Angkasa

Angkasa
13. Es Krim


__ADS_3

Angkasa mendesah pelan, kembali menatap jam yang melingkar di tangan kirinya. Lagi, dengusan itu berhasil lolos dari mulut Angkasa.


Menunggu itu sungguh membosankan.


Angkasa memang sengaja pulang lebih awal agar tidak mendapat serangan berbagai pertanyaan dari Ryan. Lagi pula, kenapa sih tadi dia kebawa emosi? Hah, sepertinya benar dia sedang suka seseorang.


Makanya dia jadi seperti ini.


"Angkasa!" panggil cewek yang kini berlari ke arahnya.


Angkasa menegakkan tubuhnya, melesakkan tangan kirinya ke saku celana dan menatap cewek itu datar.


"Haduh, capek. Tumben lo udah sampe, biasanya gue yang nungguin," ucap cewek itu sambil terengah karena berlari tadi.


"Lama lo, gue bosen jadinya," ucap Angkasa tidak nyambung.


Raya menatap Angkasa kesal. "Akhirnya lo tau apa yang gue rasain tiap hari," celetuknya membuat Angkasa menatap Raya dengan kening berkerut.


"Tiap hari lo kan kalo jemput lama, gue juga bosen tau nunggu lo. Orang punya batas kesabaran masing-masing, Sa," ucap Raya membuat Angkasa tertegun.


Raya kemudian segera mengambil helmnya, membuat Angkasa mengerjap dan segera naik ks atas motor.


"Sa, ke toko es krim depan perumahan dulu ya?" tanya Raya yang sudah duduk di atas motor.


Angkasa hanya bergumam, menandakan dia setuju.


"Ntar gue traktir deh," ucap Raya lagi membuat Angkasa mengangkat sudut bibirnya tipis. "Tapi yang murah aja ya? Dompet gue nggak kuat kalo yang mahal."


Senyum tipis disudut bibir Angkasa pudar, digantikan dengan dengusan kecil.


Raya terkekeh melihat reaksi Angkasa. Angkasa kemudian segera memacu motornya. Membelah jalanan kota Jogja yang kala itu tak biasanya sepi.


--💗--


"Sa, lo pesen yang mana?" tanya Raya tanpa mengalihkan tatapannya dari list menu di depannya.


Angkasa melirik tak berminat sambil menyikutkan tangannya di meja dan memangku dagunya.


Tak mendapat jawaban dari Angkasa, Raya mendongak dia menghela napasnya. "Iya deh, nih pesen aja apa yang lo mau."


"Samaain aja kaya lo," ucap Angkasa menatap Raya.


Pandangan mereka bertemu, tapi Angkasa lebih dulu mengalihkan tatapannya menatap keluar toko yang memang hanya dibatasi dengan kaca tansparan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.


"Cepetan makan es krimnya, bentar lagi hujan. Ntar lo sakit lagi," kata Angkasa tanpa menatap Raya.


Raya terdiam, kalo dilihat-lihat, Angkasa itu ganteng banget.

__ADS_1


Muka mulus, putih, matanya bagus, hidungnya mancung, tinggi, pinter lagi. Apa yang kurang dari Angkasa coba? Pantes aja banyak yang suka.


"Ryan bilang apa buat jadi pacar lo?" tanya Angkasa tiba-tiba saat Raya sedang menikmati setiap lekuk wajah Angkasa.


Raya mengerjap seperti takut ketahuan guru saat menyontek di ujian. Dia berdeham. "Apa, Sa?"


Angkasa menatap Raya, cowok itu mengerjap pelan sukses membuat Raya salah tingkah. Angkasa kemudian mengantupkan mulutnya.


"Nggak ada pengulangan kata," ucap cowok itu dengan nada menyebalkan membuat Raya mengerjap. Angkasa ini kenapa sih? Kesal padanya?


"Nyebelin banget," ucap Raya sambil mengerucutkan bibirnya.


Angkasa tersenyum tipis, tangannya kemudian bergerak mengusap puncak kepala Raya membuat Raya menegang tapi tak mengelak.


"Nggak ush dipikirin, bahagia aja sama Ryan," ucap Angkasa.


"Ryan?" gumam Raya pelan. "Oh. Jadi lo ngira gue sama Ryan pacaran?" tanya Raya baru menyadari.


Angkasa menatap Raya. "Iya. Dia bilang mau nembak lo tadi."


"Emang gue udah bilang kalo gue nerima dia?" tanya Raya menatap Angkasa dengan jahil.


Angkasa kemudian segera memfokuskan pandangannya ke arah Raya. Rasa kesalnya tergantikan dengan rasa penasaran, dan kenapa juga dia langsung menyimpulkan bahwa Raya akan menerima Ryan? Haha bodoh sekali.


"Lah? Lo tolak?" tanya Angkasa yang sudah sangat penasaran.


Raya tertawa kecil sampai kedua matanya menyipit, Angkasa kemudian menggaruk tengkuknya. Bodoh.


Angkasa mengangguk dan berdeham. "Kaya gue contohnya?" tanya cowok itu, kini pandangannya lebih terlihat jahil.


"Oh, jadi sekarang Angkasa yang cuek udah berubah nih? Waduh! Gue baru tau," kata Raya dengan suara dikeras-keraskan membuat beberapa pengunjung toko es krim menatap ke arah Angkasa dan Raya dengan senyum tertahan.


Angkasa dengan cepat menonyor kepala Raya membuat Raya mengaduh kecil.


"Lo sih! Malu-maluin aja jadi cewek," geram Angkasa membuat Raya mencebik. Terlihat menggemaskan.


"Ngeselin banget lo jadi cowok!" pekik Raya tak mau kalah ucapan dengan Angkasa. "Ngomong-ngomong, kok lo jadi kesel kalo misalnya gue nerima Ryan? Hayo, lo suka ya sama gue? Haduh, nggak heran deh gue pesona gue tuh kece badhai kaya poninya Syahrini yang ulala itu."


Angkasa lagi-lagi menonyor kepala Raya membuat cewek itu mengaduh sambil menjerit mengucapkan nama Angkasa membuat Angkasa cepat-cepat membekap mulut cewek cerewet ini.


"Lo bisa nggak sih jadi cewek yang lebih kalem gitu, suara lo kaya toa tau!" bisik Angkasa.


Raya mendengkus, posisi tangan Angkasa masih membekap mulutnya. Tapi wangi tangan Angkasa sngat menenangkan, lembut pula. Tuh cowok tangannya bisa kaya gini ngapain coba? Perawatan?


"Lagian siapa yang suka sama lo? Geer lo!" lanjut Angkasa.


Raya mendengkus, sebuah ide terlintas dipikirannya. Ia terdenyum jahil dibalik tangan besar Angkasa, dan secara cepat serta ketepatan maksimal Raya berhasil menggigit telapak tangan Angkasa hingga cap giginya tertempel di telapak tangan cowok itu.

__ADS_1


Raya langsung lari sedangkan Angkasa berdiri bersiap mengejar cewek berambut pendek itu.


"EH, *****! SAKIT RAYA!" pekik Angkasa refleks. "Tuh kan gue jadi berkata kasar! Ah, gara-gara Angga ini!"


--💗--


"HIT YOU WITH THAT DDU-DU-DU!!!"


Teriakan Raya membuat telinga Angkasa rasanya pengang. Cowok itu berkali-kali berdecak sampai dia benar-benar tak tahan dengan suara Raya yang melebihi suara toa ibu-ibu PKK di perumahannya.


"LO BISA DIEM NGGAK SIH, RAY! SUARA LO ITU NGGAK ENAK!" teriak Angkasa membuat Raya yang tadinya loncat-loncat girang di sofa turun dan memajukan bibirnya beberapa senti.


"Kalo belajar tuh diem, jangan setel musik gini. Jadi konser sendiri kan di rumah, masih mending suaranya enak nah elo, udah nggak enak, jelek, buluk lagi," kata Angkasa tajam membuat Raya dengan gemasnya menarik rambut Angkasa sampai beberapa helai rambut cowok itu terlepas dari tempatnya.


Angkasa memekik kesakitan sedangkan Raya dengan sadisnya tertawa ala-ala tokoh antagonis di dalam film-film. Tapi aksi tawa jahatnya itu terhenti ketika Angkasa dengan cepat langsung menyumpal mulut Raya dengan kue coklat kesukaannya ke mulut Raya membuat Raya sedikit tersedak.


"Tuh kan lo, ish! Gue kalo kesedak, nggak bisa napas gimana? Mau lo tanggung jawab hah?" tanya Raya setelah ia terbatuk-batuk karena tersedak kue coklat itu tapi beberapa detik kemudian dia mengunyahnya walau wajahnya sebal tapi dalam hati dia menikmati kue itu.


Rasanya enak.


Rejeki kan nggak boleh ditolak.


Apalagi dimuntahin.


Nggak berkah nanti.


"Heleh, dimakan juga akhirnya. Nih gue masukin lagi," ucap Angkasa kembali berniat memasukkan kue yang sudah berada di tangan kanannya.


Raya kemudian memundurkan diri mengerutkan kening sambil memajukan bibirnya. "Mhulhut guhe mhasih phenuh!" tolaknya dengan pipi menggembung tanda bahwa kue di mulutnya masih belum habis.


Angkasa tergelak, dia lalu memakan kue ditangannya dengan sekali suap. Raya kemudian menegakkan tubuhnya dan mengambil air putih yang berada di atas meja.


"Eh, Sa, tapi kalo di liat-liat si Ryan ganteng juga tau. Di ig banyak yang naksir, banyak yang ngegoda," ucap Raya setelah meminum beberapa teguk air.


Angkasa melirik Raya dan mendengkus kecil, sedikit kesal Raya kembali membahas Ryan. Jujur saja, dia masih cemburu.


"Bodo amat, gue liat tuh anak masih biasa aja, masih tengil.kaya Angga and the geng," ucap Angkasa tak acuh sambil kembali memandang soal-soal yang berjajar rapi tercetak siap untuk dikerjakan.


Raya melengos, ia kemudian kembali memakan kripik kentang kesukaannya. "Kalo nanti gue misal terpesona sama tuh anak, trus suka, akhirnya jadian, wih kaya di film-film gitu ya, Sa?" tanya Raya mulai menghayal.


Tak tau kalau cowok didepannya ini sedang mencibir dalam hati.


"Ngayal lo, mana mau ada yang nonton film monoton kaya gitu. Apalagi artisnya elo, langsung pada muntah tuh orang yang baru liat posternya," balas Angkasa.


Raya mencebik, memangku dagunya dan kembali berkhayal. Meninggalkan soal latihan yang Angkasa berikan untuknya.


"Atau... gue bukan bakal suka Ryan, tapi seseorang. Yang sebenernya deket sama gue, tapi rasanya jauhhh banget," gumam Raya pelan membuat Angkasa mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.

__ADS_1


Siapa?


--💗--


__ADS_2