Angkasa

Angkasa
Datang ya!


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 120


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Revi tanpa sengaja bertemu dengan Radian ketika hendak menuju taman kampus, ya kebetulan saat ini Revi juga sedang sendiri tidak bersama Latifah karena gadis itu tengah ada kelas. Revi pun tampak terkejut dan bingung harus bagaimana caranya menghindar dari pria itu, apalagi saat ini Radian sudah menyadari keberadaannya dan menatapnya.


Ya Radian melangkah maju mendekati Revi sambil tersenyum manis secara perlahan, hal itu membuat Revi makin gugup dan bingung tak tahu harus apa saat ini. Tentu Revi tak ingin dekat-dekat dengan pria yang sudah akan menikah dengan sahabatnya sendiri itu, apalagi Revi tahu kalau Radian pernah memiliki rasa padanya dan mungkin masih.


"Hai Rev! Gak nyangka ya kita ketemu disini, aku seneng banget loh!" ucap Radian tersenyum tipis.


"Eee iya kak, hai juga! Tapi maaf, aku harus pergi sekarang karena aku gak punya banyak waktu buat diem disini! Lagian kak Radian pasti juga ada urusan kan?" ucap Revi gugup.


"Kamu tenang aja! Aku itu gak ada niatan buat ganggu kamu lagi kok, kan kamu tahu sendiri kalau sebentar lagi aku sama Oni bakal menikah. Yakali aku godain cewek lain? Bisa ngamuk dong Oni nanti, gausah panik ya Rev!" ucap Radian.


"Iya kak, aku juga biasa-biasa aja kok. Emang bener aku pengen pergi sekarang, bukan karena aku ketemu kak Radian disini!" ucap Revi.

__ADS_1


"Oh ya? Masa kamu datang ke taman cuma buat numpang lewat sih? Udah lah Rev, kalau kamu pengen tenangin diri atau sekedar duduk-duduk santai yaudah duduk aja! Biar aku yang pergi dari sini buat kamu, lagian aku mah gak ada urusan penting disini kok!" ucap Radian tersenyum.


Revi hanya diam menunduk dengan bibir mengerucut ke samping, sedangkan Radian sangat mengerti kalau Revi merasa risih dengan kehadiran dirinya disana dan ia pun memilih mengalah.


"Yaudah Rev, aku pergi dulu ya? Jangan lupa nanti datang ke nikahan aku dan Oni, undangannya nyusul ya Rev!" ucap Radian.


"Eee emang kapan kak Radian mau nikah sama kak Oni? Kok aku belum dikasih kabar ya sama kak Oni sebelumnya? Terus bukannya sekarang bulan puasa, kak Radian mau nikah di bulan puasa?" tanya Revi.


"Ya Rev, soalnya lebih cepat lebih bagus!" jawab Radian dengan santai sambil tersenyum.


"Ohh, ya Alhamdulillah deh bagus kalo gitu mah! Aku doain semoga pernikahan kak Radian sama kak Oni itu lancar dan gak ada halangan! Terus kalian juga bisa langgeng terus sampai maut memisahkan, tenang aja aku pasti datang kok!" ucap Revi.


"Aamiin, iya Rev makasih ya! Tunggu aja nanti undangan pernikahan kami bakal aku kasih ke kamu secara langsung," ucap Radian tersenyum.


"Iya kak," ucap Revi singkat.


"Eee yaudah Rev, kalo gitu aku mau pergi dulu ya? Salam buat Latifah teman kamu itu, aku mau cari calon istri aku dulu! Nanti kalau ada waktu, kita pasti bisa ketemu lagi!" ucap Radian.


Radian manggut-manggut saja mengiyakan perkataan Revi, lalu barulah ia melangkah pergi dari taman itu meninggalkan Revi untuk mencari Oni. Sebenarnya Radian sangat berat harus pergi dari sana, karena ia ingin sekali berduaan dengan Revi gadis yang sampai saat ini masih ia cintai dan selalu mengganggu pikirannya.


Sementara Revi sendiri juga lanjut berjalan menikmati pemandangan taman itu seorang diri, ia kadang teringat perkataan Radian tadi kalau pria itu akan segera menikah dengan Oni.


"Kenapa aku tiba-tiba jadi sedih gini, ya?" batin Revi.


...β€’β€’β€’...


Disisi lain, Zian yang emosi dan kesal mencegat Muzaki disaat pria itu sedang berjalan di lorong kampus sembari membaca buku. Ya Zian dengan santainya berdiri di depan Muzaki dan menatap wajah pria itu dengan tatapan tajam, kedua tangan Zian bahkan sudah terkepal menandakan kalau ia sangat emosi pada Muzaki saat ini.


Muzaki yang tak tahu menahu masalah apa yang membuat Zian emosi seperti itu, hanya diam saja memandang ke arah Zian dengan wajah santai dan juga penasaran. Kedua pria itu kemudian saling bergerak mendekat dan mulai berbicara untuk menyelesaikan masalah itu, tangan-tangan Zian seperti sudah untuk memukul wajah Muzaki disana.


"Bro, ada apa sih? Kenapa lu cegat gue begini? Gue lagi buru-buru bro, ada urusan yang harus gue urus sekarang ini! Kalau emang gak penting, mending lu minggir aja deh!" ucap Muzaki.

__ADS_1


"Hahaha, bagi gue ini lebih penting bro! Sekali lagi gue peringatin sama lu ya, jangan deketin Laras apalagi bicara berdua sama dia kayak yang lu lakuin di depan tadi! Asal lu tau, gue ini pacarnya Laras dan gue gak suka ngeliat lu begitu!" ucap Zian.


"Ohh, jadi masalah cewek? Udah lu tenang aja, gue gak deketin Laras kok!" ucap Muzaki santai.


"Pala bapak kau gak deketin! Jelas-jelas gue lihat sendiri tadi lu ngobrol berdua sama Laras di depan, itu apa namanya kalo bukan deketin?!" bentak Zian.


"Apaan sih? Kalau yang tadi itu bukan gue yang deketin Laras, tapi dia sendiri kok yang nyamperin gue dan ngobrol sama gue! Lagian lu kalo mau mimpi itu tidur dulu bro, cuma anak kecil yang percaya kalo lu pacarnya Laras! Udah ya, gue harus pergi sekarang!" ucap Muzaki.


Muzaki yang malas meladeni Zian, hendak pergi dari sana menjauhi pria tersebut. Akan tetapi, Zian lagi-lagi mencegat Muzaki dan menahan pundak pria itu sehingga Muzaki tak bisa bergerak.


"Tunggu!" ucap Zian singkat.


"Apa lagi sih?" tanya Muzaki mulai kesal.


Bughh...


Tanpa aba-aba lebih dulu, Zian langsung saja meninju perut Muzaki dengan keras membuat pria yang sedang berpuasa itu meringis kesakitan.


"Awhh, kenapa lu pukul gue?!" ujar Muzaki sembari memegangi perutnya yang sakit.


"Hahaha..." Zian tertawa lepas dan puas lalu menghampiri Muzaki yang tersungkur itu, Zian pun berjongkok menyamai Muzaki dan memegang punggung pria itu.


"Itu pelajaran buat lu, karena lu udah berani sama gue dan mau coba-coba curi perhatian Laras! Gue gak akan biarin lu terus deket sama Laras, karena dia cuma boleh sama gue! Lu ingetin ini cowok wibu, lu gak pantas buat Laras!" ucap Zian.


Muzaki hanya diam sembari melirik sekilas ke arah Zian, ia masih coba menahan rasa sakit yang melilit akibat tinjuan Zian tadi.


Sementara Zian menepuk-nepuk punggung Muzaki sambil tersenyum renyah, lalu ia berdiri kembali dan membenarkan posisi tas di pundaknya kemudian pergi meninggalkan Muzaki tanpa perduli.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2