Angkasa

Angkasa
35. Natawijaya


__ADS_3

Angkasa menghela napas pelan. Ia sedang tiduran telentang diatas kasurnya. Memikirkan kalimat Elina tadi.


Elina tidak punya pacar? Lalu siapa cowok yang setiap hari berada disekitar Elina itu?


Angkasa menghela napas pelan.


Tiba-tiba hape Angkasa berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Ia segera mengambilnya menatap layar lockscreen tertera nama Ryan disana. Dengan tambahan embel-embel 'gans' jangan salah paham, Ryan sendiri yang menulisnya dan Angkasa malas menggantinya karena pasti Ryan akan kembali menuliskan embel-embel itu lagi.


Ryan : (sent a video)


Ryan : gila sih, Sa


Ryan : gue baru nyadar


Ryan : nggak sengaja gue nemu ini di internet. Kaya blog tempat berita2 seleberiti gitu


Ryan : fast respon kek elah


Ryan : ini menyangkut ibu lo


Angkasa mendengkus pelan. Ibunya lagi, ibunya lagi. Bosan.


Ryan : bales kek elah


Ryan : di read doang ****


Angkasa : bs diem gk sih lo


Angkasa : cot


Ryan : ANGKASA ITU VIDEO HARUS LO LIAT DULU


Ryan : LO HARUS TAU KARENA DISITU MENYANGKUT KENAPA ORTU LO BISA RIBUT KAYA GITU


Ryan : LO NYIMPULIN KALO INI SEMUA KARENA TANTE ELINA, ITU SALAH


Angkasa : ya ngga ush ngegas juga ****


Ryan : iya iya cepetan

__ADS_1


Angkasa : iya elah. Lagi download


Ryan : cepet


Angkasa mendengkus kesal. Tak memilik menjawab chat Ryan karena dia sedang fokus menatap layar hapenya yang menampilkan sebuah video amatir yang sedang mereka kejadian ...


Wait.


Bukankah itu ayahnya dan wanita itu?


"Kamu nggak usah kerja, Elina. Fokus urus anak-anak, mereka butuh perhatian kamu," ucap Ayahnya menatap Elina dengan kesal.


"Aku tetap milih jadi artis. Aku nggak mau kerja di rumah. Urusan anak aku bis bagi waktu," jawab Elina keras kepala membuat Ayahnya semakin kesal. Angkasa sampai menahan napas melihat itu.


"Perlu berapa kali aku bilang! Agensi yang menaungi kamu itu cuma ambil untung dari kamu doang. Iya emang kamu terkenal, dapet banyak uang, tapi sebagian besar uang itu atas nama Agensi bukan nama kamu! Kamu ngerti nggak sih!" geram Ayahnya mendekati Elina.


"Kerjaan aku nggak cuma artis. Aku punya usaha parfum pribadi, aku punya usaha kosmetik yang udah mendunia."


"Artis, parfum, kosmetik, kamu pikir anak-anak nggak butuh kamu? Jadwal kamu padat, berangkat pagi pulang malam."


"Udah aku bilang anak-anak akan aku urus!"


"Kamu ngerti nggak seberapa pengennya mereka ngabisin waktu sama kamu sehari aja? Mereka bosan, sedangkan aku juga tiap hari kerja."


Ia tahu, Elina sangat berambisi untuk menghabiskan waktu dengan kerja, kerja dan kerja. Tapi waktu itu Elina masih punya waktu untuk mereka. Tiga jam dalam sehari, saat sore.


Dan hari itu Wijaya menuntut Elina agar keluar dari Agensinya. Fokus mengurusi Langit, Angkasa dan Senja.


"KAMU JADI ISTRI BERANI BANGET SAMA SUAMI!" teriak Wijaya. Elina hanya memutar bola mata kesal tak menjawab.


"BERANI KAMU, HAH!" Amarah Wijaya tak dapat dihindari lagi. Dengan gerakan cepat Wijaya melayangkan telapak tangan kanannya dan dengan keras tepat mengenai wajah Elina hingga ia tersungkur ke lantai.


Elina yang jatuh hanya diam, darah perlahan keluar dari hidungnya. Itu bukan mimisan biasa, cepat sekali darah keluar membuat Angkasa menajamkan matanya menatap Wijaya yang masih terkejut melihat Elina terkena pukulan kerasnya.


Di menit berikutnya akhirnya Wijaya segera menjatuhkan diri melihat Elina yang sudah lemas karena banyaknya darah. Sepertinya Elina akan pingsan.


Dan belum sempat Angkasa melihat wajah ibunya yang penuh darah itu, Wijaya segera membopong Elina dan video terhenti.


Ayahnya bisa sekasar itu?

__ADS_1


Ryan : woeeeee udah blum?


Ryan : nih gw nemu lagi video lain yg lwbih menjelaskan Ayah lo


Ryan : (sent a video)


Cepat-cepat Angkasa membukanya. Kembali memutar video.


Kali ini tempatnya berbeda. Disebuah kantor, milik ayahnya.


"Pak, anda yakin ingin mencalonkan diri menjadi walikota?" tanya seorang laki-laki. Angkasa tahu laki-laki itu, dia manager ayahnya.


"Memangnya kenapa kalo iya?" tanya Wijaya dengan suara serak berat.


"Bukan, maksud saya begini. Pendukung Bapak bahkan tidak lebih dariโ€”"


"Tidak perlu cemas. Kita akan mendatangi seluruh tempat di kota. Membuat mereka menyukaiku dan akan memilihku."


"Tapi dengan caraโ€”"


"Uang. Setiap orang pasti membutuhkannya. Tidak ada yang bisa menolak."


Laki-laki itu mengangguk patuh segera berbalik. Kamera itu kemudian bergeser, lalu hitam seperti ditutupi sesuatu. Lalu setelah langkah kaki manager ayahnya tak terdengar akhirnya karena itu kembali menampilkan Wijaya yang sudah duduk di sofa putih di tengah ruangan besar itu.


Seperti ini kamera yang sengaja disembunyikan. Moment ini diambil untuk memberikan berita kepada orang-orang yang ingin tahu lebih dalam tentang CEO Wijaya.


"Kamu!" Panggil Wijaya menunjuk orang yang sedang berjaga didepan pintu. "Jangan biarkan siapapun tahu kalau aku menggunakan cara ini. Terutama Langit, Angkasa dan Senja."


Orang itu mengangguk patuh. Lalu menunggu lagi Wijaya mengatakan kalimat selanjutnya.


"Dan jangan biarkan Elina tahu kalo aku akan berusaha merobohkan usaha kosmetik besarnya itu."


Video terhenti.


Angkasa mendesah pelan. Segera membalas Ryan dengan ucapan terimakasih dan mematikan hapenya.


Sejauh ini dia ingat. Kalo Ayahnya pernah melakukan kekerasan pada Elina. Dan ingin menghancurkan sumber penghasilan Elina. Tapi dalam hatinya dia masih bimbang.


Pantaskan Elina membalas Wijaya dengan berselingkuh?

__ADS_1


Pertanyaan itu yang masih membuat Angkasa merasa benci sekali dengan Elina.


๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—


__ADS_2