
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kanπ...
...ΓΓΓ...
#ANGKASA EPS. 220
...β’...
...SELAMAT MEMBACA...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Revi keluar kamar dan turun ke bawah menuruni tangga untuk menghampiri kedua orangtuanya, seperti biasa kali ini ia pun akan berpamitan pada mereka karena ia harus segera pergi kuliah.
Gadis itu sudah tampak rapih dan wangi, keceriaan terpampang di wajahnya saat ia sedang berjalan mendekati papa mamanya yang berada di meja makan tengah menikmati sarapan bersama.
Revi sebenarnya sempat kepikiran dengan ucapan Suci kemarin saat ia selesai makan bersama Muzaki di rumah calon mertuanya itu, apalagi terdengar jelas kalau Suci memang masih menginginkan Muzaki.
Namun, keyakinan Revi terhadap Muzaki membuat ia berhasil melupakan semua perkataan Suci begitu saja dan tak mau terlalu ambil pusing, karena ia tahu bahwa Muzaki tak mungkin berkhianat darinya lalu kembali bersama Suci.
"Pagi mah, pagi pah!" Revi menyapa kedua orangtuanya sembari berdiri di dekat mereka.
"Eh halo sayang, pagi juga! Sini sini duduk, kita sarapan bareng yuk!" ucap Marcel.
"Iya pah, makasih!" ucap Revi tersenyum.
Gadis itu pun menarik kursi, lalu duduk bersama papa mamanya disana. Ia mengambil selembar roti tawar sebagai sarapannya pagi hari ini, yang tentunya membuat Marcel heran.
"Kamu cuma sarapan pake roti sayang?" tanya Marcel pada putrinya.
"Iya pah, aku bosan makan nasi terus. Gak ada salahnya kan pah kalau sekali-sekali aku makan roti kayak gini?" ucap Revi.
"Ya enggak dong, papa cuma heran aja sama kamu. Soalnya biasanya kan kamu selalu makan banyak waktu sarapan," ujar Marcel.
"Ahaha papa bisa aja..."
Juliana yang sedari tadi terdiam, kini mulai angkat bicara setelah meminum air putih miliknya.
"Revi!" ucapnya memanggil sang putri.
"Ah iya mah, kenapa?" tanya Revi penasaran.
"Gimana soal hubungan kamu dengan Muzaki? Apa kamu sudah berhasil ambil hati mamanya?" Revi tampak heran ketika Juliana tiba-tiba bertanya seperti itu padanya.
Seingat Revi, mamanya itu tak pernah suka membahas soal hubungannya dengan Muzaki. Tapi kali ini berbeda, justru sang mama lah yang lebih dulu menanyakan perihal hubungan ia dan juga Muzaki.
Revi menjawab dengan senang hati, "Alhamdulillah mah semuanya lancar! Perlahan-lahan aku udah mulai bisa luluhin hati tante Stevi kok," kata Revi.
"Ya baguslah! Asalkan kamu bahagia, mama pasti tetap dukung kamu kok!" ucap Juliana.
"Loh mah, kenapa mama tiba-tiba jadi berubah kayak gini ya? Bukannya sebelumnya mama gak suka dengan hubungan aku sama kak Zaki? Kok sekarang mama jadi dukung aku sih?" tanya Revi.
"Ya wajarlah Rev. Semalam mama kamu baru dapat kabar dari temannya, kalau ternyata perusahaan papanya Charlie itu sudah bangkrut dari jauh-jauh hari. Jadi, ya mama kamu gak ada pilihan lain selain menyetujui hubungan kamu sama Muzaki. Iya kan mama?" serobot Marcel.
"Apa sih papa ini? Revi kan tanyanya sama mama, kenapa jadi papa yang jawab!" ujar Juliana emosi.
"Sabar mama! Papa ini kan cuma bantu jawab, gak ada salahnya dong? Lagian semua yang papa bilang tadi itu benar kok, mama sendiri kan yang kasih tahu papa semalam!" ucap Marcel.
Juliana memalingkan wajahnya kesal dengan ucapan sang suami, sedangkan Revi masih menganga tak percaya.
"Pah, itu semuanya benar?" tanya Revi.
"Iya sayang, kalau gak percaya tanya aja ke mama kamu tuh!" jawab Marcel.
Revi langsung mengalihkan pandangan ke wajah mamanya dan bertanya, "Beneran mah?"
"Huft, iya benar."
"Aku gak nyangka deh, kalo perusahaan papanya Charlie udah bangkrut. Terus mobil yang sebelumnya di pakai Charlie buat anterin aku ke kampus, itu mobil siapa dong?" ujar Revi.
"Nah, papa juga curiga tuh kalo mobil itu boleh minjem di tempat lain!" ucap Marcel.
"Masa sih pah?"
"Ya enggak tahu, kan baru kecurigaan papa aja. Yaudah lah gausah dipikirin, yang penting sekarang kamu bisa fokus sama hubungan kamu dan Muzaki. Karena mama kamu gak akan jodohin kamu lagi sama si Charlie," ucap Marcel.
"Iya pah," Revi mengangguk tersenyum.
__ADS_1
β’
β’
Disisi lain, Suci terpaksa berhenti di pinggir jalan saat ia hendak pergi ke rumah Muzaki. Mobil yang ia tumpangi habis bensin, dan di sekitar sana tak ada penjual bensin eceran ataupun pom yang bisa digunakan Suci untuk membeli bensin.
Gadis itu terlihat panik, ia khawatir kejadian serupa akan menimpanya lagi kali ini, karena kebetulan suasana di jalan raya itu cukup sepi walau masih ada beberapa motor mobil berlalu lalang.
Ia turun dari mobil dan mencari cara untuk bisa membeli bensin, sambil menggaruk kepalanya ia pun berpikir keras dengan bibir yang terus cemberut karena kesal dengan kondisinya saat ini.
"Duh, ini gue harus gimana ya? Gak ada pom bensin lagi dekat-dekat sini," gumamnya bingung.
Disaat ia tengah asyik berpikir keras, tiba-tiba saja sebuah motor berhenti tepat di sampingnya dan membunyikan klakson yang membuatnya kaget.
Tiiinnnn...
Suci yang kaget pun spontan bergeser menjauh sembari memegangi dadanya, bisa dirasakan oleh tangannya bahwa saat ini jantungnya berdetak cukup kencang akibat rasa kagetnya.
"Ih dasar gak jelas! Lu siapa sih ha? Ngagetin gue aja!" umpatnya kesal.
Pemotor itu justru terkekeh, sehingga Suci bertambah kesal dan menggelengkan kepalanya, wanita itu mulai merasa takut dan berfikir bahwa pemotor di sampingnya adalah penjahat.
"Lu orang jahat ya?" tebak Suci.
"Iya, gue orang jahat. Gue mau ngerampok lu, sekarang serahin kunci mobil lu atau gue bakal gorok leher lu!" ujar pemotor itu.
"Hah? Ih gak mau! Tolong... tolong...!!" gadis itu langsung berteriak minta tolong.
Namun, si pemotor turun dari motornya dan segera membungkam mulut Suci dengan telapak tangannya agar gadis itu berhenti berteriak.
"Sssttt! Jangan teriak! Ini gue Wisnu, temannya Muzaki mantan lu!" ucap pemotor itu.
"Mmppphhh mmppphhh..." Suci terus memukul-mukul punggung tangan si pemotor yang menutupi mulutnya, ia juga berontak agar bisa lepas dari pemotor tersebut.
"Iya iya, gue lepasin nih!" ucap si pemotor.
Pemotor itu pun membuka mulut Suci, gadis itu langsung reflek menjauh dan mengambil nafas panjang karena sedari tadi ia sulit bernafas.
"Lu beneran Wisnu? Bukan penjahat atau perampok?" tanya Suci penasaran.
"Yaelah masih takut aja lu!" Wisnu tersenyum lalu melepas helm dari kepalanya dan menunjukkan wajahnya pada Suci.
"Gimana? Udah percaya kan?" ucap Wisnu.
"I-i-iya, gue percaya. Lagian lu kenapa sih tadi pake segala ngaku-ngaku jadi penjahat? Udah tahu gue ini trauma pernah dirampok, lu malah kayak gitu!" ucap Suci cemberut.
"Gapapa, lu lagi mau kemana nih?" tanya Suci.
"Kampus. Lu sendiri kenapa ada disini? Kok mobilnya gak dikendarain sih?" ujar Wisnu.
"Eee iya nih, mobil gue tuh abis bensin. Ini gue lagi bingung mau beli bensin dimana, eh malah ketemu sama lu!" ucap Suci.
"Ya gapapa dong, justru bagus ketemu gue!" ucap Wisnu tersenyum.
"Kenapa bagus coba?" tanya Suci bingung.
"Ya karena gue bisa bantuin lu, anggap aja gue ini malaikat penyelamat buat lu! Hahaha..." jawab Wisnu sambil tertawa kecil.
"Oh iya ya, emang kamu mau bantu aku nih?" tanya Suci.
"Mau dong! Yakali aku gak mau bantu cewek secantik kamu!" ujar Wisnu sambil mencolek pipi gadis itu dengan telunjuknya.
"Dih malah gombal. Udah cepet lu beliin bensin buat gue, supaya gue bisa cabut dari sini!" ucap Suci.
"Iya iya, gue beliin kok."
Wisnu pun tersenyum sambil mencubit pipi Suci sekali lagi, barulah pria itu kembali ke motornya dan pergi membeli bensin untuk mobil Suci, sedangkan gadis itu tetap menunggu disana.
β’
β’
Sementara itu, Laras menghampiri Zaenal ke dekat mobilnya sambil tersenyum. Gadis itu merengkuh pinggang Zaenal dan membenamkan wajahnya di dada bidang dosen tampan itu, sedangkan Zaenal juga mengusap-usap puncak kepala Laras dan mengecup kening Laras dengan lembut.
"Pagi pak! Aku seneng banget deh dijemput sama bapak buat ke kampus!" ucap Laras tersenyum.
"Hey, mulai bandel lagi ya kamu! Sudah saya bilang jangan panggil pak kalau lagi di luar kampus, kenapa masih ngeyel?" ujar Zaenal menangkup wajah Laras dan sedikit menekannya.
"Iya Zaenal sayang, maafin aku ya!" ucap Laras.
"Nah gitu kan lebih enak didengar! Lagian kamu juga kenapa harus senang dijemput sama saya? Kan wajar aja seorang pacar jemput pacarnya di rumah, supaya kita bisa berangkat bareng ke kampus pagi ini!" ucap Zaenal.
"Ya iya sih, tapi aku gak ngira aja kalau kamu mau jemput aku disini. Yaudah, kita langsung berangkat yuk sayang!" ucap Laras.
"Eee nanti dulu dong! Aku kan belum ketemu dan pamitan sama mama kamu," ucap Zaenal.
__ADS_1
"Oh kamu mau ketemu mama? Tapi, tadi sih mama lagi masak buat siang. Udah kali ini gausah ketemu mama dulu, nanti pulangnya aja baru kamu bisa ketemu sama mamaku ya!" ucap Laras.
"Yah gak asik dong, kan aku pengen sapa mama kamu sekalian kasih ini buat mama kamu itu," ucap Zaenal sembari menunjukkan sesuatu.
"Hah? Apa itu sayang?" tanya Laras penasaran.
"Ini kue yang aku beli barusan, rencananya sih supaya mama kamu bisa terima aku!" jelas Zaenal.
"Ya ampun sayang! Kamu gak perlu lah pakai yang begitu segala! Walaupun kamu gak bawain kue buat mama, pasti mama juga suka kok sama kamu dan bisa terima kamu! Kemarin itu mama cuek karena baru pertama kali aja," ujar Laras.
"Gapapa lah sayang, sekali-kali. Oh ya, aku mau tanya deh makanan kesukaan mama kamu itu apa sih?" ujar Zaenal bertanya pada Laras.
"Umm, mama mah apa aja juga dimakan kok, apalagi kalo gratis. Cuma biasanya mama paling suka sama kue cubit, soalnya mama sering beli itu tiap Minggu!" jawab Laras.
"Oalah, yaudah deh nanti siang aku cariin kue cubit aja buat mama kamu. Nah yang ini kue keju, aku kasih ke kamu aja ya? Biar kamu bisa makan di kampus nanti," ucap Zaenal.
"Wah boleh tuh sayang, makasih ya!" ucap Laras.
Zaenal tersenyum lalu memeluk gadisnya erat, senyumnya seketika hilang ketika matanya mendapati sosok lelaki tengah berdiri di depannya.
"Kamu mau apa?" tanya Zaenal pada lelaki itu.
Sontak Laras terkejut ketika Zaenal mengatakan itu, ia mendongak menatap wajah Zaenal penuh penasaran.
"Kamu bicara ke aku? Tapi kok mata kamu gak lirik ke aku sih sayang?" ucap Laras.
"Eh bukan bukan, aku tuh tanya ke dia!" ucap Zaenal sambil menunjuk ke arah pria di depannya.
Laras pun menoleh ke belakang mencari tahu siapa yang dimaksud kekasihnya, ya gadis itu mendapati sosok Zian tengah berdiri disana menghadap ke arahnya juga Zaenal.
"Kak Zian?" Laras melepas pelukannya dari Zaenal, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Zian, begitu juga dengan Zaenal.
"Kamu ngapain masih disini?" tanya Laras ketus.
"Gak ada kok, aku cuma ngeliatin kamu pacaran sama dosen di kampus kita. Rasanya agak gimana gitu, bisa-bisanya aku kalah saing sama seorang dosen ya!" ujar Zian geleng-geleng kepala.
"Maksud kamu bicara begitu apa ya? Emang kamu suka juga sama Laras?" ujar Zaenal.
"Bisa dibilang begitu pak, saya emang cinta sama Laras. Tapi sayangnya bapak muncul dan mengacaukan semuanya," ucap Zian.
"Mengacaukan gimana?" tanya Zaenal.
"Eee udah udah, kamu gausah dengerin dia ya! Mending sekarang kita pergi!" pinta Laras.
"Oke!" ucap Zaenal setuju.
β’
β’
Radian dan Oni tiba di kampus, pria itu hanya akan mengantar istrinya kali ini karena kebetulan Radian tidak sedang ada kelas hari ini.
Oni turun dari motor suaminya, melepas helm dan menyerahkannya pada Radian sembari membenarkan rambutnya yang berantakan sehabis mengenakan helm.
"Ini mas, kamu ngojek lagi aja sana! Aku kuliah dulu ya?" ucap Oni tersenyum.
"Heh! Kamu kok udah lepas helm aja sih? Harusnya kamu tunggu aku dong, biar aku yang lepasin helm di kepala kamu!" tegur Radian.
"Apaan sih mas? Lebay deh kamu!" cibir Oni.
"Ah aku gak mau tau, pakai lagi tuh helm di kepala kamu!" tegas Radian.
"Ih ribet mas! Udah ah aku mau masuk ke kampus, nih aku taruh disini aja ya helmnya?" ujar Oni.
"Eh eh eh tunggu dulu!" Radian bergerak turun dari motor dan mencekal lengan Oni.
"Apa lagi sih, mas?" tanya Oni ketus.
"Kamu tuh kenapa jadi membangkang kayak gini sih sama aku? Aku suami kamu loh, harusnya kamu nurut sama aku bukan begini!" ujar Radian.
"Mas, aku gak mau ribut disini malu! Lagian bukan maksud aku membangkang dari kamu mas, tapi aku cuma ngerasa kamu itu lebay! Masa iya aku harus pakai ulang helmnya cuma biar bisa dilepasin sama kamu?" ucap Oni.
"Emang kenapa sih? Tinggal pake helmnya lagi apa susahnya coba?" ujar Radian.
"Haish, yaudah iya aku pake lagi nih! Kamu lepasin dulu tangan aku, sakit tau!" ucap Oni.
Radian pun melepas tangan istrinya, "Yaudah cepet pake lagi!" perintahnya pada sang istri.
Oni kembali mengambil helm yang tadi ia letakkan di atas jok motor Radian, lalu memakainya sesuai perintah suaminya.
"Nih, udah kan?" ucap Oni.
"Nah gitu dong! Lain kali kamu jangan lepas helm sendiri oke!" ujar Radian sembari melepas helm dari kepala istrinya.
"Iya iya..."
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...