Angkasa

Angkasa
Motor atau mobil


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...×××...


#ANGKASA EPS. 185


...•...


...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Keesokan harinya, Revi bangun dari tidurnya dan bersiap pergi ke kampus. Ia langsung menuju kamar mandi sambil membawa serta handuk miliknya dengan senyum renyah yang menghiasi wajahnya.


Setelah selesai mandi, gadis itu berpakaian dan berdandan sejenak di depan cermin. Ia masih mengingat momen semalam saat telponan bersama Muzaki sang kekasih sampai larut malam.


"Huh indah juga rasanya punya pacar!" batinnya.


Gadis itu pun bangkit dari duduknya seusai berdandan dan berpakaian, ia mengambil tas dan memasukkan beberapa perlengkapan miliknya yang akan ia bawa ke dalam tas tersebut, tentu tak lupa juga ia menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


Revi berjalan keluar dari kamarnya, ia mengunci pintu rapat-rapat lalu menuruni tangga dan menemui mama serta papanya di meja makan, terlihat kedua orangtuanya itu tengah duduk bersama menikmati sarapan pagi yang indah.


"Selamat pagi mah, pagi pah!" ucap Revi menyapa mereka sambil tersenyum renyah.


"Wah pagi juga sayang! Kamu kok kelihatan lebih bahagia banget hari ini sayang, ada apa sih? Tumben loh kamu senyum-senyum kayak gini!" ujar Marcel.


"Iya, kamu lagi menang lotre atau apa? Gak biasanya kamu bangun tidur langsung ceria begini!" sahut Juliana ikut penasaran.


"Ahaha bisa aja mama sama papa ini!" ujar Revi.


Gadis itu menarik kursi dan duduk di dekat papa serta mamanya, ia menaruh dua tangan di atas meja lalu menatap wajah kedua orangtuanya itu sebelum mulai menjawab pertanyaan mereka.


"Begini loh mah, pah, aku pengen aja hidup rileks santai gitu gak terlalu terbebani dengan pikiran! Makanya mulai hari ini, aku mau terus terlihat bahagia dan menikmati hidup supaya aku juga gak gampang stress!" jelas Revi.


"Oh begitu, yakin cuma karena itu alasannya? Bukan karena abis ditelpon Muzaki semalam?" ujar Juliana.


Sontak Revi terkejut karena ternyata mamanya tahu tentang ia yang semalam telponan dengan Muzaki di kamar, Revi pun bingung bagaimana caranya sang mama bisa tahu mengenai hal itu, padahal semalam ia yakin sekali kalau tidak ada siapapun di kamarnya kecuali dirinya sendiri.


"Kok diem? Benar kan sayang?" tanya Juliana.


"Eee ma-mama tahu darimana soal itu?" ucap Revi gugup plus penasaran.


"Semalam mama gak sengaja dengar suara kamu lagi ngobrol sama seseorang, terus mama juga dengar kamu sebut-sebut nama kak Zaki! Itu artinya kan kamu lagi telponan sama dia!" ujar Juliana.


"Ohh jadi soal itu toh? Pantes aja kamu kelihatan bahagia banget sayang! Semalaman telponan sama ayang!" ujar Marcel menggoda putrinya.


"Ish papa apaan sih?! Gak gitu kok, emang sih aku ditelpon kak Zaki semalam, tapi bukan karena itu sekarang aku senyum-senyum!" ucap Revi mengelak.


"Ah masa? Papa gak percaya!" goda Marcel.


"Pah, jangan gitu ah!" ujar Revi kesal.


"Hahaha, iya iya sayang! Udah gausah cemberut gitu dong, papa kan cuma bercanda! Kalaupun emang gara-gara Muzaki, ya gapapa! Justru papa senang kalau Muzaki bisa bikin kamu bahagia seperti ini!" ucap Marcel tersenyum.


"Ish papa! Kenapa papa malah bilang begitu sih? Harusnya papa itu marahin Revi, bukannya malah senang! Emang papa mau anak kita punya kekasih yang kayak si Muzaki itu?" tegur Juliana.


"Kenapa sih mah? Mama itu kayaknya gak suka banget sama Muzaki, ada apa?" ujar Marcel.


"Ya jelaslah pah! Dia berani-beraninya bilang kalo dia deketin Revi cuma karena modal cinta, apa dia bisa hidupin Revi dengan cinta? Enggak kan?" ujar Juliana.


"Udah lah mah, mama ini mikirnya terlalu jauh! Revi kan masih kuliah, gausah mikirin tentang pernikahan dulu! Biar Revi fokus sama kuliahnya, lagian kalau emang Revi sukanya sama Muzaki, mama bisa apa?" ucap Marcel membela putrinya.


"Ah tau ah! Papa ini ngeselin banget! Bukannya bela mama, malah dukung Revi buat pacaran sama anak gak jelas itu!" ujar Juliana ngambek.


Juliana emosi dan bangkit dari duduknya, ia pergi begitu saja meninggalkan suami serta anaknya karena malas tanpa menghabiskan sarapannya lebih dulu.


"Mah, mama jangan begitu dong! Mama mau kemana sih? Ini makanannya gimana?" ujar Marcel.

__ADS_1


"Biarin mama gak selera makan!" ucap Juliana.


Marcel hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang kekanak-kanakan itu, sedangkan Revi merasa tidak enak karena telah menyebabkan mamanya pergi sebelum selesai makan.


"Pah, aku minta maaf ya! Mama jadi pergi deh gara-gara aku!" ucap Revi cemberut.


"Gapapa, mama kamu yang salah! Gak seharusnya dia kayak gitu, jodoh kamu itu kan keputusan kamu sayang! Mama kamu gak berhak larang-larang kamu untuk berhubungan dengan siapapun!" ujar Marcel.


"Iya sih pah, makasih ya papa udah mau ngertiin aku dan bela aku di depan mama tadi! Tapi, kayaknya mama marah banget deh pah!" ucap Revi.


"Tenang aja! Nanti biar papa yang bujuk mama kamu itu, kamu mau kuliah kan? Mending kamu habisin dulu sarapan kamu, supaya kamu gak telat nanti kuliahnya!" ucap Marcel.


"Iya pah,"


Revi pun melanjutkan sarapannya, namun ia masih belum bisa tenang memikirkan mamanya yang marah akibat ia lebih memilih Muzaki dibanding Charlie anak teman mamanya itu.




Setelah selesai sarapan, Revi keluar menemui Muzaki yang sudah datang menjemputnya. Ia masih memikirkan mengenai mamanya, ia cemas jika nantinya sang mama akan marah padanya dan tidak mau berbicara dengannya.


Muzaki pun tampak heran melihat raut wajah Revi yang terlihat bersedih itu, ia menghampiri gadisnya lalu bertanya secara langsung padanya.


"Kamu kenapa Rev? Lagi ada masalah di rumah kamu?" tanya Muzaki cemas.


"Umm, iya kak. Barusan mama marah lagi sama aku karena mama tahu semalam kita telponan, aku bingung deh sama mama itu, kenapa ya mama gak suka banget sama kamu?" jawab Revi.


"Sabar ya Rev! Mungkin mama kamu butuh waktu buat nerima aku, kamu juga gak perlu khawatir! Aku akan terus berjuang dan berusaha untuk meyakinkan mama kamu, kalau aku bisa bahagiakan kamu!" ucap Muzaki sembari mengelus wajah gadisnya.


"Iya kak, aku juga bakal bantu kak Zaki buat yakinin mama!" ucap Revi.


"Yaudah, sekarang kamu senyum dong! Jangan cemberut lagi kayak gini! Aku suka loh lihat senyuman kamu Rev!" ucap Muzaki.


"Iya kak, ini aku senyum kok!" ucap Revi tersenyum.


"Nah gitu dong! Kan makin cantik, aku juga lihatnya jadi tambah suka sayang!" ucap Muzaki.


"Ahaha iya kak iya..." ucap Revi.


"Yuk!"


Revi tersenyum mengangguk, lalu memakai helm yang diberikan Muzaki. Namun, gadis itu tampak kesulitan mengaitkan tali helm dan membuat Muzaki geleng-geleng.


"Sini aku bantu!" ucap Muzaki.


Muzaki berinisiatif untuk membantu gadisnya, ia mengaitkan tali helm dengan mudah lalu mencolek hidung Revi sekilas.


"Dah tuh! Masa gitu aja kamu gak bisa sih?" ujar Muzaki menggoda gadisnya.


"Hehe emang susah tau kak!" ujar Revi nyengir.


"Yaudah, yuk naik!" ucap Muzaki tersenyum.


Revi manggut-manggut pelan, sedangkan Muzaki menaiki motornya bersiap melaju menuju kampus bersama sang kekasih. Revi pun naik ke atas jok dan melingkarkan tangannya di pinggang Muzaki sambil membenamkan wajahnya pada punggung pria itu.


"Udah siap?" tanya Muzaki.


"Udah dong!" jawab Revi sambil tersenyum.


Disaat Muzaki hendak melajukan motornya, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depannya dan membuat Muzaki tak bisa mengarahkan motornya pergi dari sana


"Rev, itu mobil siapa? Kita gak bisa pergi nih, tuh mobilnya ngalangin jalan!" ujar Muzaki bingung.


"Duh aku juga gak tahu, sebelumnya aku belum pernah lihat mobil itu! Tapi, kayaknya dia mau ke rumah aku deh!" ucap Revi.


"Terus gimana Rev?" tanya Muzaki.


"Eee kita tunggu aja kak, mungkin dia cuma sebentar disitu!" ucap Revi.


"Oke deh!"


Tak lama kemudian, seorang pria keluar dari mobil tersebut. Revi pun langsung syok melihatnya, karena itu adalah Charlie yang baru datang dan tersenyum ke arahnya.


"Charlie?" ujar Revi menganga.

__ADS_1


"Kamu kenal dia Rev?" tanya Muzaki heran.


"I-i-iya kak, dia itu Charlie. Dia anak temannya mama yang mama jodohin buat aku," jawab Revi.


"Ohh jadi dia orangnya?" ujar Muzaki.


"Iya kak,"


Charlie berjalan mendekati Revi dan Muzaki, lalu berhenti tepat di dekat sepasang kekasih itu. Revi pun turun dari motor menemui Charlie.


"Hai Rev! Mau ke kampus ya? Daripada sama motor butut begini, mending bareng aku aja pake mobil!" ucap Charlie.


"Apaan sih? Aku lebih suka naik motor bareng kak Zaki, daripada naik mobil tapi sama kamu! Lagian ngapain sih kamu pake kesini segala? Aku tuh gak mau ketemu sama kamu!" ucap Revi.


"Kenapa kamu lebih pilih dia dibanding aku? Apa alasan kamu Revi?" tanya Charlie heran.


"Gampang kok, alasannya karena aku lebih suka sama kak Zaki daripada kamu! Aku rasa itu udah cukup jelas, dan harusnya kamu pergi sana jangan halangin kita! Ya tapi kalau kamu mau ketemu mama, silahkan aja masuk!" ucap Revi ketus.


"Aku gak mau ketemu mama kamu, aku kesini emang niatnya mau jemput kamu Revi! Ayolah Rev, ke kampusnya sama aku aja ya!" bujuk Charlie.


"Sorry! Aku kan udah bilang tadi, aku lebih pilih sama kak Zaki!" ucap Revi tegas.


"Aduh Revi, kamu sadar dong! Ngapain kamu ribet naik motor panas-panasan kayak gitu? Belum lagi kamu pakai helm, nanti rambut kamu rusak loh! Mending naik mobil sama aku, udah adem terus nyaman kamu bisa senderan sesuka hati kamu dan rambut kamu juga gak akan rusak!" ujar Charlie.


"Aku gak perduli! Menurut aku, justru lebih nyaman naik motor sama kak Zaki! Kamu jangan berharap bisa anterin aku ke kampus, karena aku gak akan pernah mau!" tegas Revi.


Charlie terdiam kebingungan, ia heran mengapa Revi begitu kekeuh ingin bersama Muzaki daripada dirinya.


Sementara Muzaki yang sedari diam, kini mulai ingat kalau ia pernah melihat sosok Charlie sebelumnya. Ya pria itu teringat kalau Charlie pernah terlihat tengah memantau rumah Revi dari jauh.


"Ini kan cowok yang kemarin gue lihat, jadi ternyata dia tuh yang dijodohin buat Revi?" batin Muzaki.


"Ayolah Rev, aku mohon sama kamu! Oh ya, aku juga udah bilang loh sama paman aku soal sewa tempat latihan nembak! Kamu mau kan Rev latihan nembak bareng aku hari Minggu nanti?" ucap Charlie masih saja berusaha membujuk Revi.


"Mau aja, asalkan sama kak Zaki juga. Kalau cuma kita berdua, ya jelas aku gak mau! Gimana? Kamu setuju kan?" ucap Revi tersenyum.


"Apaan sih nih Revi? Kenapa dia susah banget buat dibujuk?" gumam Charlie dalam hati.


❤️


Sementara itu, Juliana tak sengaja melihat Charlie berada di depan rumahnya bersama Revi dan juga Muzaki. Ia yang tengah merajuk di kamar, tiba-tiba merasa senang lalu bergerak keluar dari kamar.


Ceklek...


Saat Juliana hendak melangkah, ia justru bertemu dengan suaminya alias Marcel di depan pintu yang membawa piring berisi makanan untuknya.


"Loh mah, mama mau kemana? Udah gausah turun ke bawah lagi, ini papa bawain kok sarapan mama supaya mama bisa lanjut makan disini! Oh ya mah, mama udah lah jangan ngambek terus kayak gini! Biarin aja Revi bahagia dengan pilihannya, mama gak bisa paksa Revi kayak gitu!" ucap Marcel.


"Apaan sih pah? Udah awas pah, jangan halangin jalan mama!" ujar Juliana.


"Eits, mama mau kemana?" tanya Marcel.


"Hadeh pah, papa ini maunya apa sih? Mama tuh pengen ke bawah temuin nak Charlie, tadi mama lihat nak Charlie datang temuin Revi! Mama berharap Revi bisa ke kampus bareng nak Charlie!" ujar Juliana menjelaskan.


"Charlie? Ngapain dia dateng kesini? Tadi Revi bilang kok dia udah dijemput sama Muzaki, jadi gak mungkin lah Revi mau berangkat bareng Charlie! Mama jangan terlalu berharap deh!" ucap Marcel.


"Loh papa kenapa coba? Bukannya dukung Revi sama nak Charlie, kok malah belain si Muzaki yang miskin itu? Mama tadi lihat sendiri loh, nak Charlie kesini pake mobil pribadi! Lah si Muzaki cuma pake motor butut yang suka mogok, beda kelas tau pah!" ucap Juliana.


"Mama ini gimana sih? Kendaraan aja kok dipermasalahin? Mau motor atau mobil, yang penting kan Revi nyaman!" ucap Marcel.


"Ya ya ya, sekarang mama mau ke bawah dulu temuin mereka! Papa jangan halangin mama, atau mama bakal marah sama papa selamanya!" ucap Juliana mengancam.


"Waduh, ja-jangan dong mah!" ujar Marcel.


"Nah yaudah, awas papa minggir!" ujar Juliana.


"Mah, tapi ini sarapan mama gimana? Papa udah capek-capek loh bawain kesini, masa mama malah mau turun ke bawah gangguin Revi?" ujar Marcel.


"Pah, siapa sih yang mau gangguin Revi? Mama ini cuma mau temuin nak Charlie, sekalian bujuk Revi supaya mau diantar sama nak Charlie! Soal sarapan, udah biarin aja sih papa taruh itu di meja makan gausah ribet deh!" ucap Juliana.


Akhirnya Marcel memberi jalan bagi Juliana, wanita itu pun melangkah menuruni tangga dengan cepat.


"Hadeh si mama itu susah banget dibilanginnya!" ujar Marcel geleng-geleng kepala kebingungan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2