
"Lega kan lo?" celetuk Angkasa saat mereka sudah berada dalam mobil. Melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan tol antara Jakarta-Jogja.
Raya mengangguk. Wajahnya lebih bersinar, merekah cerah seperti habis dapat bertemu oppa-oppa Korea kesukaannya itu.
"Gue nggak tau kalo bahagia bisa sampe kaya gini," celetuk Raya sambil ngemil kuaci yang kebetulan dia temukan di dashboard mobil Angkasa. "Sampe bisa ngalahin kadar kebahagiaan gue kalo bisa langsung meluk Junhoe-oppa!"
Angkasa terkekeh. Satu-dua dia juga tahu siapa orang yang disebutkan Raya tadi, secara dia tidak buta-buta amat tentang dunia per-kpop-an.
"Oh iya, Sa," pekik Raya teringat sesuatu. "Lo bisa nggak malam ini makan bareng sama Bu Na, lo mau? Ada gue kok," tanya Raya takut-takut.
Angkasa menoleh sekilas lalu mendesah pelan. "Apapun yang bikin lo bahagia," gumam Angkasa membuat dia diam-diam berseru senang dalam hati.
Akhirnya dia bisa cari tau siapa Elina Lee itu dan apa hubungannya dengan Angkasa!
💗💗💗
Setelah beberapa jam kebut-kebutan karena mengejar jam yang sudah disepakati Raya dan Elina untuk bertemu akhirnya mereka sampai disebuah restoran bintang lima dengan gaya minimalist dan aksen khas teknologi modern di beberapa titik tertentu.
Angkasa menghela napas pelan. "Lo ... kenapa sih harus janjian ... mepet banget jamnya," ucap Angkasa dengan terengah. Berjam-jam hanya fokus menyalip dan menyalip membuat energi Angkasa serasa sudah dalam titip terendah. Kalau hape mah sama aja kaya lowbat.
Raya meringis kecil melihat keringat mengucur dari pelipis Angkasa. Raya tak langsung menjawab, tapi mengeluarkan sapu tangan dan mengusap pelipis Angkasa membuat Angkada diam-diam bersemu.
"Sori. Gue baru inget jadi ya ... gitu," gumam Raya takut-takut.
Angkasa melengos. Pura-pura kesal sambil menatap kelain arah. Yang penting jangan natap Raya atau dia akan ketahuan kalo lagi ambyar.
Raya mengerjap pelan lalu mengerucutkan bibirnya. "Ya udah deh kalo lo—"
"Udah ayok. Dia pasti udah nunggu," potong Angkasa langsung keluar segera masuk ke dalam restoran yang langsung disambut para penjaga pintu restoran ramah menanyakan kursi mana yang di pesan Angkasa. Restoran bintang lima ini memang sangat ramai, harus tiga hari sebelumnya untuk bisa duduk santai sambil makan enak direstoran ini.
Raya segera menyusul mengatakan dengan lancar kursi mana yang telah mereka pesan.
"Silakan ikuti saya," ucap penjaga pintu mempersilakan masuk. Aroma makanan segera memasuki penciuman Raya membuat perut Raya seketika berbunyi membuat Angkasa mendesis, malu. Masa cewek cantik kalo laper perutnya bisa gitu sih.
__ADS_1
Mereka berjalan, menaiki lift dan menuju lantai paling atas tempat khusus untuk tamu di tempat terbuka, rooftop.
"Bagus banget nih restoran. Nggak kalah bagus sama yang di Jakarta," gumam Raya pelan membuat Angkasa menoleh menatap Raya tersenyum.
"Lo kira cuma Jakarta doang yang punya? Jogja juga ada," ucap Angkasa membuat Raya mendesis. Kalo seperti itu saja dia juga tahu, tapi yang dia kagumi adalah pemandangannya jarang-jarang dia lihat seperti ini.
Seseorang melambaikan tangan, membuat Raya merekahkan senyum. Ia segera menarik tangan Angkasa cepat-cepat menuju kursi dekat pagar pembatas dengan lampu redup ditengah meja makan.
"Kukira kamu tidak mau datang," gumam Elina ternyum menatap Angkasa. Terlihat senang.
Angkasa hanya mengangguk pelan. Tak menanggapi. Raya yang merasa akward sendiri jadi salah tingkah.
Merasa Raya sedikit tak nyaman Elina tersenyum. "Kita bahas nanti-nanti saja. Sekarang mari kita makan," ucap Elina ramah. Mempersilakan Raya dan Angkasa duduk.
Raya berdeham. "Ehm, Bu Na, aku mau ke toilet dulu. Nggak lama kok. Ngobrol dulu aja sama Angkasa ya," ucap Raya pamit sambil memaksa Angkasa duduk berhadapat dengan Elina.
Terlanjur duduk, akhirnya Angkasa menyerah. Biarlah, ini hanya akan berlangsung beberapa menit sampai Raya kembali.
Lenggang. Tak ada yang memulai obrolan.
"Ya?" Refleks Angkasa langsung menjawab. Merasa gugup, setelah bertahun-tahun tak bicara akhirnya Angkasa bicara dengan Elina. Walau hanya jawaban singkat saja.
Elina tersenyum tipis. "Kamu dendam padaku?"
Angkasa diam.
"Apa kamu marah dan benci pada ibumu ini?"
Angkasa masih diam.
"Apa kamu tahu bahwa ayahmu menyakitiku?"
Angkasa melebarkan mata. Terkejut dengan yang Elina katakan.
__ADS_1
"Jangan membuatku berpikir yang akan memperburuk keadaan," gumam Angkasa melipat tangannya didepan dada sambil memejamkan mata. Mencoba menenangkan diri.
Elina tersenyum. "Aku bukan memperburuk. Aku hanya ingin memberi tahumu apa yang telah terjadi. Tidak hanya dari sudut pandangmu saja," jelas Elina sabar.
Terdengar dengusan kasar dari Angkasa. Bosan mendengar semua ini.
"Jika bukan karena Raya aku tidak akan kemari," ucap Angkasa ketus.
Elina masih tetap tersenyum membuat Angkasa berdecak kesal.
Selanjutnya Angkasa hanya diam, sudah tidak mood berlama-lama berada disini. Dan akhirnya pelayan membawakan makanan yang dipesan.
Tak ada yang menyentuh makanan. Saling diam. Camggung. Sampai Raya datang.
"Uwahhh, aku ketinggalan," ucap Raya dengan suara riangnya. Rambut pendeknya terlihat lucu bergerak kesana kemari.
"Lho, kok belum pada makan?" tanya Raya bingung begitu hanya melihat Angkasa dan Elina hanya diam.
"Nunggu elo," jawab Angkasa singkat. Ia kemudian segera menegakkan tubuhnya mulai memakan makanannya, diam.
Raya hanya diam, tak banyak bertanya. Elina juga sudah makan, dengan suasana canggung.
"Lambat laun semua akan terbongkar, Angkasa," gumam Elina sambil menyendok sup dimangkuk kecilnya. Angkasa hanya melirik sedikit tak tertarik sedangkan Raya dengan wajah tak tahu menahu mengernyit heran.
"Ayahmu itu ... sebentar lagi akan terbongkar," gumam Elina lagi membuat Angkasa menggeram tak suka.
"Om Nata?" desis Raya tertahan.
Angkasa menatap Elina tajam. "Urus saja urusanmu. Aku tidak perlu tahu apapun. Urus pacarmu sana," ucap Angkasa ketus.
Raya mengernyit. Makin tak tahu arah pembahasan. Apa maksud dari semua ucapan Elina? Apa maksud dari pacar Elina?
Raya tak mengerti. Ini makin rumit.
__ADS_1
"Kamu salah paham, Angkasa, dia bukan pacarku."
💗💗💗