Angkasa

Angkasa
02. Cuma Satu Menit


__ADS_3

--💗--


Angkasa lagi-lagi memutar matanya jengah sambil menatap Raya yang tak kunjung keluar. Ini sudah hampir jam tujuh dan gerbang pasti akan segera ditutup! Dan sedang apa gadis itu di dalam rumah?!


"Sa ...," ucap Raya yang keluar dari rumh Angkasa, "gue nggak punya helm."


Angkasa mendengkus keras. Ia kemudian melepas helm yang sudah melekat dikepalanya dan memberikannya pada Raya. Sedangkan dia kembali ke dalam rumah dan mengambil helm lainnya.


"Pake punya gue," ucap Angkasa ketus.


Raya mendengkus tak terima, "Eh, ini kan punya lo, nanti kalo misalnya ada kutunya gimana? Rambut gue yang indah ini bisa rusak nanti. Trus juga bau banget nih helm. Nggak pernah dicuci?" cibir Raya membuat Angkasa menggenggam tangannya erat-erat.


Angkasa, lo harus sabar ngadepin cewek type-type mulut tebel kaya gini, Angkasa terus merapalkan kalimat itu dalam hatinya. Ia tidak mau sampai terlihat hilang kendali.


"Emang gue nggak pernah bersihin rambut apa? Rambut gue bersih, lo bisa cium sendiri kalo mau," tantang Angkasa membuat Raya lagi-lagi mendengkus sebal. Dia kalah lagi.


"Lo juga tau helm lo kegedean, kepa--"


Belum sempat Raya menyelesaikan kalimatnya Angkasa segera mengambil alih helm ditangan Raya, ia kemudian segera memakaikannya di kepala Raya. Tak lupa juga Angkasa menguncinya agar tidak terjatuh saat ia membawa motor nanti.


"Aduh, kalian mesra banget," celetuk pria yang tak lain dan tak bukan adalah Bagas, Angkasa yang sedang menautkan tali helm dikepala Raya pun cepat-cepat melepaskan tangannya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa tadi.


Raya yang mematung lebih dulu hanya tersenyum kikuk sembari mencubit lengan Angkasa.


"Lo tuh ngapain kaya gitu, hah?" bisik Raya setengah menggeram.


Angkasa melengos, untuk saat ini entah mengapa dia merasa malu didepan Raya. Argh! Kenapa dia harus berbuat seperti tadi? Bodoh sekali.


"Udah ya, Yah. Asa sama Raya mau berangkat sekolah dulu," ucap Angkasa sembari menyalakan mesin motornya.


Raya yang bingung harus berbuat apa hanya tersenyum ke arah Bagas, ia kemudian berjalan cepat ke arah Angkasa dan mencoba naik keatas motor.


"Bisa nggak?" tanya Angkasa tak sabaran. Raya kemudian mendengkus.


"Ish, sabar! Kaki gue nggak panjang kaya lo," sahut Raya.


"Pendek," celetuk Angkasa membuat Raya membulatkan matanya sempurna.


"What?! Gue nggak sependek itu tau!"


"Kan menurut gue pendek."


Raya lagi-lagi mendengkus, "Mentang-mentang tinggi lo 183, lo pendek-pendekin gue!"


"Lo emang pendek," ucap Angkasa membuat Raya ingin memakan Angkasa sekarang!


"Kalian mau sekolah atau mau ribut?" celetuk Bagas yang sejak tadi asyik memperhatikan dua manusia itu. Kedua sudut bibirnya dia angkat tinggi-tinggi. Setidaknya Angkasa memiliki teman sekarang, tidak seperti dulu hanya diam, menyendiri di kamar.


"Hehe, iya, Ayah Angkasa, ini mau sekolah kok," ucap Raya. Dengan terpaksa ia memegang pundak Angkasa dan naik.


Argh! Kenapa tidak naik mobil saja sih?


"Udah," ucap Raya singkat.


"Nggak usah pegang jaket gue," ucap Angkasa yang merasa risi karena tangan Raya yang berada dipinggangnya.


"Iya, iya!"


--💗--


"Tega banget lo!" pekik Raya yang saat ini sudah berada di halte dekat sekolah. Ia kemudian menatap Angkasa tajam.


"Biarin sih," balas Angkasa tak acuh.


Raya kemudian mendengkus, "Jadi lo pengen gue tiap hari jalan gitu dari sini ke sekolah?"


"Iya."


"Jahat ih!"


Raya kemudian menatap Angkasa dengan tatapan tak dapat dibaca. Angkasa pun balik menatap Raya. Ia seperti ini karena tidak ingin dilihat bahwa Angkasa dekat dengan cewek. Kalau ia ketahuan memboncengi cewek ke sekolah kan bisa jadi masalah nanti.


"Gue nggak mau."


"Angkasa, lo tega banget sih?"


"Lo pengen gue kurus?"


"Nggak gitu juga kali, Sa caranya."


Angkasa mendengkus kesal. "Drama banget sih lo?"

__ADS_1


Raya membulatkan matanya, apa Angkasa bilang tadi? Drama? Jarak halte ke sekolah menurut Raya sangat jauh dan Angkasa bilang dia terlalu drama?


"Dari sini ke sekolah cuma 50 meter, Ray," ucap Angkasa geram, "tau ah, pokoknya lo jalan aja. Ntar juga terbiasa kok, gue duluan."


Belum sempat Raya membuka mulutnya Angkasa sudah lebih dulu pergi membuat Raya mencak-mencak sendiri.


Nyebelin banget jadi orang! Jadi binatang aja sana lo!


--💗--


Raya masih berjalan di atas trotoar, mulutnya terus saja merapalkan sumpah serapah untuk Angkasa. Tapi belum juga sampai dia sudah dihadang oleh seorang laki-laki, yang Raya pikir satu sekolah dengannya. Terlihat dari bajunya.


Lelaki itu terkesan seperti bad boy, rambutnya acak-acakan. Bajunya juga dikeluarkan, tasnya dia sampirkan di pundak kanannya. Dia tersenyum ke arah Raya.


"Anak Mandalika juga?" tanyanya membuka percakapan. Raya mengangguk kecil menanggapi ucapan lelaki itu.


Lelaki itu tersenyum lebar, Raya yang melihat itu merasa sedikit ngeri. Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepalanya. Tidak, dia harus positive thingking!


"Kenalin, gue Ryan!" ucap lelaki itu sembari menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Gue Raya," ucap Raya sembari tersenyum dan membalas tangan Ryan. Formalitas.


Senyum lelaki itu mengembang, dia kemudian melihat jam di tangan kirinya yang menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Dia kemudian menatap Raya.


"Udah telat," kata Ryan sembari menyodorkan lengannya agar Raya bisa melihat jam berapa sekarang.


Raya membulatkan matanya, "Hah? Beneran?! Astaga!"


Raya segera berlari menuju gerbang sekolah yang tinggal beberapa meter jaraknya, tetapi kemudian langkahnya terhenti saat satpam sudah menutup dan mengunci rapat pintu gerbang itu.


"Sial! Hari pertama gue nggak boleh kaya gini!" pekik Raya pasrah. Harapannya hanya Angkasa, dia berharap agar Angkasa datang dan membukakan pintu gerbang itu. Tapi mana mungkin Angkasa peduli?


"Jadi lo anak baru? Pantesan nggak pernah liat gue," ucap Ryan mendekati Raya yang kini tengah meratapi nasib sialnya.


"Udah nggak usah melow gitu, masuk lewat gerbang belakang aja. Nggak ada yang jaga kok, lagian guru belum masuk juga."


"Kalo emang ada, gue yang tanganin," ucap Ryan membusungkan dadanya. Raya kemudian menatap Ryan dengan tatapan tak meyakinkan.


"Lo yakin?" tanya Raya memastikan.


Ryan mengangguk semangat, "Seribu persen gue yakin! Ayo!"


Tanpa aba-aba Ryan segera menarik pergelangan tangan Raya dan membawanya pergi ke tembok belakang sekolah dimana dia sering masuk dan bolos sekolah. Ia kemudian menunjuk satu pintu kecil di pojok dekat pohon besar.


"Sisi? Bu Nunung?" tanya Raya tak mengerti.


"Iya, Sisi itu tangan kanannya Rendi, ketua OSIS. Dia dipercaya sama Rendi buat jagain gerbang belakang. Gue sering ketangkep, tapi ya karena muka gue yang gantengnya masyaa allah ini jadi ya dia ngebiarin gue," ucap Ryan dengan cengengesan.


"Kalo yang jaga Sisi nggak masalah, tapi kalo Bu Nunung pasti berabe. Ortu gue kena panggil nanti. Bu Nunung kan guru BK-nya mandalika," lanjut Ryan dengan wajah was-was.


Raya mengangguk mengerti, dia kemudian melirik ke arah gerbang kecil itu. Dia meneguk ludahnya sebentar, bayangan mengerikan tiba-tiba menelusup kedalam otaknya. Apakah Bu Nunung akan sekejam guru BK-nya dulu? Jika iya, matilah dia!


"Lo yakin kan sama yang mau lo lakuin?" tanya Raya dengan nada ragu. Ryan menatap Raya dengan senyum kecil.


"Tergantung keberuntungan sih, kebanyakan gue berhasil lewat sini," ucap Ryan.


"Udah ah, gue dulu yang masuk kalo aman lo ikut masuk. Tapi kalo ada Bu Nunung gue alihin dulu perhatian dia," ucap Ryan mengacungkan jempolnya, "oke?"


"O-oke," balas Raya ragu.


Ryan kemudian mulai membuka gerbang itu pelan-pelan. Bunyi derit beberapa kali membuat Raya meringis, takut jika mereka ketahuan. Ryan kemudian memasukkan kepalanya lebih dulu dan melihat apakah situasi aman atau tidak.


Ryan kemudian mengacungkan jempolnya ke arah Raya. "Aman kok, Ray."


Raya mengangguk, matanya terlihat was-was meneliti sekitar. Dia benar-benar takut setengah mati pada orang bernama Bu Nunung itu. Seperti ada aura membunuh jika membayangkannya.


"Cepetan, gue juga mau masuk. Keburu Sisi dateng," bisik Ryan sesaat setelah Raya masuk.


Raya dengan cepat mencoba melepaskan tubuhnya dari gerbang yang sempit itu. Ia bernapas lega saat dia berhasil masuk. Tapi belum sempat Ryan berhasil mengeluarkan seluruh tubuhnya dari gerbang, suara dehaman yang cukup keras langsung mengenterupsi keduanya.


Ryan yang lebih dulu mengetahui suara dehaman siapa itu langsung menampakkan nyengir kuda khasnya, ia kemudian menyalami guru tambun berkacamata itu dengan lagak polosnya.


"Eh, ternyata ibu," ucap Ryan membuat guru itu menatap lelaki itu tajam.


Raya yang tak tahu apa-apa hanya terdiam. Apakah guru ini yang namanya Bu Nunung?


"Sekarang udah berani ya ngajak temen? Cewek malah. Pacar kamu?" tanya guru itu dengan sarkastik, "udah telat, masuk lewat belakang, habis pacaran lagi. Mau jadi apa kalian hah?"


Wajah Ryan yang tadinya dipolos-poloskan langsung berubah menjadi terkejut karena Bu Nunung--guru itu salah mengira.


"Ibu, mah, negative thingking mulu kalo sama saya. Saya itu udah berusaha bangun pagi lho, Bu. Coba deh ibu perhatiin. Saya kan biasanya jam sembilan baru sampe sekolah. Sekarang masih jam setengah delapan, berarti saya udah berusaha buat nggak telat," ucap Ryan membuat Bu Nunung menggeram.

__ADS_1


"Kamu sudah salah malah mengelak! Ayo sekarang ikut saya! Pacar kamu juga bawa!" titah Bu Nunung membuat Raya melongo dibuatnya. Kenapa dia dapat masalah dihari pertamanya?!


"Bu, saya bukan pacarnya!" ucap Raya membela diri.


"Halah, alasan! Cepat ayo. Kalian itu anak-anak yang perlu dikasih pelajaran," ucap Bu Nunung tajam.


--💗--


"Lo bilang bakalan berhasil," ucap Raya pada Ryan. Sekarang mereka tengah berjalan beriringan dengan Bu Nunung yang memimpin jalan.


Ryan menatap Raya dengan wajah lesu, "Kan gue bilang, tergantung keberuntungan. Nggak apa-apa, anak baru biasanya suru ngebersihin WC doang kok."


"Ngebersihin WC doang?! Lo bilang doang?! Lo nggak tau apa capek, bau lagi," ucap Raya tak terima.


"Tau lah, semester ini gue udah lima puluh kali ngebersihin WC," ucap Ryan dengan santainya. Lagi-lagi Raya melongo, lima puluh kali? Dan dia bilang dengan santainya? Dia pikir membersihkan WC seenak dikasih coklat gebetan? Otaknya dikemanain???


"Gila!" pekik Raya tertahan, dia tidak ingin mengundang amarah dari seorang Bu Nunung.


"Makasih atas pujiannya," ucap Ryan membuat Raya menjitak kepala lelaki itu keras-keras. Ryan sepertinya perlu perawatan rumah sakit.


Tak lama setelah mereka berbelok dari koridor utama akhirnya mereka sampai disebuah ruangan yang menurut Raya sangat mengerikan. Lain halnya dengan Ryan yang sudah seperti rumah sendiri baginya.


"Wellcome home," ucap Ryan dengan santainya. Dia kemudian duduk dikursi tepat didepan meja Bu Nunung.


Sedangkan Raya dengan langkah tak asti masuk ke ruangan itu. Ia kemudian mengambil duduk disebelah Ryan. Dengan wajah menunduk, tangannya terasa berkeringat sekarang.


"Jadi, kenapa kalian terlambat?" tanya Bu Nunung dengan suara beratnya khas bapak-bapak.


Ryan mendesah, "Alasan saya sama seperti yang dulu-dulu," ucapnya sambil bersandar dan melipat kedua tangannya didepan dada.


Pandangan tajam Bu Nunung kemudian mengarah ke Raya. Raya gelagapan dibuatnya.


"Kamu, pasti pacarnya kan?" tanya Bu Nunung dengan sedikit memaksa. Raya dengan cepat menggeleng, baru kenal beberapa jam yang lalu sudah dibilang pacar.


"Nggak, Bu. Kebetulan ketemu tadi," ucap Raya dengan nada gugup.


"Ah, alasan. Kalian pasti pacaran kan? Ngaku aja deh," kata Bu Nunung.


Ryan yang mendengar itu langsung menegakkan tubuhnya, "Saya sama dia nggak sengaja ketemu, Bu."


Bu Nunung kemudian memutar mata jengah, Ryan menggeram. Maksa banget nyuruh gue sama Raya pacaran!


"Yaudah deh, biar nggak bertele-tele sekarang gue nembak lo dulu aja," ucap Ryan membuat Raya membulatkan matanya.


"Gila lo!" pekik Raya, "gue nggak mau."


"Cuma semenit doang, abis itu putus lagi. Gue janji deh," ucap Ryan membuat Raya mengedipkan matanya beberapa kali.


"Ayolah, gue nggak betah ada disini," ucap Ryan mulai panas. Bu Nunung masuk menatap mereka tajam. Dan dengan pikiran sama pula 'mereka berdua, pacaran!'.


"Ish, iya iya," ucap Raya akhirnya menyerah.


Ryan tersenyum senang, "Oke gue bakalan nembak lo," ucapnya yang langsung menghadap ke arah Raya.


"Raya, lo mau nggak jadi pacar gue? Semenit aja," ucap Ryan serius.


Raya dengan terpaksa mengangguk, "Oke."


"Nah! Gitu dong, dari tadi harusnya biar ibu punya bukti kalo kalian pacaran," ucap Bu Nunung.


Ryan dan Raya sekarang sama-sama menepuk jidat mereka masing-masing. Mereka yang bodoh atau Bu Nunung yang sedang tidak sehat?


"Oke, kalian saya kasih hukuman bersihin taman belakang sekolah. Sampe bersih! Kalo nggak bersih nggak boleh keluar dari sekolah ini!" titah Bu Nunung.


Raya san Ryan hanya mengangguk menanggapi. Mereka kemudian segera pamit untuk melakukan tugas mereka.


"Ray," panggil Ryan saat mereka sudah keluar dari ruangan penguras energi itu.


Raya memandang ke arah Ryan dengan wajah bertanya.


"Kita putus sekarang," ucap Ryan dengan polosnya.


Raya kemudian melihat jam di layar ponselnya, "Udah satu menit, fix kita putus!"


Ryan mengangguk menyetujui. Raya pun segera berjalan mengikuti Ryan yang menuju taman belakang sekolah. Terkadang mereka tertawa karena hal yang terjadi di ruang BK tadi.


"Pacaran cuma satu menit!" pekik Ryan.


"Besok kita buat rekor, pacaran setengah detik!" lanjutnya diiringi dengan tawa dari mulut mereka berdua.


Terlalu senang sampai mereka tak sadar bahwa ada seseorang yang mengawasi mereka sejak tadi.

__ADS_1


--💗--


__ADS_2