Angkasa

Angkasa
Dosen tampan jilid 2


__ADS_3

...HELO GUYS!...


...WELCOME BACK TO MY STORY!...


..."ANGKASA"...


...\=\=\=...


...Gapapa sepi, yang penting dapet cuan ye kan😏...


...Γ—Γ—Γ—...


#ANGKASA EPS. 207


...β€’...


...SELAMAT MEMBACA...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Laras dan Zian tiba di kampus, mereka turun dari motor lalu pria itu melepaskan helm yang melekat di kepala Laras dengan perlahan sambil tersenyum memandang wajah cantik Laras.


Setelahnya, Laras langsung hendak pergi karena ia merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan disana. Namun, Zian mencekal lengannya dan menahan gadis itu untuk tetap disana.


"Tunggu! Kamu mau kemana?" tahan Zian.


"Ke dalam lah, kak. Emang kita mau ngapain lagi disini?" jawab Laras ketus.


"Hey, jangan langsung pergi dong! Tunggu aku, kan kita jalannya bareng biar lebih akrab!" ujar Zian.


"Duh ngapain sih, kak?" ujar Laras kesal.


"Kan udah dibilang tadi supaya lebih akrab, tunggu sebentar ya aku taruh helm ini dulu di motor biar aman! Kamu jangan kemana-mana!" ucap Zian.


"Iya kak iya, cepetan tapi!" ucap Laras.


"Sebentar kok sayang!" ucap Zian tersenyum.


Laras pun terpaksa menunggu Zian selesai menaruh helm di motor, walau ia sangat ingin segera pergi ke kampus dan meninggalkan pria itu disana, tapi apa daya Laras tak bisa melakukan apa-apa selain hanya menurut dengan Zian.


"Udah nih, yuk kita ke dalam sekarang!" ucap Zian langsung menggandeng tangan Laras.


"Maaf kak! Jangan pegang-pegang tangan aku ya! Lagian aku juga bisa jalan sendiri, gak perlu dituntun!" ucap Laras menyingkir.


"Oh iya iya..." ujar Zian melepaskan tangan Laras.


Setelah tangannya dilepaskan, Laras menambah kecepatan jalannya hingga Zian harus kewalahan menyamai langkah kaki gadis itu yang begitu cepat seperti hendak meninggalkannya.


"Sayang, jangan cepet-cepet dong! Aku capek nih, gak kuat kejar kamunya!" rengek Zian.


"Apaan sih? Kamu bisa gak sih berhenti panggil aku sayang? Diantara kita itu gak ada apa-apa, jadi stop bilang begitu!" tegur Laras kesal.


"Iya iya, janji deh gak gitu lagi!" ujar Zian cemberut.


Laras menghela nafas, kemudian lanjut berjalan tapi dengan tempo lebih lambat.


"Nah gini dong, kan enak!" ucap Zian tersenyum.


"Kamu mau sampai kapan sih deketin aku terus kayak gini, kak? Apa gak bosan? Aku aja bosan loh dideketin terus sama kamu!" tanya Laras.


"Kan udah aku bilang sebelumnya, gak ada kata bosan dalam mengejar cinta! Aku pengen buktiin ke kamu betapa cintanya aku sama kamu, jadi aku baru berhenti kalau kamu udah percaya dan mau terima aku jadi pacar kamu!" jawab Zian.


"Hah? Jadi, kalau misal aku gak terima kamu, kamu mau deketin aku terus gitu?" ujar Laras.


"Yap bener banget!" ucap Zian tersenyum.


Laras geleng-geleng kepala mendengar jawaban pria itu, ia hanya bisa sabar dengan nasibnya saat ini walau sangat menyebalkan.


Saat mereka berjalan memasuki lorong kampus, tanpa disadari dompet milik Laras terjatuh ke jalan akibat tak sengaja bersenggolan dengan seorang wanita yang juga berjalan dari arah berlawanan.


Untungnya hal itu dilihat oleh Zaenal, si dosen muda yang tampan. Zaenal pun mengambil dompet tersebut dan coba mengembalikannya pada Laras.


"Saya harus balikin dompet ini! Kasihan juga dia, pasti nanti sedih banget!" ucap Zaenal.


Zaenal pun mengejar Laras dan Zian berniat mengembalikan dompet milik gadis itu, sebagai dosen yang baik tentu ia harus melakukan itu.


"Hey tunggu!" teriak Zaenal sambil berlari.


"Tunggu!"


Mendengar suara teriakan dari arah belakang, Zian dan Laras pun menghentikan langkah lalu menoleh menatap Zaenal dengan wajah penasaran.

__ADS_1


"Kita pak?" tanya Zian bingung.


"Iya benar kalian! Haaahhh Haaahhh..." jawab Zaenal dengan nafas ngos-ngosan.


"Ada apa ya pak?" tanya Laras heran.


"Ini dompet kamu kan? Tadi saya temuin jatuh dari tas kamu, silahkan diambil!" jelas Zaenal.


"Ah iya, itu dompet saya pak! Makasih banyak ya pak!" ucap Laras terkejut dan langsung mengambil dompet miliknya dari tangan Zaenal.


"Sama-sama, lain kali kamu lebih hati-hati lagi!" ucap Zaenal mengingatkan.


"Iya pak, baik! Sekali lagi makasih ya pak! Duh saya gak tahu deh bakal gimana kalo gak ada bapak!" ucap Laras tersenyum senang.


"Iya, sama-sama. Yasudah ya, saya permisi dulu!" ucap Zaenal.


"Silahkan pak!" ucap Laras memberi jalan.


Setelahnya, Zaenal pun pergi melewati mereka. Namun, Laras nampaknya naksir dengan dosen muda itu dan terus memandangi punggung Zaenal yang perlahan menghilang.


"Hey, mata dijaga mata!" tegur Zian sembari mengusap wajah Laras dari samping.


"Haish, kamu tuh ngeselin banget sih!" ujar Laras cemberut kesal.


"Suruh siapa kamu ngeliatin pak Zaenal terus? Mata tuh dijaga sayang!" ujar Zian.


"Pak Zaenal? Itu namanya?" tanya Laras.


"Iya sayang, emang kenapa sih? Kamu naksir sama dia? Jangan gak waras deh, kan ada aku disini!" ujar Zian.


"Hah? Kamu mah jauh banget tau kalo dibandingin sama pak Zaenal! Jelas aku lebih milih pak Zaenal lah daripada kamu, udah ah aku mau susul pak Zaenal aja!" ucap Laras tersenyum.


"Eh eh, tunggu sayang jangan gitu dong! Masa aku ditinggalin sih?" teriak Zian.


Laras tak memperdulikan itu lagi, ia langsung pergi begitu saja mengikuti Zaenal. Akhirnya Zian kesal dan mau tidak mau ia juga lanjut berjalan mengejar Laras.


β€’


β€’


Latifah dan Digo tengah menikmati makanan mereka di kantin, namun entah mengapa sulit bagi Latifah untuk melupakan sosok Zaenal si dosen tampan yang tadi ia temui itu, hingga kini ia masih saja terbayang akan wajah tampan dosen tersebut.


Melihat gadis di dekatnya itu melamun sambil senyum-senyum sendiri, membuat Zian makin heran dan coba menegur Latifah untuk bertanya langsung padanya.


"Fah, kamu lagi mikirin apa sih? Kok aku lihat kamu ngelamun terus daritadi?" tanya Digo heran.


"Eh kak Digo, gue jadi lupa kalo lagi makan sama lu disini. Maaf ya kak, itu loh gue masih penasaran sama dosen ganteng yang tadi gue temuin di depan kampus! Kira-kira siapa namanya ya dia? Soalnya baru kali ini gue lihat dosen setampan dia, lu tahu gak kak?" ucap Latifah.


"Hah? Dosen ganteng? Maksud kamu siapa sih? Emang disini ada ya dosen yang ganteng? Perasaan yang ganteng itu cuma mahasiswa nya deh, salah satunya aku!" ucap Digo terkekeh.


"Idih pedenya tinggi banget ya kak, gapapa deh bagus daripada insecure terus! Tapi, gue serius kak tanya sama lu!" ujar Latifah.


"Iya iya, aku juga gak tahu yang kamu maksud itu siapa. Coba kamu tunjukin ke aku, siapa tahu aku jadi tahu! Kalau cuma ngomong dosen muda dan ganteng, itu sih susah! Karena bagi aku, yang ganteng tuh cuma aku seorang!" ujar Digo.


"Ya ampun! Yaudah, nanti kalo ketemu lagi gue kasih tahu ke lu kak!" ucap Latifah.


"Boleh, tapi sekarang kamu fokus makan dulu tuh abisin! Jangan kebanyakan melamun, gak baik tau nanti kesambar loh! Lagian disini kan ada aku, harusnya kamu lihatin aku aja!" ucap Digo.


"Eee kalo soal fokus makan sih gue setuju, tapi soal lihatin lu mendingan gue lihatin makanan aja deh daripada lu hehe!" ujar Latifah nyengir.


"Yaelah jahat banget sih kamu!" ujar Digo.


"Hehe maaf kak! Cuma berusaha jujur, kan kita harus jujur walau menyakitkan!" ucap Latifah.


"Iya iya..." ujar Digo langsung merunduk.


Latifah terkekeh kecil melihat ekspresi Digo, lalu kembali melanjutkan makan yang sempat tertunda akibat terbayang dosen muda tampan yang tadi ia temui di depan, entah mengapa Latifah sangat tertarik pada sosok dosen tersebut.


"Gue harus cari tahu nih tentang tuh dosen, dia soalnya cakep banget gila!" batin Latifah.


Sementara Digo memandang tak suka ke arah Latifah, sambil mengunyah ia terus bergumam di dalam hatinya merasa jengkel lantaran Latifah lebih memikirkan dosen tampan dibanding dirinya.


"Haish, siapa sih dosen yang dimaksud Latifah? Emang iya ada yang lebih ganteng dibanding gue? Gue jadi penasaran pengen tahu!" batin Digo.


Tak lama kemudian, yang ditunggu-tunggu oleh Latifah akhirnya tiba. Ya pak Zaenal selaku dosen tampan termuda di kampus angkasa itu muncul, membuat mata Latifah seketika langsung terbuka lebar dan memfokuskan pandangan ke arah Zaenal yang berjalan melewatinya dari samping.


"I-itu kan..." ujar Latifah dengan mulut menganga.


"Itu siapa? Kamu lihat apaan sih, Fah?" tanya Digo tak mengerti.


"Eee anu kak, itu loh ada dosen yang gue maksud tadi. Coba lu lihat kesana! Kira-kira lu kenal gak sama dia?" jawab Latifah menunjuk ke arah Zaenal dengan kode wajahnya.

__ADS_1


"Hah?" Digo terheran-heran sekaligus penasaran ingin tahu siapa dosen yang dimaksud Latifah.


Begitu mengarahkan pandangan sesuai yang diarahkan Latifah, Digo justru terkejut karena yang dilihatnya adalah Zaenal.


"Pak Zaenal?" ujar Digo terkejut.


"Apa kak? Jadi, nama dosen tampan itu pak Zaenal?" tanya Latifah yang tersenyum manis.


"Eee iya benar, itu yang kamu maksud kan?" ucap Digo masih syok.


"Iya kak, dia tampan banget tau!" ujar Latifah.


"Buset dah! Emang iya sih pak Zaenal cakep, tapi gak mungkin deh dia mau sama kamu! Udah lah Fah, daripada mengharap sesuatu yang gak pasti mending sama aku aja yang udah pasti suka sama kamu!" ucap Digo tersenyum.


"Maaf kak! Kayaknya gue lebih baik mengejar ketidakpastian itu, daripada harus terima cinta lu! Karena gue gak ada rasa sama sekali sama lu, sekali lagi maaf ya kak!" ucap Latifah.


"Eh eh, mau kemana kamu?" tanya Digo.


"Kejar pak Zaenal!" jawab Latifah.


Gadis itu beranjak dari kursi, lalu pergi meninggalkan Digo begitu saja.


"Tapi kan makanan kamu belum habis!" ujar Digo.


"Biarin aja, kak Digo yang abisin!" ucap Latifah sembari berlari.


Braakkk...


"Aaarrgghh sial!" teriak Digo kesal sambil menggebrak meja dengan keras.


β€’


β€’


Disisi lain, Revi pun tiba di kampus bersama Muzaki sang kekasih seperti biasanya. Memang sejak Muzaki menegur Revi yang tak mengabarinya untuk minta diantar, kini Revi selalu memberi kabar pada Muzaki tentang jadwal kuliahnya sehingga mereka bisa berangkat bersama.


Terlihat pria itu menatap gadisnya lebih dulu sembari memegang dua pundak Revi dari jarak cukup dekat, membuat Revi gugup dan tersipu karena tatapan Muzaki begitu intens seperti hendak bicara serius dengannya, biarpun begitu Revi tetap suka ketika berdekatan dengan Muzaki.


"Kak, mau ngapain? Kok diem aja tatap aku kayak gitu? Apa ada yang pengen kak Zaki bicarain sama aku atau..." tanya Revi menggantung ucapan akhirnya dengan tatapan heran ke arah Muzaki.


"Iya sayang, aku mau bicara satu hal sama kamu. Aku ini sayang banget sama kamu, Revina Angelina!" jawab Muzaki sambil tersenyum.


"Ohh jadi mau bilang itu? Iya kak, aku juga sayang banget kok sama kak Zaki! Tapi, sebenarnya kak Zaki ini lagi kenapa sih? Gak biasanya loh kak Zaki kayak gini, kalo mau ngomong begitu kan tinggal ngomong aja!" ucap Revi keheranan.


"Gak kenapa-kenapa kok sayang, aku lagi pengen aja tatap wajah kamu kayak gini!" ucap Muzaki.


"Hahaha, ada-ada aja ih kak Zaki!" ujar Revi.


"Eee yaudah deh, kamu maunya kemana sekarang? Berduaan dulu sama aku atau langsung masuk kelas? Kayaknya sih kita mending ke taman dulu deh, aku masih pengen sama kamu!" ucap Muzaki.


"Jadinya kak Zaki nanya atau nyuruh nih? Tapi benar juga sih, aku masih pengen berduaan sama kak Zaki! Karena kan jarang juga kita bisa begini, yaudah yuk kak kita ke taman!" ucap Revi tersenyum sembari mengelus baju kekasihnya.


Muzaki pun tersenyum dan memeluk gadisnya, ia belai puncak kepala sang pacar secara lembut dengan Revi yang memejamkan mata.


"Wah wah wah, romantis banget sih pasangan kekasih yang satu ini!" ujar seseorang disana.


Ya suara tersebut membuyarkan momen romantis antara Muzaki dan Revi, sepasang kekasih itu menoleh menatap sosok pria yang tengah berdiri memandang ke arah mereka.


"Wisnu? Lu ngapain sih?" ujar Muzaki agak kesal.


"Hahaha, yaelah santai aja kali men! Gue kan cuma bilang kalian romantis banget, tapi hati-hati loh nanti khilaf karena disini kan sepi!" ucap Wisnu.


"Apaan sih lu? Kalau iri bilang aja bro, makanya cari cewek dong biar lu bisa kayak gue sama Revi juga! Jadi, lu gak perlu gangguin orang yang lagi pacaran bro!" ucap Muzaki.


"Yaelah malah ngeledek! Gue gini-gini juga banyak yang naksir bro, cuma belum ada aja yang nyangkut di hati gue! Kan gue gak mau asal pilih, daripada berakhir kecewa!" ujar Wisnu.


"Siap bro! Yaudah ah, gue sama Revi mau ke dalam duluan. Cari cewek gih sana!" ucap Muzaki.


"Iya iya, gue cari kok nanti yang modelan kayak Revi. Tapi susah bro, banyaknya yang suka sakitin perasaan cowok!" ucap Wisnu.


"Hahaha ya itu dia bro..." Muzaki tertawa lepas.


"Sayang, yuk kita ke taman! Kita lanjut lagi pacaran disana supaya gak diganggu Wisnu!" ujar Muzaki.


"Iya kak," jawab Revi singkat.


Muzaki pun menggandeng tangan Revi, membawa gadis itu pergi dari sana melewati Wisnu yang terdiam sambil garuk-garuk kepala.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2