Angkasa

Angkasa
14. Just For You


__ADS_3

Gadis itu bersandar pada kepala kasur, matanya kemudian mengelir ke arah laci kecil dari kayu di pojok ruangan.


Dia tersenyum miris.


"Udah lama banget, ya?" gumam gadis itu.


Gadis itu kemudian turun dari kasur dan berjalan pelan menuju laci kecil itu. Membukanya, dan mengeluarkan beberapa kertas warna-warni. Ia kemudian duduk di karpet.


Sashi, nama gadis itu, ia membuka amplop berwarna pink—warna kesukaannya—yang membuat mata Sashi tiba-tiba saja memanas.


Sashi, aku memang bukan orang yang romantis. Tapi malam ini tepat tengah malam, aku akan menjadi yang pertama untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu.


Wish you all the best, yeobo!


Love, A.


Ia menutup surat itu, mengenang kembali masa dimana dia masih bersamanya. Tak rela jika lelaki itu benar-benar pergi. Tapi disisi lain dia juga sudah mencintai Langit. Dia sudah mencintai kedua lelaki itu begitu dalam, sampai ia tidak bisa memilih antara keduanya.


"Kamu buat aku nggak bisa lepas," kata Sashi dengan nada tercekat. Ia kemudian merasakan pipinya terasa hangat, digenangi aliran air dari mata indahnya.


Ia tersenyum, memandangi beberapa amplop dan kertas lainnya. "Apa gara-gara aku kamu berubah? Apa karena Langit aku bisa lepasin kamu gitu aja? Padahal aku tau kalo kamu itu begitu berharga buat aku."


Sashi merasa dadanya sesak, dia memeluk kakinya dan menangis lirih didalamnya.


Memang benar.


Penyesalan pasti berada di akhir.


"HONEY! I'M HOME!" teriak seorang cowok berperawakan sempurna dari luar pintu kamar Sashi.


Sashi mengangkat wajahnya, membersihkan air bening yang rasanya tak ingin ia hentikan. Sashi kemudian berteriak untuk menunggu orang itu beberapa saat. Ia kemudian masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar.


Sashi kemudian membukakan pintu dan tersenyum melihat wajah sumringah cowok didepannya. Cowok itu kemudian terlihat ingin membuka jasnya, namun ditahan oleh Sashi.


"Biar aku yang buka, ya?" ucap Sashi meminta ijin pada cowok itu.


Langit tersenyum, dia kemudian masuk lebih dalam ke kamar Sashi. Tangan Sashi kemudian bergerak, menurunkan jas Langit dan menggantungnya di sebelah pintu kamarnya.


"Ayah sama mama kamu lagi sibuk mesra-mesraan di bawah. Kamu nggak mau sama aku kaya gitu?" tanya Langit. Ia kemudian menaik-turunkan alisnya menggoda.


Sashi hanya tersenyum, "Kita nonton film aja lah, kangen di peluk kamu." Senyum di wajah Sashi terkembang bersamaan dengan nada manja yang keluar begitu saja tanpa Sashi sadari.


"Kenapa nggak sekarang aja?" tanya Langit merentangkan tangannya lebar-lebar. "Malam ini aku nggak sampai larut, mau ngurus administrasi perusahaan."


Sashi mengangguk mengerti, Langit memang sangat sibuk setelah ia resmi menjadi pemimpin perusahaan ayahnya. Sungguh, intensitas mereka bertemu berkurang drastis.


"Langit, gimana kabar Angkasa?" tanya Sashi tiba-tiba membuat Langit yang tengah mencari baju di tumpukan lemari Sashi langsung mengernyitkan kening.


Fyi, barang-barang Langit sebagian sudah berada di rumah Sashi, begitupun sebaliknya. Mereka sering berkunjung ke rumah satu sama lain. Untuk mendekatkan diri pada orang tua mereka dan tentu saja, membicarakan rencana pernikahan mereka.


"Angkasa? Sejauh ini yang aku liat baik-baik aja. Cuma udah jarang nggak bikin kata-kata puitis lagi," ucap Langit yang kembali sibuk dengan lemari Sashi. Ia mengobrak-abrik tumpukan kaos yang memang dikhususkan untuk Langit.


"Kok gitu? Padahal puisi dia bagus-bagus lho," kata Sashi dengan nada sedikit kecewa. Ternyata Angkasa memang sudah berubah. Ia kemudian melangkah dan duduk di tepi kasur.


Langit mengedikkan bahunya tak tahu, ia kemudian membuka bajunya memperlihatkan betapa sempurnanya Langit. Sashi pun sampai terpana melihat tubuh Langit.


"Aku juga udah jarang ketemu Angkasa, apalagi Senja, dia kan sekolah kaya di asrama. Jadi pulang cuma sebulan sekali," ucap Langit sambil mengenakan kaos berwana birunya dan ikut duduk bergabung dengan Sashi.


"Kenapa tiba-tiba nanyain Angkasa?" tanya Langit sambil merangkul pundak Sashi.

__ADS_1


Sashi menggeleng pelan, "Nggak, kita kan besok mau ke sana buat nemuin Angkasa. Biar lebih akrab aja gitu nanti."


"Ah, nggak usah gitu. Ntar dia malah bilang 'Lo apaan sih SKSD banget' gitu. Dia kalo ngomong suka nggak di filter soalnya," ucap Langit. Terdengar serius walaupun nada bicara Langit tak pernah terdengar serius.


Untuk sekarang, hanya aku, Tuhan, dan dua orang lelaki yang tau.


--💗--


Malam ini sungguh menenangkan, Angkasa mengerjap pelan sambil menikmati coklat hangat buatannya sendiri. Menikmati keheningan ini.


Angin malam kembali meniup rambutnya yang nampaknya sudah mulai panjang. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi rotan dan menutup matanya. Merasa damai.


"Ma," gumam Angkasa, matanya menatap langit yang dihiasi bintang serta bulan yang bersinar terang.


Angkasa menghela napasnya, sudah hampir dua minggu ini papanya tidak pulang ke rumah. Dan dapat dipastikan sebulan kemudian baru akan pulang.


Sudah menjadi kebiasaan.


Raya pun sudah tau bagaimana ayah Angkasa, dan cewek itu cukup mengerti dengan keadaan ini.


Ayah Angkasa hanya... sedikit tertekan dengan keadaan.


"Mama tuh nggak punya hati banget tau nggak," sambung Angkasa dengan suara lirih.


Matanya masih tertutup, tapi perlahan ia membuka matanya, bangkit dan berjalan menuju sebuah pintu yang tak jauh dari balkon tempat Angkasa menikmati coklat hangatnya.


Ia membuka kenop pintu, derit nyaring terdengar saat Angkasa memutar pintu perlahan. Ia menghela napasnya pelan, sudah sangat jarang dia kemari. Dulu, ia sering kesini bersama Mamanya. Tapi tidak lagi saat Mamanya pergi, mencari dunianya yang lain dan meninggalkan Angkasa serta Langit dan Senja. Dan sejak saat itulah Ayah Angkasa jarang pulang.


"Udah lama banget ya, Ma?" gumam Angkasa seakan Mamanya ada disana. Cowok itu menganggak kedua sudut bibirnya.


Ia kemudian duduk disebuah kursi yang berhadapan langsung dengan piano hitam besar kesayangannya. Ia bahkan hampir lupa cara memainkan alat musik ini.


Neoege naega jul su inneun ge eopseo


Ajigeun naega hal su inneun ge eopseo


Geochanghan yaksok meosinneun maldo


Saenggagi an nago budi meojianeun miraee


Angkasa menipiskan bibirnya, tidak banyak yang tahu kalau Angkasa sebenarnya menyukai musik-musik k-pop. Dan ini adalah musik kesukaannya dan orang yang pernah dia sayang sebelumnya.


Geunyang jalhaejulge neol jikyeojulge


Heullin nunmulmankeum utge haejulge


Naega byeori doelge neol bichwojulge


Gidaryeojun mankeum gyeote isseojulge


Jichin harureul beotigo


Jibeuro doraoneun gil


Mundeuk geudae saenggangnamyeon


Jeonhwareul georeo mareul hae


Uri joeun nal gajyeodajulge

__ADS_1


Sesange nae pyeoneun neobakke eopseo


Geu sesangeul angyeojul jasini eopseo


Du soneul japgo jikiji mothal


Dajim iljirado uri


Meojianeun miraee


Ingatan yang telah lama hilang seakan kembali, bagaimana gadis itu memeluknya hangat saat bermain piano kembali terputar. Membuat Angkasa tak yakin apakah dirinya sudsh benar-benar melupakan gadis itu.


Naega jalhaejulge neol jikyeojulge


Heullin nunmulmankeum utge haejulge


Naega byeori doelge neol bichwojulge


Gidaryeojun mankeum gyeote isseojulge


I witaeroun hyeonsil sok jikigopeun han saram


Nega isseo naega sarayo


I kkeuchi eomneun eodum sok bichi doeeo jun han saram


Sireopsi unneun nari ogetjyo


Angkasa memelankan permainan pianonya, ia rindu orang itu. Angkasa menatap tangannya, merasakan sesak didadanya saat bayangan-bayangan dulu kembli menghantuinya.


Geunyang jalhaejulge neol jikyeojulge


Heullin nunmulmankeum utge haejulge


Haetsal joeun eoneu ohu


Modeun geoseul naeryeonoko


Nareunhan geunareul geurimyeo


Jichin harureul beotigo


Jibeuro doraoneun gil


Mundeuk geudae saenggangnamyeon


Jeonhwareul georeo mareul hae


Uri joeun nal gajyeodajulge


Angkasa menghela napasnya. Lagu Just For You dari iKON itu membuatnya kembali menyelami masa-masa kebersamaan bersama cewek itu sebelum cewek itu pergi.


Ia benar-benar rindu.


Rindu pada kakak kelasnya.


Rindu pada seorang Sashi Kirana.


--💗--

__ADS_1


__ADS_2