
...HELO GUYS!...
...WELCOME BACK TO MY STORY!...
..."ANGKASA"...
...\=\=\=...
...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...
...×××...
#ANGKASA EPS. 205
...•...
...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️...
Radian kembali ke kamarnya dengan perasaan lesu bercampur emosi, ia baru saja menemui Zian sahabatnya yang datang ke rumah hanya untuk memakinya dan meminta ia agar tidak dekat-dekat dengan Laras yang notabene adalah gadis incaran Zian selama ini.
Pria itu menutup pintu dengan keras dan menguncinya rapat-rapat, lalu duduk di sofa yang tersedia sembari mengusap wajahnya kasar. Membuat Oni yang sedang rebahan itu merasa heran, ia tak mengerti mengapa suaminya tampak kesal sehabis bertemu dengan Zian.
Akhirnya Oni memutuskan untuk menghampiri suaminya tersebut, ia yang sudah berganti pakaian dan hanya mengenakan tanktop serta hotpants itu duduk di samping Radian sembari menatapnya bingung, ia menggenggam tangan Radian berusaha menenangkan pria itu dari emosinya.
"Mas, kamu kenapa sih kok kesel gitu? Kamu masih kecewa karena tadi kegiatan kita diganggu sama mama? Kamu gak perlu lah kayak gini, kan kita bisa lanjutin sekarang!" bujuk Oni lembut.
Radian melirik ke arah Oni dengan sorotan tajam dan dingin, sontak saja wanita itu kaget dan reflek melepas tangan Radian dari genggamannya.
"Ka-kamu ini kenapa sih, mas? Aku ada salah lagi sama kamu? Sampai kamu jadi marah gini sama aku? Kalau emang iya, bilang aja mas biar aku bisa tahu apa kesalahan aku!" ucap Oni mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Apaan sih? Kamu gak salah apa-apa kok!" jawab Radian singkat dan dingin.
"Ih ya terus kenapa kamu kesel gini dan cuekin aku? Kamu mau apa mas? *****? Yaudah ini aku kasih kok, jangan gitu lah mas Radian ku sayang!" ucap Oni tampak cemas.
Radian justru terkekeh mendengar ucapan Oni.
"Dih, kok kamu malah ketawa? Apanya yang lucu sih mas? Aku lagi khawatir tau, kan gak asik kalo kamu cuekin aku begini!" ucap Oni.
"Iya iya, maaf ya cantik! Aku gak lagi kesel sama kamu atau kecewa karena mama tadi gagalin kegiatan kita kok! Tapi, boleh tuh tadi sarannya buat kasih ***** ke aku! Buka dong bajunya, gak pake dalaman kan?" ujar Radian tersenyum.
"Ish giliran dikasih yang begituan aja langsung senyum! Terus kalo emang bukan kesel sama aku, kamu kenapa dong mas? Ceritalah sama aku, jangan diem begitu!" ujar Oni penasaran.
"Iya iya, tapi ***** nya keluarin dulu dong sayang!" ucap Radian tersenyum.
"Hadeh..."
Oni menghela nafas sembari memutar bola mata karena permintaan Radian, ya memang Radian begitu juga karena dirinya sendiri yang menawarkan, jadi ia tak bisa menyalahkan Radian mesum atau apalah untuk saat ini.
Selanjutnya, Oni pun menaikkan tanktop yang ia kenakan dan memberi akses bagi Radian untuk bermain pada gundukan sintal miliknya itu, namun terlihat kalau Radian tak puas dan ingin Oni melepas saja seluruh pakaiannya.
"Jangan cuma gitu! Kamu buka tanktop nya, terus celana kamu juga! Jadi, aku bisa cerita sambil mainin tubuh kamu deh!" ujar Radian.
"Hah??" Oni menganga lebar mendengarnya, namun mau tidak mau ia terpaksa melakukan apa yang diminta oleh Radian demi membuat suaminya itu ceria kembali.
Oni kini sudah melepas seluruh pakaiannya, ya wanita itu telah resmi telanjang di hadapan Radian.
"Nah gitu dong! Kalo kayak gini, aku kan gak kesal lagi sayang! Tubuh kamu emang selaku bisa bikin aku tenang ya, uhh punyaku langsung keras nih rasanya pengen cepet-cepet masukin punya kamu yang sempit itu! Aneh ya, padahal udah sering aku masukin tapi masih sempit aja!" ujar Radian.
"Mas, udah sekarang kamu ceritain kenapa kamu cemberut gitu tadi!" ucap Oni.
"Oh iya iya..."
Radian pun bercerita mengenai masalahnya dengan Radian pada Oni, ya tentu saja sambil menyedot puttingg milik sang istri dengan kuat seperti bayi yang kelaparan dan tangannya juga ikut meremass serta menusuk-nusuk v milik Oni.
__ADS_1
"Ahhh aahhh teruss mass...!!" desahh Oni yang tak mampu ditahan lagi akibat permainan Radian.
•
•
Sementara itu, Revi dan Latifah baru selesai berbelanja pakaian di mall terdekat. Mereka pun keluar dengan membawa cukup banyak tentengan di tangan mereka.
Lalu, Revi tampak mengirim pesan pada supirnya untuk datang menjemput di depan mall karena mereka sudah bersiap pulang. Mereka duduk sejenak di depan mall sembari menunggu sang supir datang, Latifah tampak mengipas-ngipas kegerahan akibat terlalu lama berdiri.
"Huh capek banget! Ternyata milih baju yang sesuai selera tuh susah banget, ya? Sampe capek gue milihnya tadi!" ucap Latifah.
"Ahaha, sabar lah Fah! Kan kamu sendiri yang mau belanja beli baju ini, jadi ya terima aja nasibnya! By the way ini banyak banget tau, mau buat apaan sih Fah? Kamu mau jualin semuanya lagi, apa gimana?" ujar Revi penasaran.
"Enggak kok, buat stok aja. Jadi kalo misal nanti ada acara penting gue gak bingung lagi harus pake baju apaan, apalagi di kampus kan sering tuh ada acara kek gitu gitu!" ucap Latifah.
"Iya juga sih, tapi ini banyak banget loh!" ujar Revi.
"Gapapa dong, baju gue kan jadi banyak dan gue bisa punya banyak pilihan nanti!" ucap Latifah.
"Ya udah deh terserah kamu aja! Yang penting sahabat aku ini bahagia, tapi masih ada uang kan buat bayar ongkos taksi nanti?" ucap Revi.
"Hah? Kok taksi sih? Emang lu gak mau anterin gue pulang ke rumah gitu?" tanya Latifah kaget.
"Enggak. Makanya aku tanya lagi ke kamu, masih ada sisa uang kan buat bayar taksi?" ucap Revi tersenyum.
"Ih Revi, gue udah gak punya uang lagi! Ini tadi sisa sedikit banget uangnya, tolonglah Rev anterin gue pulang ya kali ini!" ucap Latifah memohon.
"Ahaha ya ampun, kamu lucu banget sih Fah! Aku cuma bercanda kali gak serius, gausah takut gitu lah! Santai aja! Mana mungkin juga aku tega ninggalin kamu sendiri disini? Pasti aku anterin kamu kok sampai rumah!" ujar Revi tertawa kecil.
"Buset deh Rev, lu beneran bikin gue panik tau gak! Hampir aja jantung gue copot denger omongan lu tadi, ah lu mah bercandanya gak asik Rev!" ucap Latifah kesal.
"Eee maaf ya Fah! Niatnya kan aku cuma mau bikin suasana jadi cair aja!" ucap Revi.
"Hehe santai Rev!" ujar Latifah nyengir.
"Ya enggak lah! Yakali gue mau marah sama lu, nanti yang ada gue beneran gak dianterin pulang lagi!" jawab Latifah.
"Ahaha, bagus deh! Eee kamu masih ada yang mau dibeli gak?" ucap Revi.
"Lu nanya gitu emangnya lu mau beliin gue yang lain? Kalau iya sih, gue masih pengen beli tas sama sepatu Rev! Yuk lah langsung gas kita masuk ke dalam!" ucap Latifah kesenangan.
"Yeh aku cuma nanya, kali aja kamu masih pengen beli sesuatu jadinya aku temenin. Bukannya aku mau beliin kamu barang itu!" ucap Revi.
"Ohh hehe gapapa deh, kita pulang aja!" ujar Latifah nyengir.
Tak lama kemudian, supir Revi tiba membawa mobil untuk menjemput majikannya itu. Ia pun turun menghampiri Revi serta Latifah dan membantu mereka membawa barang belanjaan ke dalam mobil.
Revi serta Latifah pun masuk ke mobil, duduk berdampingan di kursi belakang berbincang sejenak sembari menikmati perjalanan itu.
•
•
Disisi lain, Muzaki pulang ke rumah sehabis menyelesaikan kuliahnya. Ia menaruh motor di garasi seperti biasa, barulah pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan rumahnya.
"Assalamualaikum..." Muzaki amat terkejut ketika ia memasuki area rumahnya, karena masih ada Suci disana yang tengah duduk di sofa.
"Waalaikumsallam, eh Zaki. Sini sini duduk!" ucap Suci menepuk sofa sampingnya.
"Ya, kamu belum pulang ke rumah Suci? Emang gak takut dicariin papa mama kamu apa?" tanya Muzaki keheranan sambil duduk perlahan di samping gadis itu.
"Eee iya nih, maaf banget ya Muz! Aku jadi ngerepotin kamu, aku belum berani buat pulang karena aku takut papa bakalan marah besar! Mungkin aku mau pulang, kalau udah ada kabar dari polisi tentang pencurian mobil papa itu!" ucap Suci menunduk.
"Gapapa lah nak Suci, tante justru senang kamu lama tinggal disini. Tante yakin Muzaki juga ngerasain yang sama kok!" ucap Stevi yang muncul tiba-tiba dari dapur.
__ADS_1
"Mah, harusnya mama jangan gitu dong! Biar gimanapun Suci ini punya rumah, kasihan kalau sampai orangtuanya nyariin nanti! Gimana juga semisal papa atau mamanya Suci nuduh kita bawa Suci kabur, dan sembunyiin dia disini? Itu bisa gawat mah masalahnya bakal panjang! Mending sekarang gini aja deh, aku anterin kamu pulang ke rumah dan aku bakal bantu bicara sama papa kamu supaya papa kamu bisa ngerti!" ujar Muzaki.
Suci gugup dan bingung harus apa, ia hanya terus merunduk coba berpikir apakah akan mengikuti saran dari Muzaki atau tidak.
"Muz, tapi aku masih takut sama papa! Besok aja ya aku pulang ke rumahnya?" ucap Suci.
"Gabisa Suci, semakin cepat itu semakin baik! Kita gak ada yang tahu kan gimana perasaan papa mama kamu sekarang? Kalau mereka cemas dan nyariin kamu gimana?" ujar Muzaki.
"Iya sih, tapi kan...."
"Muzaki, kamu jangan paksa Suci buat pulang gitu dong! Biarin dia yang tentuin waktunya kapan dia mau pulang, kamu gak perlu ikut campur apalagi paksa dia buat pulang ke rumah! Kalau Suci udah siap, mama yakin dia bakal pulang kok!" ucap Stevi memotong ucapan Suci dengan tegas.
"Ya yaudah deh, semua terserah mama sama Suci! Tapi, kalau ada sesuatu nanti aku gak mau ikut campur atau disalahin ya!" ucap Muzaki kesal.
Muzaki berdiri kembali, membawa tasnya lalu pergi meninggalkan sang mama dan Suci disana. Pria itu berjalan cepat menuju kamarnya dengan perasaan kesal, sedangkan Suci kembali menunduk bingung ketika melihat amarah Muzaki.
"Sayang, kamu jangan pikirin ucapan Muzaki tadi ya!" ucap Stevi langsung memeluk Suci.
"Gak kok tante, tapi aku rasa yang dibilang Muzaki ada benarnya deh! Bisa aja papa nyariin aku dan lapor polisi kalau aku hilang, gimana nanti kalau tante sama Muzaki ikut terseret?" ucap Suci.
"Ya iya sih, sekarang terserah kamu aja baiknya gimana! Mau kamu tetap tinggal disini gapapa, atau kamu pengen pulang juga gak masalah! Tante dukung kok keputusan kamu, ya tapi ada baiknya kamu kabarin dulu papa kamu! Supaya gak ada salah paham nantinya, jadi orang tua kamu itu bisa tau kalau kamu tinggal disini!" ucap Stevi.
"Iya tante, maaf ya aku jadi ngerepotin! Terus bikin Muzaki marah deh gara-gara aku tetap mau disini!" ucap Suci cemberut.
"Gak kok sayang, kamu gak ngerepotin tante!" Justru tante senang sekali kamu tinggal disini, malah tante berharap kamu bisa selamanya tinggal disini bareng tante sebagai menantu dan istri Muzaki!" ucap Stevi tersenyum.
Suci terdiam, keinginan Stevi memang sama seperti apa yang ia inginkan, yakni kembali bersama Muzaki.
•
•
Keesokan harinya, Zian kembali mendatangi rumah Laras seperti biasa untuk menjemput gadis itu dan mengantarnya ke kampus. Pria itu juga sudah menyiapkan satu buket bunga cantik yang akan diberikan kepada Laras nantinya, ia sangat berharap Laras mau menerimanya kali ini.
Tak berapa lama, Laras keluar dari dalam rumah membuka pintu dan berpapasan dengan Zian ketika hendak bergegas pergi, ia pun terpaksa meladeni pria itu sejenak walau di dalam hatinya ia sangat malas harus bertemu dengan Zian lagi.
"Kak Zian? Mau apa lagi sih kak Zian kesini? Gak bosan-bosan ya?" ujar Laras ketus.
"Sssttt! Gak ada kata bosan bagi aku untuk meyakinkan kamu bahwa aku benar-benar cinta dan tulus sayang sama kamu! Aku yakin gak lama pasti kamu bisa sadar kok!" ucap Zian.
"Kak, tapi aku—"
"Udah deh sayang, kamu diam aja ya! Biarin aku tunjukin ke kamu betapa sayangnya aku sama kamu, karena aku gak bercanda Laras! Oh ya, ini ada bunga yang cantiknya sama kayak kamu! Aku harap kamu mau terima ya, nih pegang!" potong Zian menyodorkan bunga di tangannya pada Laras sambil tersenyum.
"Makasih kak! Bunganya bagus kok, tapi besok jangan kasih kayak gini lagi ya! Minimal makanan lah atau apa kek gitu!" ujar Laras.
"Ohh kamu sukanya dikasih makanan? Ya oke deh, aku besok bakalan bawain makanan setiap kali jemput kamu ya sayang, apapun yang kamu mau pasti aku turutin kok!" ucap Zian.
Laras tersenyum tipis dan menganggukkan kepala, ia meraih bunga dari tangan Zian lalu menciumnya.
"Yaudah kak, aku udah mau telat nih!" ucap Laras menatap wajah Zian.
"Iya, eh mama kamu mana? Kayaknya gak afdol kalo aku gak pamit sama mama kamu dulu, kan aku ini calon menantunya!" ucap Zian.
"Calon mantu? Kamu udah gila ya?" ujar Laras.
"Kok gila sih sayang? Aku beneran loh, kita kan bakal jadi suami-istri di masa depan nanti! Jadi, otomatis aku ini menantu kesayangan mama kamu dong sayang!" ujar Zian tersenyum.
"Haish, yaudah sebentar aku panggil mama dulu ke dalam. Kak Zian tunggu aja disini!" ucap Laras.
"Oke siap!" Zian mengangguk setuju.
Laras pun kembali ke dalam rumahnya, memanggil sang ibu sesuai kemauan Zian.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...