuknya.


"Pak, makasih banyak ya udah mau temenin aku jalan-jalan sore ini! Aku senang banget deh, apalagi sampai dibeliin barang begini!" ucap Laras.


"Buat apa kamu terimakasih Laras? Oh ya, kenapa sih kamu masih aja panggil saya ini dengan sebutan pak? Kalau lagi diluar kayak gini, gak perlu terlalu formal lah! Kamu panggil saja Zaenal gitu, saya juga masih muda kok!" ucap Zaenal.


"I-i-iya pak, maksudnya Zaenal. Aku masih belum terbiasa buat panggil kamu dengan sebutan begitu, karena aku takut gak sopan aja. Secara umur kamu kan lebih tua dari aku," ucap Laras.

__ADS_1


"Iya sih, tapi gapapa lah. Kita ini kan temenan kalo di luar kampus," ucap Zaenal tersenyum.


Laras mengangguk kemudian menundukkan kepalanya, namun Zaenal dengan cepat menarik dagu gadis itu ke atas.


"Jangan nunduk! Kamu itu cantik Laras, saya suka lihat wajah kamu itu!" ucap Zaenal.


Seketika kedua pipi Laras langsung memerah setelah Zaenal memujinya, namun ia senang karena pria yang ia sukai itu telah menunjukkan sikap bahwa dia menyukainya balik.


"Kenapa wajah kamu merah?" goda Zaenal.


"Ah eee a-aku..." Laras terlihat gugup saat hendak menjawab pertanyaan Zaenal, tentu saja ia malu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Hahaha, kamu lucu banget sih Laras! Saya suka sekali berteman dengan gadis cantik seperti kamu, jadi saya sekarang tidak hanya punya teman cowok tetapi juga cewek!" ucap Zaenal tersenyum.


"I-i-iya, tapi kamu ini sekarang mau bawa aku kemana ya?" tanya Laras bingung.


Zaenal melepaskan tangannya dari wajah Laras, lalu beralih menggenggam telapak tangan gadis itu dengan erat.


"Kamu maunya kemana?" ucap Zaenal.


"Aku gak tahu, kan daritadi juga aku ngikut aja sama kamu. Tapi kayaknya mending kita pulang aja deh, aku takut dicariin sama mama. Boleh kan pak? Eh maksudnya Zaenal," ucap Laras.


"Ya boleh dong cantik, aku anterin ya kamu sampai ke rumah? Sekalian aku juga mau tahu dimana rumah kamu, jadi besok-besok kalau aku mau ajak kamu pergi, aku bisa jemput kamu di rumah!" ucap Zaenal mengelus punggung tangan gadis itu.


"Oke! Kalo gitu dari sini nanti kamu belok ke kiri ya!" ucap Laras menunjukkan jalan.


"Iya, eh ya kalau nanti aku sekalian ketemu sama mama kamu boleh gak? Itung-itung silaturahmi lah, kan kalau aku kenal sama mama kamu itu bisa lebih baik!" ucap Zaenal.


"Kamu yakin mau ketemu mama?" tanya Laras.


"Ya iya dong, emang kenapa sih? Kamu kok kayak gak suka gitu kalau aku mau ketemu sama mama kamu?" ucap Zaenal bingung.


"Bukan gak suka, aku cuma takut aja kalau mama nanti banyak tanya ke kamu. Biasalah mama aku tuh suka kepo kalau aku bawa laki-laki ke rumah, takutnya juga kamu malah risih!" ujar Laras.


"Enggak lah, justru aku suka ditanya-tanya kayak gitu. Nanti aku bisa bilang ke mama kamu, kalau aku pengen jadi teman hidup kamu!" ucap Zaenal.


"Yaudah, terserah kamu aja!" ucap Laras.


Zaenal pun tersenyum dan mengusap puncak kepala gadis di sampingnya, membuat Laras tak bisa lagi menutupi rasa malunya di depan Zaenal dan kini entah sudah seperti apa rupa wajahnya yang dipenuhi warna merah itu.


"Kamu kalau lagi malu-malu gini makin cantik deh, aku suka!" ucap Zaenal tersenyum.


Zaenal juga menghentikan sejenak mobilnya ke pinggir untuk fokus pada wajah Laras, membuat gadis itu semakin merasa gugup.


Deg!!


"Duh, kira-kira pak Zaenal mau ngapain ya? Mana dia makin dekat lagi!" batin Laras.


Zaenal terus mendekat sambil mengusap bibir mungil Laras yang belum pernah disentuh oleh siapapun itu.


"Kamu cantik, Laras!" puji Zaenal lembut.




TOK TOK TOK...


"Assalamualaikum, mah ini Zaki. Aku udah pulang mah, bukain pintunya dong!" teriak Muzaki.


Tak lama kemudian, pintu terbuka.


Ceklek...


"Waalaikumsallam, eh Zak—" Muzaki syok begitu melihat sosok wanita yang muncul dari balik pintu dan menatap ke arahnya.


Begitu juga dengan wanita itu, ia tak mengira jika Muzaki datang bersama kekasihnya.


"Suci? Kamu ngapain di rumah aku?" tanya Muzaki pada wanita yang sedang ia tatap saat ini.


"Eee aku lagi main aja, kan kamu tahu sendiri kalau aku dan mama kamu tuh lumayan dekat. Lagian kita juga udah seringkali ketemu kan, kenapa kamu kayak kaget gitu?" jawab Suci sambil tersenyum.


"Iya aku tahu, cuma kan gak biasanya kamu datang pas waktu aku gak ada di rumah. Kamu udah lama disini?" ucap Muzaki heran.


"Iya nih, lumayan lah. Eh yaudah masuk aja yuk! Ini pacar kamu kan Muz?" ucap Suci melebarkan pintu sembari melirik ke arah Revi sok akrab.

__ADS_1


"Benar! Dia Revi, pacarku!" jawab Muzaki.


"Hai! Aku Revi...." Revi mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan ke arah Suci.


"Hai! Aku Suci, salam kenal ya!" ucap Suci.


Mereka saling berjabat tangan dan tersenyum satu sama lain, sedangkan Muzaki tampak bingung khawatir kalau Suci mengatakan hal yang tidak-tidak pada Revi.


"Yaudah, ayo kita pada masuk aja ke dalam! Muz, pacar kamu diajak dong masuk supaya bisa ketemu mama kamu di dalam! Mama kamu pasti senang deh ada pacar kamu disini, ya kan Muz?" ucap Suci tersenyum manis.


"Iya, ayo Rev kita masuk ke dalam yuk!" ucap Muzaki mengajak Revi masuk.


Revi hanya mengangguk pelan, kemudian melangkah masuk bersamaan dengan Muzaki serta Suci.


"Sialan nih cewek! Gue udah susah-susah masak bareng tante Stevi buat nyambut Muzaki, eh malah Muzaki datangnya bareng sama dia!" batin Suci.


Saat mereka tiba di ruang tamu, Stevi yang baru selesai menyiapkan makanan muncul dan melihat putranya yang sudah pulang bersama sang kekasih di depan sana.


"Eh Zaki, kamu udah pulang sayang? Sini sini masuk kita duduk bareng!" ujar Stevi.


"Iya mah, assalamualaikum...." Muzaki mendekat dan mencium tangan mamanya sembari mengucap salam.


"Waalaikumsallam," jawab Stevi pelan.


"Nah, ini ada Revi mah. Dia katanya mau ketemu sama mama, supaya bisa kenal lebih dekat dengan mama!" ucap Muzaki menoleh ke arah Revi yang berada di sampingnya.


"Halo tante!" Revi menyapa Stevi dan hendak mencium tangan wanita itu.


"Ya halo!" ucap Stevi ketus dan tak mau berlama-lama sentuhan tangan dengan Revi.


Suci tersenyum smirk saat melihat reaksi Stevi saat bertemu Revi, ia senang karena sepertinya Stevi tidak menyukai kekasih Muzaki itu.


"Nak Suci, kamu mau kan bantu mama siapin makanan buat Muzaki?" tanya Stevi pada Suci.


"Ah mau dong tante! Saya kan datang kesini emang niatnya mau bantu tante, tadi kita juga udah masak bareng. Tinggal siapin makan terus waktunya makan bareng deh," jawab Suci sambil tersenyum.


"Aduh! Kamu itu emang wanita yang baik ya sayang, makasih ya udah mau bantu tante!" ucap Stevi memuji Suci.


"Sama-sama tante," ucap Suci.


"Yaudah, yuk kita ke meja makan sayang! Zaki, kamu nanti nyusul aja ya kalau udah siap!" ucap Stevi menggandeng tangan Suci.


"I-i-iya mah," ucap Muzaki gugup.


Stevi dan Suci pun pergi dari sana menuju meja makan, sedangkan Muzaki bersama gadisnya tetap disana. Muzaki menoleh ke arah Revi dan terlihat kalau gadis itu tengah bersedih.


"Rev, kamu jangan sedih ya! Yang tadi itu mantan aku kok, kita udah gak ada apa-apa," ucap Muzaki.


"Kamu gak perlu khawatir, kak! Aku gak sedih kok lihat mama kamu lebih akrab sama mantan kamu, lagian wajar aja mama kamu begitu, kan mama kamu udah lebih lama kenal sama mantan kamu itu!" ucap Revi sambil tersenyum tipis.


"Syukurlah kalau kamu ngerti! Sekarang kamu mau tunggu disini dulu, atau gimana? Soalnya aku pengen ke kamar, ganti baju sekaligus mandi. Apa kamu mau susul mama dan Suci disana?" tanya Muzaki.


"Eee kayaknya aku coba ke meja makan deh, siapa tahu dengan begitu mama kamu bisa terima aku!" jawab Revi.


"Yaudah, kamu semangat ya sayang! Aku yakin kamu pasti bisa kok yakinin mama!" ucap Muzaki.


"Iya kak, untuk memperjuangkan cinta kan emang harus semangat!" ucap Revi mengangguk sambil tersenyum.


"Bagus itu!" ucap Muzaki singkat.


Muzaki merengkuh pinggang Revi dan mengecup kening gadis itu sekilas.


Cupp!


"Aku ke kamar dulu ya? Aku gak lama kok, nanti begitu selesai pasti aku langsung turun dan temuin kamu lagi!" ucap Muzaki.


"Tenang aja kak! Aku juga gak kenapa-napa kok, doain ya supaya mama kamu mau terima aku dan bolehin aku bantu mama kamu itu buat siapin makanan!" ucap Revi.


"Pasti dong sayang! Aku kan juga pengen lihat kamu akrab sama mama, itu keinginan setiap lelaki!" ucap Muzaki tersenyum.


"Yaudah, sana gih kamu ke kamar!" ujar Revi.


"Oke sayang! Sebentar ya!" ucap Muzaki.


Revi mengangguk pelan, lalu Muzaki berbalik dan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2