Angkasa

Angkasa
Saingan berat


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...×××...


#ANGKASA EPS. 208


...•...


...SELAMAT MEMBACA...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Revi dan sang kekasih saat ini tengah berada di taman kampus, mereka berduaan disana sembari berbincang sejenak sebelum nantinya harus mengikuti kelas.


Ya Muzaki perlahan meraih dua tangan gadisnya, ia genggam dengan erat seakan tak ingin dilepaskan. Revi hanya diam mengulum senyum sembari memandang wajah Muzaki dari samping, ia singkirkan rambut yang menghalangi wajahnya.


"Kak, apa kita mau ngobrol disini? Gak takut bakal diganggu kayak tadi lagi?" tanya Revi.


"Ngapain takut? Toh Wisnu juga udah pergi, dia gak mungkin lah ikutin kita kesini. Yaudah ya, kamu tenang aja cantikku!" jawab Muzaki tersenyum.


"Iya sih, kak Zaki bener!" ucap Revi.


Angin berhembus pelan membuat rambut gadis itu terbang diterpanya, Muzaki pun tersenyum melihat pemandangan yang cukup indah di matanya, Revi tampak lebih cantik ketika rambutnya berterbangan seperti ini, bahkan sampai membuat Muzaki tak bisa berkata-kata lagi.


"Rev, kayaknya angin tahu deh kalau kamu kelihatan lebih cantik pas rambut kamu berantakan begini. Makanya dia berhembus sekarang, supaya aku bisa menikmatinya!" ucap Muzaki.


"Ah kak Zaki ini paling bisa deh gombalnya! Jadi, kamu ajak aku kesini cuma mau ngegombal nih? Gak ada obrolan serius atau apa gitu?" ujar Revi.


"Ya kan dari awal aku udah bilang, aku cuma pengen berduaan sama kamu sayang. Kalaupun ada yang mau aku obrolin, ya itu perihal kecantikan kamu sayangku! Karena gak ada lagi yang bisa dibahas selain itu, hehe.." ucap Muzaki.


Revi tersenyum malu dibuatnya, ia merunduk dan menghindari mata Muzaki untuk sesaat.


"Ehem ehem..."


Sepasang kekasih itu terkejut mendengar suara deheman yang muncul, padahal sebelumnya mereka yakin sekali bahwa hanya ada mereka di tempat tersebut.


"Aduh, ada yang lagi pacaran nih! So sweet banget sih kalian ini, berduaan di taman kampus sambil pegangan tangan gitu!" ujar wanita yang tak lain adalah Syahra.


Wajah Muzaki langsung berubah menjadi kesal begitu melihat Syahra beserta kedua temannya muncul disana, ia berdiri menghadap ketiga wanita itu dengan tatapan tajam, sedangkan Revi pun ikut berdiri di sampingnya mencegah agar Muzaki tidak tersulut emosi akibat kelakuan Syahra.


"Heh! Kalian tuh maunya apa sih? Kalian iri karena gue sama Revi pacaran disini, iya? Makanya kalian tuh jangan ngeselin, jadi kan gak ada yang demen sama kalian! Yang sabar ya, mungkin jodoh kalian emang gak ada disini!" ujar Muzaki emosi.


"Dih dih, baru pacaran aja udah belagu! Lagian apa untungnya sih punya pacar kayak dia? Cewek lemah kayak gitu kok dibanggain!" cibir Syahra.


"Hahaha betul tuh! Selera lu ternyata rendah banget ya Zaki!" sahut Ami.


"Loh, bukannya dia juga emang rendahan ya? Mungkin nih ya mungkin, gak ada cewek yang mau sama dia kecuali Revi. Secara kan dia ini wibu akut yang sukanya sama animasi dua dimensi!" ujar Alin meledek Muzaki.


"Kalian bisa berhenti gak ngeledekin kak Zaki? Apa kalian gak malu udah bicara kayak gitu, ha? Kalian pikir kalian udah sempurna apa, sampe bisa ngerendahin orang begitu?!" ujar Revi kesal.


"Revi Revi... kita disini gak ngerendahin siapa-siapa loh, orang kita bicara fakta!" ujar Syahra.


"Kak Syahra! Kenapa sih kamu jadi kayak gini lagi? Bukannya kemarin kamu bilang kalau kamu udah berubah? Terus kenapa sekarang masih begini sih sama aku dan kak Zaki? Apa benar kata Latifah, kalau kak Syahra ini cuma pura-pura aja?" ucap Revi tak mengerti.


Syahra terdiam kebingungan, sedangkan kedua temannya itu tampak menatap ke arahnya dengan heran.


"Syah, yang dibilang si Revi tuh maksudnya apa? Emang lu sempat pengen berubah dan gabung ke geng dia gitu?" tanya Alin.

__ADS_1


"Eee...."




Sementara itu, Latifah memberanikan diri untuk mendekati Zaenal si dosen tampan yang sedang duduk seorang diri di kantin itu. Terlihat Zaenal tengah asyik memandang layar ponsel, sehingga ia tak sadar jika Latifah berdiri di sampingnya.


Gadis itu bahkan sudah membawa satu kaleng minuman yang akan ia berikan pada Zaenal, padahal ia tahu Zaenal sudah memesan minuman walau belum diantarkan, namun ia melakukannya agar bisa memiliki topik saat berbicara nanti.


"Eee pak Zaenal, permisi pak!" ucap Latifah coba menegur dosen itu dengan lembut.


Zaenal pun menoleh ke arahnya, ia menatap bingung saat melihat Latifah ada di sampingnya dan sedang tersenyum sambil membawa minuman kaleng di tangannya.


"Ya, kamu cewek yang tadi di depan kan?" ujar Zaenal bertanya pada Latifah, rupanya ia masih mengingat kejadian tadi.


"I-i-iya pak, ini saya Latifah." gadis itu mulai gugup.


"Lalu, ada apa kamu samperin saya? Apa ada yang bisa saya bantu, atau mungkin kamu mau konsultasi sama saya? Eh bentar-bentar, tapi kamu kayaknya bukan mahasiswa saya deh. Mana mungkin kamu mau konsultasi kan?" ujar Zaenal coba menebak-nebak maksud Latifah.


"Iya pak, emang bukan. Saya ini samperin bapak karena saya cuma mau ngobrol biasa aja kok, ini saya juga udah bawain minum buat bapak supaya nanti bapak gak haus pas ngobrol sama saya!" ucap Latifah menyodorkan minuman itu.


"Makasih! Tapi, saya tadi sudah pesan minuman kok. Jadi gak perlu repot-repot Latifah, itu kamu minum aja sendiri!" ujar Zaenal menolak.


"Jangan gitu dong, pak! Saya kan beli untuk bapak, masa ditolak sih? Lagian nih ya, minuman bapak kan masih lama sampainya. Biar gak haus, minum ini aja dulu pak!" ucap Latifah tersenyum.


"Ya iya sih, oke deh saya terima! Makasih ya Latifah!" ucap Zaenal.


"Alhamdulillah! Saya yang makasih pak!" ujar Latifah nyengir lalu duduk di samping dosen tampan itu.


"Kamu mau ngobrol apa?" tanya Zaenal heran.


"Eee hehe saya pengen mengenal bapak lebih dekat aja deh, soalnya saya ini emang suka kenalan sama semua dosen-dosen yang ada disini, pak! Jadi, boleh kan kalau saya deketan sama bapak?" ucap Latifah tersenyum.


"Maksud kamu itu apa? Buat apa kamu ingin mengenal saya lebih dekat?" tanya Zaenal.


"Kenapa harus saya? Kan banyak dosen lain disini, kamu bisa berteman juga dengan dosen di jurusan kamu!" ujar Zaenal terheran-heran.


"Iya pak, soalnya bapak udah bikin saya klepek-klepek. Eh maksud saya, bapak tuh kelihatannya pintar terus berbakat gitu! Selain itu, saya juga baru kali ini kan ngeliat dosen setampan bapak, makanya saya pilih bapak dibanding yang lain!" ucap Latifah.


"Hah? Ya ampun, ternyata masih ada ya mahasiswi seperti kamu!" ujar Zaenal geleng-geleng kepala.


Latifah hanya tersenyum sembari menggaruk kepalanya, ia menunduk malu-malu saat Zaenal berbicara seperti itu.


"Yasudah, saya gak bisa lama-lama! Masih ada urusan yang harus saya selesaikan, permisi!" ucap Zaenal beranjak dari kursinya.


Latifah hanya bisa diam ketika Zaenal pergi dari sana, ia sebenarnya ingin mencegahnya namun ia tak memiliki keberanian, selain itu Latifah pun takut jika Zaenal justru merasa risih kalau ia terus memaksanya tetap disana.


"Huft, gue suka nih yang jual mahal kayak gini!" gumam Latifah dalam hati.




Syahra dan kedua temannya masih bersama dengan Revi di taman, Syahra bingung harus menjelaskan bagaimana pada Alin serta Ami terkait rencananya untuk mendekati Revi agar ia bisa kembali ke tim dance.


Sementara Revi dan Muzaki juga tak mengerti apa yang sedang terjadi di hadapan mereka itu, yang pasti Revi sangat kecewa pada Syahra karena tahu gadis itu hanya berpura-pura baik padanya kemarin, padahal ia ingin sekali kalau Syahra benar-benar berubah dan mau menjadi temannya.


"Syah, lu kenapa diem aja sih? Ayo jawab dong, jelasin ke kita apa yang dimaksud Revi tadi! Emang lu sempat baik ke dia, ha?" ujar Ami penasaran.


"Iya Syah, kita gak bisa diginiin terus, lu harus jelasin ke kita sekarang juga! Apa emang lu udah pengen berteman sama cewek ini dan tinggalin kita, iya?" sahut Alin kesal.


"Guys, kalian jangan salah paham dulu! Mana mungkin gue tinggalin kalian sohib gue yang setia ini? Nanti pasti gue jelasin kok, sekarang kita pergi aja yuk dari sini!" ucap Syahra.


"Halah udah ah cukup! Kita malas bicara sama lu lagi, dasar pengkhianat!" geram Ami.

__ADS_1


"Eh eh, guys tunggu dong jangan pergi dulu! Gue bakal jelasin semuanya ke kalian, tapi gak disini!" ucap Syahra memohon.


"Kenapa? Lu takut sama si Revi?" tanya Ami.


"Gak gitu, gue cuma—"


"Dah lah! Yuk Lin, kita pergi aja dari sini! Lupain si Syahra yang berkhianat itu!" potong Ami kesal.


"Oke, gue ngikut sama lu!" ucap Alin.


Ami pun pergi menarik tangan Alin, mereka meninggalkan Syahra disana bersama Revi serta Muzaki, tampak kekhawatiran di wajah Syahra karena ia takut kehilangan dua sahabatnya.


"Kak Syahra..." Revi bergerak mendekati gadis itu, ia merasa kasihan melihatnya ditinggalkan oleh para sahabatnya.


"Jangan sedih! Namanya juga persahabatan, pasti kadang ada bertengkar nya. Tapi, gak lama paling juga baikan lagi. Kak Syahra sabar aja, atau coba buat jelasin yang sebenarnya ke mereka tentang kenapa kak Syahra deketin aku kemarin! Mungkin mereka bisa paham, terus mau maafin kak Syahra!" ucap Revi memberi saran pada Syahra.


"Iya Rev, gue ini emang pengen berteman sama lu. Tapi, gue tau banget mereka gak bakal setuju! Itu sebabnya gue rahasiakan soal ini dari mereka, jadi yang mereka tahu tuh gue masih benci sama lu, padahal udah enggak! Tadi gue bersikap kayak gitu ke lu dan Zaki, cuma pura-pura doang!" ujar Syahra.


"Maaf ya kak! Aku gak tahu kalau kak Syahra lagi pura-pura di depan kak Ami dan kak Alin, aku pikir kak Syahra emang belum berubah. Aku janji deh bakal bantu kak Syahra buat dekat lagi sama mereka!" ucap Revi memegang pundak Syahra.


"Gapapa Rev, lu gak salah! Emang gue juga yang salah karena bohong sama mereka, harusnya gue kasih tahu aja ke mereka kalau gue pengen temenan sama lu. Tapi ya itu, konsekuensinya pasti besar banget karena mereka bakalan ninggalin gue dan ikut bully gue sama lu!" ucap Syahra.


Muzaki pun ikut maju mendekati kedua gadis itu, ia memang belum tahu apakah perkataan Syahra benar atau tidak, namun ia hanya ingin membantu gadisnya menenangkan Syahra.


"Yaudah, mending lu jelasin aja ke Ami sama Syahra kalau kebaikan lu ke Revi itu cuma pura-pura doang! Lu gak benar-benar pengen temenan sama Revi, dengan begitu pasti mereka bisa paham dan gak marah lagi sama lu!" ujar Muzaki dengan suara pelan.


"Benar kak! Saran kak Zaki itu cocok buat kak Syahra lakuin!" ucap Revi tersenyum.


"Iya deh, makasih ya kalian udah bantu gue!" ucap Syahra tersenyum.


"Sama-sama..." ucap Revi dan Muzaki bersamaan.




Disisi lain, Radian datang ke kampus seorang diri mengingat Oni harus mengecek kandungannya lebih dulu di rumah sakit bersama sang mama, tadinya memang Radian ingin ikut mengantar istrinya itu ke rumah sakit, namun dilarang oleh Oni karena wanita itu meminta Radian tetap kuliah.


Ia turun dari motornya, lalu berjalan ke dalam kampus dengan perlahan. Pikirannya masih terus terbayang pada Oni, ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan kandungan istrinya itu.


"Huft, kok gue masih gak bisa tenang ya? Oni kira-kira udah selesai apa belum ya diperiksanya? Gue jadi cemas gini!" batin Radian.


Disaat pria itu berjalan, ia malah berpapasan dengan Digo yang seperti habis dari kantin. Radian merasa heran melihat wajah Digo yang cemberut itu, ia pun menegurnya sekaligus menanyakan apa yang terjadi pada sahabatnya tersebut.


"Heh bro! Lu kenapa sih? Kok cemberut gitu, ada masalah?" tanya Radian penasaran.


"Eh ada lu An, iya nih gue lagi kesel banget sama pak Zaenal!" jawab Digo penuh emosi.


"Hah? Pak Zaenal? Emangnya kenapa sama dia? Apa yang bikin lu kesel begitu sama dia bro?" tanya Radian makin penasaran.


"Iya bro, jadi pak Zaenal itu kan ganteng. Nah, Latifah malah naksir sama pak Zaenal bukan gue! Tadi juga pas gue lagi makan sama Latifah di kantin, dia ninggalin gue gitu aja demi pak Zaenal! Kan bangs*t!" umpat Digo kesal.


"Ohh ya kalo gitu bukan salah pak Zaenal dong, tapi salahnya si Latifah yang kecentilan! Gak bisa lihat yang gantengan dikit, langsung dideketin!" ujar Radian terkekeh.


"Iya sih, terus menurut lu gue harus gimana lagi bro buat dapetin cinta Latifah? Masalahnya sekarang saingan gue dosen bro, udah gitu dia ganteng dan kaya lagi! Lah gue yang cuma modal nekat ini bisa apa bro?" ujar Digo bingung.


"Sabar bro! Gue yakin kalau Latifah jodoh lu, pasti segala sesuatunya bakal dipermudah sama Tuhan! Lu berdoa aja terus!" ucap Radian.


"Ya okelah! Apa gue ikutin cara lu aja ya buat bisa dapetin Latifah?" ucap Digo.


"Hah? Cara apaan?" tanya Radian bingung.


"Iya bro, gue hamilin si Latifah sama kayak lu hamilin Oni!" ujar Digo nyengir.


Radian menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Digo barusan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2